SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 255 Kontrak Sihir Kegelapan



"Nah, pertanyaan itu yang juga ditanyakan paman guru Dewa Pedang kepada saya, eyang!"


"Jadi sebenarnya saya ini anak siapa, eyang?"


Eyang Sindurogo yang sebelumnya menggumam pelan tidak menyadari jika suaranya dapat didengar oleh Suro.


"Eeeee...mengenai itu eee...eyang sampai sekarang juga masih bertanya-tanya, sebenarnya thole Suro ini anak apa? Karena sangat tidak masuk akal bagaimana bisa kamu mampu menampung kekuatan tingkat surga itu le? Padahal menurut eyang umurmu seharusnya masih berumur dua belas tahun. Meskipun tubuhmu memang seperti pemuda umur delapan belas tahun, tetapi tetap saja tidak ada pendekar yang mampu memiliki kekuatan sebesar dirimu dalam usia delapan belas tahun."


"Lha kuk anak apa eyang?"


"Lha iya, kemampuanmu itu tidak lumrahnya seperti anak manusia. Bahkan eyang selama ratusan tahun hidup hanya sampai tingkat langit. Coba pikirkan apa itu tidak terasa aneh dirimu itu ngger? Apalagi kedatanganmu kedunia ini juga sesuatu yang tidak masuk akal?"


"Eyang sudah pernah bercerita bukan? Bagaimana kamu datang ke dunia ini adalah jatuh dari atas langit? Coba pikirkan apa ada manusia yang hidup di atas langit? Pasti bukan manusia yang melahirkanmu itu?"


Suro mengaruk-garuk kepalanya karena dia justru balik ditanya. Tetapi dia tetap mencoba menjawab pertanyaan gurunya dengan cara melempar pertanyaan itu kepada Geho sama yang sejak tadi berputar-putar dibelakang dirinya. Entah apa yang dilakukan manusia setengah siluman itu.


"Geho sama apa kamu tahu jawabannya?"


"Mungkin itu adalah sebangsa siluman blekok(bangau) tuan Suro?" Geho sama yang sedari tadi sibuk mengamati tubuh Suro menjawab dengan asal.


"Siluman gendeng." Eyang Sindurogo yang menyahut ucapan Geho sama. Suro tertawa cekikikan melihat gurunya kesal mendengar jawaban Geho sama.


"Mungkin Suro tidak bisa menjawab, tetapi Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Narada sempat mengatakan kepada Suro, jika mereka mengetahui hal Ikhwal ini. Tetapi pekulun berdua itu tidak bersedia menceritakannya kepada Suro."


"Sebaiknya eyang bertanya saja kepada Sang Hyang Ismaya, kali saja pekulun mau menjelaskan semua jawabnya kepada eyang guru."


"Halah dia lagi ngger. Mendingan eyang bilang "tidak" ngger. Eyang sudah kapok jika bertanya kepada pak tua, mending tidak usah saja. Nanti urusannya bisa panjang sekali."


"Panjang sekali bagaimana eyang?"


"Iya panjang sekali. Eyang nanti harus mendengarkan ceramahnya selama tujuh hari tujuh malam gara-gara bertanya hal remeh seperti itu. Apa itu tidak panjang sekali urusannya? Coba bayangkan apa itu bukan siksaan batin harus melotot dan berpura-pura mendengarkan wejangannya selama itu?" Eyang Sindurogo menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Mendengar jawaban itu, Suro kembali tidak dapat menahan tawanya. Dia kembali tertawa cekikikan. Dia memahami hal itu, sebab dengan mata kepalanya sendiri dia sudah menyaksikan hal itu. Terakhir kali dia melihat sendiri gurunya harus bertahan dalam kondisi mimik serius dalam waktu yang lama, sampai Sang Hyang Ismaya selesai memberikan wejangan atau nasehat.


"Sepertinya ini curahan batin eyang yang sudah ditahan sejak lama?"


Akhirnya Eyang Sindurogo ikut terkekeh mendengar pertanyaan Suro.


