SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 230 Siasat Suro



Setelah mendapat perintah Raja Chambuwarman, maka para punggawa kerajaan segera mengatur agar para penduduk secara berangsur-angsur dapat menjauh dari benteng kota kerajaan secepatnya.


Awalnya para penduduk sempat memprotes keputusan yang membingungkan itu. Tetapi entah bagaimana caranya punggawa itu berhasil menjelaskan kepada mereka semua. Akhirnya para penduduk mengikuti arahan para prajurit Kerajaan Champa.


Tetapi sebelum para penduduk itu menjauh dari benteng kota kerajaan, Suro bersama Geho sama segera bergerak dengan cepat. Mereka berdua segera menghabisi para pasukan kegelapan yang berjaga di atas tembok yang mengelilingi kota kerajaan itu.


Api hitam milik Lodra yang berupa Naga Taksaka menelan tubuh manusia yang memiliki bentuk kaki seperti seekor ayam. Mereka berdua melakukan itu, sebagai upaya menutupi pergerakan para penduduk yang hendak meninggalkan kota kerajaan sejauh mungkin. Dengan tindakan itu juga dapat memberi waktu bagi para penduduk meninggalkan tempat itu dengan selamat. Karena pasukan kegelapan tidak menyerang mereka, karena tidak mengetahui mereka telah pergi dari tempat itu.


Para prajurit Champa yang menyaksikan aksi mereka berdua menghabisi pasukan kegelapan yang berdiri di atas benteng dibuat begitu kagum. Kekuatan dan cara yang digunakan Suro maupun Gagak setan sesuatu yang luar biasa. Karena pandangan mata mereka tidak dapat menangkap gerakan tubuh mereka yang berpindah begitu cepat.


Tubuh mereka hilang dan muncul kembali seperti kilat. Kecepatan itu juga yang menjadi kunci keberhasilan mereka berdua menghabisi para pasukan kegelapan.


Para pendekar yang berada diantara jajaran punggawa kerajaan segera menyadari kekuatan pemuda belia yang telah menyelamatkan rajanya memiliki kekuatan yang sangat menakutkan. Mereka semua begitu kagum kekuatan yang dipertunjukkan oleh Suro.


Setelah berhasil menghabisi semua pasukan kegelapan yang berjajar diseluruh tembok kota kerajaan, maka Suro dan Gagak setan bergerak ketempat lain. Mereka langsung menghilang dibalik tembok. Kali ini mereka berdua hendak meneruskan pertarungan melawan seluruh pasukan kegelapan yang sebelumnya berada di sekitar istana kerajaan.


Kali ini Suro mengerahkan kekuatan maksimal. Sebelum meneruskan pertarungan dia berjalan sambil mengunyah Pill tujuh bidadari untuk mengembalikan tenaga dalamnya dengan cepat.


Naga Raja Sisik emas yang melingkar di tubuh raksasa Gagak setan terus mendatangkan energi alam yang digunakan untuk memulihkan tubuh dengan cepat. Kondisi itu membuat tubuh Gagak setan seolah tidak memiliki rasa capek. Tenaga dalamnya terus meluap-luap meminta pelampiasan. Itulah sebabnya meski lawan yang dihadapi seakan tidak ada habisnya, dia dapat mengatasi semua itu.


Ilmu sihir miliknya juga membantu dirinya menghadapi musuh yang rata-rata berada di tingkat shakti ke atas.


Suro sudah tidak lagi menahan kekuatan yang dia miliki setelah tenaga dalamnya telah pulih seratus persen. Kekuatan jiwa empat Raga sejatinya langsung muncul. Mereka kali ini tidak seperti sebelumnya.


Setelah mencapai pencerahan sempurna melewati jalan arhat, keempat penjaga jiwanya atau pamomong dirinya juga meningkat pesat mereka telah mencapai puncak kekuatan langit.


Tehnik empat catur mahabhuta atau empat pembentuk alam yang mereka kuasai juga ikut meningkat tajam.


