SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 84 MENUNGGU LATIHAN TAHAP TERAKHIR part 4



"Kakang ini seorang lelaki, adinda Mahadewi!" Suro menjawab sambil tersenyum dengan muka masih penuh coreng-moreng. Kulitnya yang memang coklat kegelapan semakin bertambah gelap tertutup debu. Sehingga jika dilihat dari jauh yang terlihat hanya warna putih bola matanya dan deretan gigi yang terpampang karena senyumnya yang melebar seperti menutupi seluruh wajahnya. Terlihat seperti apakah penampakan itu? Tentu sudah bisa dibayangkan seperti apa penampakan tersebut jauh dari kata layak untuk disebut penuh pesona.


Tetapi bagi Mahadewi yang menatapnya dia telah dibuat begitu terpana seperti melihat Raden Arjuna. Dia juga merasa Suro terlihat begitu berwibawa. Dan senyumnya yang memperlihatkan seluruh deretan gigi depannya, bagi dirinya terlihat begitu menawan.


"Setiap janji pasti akan kakang tepati!"


"Perkara langkah kilat itu pasti akan kakang ajarkan. Tetapi persoalan mengenai Eyang guru lebih wigati (penting), perlu kakang tangani secepatnya. Karena itulah, kakang mencoba sebisa mungkin tidak membuang-buang waktu untuk mempercepat latihanku. Karena untuk menyelamatkan Eyang guru kakang harus bertambah lebih kuat."


"Sekarang persoalan justru semakin bertambah. Serangan pasukan siluman di Banyu Kuning ternyata sulit dihadapi. Paman guru bahkan meminta kakang menyusul kesana untuk ikut membantu menghadapinya. Sekaligus membawakan persediaan obat-obatan untuk pasukan di Banyu Kuning. Kemungkinan cadangan perbekalan obat-obatan mereka sudah menipis."


"Kakang sendiri sebenarnya jujur, tidak begitu yakin bisa membantu mengatasi para siluman itu. Meskipun begitu, kakang juga penasaran dengan kekuatan yang baru saja aku peroleh. Karena setelah mampu membuka granthi di chakra ajna, tenaga dalam kakang bertambah semakin kuat. Dengan itu kakang mampu mengerahkan energi chakra yang sangat besar."


"Dengan kekuatan yang baru saja kakang peroleh memungkinkan kakang untuk menggunakan ilmu Tapak Dewa Matahari. Sejak dulu ingin sekali kakang bisa menggunakan ilmu itu, tetapi chakra yang kakang miliki belum memungkinkan untuk menggunakannya. Karena itu, walaupun kakang tidak mampu sepenuhnya mengatasi para siluman. Tetapi dengan Tapak Dewa Mathari kakang yakin bisa memperkuat pasukan yang dipimpin paman guru."


"Sesuai perintah paman guru Dewa Pedang kakang akan menyusul ke Banyu Kuning, setelah menyelesaikan semua tahap dalam tehnik sembilan putaran langit."


"Semoga adinda dan Made Pasek memahami posisiku sekarang. Tetapi karena kakang sudah berjanji kepada adinda, tentu sebisa mungkin akan kakang tepati. Mungkin hari ini kakang akan mewujudkan permintaan adinda. Karena untuk hari ini tetua juga menyuruhku beristirahat dilarang meneruskan latihan."


"Selain itu pesan dari Banyu Kuning kepada kakang berkaitan dengan obat-obatan yang mereka minta. Kakang akan memastikan terlebih dahulu kepada paman Kolo Weling. Apakah sudah tersedia atau belum?"


"Oleh karena itu, kakang akan meminta waktu sebentar untuk membiarkan kakang bertemu dengan paman Kolo Weling, untuk mendiskusikan dengannya mengenai obat-obatan yang harus sudah siap setelah kakang selesai berlatih. Dan juga hal lainnya."


"Baik kakang adinda memahaminya. Adinda bersama kakang Made Pasek akan duduk didepan sini saja, menunggu sampai kakang menyelesaikan urusannya dengan paman Kolo Weling."