Saat mereka berdua sedang sibuk berbicara, Geho sama masih terus bertingkah aneh, dia menatap sekujur tubuh Suro, seperti tidak pernah melihatnya. Dia memutari tubuh Suro dari depan terus kebelakang, lalu kedepan lagi. Dari atas kebawah kembali keatas, lalu kebawah lagi.


"Apa yang kamu lakukan Geho sama? Tingkahmu terlihat aneh, apa ada yang salah dengan penampilanku?"


"Kemana hilangnya rantai yang dimiliki Pujangga gila setelah diserap tuan? Sedari tadi aku mengamati tubuh tuan tidak ada penampakan rantai hitam seperti milik pujangga gila."


Geho sama penasaran dengan rantai yang sebelumnya berhasil menyerang tubuh eyang Sindurogo. Sebab setelah Suro mengerahkan tehnik empat Sage rantai itu mendadak ikut lenyap. Bahkan sebelum tubuh Pujangga gila itu benar-benar lenyap dari pandangan.


"Rantai itu menghilang sebelum tubuh Pujangga gila lenyap, kemungkinan setelah Sukma Pujangga gila berhasil lepas dari belenggu rantai itu." Suro yang saat itu terhubung dan berhasil kontak batin dengan jiwa Pujangga gila menyadari hal itu.


Sebab sesaat setelah Pujangga gila mengucapkan terima kasih, karena telah membantunya lepas dari belenggu kekuatan kegelapan, maka rantai itu juga lenyap bersama sukma Pujangga gila yang kembali kepada Penciptanya.


"Bagaimana mungkin, bukankah rantai itu telah menyatu dengan jiwa Pujangga gila?"


"Entahlah aku tidak memahaminya." Suro menjawab pertanyaan Geho sama sambil memeriksa tubuhnya sendiri.


"Benar juga apa yang kamu katakan Geho sama. Jangan-jangan rantai itu masuk ke tubuhku tanpa aku sadari?" Suro menjadi sedikit panik, karena khawatir apa yang dikatakan Geho sama mungkin saja terjadi.


Karena itu dia segera mencari rantai hitam di sekujur tubuhnya. Dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki dia terus mencarinya.


Rantai hitam yang dimiliki Pujangga hitam memang sangat kuat dan unik, sehingga sangat wajar jika Geho sama tidak ingin tuannya terkena bahaya dari rantai itu. Rasa khawatirnya cukup beralasan, karena jika Suro celaka itu artinya dia juga terkena dampaknya.


"Aku rasa rantai itu adalah sebuah bentuk sihir kegelapan. Karena saat aku tebas maupun aku coba gengam, ternyata hanyalah sebuah wujud ilusi. Bisa dikatakan rantai itu sebenarnya tidak nyata." Eyang Sindurogo mencoba menyimpulkan mengenai rantai milik Pujangga gila yang berhasil menembus tubuhnya.


"Benar juga, itu adalah jenis sihir. Mengapa dari awal aku tidak menyadarinya!" Penjelasan singkat eyang Sindurogo membuat Geho sama terhenyak. Dia yang sebagai ahli sihir sampai tidak menyadarinya, tentu sebuah hal yang memalukan.


"Tetapi mengapa Suro melihat eyang guru begitu kesakitan saat rantai itu menembus tubuh eyang?" Suro setelah selesai memeriksa sekujur tubuhnya dia bisa memastikan, jika rantai yang dimaksud tidak muncul dari bagian tubuhnya manapun.


"Penjelasannya mudah, karena itu adalah sesuatu benda sihir yang berasal dari mantra kegelapan. Meskipun itu hanya benda sihir, tetapi seperti yang kita lihat sebelumnya rantai itu bukan hanya dapat melukai, bahkan dapat mencabut jiwa seseorang."


"Seperti juga ilmu tubuh ilusiku, meskipun itu tubuh ilusi, namun mereka dapat membantuku menghabisi musuh."