Sebelum Suro dan Gagak setan menuju istana kerajaan para pasukan kegelapan telah terbang mendekati mereka.


Tiga puluh pedang milik Suro telah melesat dari sarung pedang yang berbentuk kotak besar. Kotak itu sengaja dibuat agak besar agar mampu menampung seluruh bilah pedangnya. Kotak pedang yang menggantung di pundaknya itu terbuat dari bahan khusus yang cukup kuat.


Tiga puluh pedang itu telah dikendalikan oleh keempat kembaran dirinya. Setiap kembaran dirinya menggunakan tehnik perubahan unsur alam digabung dengan jurus pedang terbang. Sehingga pengerahan jurus yang mereka lakukan dapat memukul mundur musuh yang terus berdatangan.


Lodra si pengendali api hitam tak mau kalah dia menyerang musuh dengan tehnik apinya yang luar biasa mengerikan. Setiap lawan yang terkena tehnik apinya berakhir menjadi abu.


Suro sendiri bertarung dengan memadukan jurus Tapak Dewa Matahari dengan menggunakan Langkah Maya. Perpindahan gerakan Suro dan Geho sama membuat lawannya kesulitan menangkap dengan indera penglihatannya.


Sebab setiap mereka menghilang, maka tempat kemunculannya tidak dapat di tebak. Kecepatan gerakan mereka itu menjadi kunci keberhasilan menghabisi lawan yang terus berdatangan. Dengan didukung api hitam milik Lodra, membuat mereka tidak dapat kembali pulih. Karena telah mati terbakar dan menjadi seonggok abu.


Geho sama yang berada di samping Suro terus memperlihatkan ilmu sihir yang tidak biasa. Kekuatannya yang terus disokong oleh Naga Raja Sisik emas membuat dia tidak akan takut kehabisan tenaga.


Bahkan beberapa musuh justru lenyap tenggelam terhisap oleh tehnik empat Sage miliknya.


Setelah pertempuran yang panjang dan meratakan hampir sepertiga dari seluruh kota kerajaan, pasukan kegelapan mulai bergerak mundur. Hampir seratus pasukan di pihak mereka lenyap. Baik karena habis terbakar oleh api hitam milik Suro, maupun oleh tehnik empat sage milik Geho sama.


"Siapa kalian sebenarnya?"


"Ilmu apa yang kalian miliki ini?"


Berbagai pertanyaan dari mereka yang mundur dibalas Suro dengan senyuman kecil.


"Dimana pemimpin pasukan ini? Aku ingin berbicara dengannya?"


"Apa yang kau maksud dengan Utusan Kanan?" Lelaki itu terkejut mendengar Suro bertanya mengenai seseorang yang memimpin pasukan mereka yang berhasil menguasai Kerajaan Champa dengan cepat.


"Benar Utusan Kanan, dia menjanjikan ku sebuah kekuatan besar dari junjungannya yang mereka sebut sebagai Dewa Kegelapan?" Suro sengaja memancing tentang keberadaan gurunya yang tak dapat dia temukan di Kerajaan Champa.


Mereka para pasukan musuh terlihat kebingungan dan dipenuhi keraguan. Sebab sedikit yang mengetahui, jika mereka menyerap kekuatan dari Dewa Kegelapan, kecuali orang-orang yang sepihak dengan mereka. Minimal yang mengetahui hal itu adalah orang yang berasal dari satu perguruan dengan mereka.


Suro sebenarnya telah menyadari jika orang-orang yang menjadi bagian pasukan kegelapan di depan mereka dan juga yang mereka hadapi di dalam istana adalah pasukan yang kemungkinan berasal dari beberapa perguruan.


Setelah melihat kemampuan kedua tetua ular dan juga Tongkat iblis yang berhasil meningkatkan kekuatannya dengan cepat, Batara karang memang memerintahkan perguruan aliran hitam yang ikut bergabung dalam pasukan mereka tidak dirubah sepenuhnya menjadi manusia kelelawar. Justru mereka tetap dibiarkan memiliki kecerdasan dan kemampuan mereka saat sebagai manusia. Melalui tehnik tertentu mereka telah ditingkatkan kekuatannya dengan cepat. Keputusan Batara Karang terbukti telah membuat pasukan mereka semakin kuat.