"Terima kasih pengertiannya. Sekalian kakang akan bersih-bersih terlebih dulu. Gara-gara granthi terakhir yang kakang buka, satu rumah milik paman guru Dewa Pedang kembali kakang hancurkan. Karena begitu granthiku terbuka ikut serta melepaskan ledakan energi, persis kejadiannya seperti saat kakang membuka granthi kedua."


"Silahkan kakang menemui paman Kolo Weling untuk memastikan ketersediaan obat yang kakang sebut tadi." Mahadewi mempersilahkan Suro bertemu Kolo Weling sambil tersenyum manis.


Suro menjawab perkataan Mahadewi dengan anggukan kecil.


Suro segera masuk kedalam rumah untuk bertemu Kolo Weling. Ternyata begitu sepinya kondisi depan rumah, karena Kolo Weling dan seluruh rekannya sedang sibuk membuat obat yang telah dipesan Suro. Tempat meramu obat memakai rumah belakang yang terpisah agak jauh dari rumah utama.


Cukup lama dia berbincang dengan Kolo Weling dan yang lainnya. Dia begitu senang ternyata obat-obatan yang diminta Dewa Pedang telah dibuat dengan jumlah yang banyak.


Setelah selesai urusannya dengan Kolo Weling, kemudian berganti baju dan membersihkan badannya, dia segera kembali menemui Mahadewi. lalu mulai melatih Made Pasek dan Mahadewi secara bersamaan.


Dalam kesempatan itu Made Pasek mencoba mematangkan gerakannya, dengan meminta Suro melihat gelaran jurusnya. Setelah beberapa kali Suro membetulkan dan memberikan masukan mengenai gerakannya, akhirnya Suro cukup mengawasinya dari kejauhan. Karena setelah itu Made Pasek bisa mengelar jurus yang diajarkan jauh lebih baik.


Setelah Made Pasek sudah banyak mengalami kemajuan, maka Suro kemudian ganti fokus melatih Mahadewi mengenai tehnik langkah kilat yang sudah dijanjikannya. Langkah kilat merupakan bagian ilmu saifi angin tingkat tertinggi.


Suro segera wedar kaweruh tentang ilmu tersebut kepada Mahadewi. Suro menjabarkan ilmu saifi angin mengambil penjelasannya langsung dari sumbernya, yaitu kitab saifi angin yang sudah dia hafalkan. Kitab saifi angin adalah salah satu dari sekian banyaknya kitab koleksi Eyang Sindurogo yang seluruhnya telah dia baca.


Panjang lebar dia menjelaskan ilmu itu dengan lebih mendetail, tentunya Mahadewi bisa merasakan perbedannya betapa terperinci penjabarannya, dibandingkan penjelasan yang diterima Mahadewi dari gurunya Dewi Anggini.


Dia berusaha menjelaskan langkah kilat kepada adinda Mahadewi dengan gamblang dan sebisa mungkin Mahadewi mudah untuk memahaminya. Karena nanti dia harus bisa mempraktekkannya sendiri selama dirinya mencoba membuka chakra mahkota, chakra terakhir yang belum sempat dia buka. Karena memang dilarang oleh Dewa Rencong untuk langsung diteruskan. Dia menyusuh Suro untuk menunggu sehari atau dua hari sampai tubuhnya sudah dalam kondisi siap untuk memulai kembali latihannya.


Tehnik pedang lentur yang diajarkan Suro kepada Made Pasek mengalami kemajuan yang cukup berarti. Melihat hasil latihannya barusan Suro sudah menganggapnya cukup baik. Apalagi waktu itu sebelum Suro mulai berlatih membuka chakra ajna, sempat menyarankan Made Pasek untuk tidak menunda lagi mulai membuka nadi chitrini miliknya, agar dapat membantunya meningkatkan pemahaman tentang ilmu pedang miliknya.


"Sebaiknya adinda Mahadewi selain berlatih langkah kilat juga mulai meneruskan membuka nadi chitrini yang sudah adinda mulai buka sejak adinda akan bertarung melawan arimbi."