Geho sama segera memahami penjelasan eyang Sindurogo. Karena itu dia mencoba menjelaskan sesuai pengetahuannya sebagai ahli sihir.


"Kemungkinan rantai itu dibuatkan kontrak dengan jiwa Pujangga gila. Setelah kontrak itu dilemahkan oleh tuan Suro dengan menyerap kekuatannya, maka Pujangga gila dapat lepas dari kuatnya kontrak sihir tersebut. Setelah kontrak itu lepas, maka rantai itu juga menghilang."


"Aku yakin itu kembali kepada pemiliknya yang asli atau yang telah mengerahkan sihir tersebut." Geho sama kembali melanjutkan penjelasannya.


Suro mengangguk-angguk mendengarkan seluruh penjelasan dari Geho sama. Setelah itu dia menatap gurunya yang juga mendengar penjelasan Geho sama.


"Aku yakin mereka hendak mengambil relik kuno yang disimpan di perguruan itu."


Eyang Sindurogo terlihat bimbang dengan ucapan Suro. Pandangannya justru mengarah ke Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan atau lebih dikenal dengan nama Perguruan Penyembah Dewa Kegelapan. Di bagian tengah dan belakang bangunan perguruan itu masih utuh.


Eyang Sindurogi masih penasaran dengan perginya Batara Karang saat mereka disibukkan dengan Pujangga gila. Meskipun saat itu eyang Sindurogo mengetahui kepergian Batara Karang bersama seluruh anggota perguruannya yang tersisa, namun dia tidak dapat mencegahnya. Karena dia cukup kerepotan menghadapi Pujangga gila.


"Eyang masih penasaran dengan perguruan ini, selain itu eyang hendak menyisir mungkin saja Batara Karang masih bersembunyi dibagian perguruan yang masih utuh itu. Oleh karena itu eyang akan memastikannya terlebih dahulu."


Mendengar jawaban dari gurunya, maka Suro menganggukan kepala tidak membantahnya.


"Oh, iya, bukankah dirimu punya tehnik perubahan tanah yang sanggup mendeteksi manusia dari jarak jauh melalui getaran yang kamu tangkap ditelapak kakimu?"


"Nuwun inggih eyang."


"Coba kamu periksa di seluruh penjuru sekitaran perguruan ini, apakah masih ada anggota perguruan yang bersembunyi?"


"Sendiko dawuh, eyang."


Suro segera melaksanakan perintah gurunya. Dia kemudian merasakan getaran tanah untuk membaca pergerakan manusia disekitar perguruan itu dengan menggunakan telapak tangannya. Suro mulai menempelkan telapak tangannya pada permukaan tanah.


"Suro menemukannya eyang. Tetapi mereka berada di ruangan bawah tanah. Selain itu Suro merasa mereka bukan anggota perguruan ini, tetapi justru kemungkinan mereka adalah para tahanan. Jumlah mereka sangat banyak sekali eyang."


Suro kemudian menunjukkan arah yang dia maksud.


"Kamu bantu saja perguruan yang menjadi aliansi Pedang Surga itu. Eyang dan Geho sama akan tetap disini memeriksa seluruh perguruan ini terlebih dahulu hingga selesai. Setelah selesai eyang akan menyusulmu ngger."


"Selain itu kekuatanmu sudah mencapai tingkat surga, jadi cobalah kekuatanmu yang baru ini. Mumpung ada musuh yang kuat. Kamu jajal seberapa hebat kekuatan tingkat surga yang kamu miliki. Eyang yakin kamu akan dapat mengatasi pasukan kegelapan yang dipimpin Batara Antaga "


Setelah berpamitan kepada gurunya, Suro kemudian bergegas kembali ke Perguruan Pedang Bayangan. Dia lalu lenyap dari pandangan.


**


Setelah lenyap dari pandangan, maka Suro segera muncul di Perguruan Pedang Bayangan. Sebuah penampakan yang Suro lihat membuatnya sangat terkejut, sebab kehancuran yang terjadi di Perguruan Pedang Bayangan sangat parah.