"Bagaimana kau tau tentang Utusan Kanan yang memimpin pasukan ini?" Lelaki yang menggenggam sebuah golok besar menatap Suro dengan tajam.


Lelaki itu sebelumnya telah tertebas oleh salah satu bilah pedang terbang yang dikerahkan kembaran Suro. Kemampuan lelaki itu sudah pada tingkat langit lapis ketiga. Kekuatan yang dia miliki berhasil didapatkan setelah menyerap kekuatan kegelapan.


"Jika dirimu hendak bergabung dengan kekuatan kami mengapa justru menyerang kami?"


"Hahahaha...!" Suro tertawa keras setelah mendapatkan pertanyaan itu.


Dia tidak menyangka jika mendapatkan pertanyaan seperti itu. Karena itulah dia hanya pura-pura tertawa untuk memikirkan jawaban yang tepat.


"Apakah dirimu takut kekuatan kegelapan yang ada habis diserap oleh seluruh penduduk Kerajaan Champa yang hendak kami jadikan bagian pasukan kegelapan?"


"Kalian akhirnya mengerti alasan kami menyerang kalian? Utusan kanan sudah menjanjikan pada diriku kekuatan yang akan diberikan, kini tiba-tiba kalian justru meneahulukan para penduduk Kerajaan Champa ini dibandingkan diriku! Apakah kalian meremehkan kekuatan yang aku miliki ini?" Suro menatap ke arah lelaki dan juga ke arah pasukan kegelapan yang lain.


"Mengenai hal itu kami tidak memiliki kapasitas untuk membuat keputusan."


"Apakah aku harus bertemu dulu dengan Batara Karang atau Batara Antaga?" Suro kembali menatap ke arah orang tersebut.


Pertempuran diantara mereka berhenti untuk sementara. Suro meminta Geho sama tetap waspada. Dia menjelaskan kepada Geho sama lewat suara batinnya. Tujuan dari siasat yang dia lakukan adalah salah satu cara yang dapat mempertemukan dirinya dengan Eyang Sindurogo yang seharusnya ada di istana Kerajaan Champa. Tetapi entah bagaimana dia tidak dapat menemukannya.


Karena itulah dia mencoba membuat siasat agar bisa bertemu dengannya, melalui pasukan kegelapan yang telah terpancing oleh siasat yang dia rencanakan.


Mendengar nama Batara Karang dan Batara Antaga mereka semua begitu terkejut. Lelaki yang berbicara dengan Suro sedari tadi, kemudian berjalan ke belakang dan berbisik kepada seseorang yang lain.


Lelaki yang diajak berbicara memegang sepasang trisula, berumur mungkin sekitar setengah abad, meski tubuhnya masih terlihat begitu gagah dengan otot yang memenuhi sekujur tubuhnya.


"Baik kami akan mencoba bertanya kepada Utusan kanan!" Lelaki itu kemudian memerintahkan seseorang masuk ke dalam gerbang gaib agak jauh dibelakang mereka.


"Baiklah akan aku tunggu Utusan Kanan disini!" Suro kemudian menyarungkan pedang miliknya. Dan mulai duduk bersemadhi. Sebelum bersemadhi dia menelan Pill tujuh bidadari untuk mengembalikan kekuatan yang telah banyak terpakai, setelah pertempuran yang dilalui barusan.


Dia menggunakan waktu menunggu itu untuk memulihkan diri, sebab lawan yang akan dia hadapi adalah seseorang yang kekuatannya tidak dapat dia bayangkan. Dia tidak mampu mengetahui sudah seberapa kuat kali ini Utusan Kanan yang disebut pasukan kegelapan barusan. Karena Utusan kanan yang sedang dia tunggu kemungkinan adalah gurunya sendiri, yaitu Eyang Sindurogo.