"Bukankah waktu itu adinda berhasil mengungguli kekuatan lawan. Walau nadi itu hanya terbuka sedikit sekali. Oleh karena itu kakang berharap adinda jangan hanya mengandalkan kecepatan sebaiknya juga meningkatkan pemahaman dan juga tahap pedang adinda, seperti Made Pasek. Dia juga mengalami kemajuan yang bagus. Setelah mengikuti saran kakang untuk mulai membuka chitrini."


"Baik kakang, adinda akan mengikuti petunjuk kakang."


Suro mengangguk kecil mendengar jawaban Mahadewi.


Kembali Suro mencoba memberi pencerahan kepada mereka berdua. Setiap perkataannya didengarkan dengan begitu khidmat oleh dua pendekar yang sebenarnya lebih tua dari dirinya.


Entah mengapa dua pendekar muda itu merasakan perbedaan besar antara guru mereka sendiri dengan Suro, mengenai cara menjabarkan. Mereka mampu dengan mudah menangkap semua pengetahuan yang dijelaskan secara gamblang itu.


Setiap kata yang diucapkan Suro seperti paku yang yang ditancapkan ditembok sekali terdengar bisa masuk dalam ingatan mereka. Sehingga mereka bisa memahaminya dengan begitu mudah.


"Baiklah semua sudah aku jelaskan untuk memperkuat dasar ilmu pedang kalian berdua. Jika kalian bisa melakukan seperti yang aku jelaskan barusan tentu akan membuat kalian lebih hebat. Selain itu kalin adalah para murid utama yang tentunya memiliki kwalitas seorang jenius. Walaupun kalian tidak mendapatkan jabatan tetua muda, tetapi kalian adalah tetap murid-murid terbaik dari sekian ratus murid perguruan cabang. Dengan kondisi itu tentu kalian bisa memahami dengan baik semua penjelasan yang barusan aku ucapkan."


"Besok aku harus mulai berlatih kembali untuk membuka chakra sahasrara. Kalian tentu sudah melakukannya bukan? Karena aku tau tingkat tenaga dalam kalian sudah pada tingkat tinggi, yang artinya kalian sudah membuka tujuh chakra utama dalam tubuh kalian sampai chakra mahkota."


"Seharusnya kalian juga bisa membuka nadi chitrini melalui meditasi, seperti saat kalian membuka seluruh chakra utama. Walau memang tidak mudah tetapi kalian harus melakukannya jika ilmu pedang kalian ingin meningkat pesat."


"Kakang belum selesai membuka tujuh chakra utama? Bagaimana mungkin ini mustahil? Dengan pengerahan tenaga dalam sekuat waktu itu tentu sesuatu yang terdengar tidak masuk diakal."


Suro hanya mengaruk-garuk kepala begitu mereka mendengar perkataannya yang tidak masuk akal tersebut.


"Panjang lebar jika aku harus jelaskan kepada adinda. Intinya aku memiliki kemampuan yang kalian tidak bisa menirunya. Selain itu aku memiliki beberapa tehnik tenaga dalam yang mampu aku kerahkan secara bersamaan. Dengan kemampuan itu seperti yang kalian liat sewaktu aku bertarung di seleksi tetua muda."


Sampai malam dia memberikan masukan kepada mereka berdua agar kemampuan mereka mengalami peningkatan.


Akhirnya mereka berdua pulang dengan senyum puas, karena apa yang mereka inginkan telah diperolehnya.


**


"Bagaimana nakmas apakah persediaan obat yang diminta Dewa Pedang sudah ada?" Eyang Udan Asrep mencoba memastikan obat yang diminta Dewa Pedang.


"Sudah tetua. Ternyata setelah saya meminta untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, mereka langsung bergerak untuk mengumpulkan semua bahan yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya."


Eyang Udan Asrep tersenyum puas mendengar penjelasan Suro.


Untuk melanjutkan latihan Suro Eyang Udan Asrep akhirnya memilih memindahkan tempat latihan selanjutnya dikediamannya sendiri. Agaknya dia merasa begitu terganggu dengan kehadiran para anggota perguruan yang menunggu Suro berlatih.


***


Jangan lupa untuk terus mendukung novel ini dengan like, comment, point dan koin terimakasih semua yang menyempatkan waktunya membaca novel ini.