Dari kejauhan dia segera mengetahui mengapa kehancuran itu terjadi, sebab Batara Antaga kali ini mengamuk dengan begitu buas.


Dewa Pedang dan Dewa Rencong terlihat kewalahan menahan serangan Batara Antaga, meskipun pada saat itu mereka dibantu para tetua dan juga kembaran Suro yang mengendalikan bilah Pedang Kristal Dewa.


Suro yang baru datang segera bergerak ke arah pertempuran itu. Dia mencoba mendapatkan peluang untuk menyerang Batara Antaga.


Blaaar! Blaaar!


Terjangan sinar dari Suro menerjang tubuh Batara Antaga. Tubuh itu terpental cukup jauh.


"Nakmas Suro!" Beberapa tetua berseru melihat serangan yang dikerahkan Suro.


"Para Paman tetua silahkan beristirahat dahulu, biarkan Suro yang menghadapinya sementara waktu!"


Suro tidak memberikan kesempatan kepada Batara Antaga, dia kemudian meneruskan serangannya dengan jurus pedang terbangnya. Ketiga puluh pedang miliknya langsung melesat menerjang tubuh Batara Antaga.


Suro tidak membiarkan musuhnya itu dapat bernafas lega. Selagi Batara Antaga menghindari serbuan pedangnya, dia kembali melesatkan jurus kedua dari Ilmu Tapak Dewa Matahari.


Sinar dari ujung jari telunjuknya menerjang tubuh Batara Antaga, tetapi kali ini dia dapat menghindarinya. Luka dari serangan sebelumnya yang diderita Batara Antaga telah pulih.


Blaaar! Blaaar!


Meskipun begitu jurus yang dikerahkan Suro yang berturut-turut itu telah berhasil membuat lelaki itu cukup kerepotan. Pasukan kegelapan yang hendak membantu, segera dengan mudah dihabisi oleh Suro. Termasuk diantaranya adalah beberapa manusia bertanduk yang sudah mencapai tingkat langit.


"Edan bagaimana bocah itu bisa dengan mudahnya menghabisi mereka?" Dewa Rencong terkesima dengan kekuatan Suro. Karena musuh yang berhasil dihabisi dengan tehnik empat Sage adalah lawan yang tidak lemah.


"Apa kakang tidak melihat jika kekuatannya sudah melewati kita?" Dewa Pedang yang ada disamping Dewa Rencong menyadari kekuatan yang kini dimiliki Suro.


"Benar juga adimas, aku baru menyadarinya. Luar biasa ini bukan lagi tingkat kekuatan langit. Ini adalah kekuatan tenaga dalam tingkat surga! Darimana dia mendapatkan kekuatan itu?" Dewa Rencong kembali berseru dengan takjub.


"Entahlah, sebelumnya dia berpamitan untuk membantu gurunya yang juga sedang menghadapi sebuah pertempuran."


Dewa Pedang kemudian menceritakan kepada Dewa Rencong saat Suro pamit hendak menolong gurunya.


Selagi Suro menghabisi lawan, para tetua begitu juga Dewa Rencong dan Dewa Pedang mencoba menarik nafas dan mengumpulkan tenaga kembali. Beruntung mereka para tetua telah membawa bekal pil tujuh bidadari. Sehingga kekuatan mereka tidak habis setelah melawan musuh yang begitu kuat.


"Purbangkara!" Suro berteriak memanggil kembarannya. Dia hendak menyuruh kembarannya untuk menyerang dari sisi berbeda.


Kembarannya itu segera memahami apa yang diinginkan Suro. Dia segera menyerang menggunakan jurus api. Purbangkara adalah satu dari sedulur papar. Dia adalah penguasa perubahan api.


Setelah kedatangan Suro, kekuatan Purbangkara juga langsung meningkat tajam. Seperti juga tuannya, maka dia telah mencapai tingkat surga. Dengan peningkatan kekuatan itu membuat api yang menyala menyelimuti tubuhnya kini berubah menjadi api putih.