
Dewa Pedang setelah menjelaskan mengenai nasib sisa pasukan Medusa, sempat berhenti sebentar untuk menarik nafas panjang sambil menatap ke segala penjuru. Para tetua terlihat kebingungan setelah mendengarkan cerita darinya.
"Silahkan Bekel Astawa ceritakan tentang kedatangan dua orang yang datang bersama eyang Sindurogo dan juga kondisi semua sisa pasukan Medusa yang kalian ingat saat dihutan larangan terakhir kali."
Bekel Astawa yang mendapat perintah dari Dewa Pedang segera maju ke depan dan mulai bercerita didepan para tetua dan juga petinggi Perguruan Pedang Surga. Dia bercerita tentang semua kejadian terakhir dihutan larangan yang masih sempat dia ingat. Termasuk kedatangan tiga lelaki yang semuanya memakai pakaian yang tidak pernah dilihatnya. Tiga orang yang terbang turun dari langit. Satu orang yang terbang itu menurut Adipati dari Dahanapura dikenal sebagai eyang Sindurogo.
Setelah Bekel Astawa selesai menceritakan semua, Dewa Pedang kemudian menceritakan kepada mereka seluruh perjalanan yang dilaluinya bersama Suro dan lainnya. Termasuk dia juga bercerita saat mereka berada dihutan Gondo Mayit.
Sedangkan saat perjalanan di alam kegelapan dia meminta Dewa Rencong juga ikut bercerita dan menjelaskan kepada para tetua. Karena pada saat itu mereka berpisah dan ada cerita yang sebagian tidak diketabui olehnya.
Setelah Dewa Rencong selesai bercerita, pada bagian akhir dia menegaskan kembali adanya ancaman dari Dewa kegelapan yang akan sanggub menghancurkan seluruh alam raya. Karena alam tempat yang mereka tinggali selama ini sejatinya adalah sebuah penjara untuk raga dewa kegelapan yang tersembunyi di dasar bumi. Jika segel hancur, artinya bumi tempat tinggal mereka juga hancur. Dia menjelaskan semua itu sesuai dengan apa yang telah diceritakan Geho sama.
Kali ini para tetua setelah mendengar penjelasan Dewa Pedang sampai tidak berkomentar apa-apa, karena begitu terkejut dengan cerita yang tidak disangka itu.
"Dua orang bernama Batara Karang atau Batara Sarawita dan juga Hyang Antaga yang disebut sebagai tokoh dibalik layar perencana semua kejadian ini, bukankah pernah diceritakan oleh tetua Dewi anggini? Bukankah mereka juga sempat diburu oleh eyang Sindurogo sendiri, hingga ke daratan tengah?"
"Benar kakang Udan Asrep, memang kakang Sindu memburunya, hanya saja dia tidak menemukannya." Dewi anggini tersenyum mendengar pertanyaan Eyang Udan asrep barusan. Dia mencoba meluruskan ucapan dari Eyang Udan asrep.
"Menurut penjelasan perguruan cabang yang daerahnya diserang makhluk kegelapan, mereka menceritakan kemampuan para makhluk itu, seperti apa yang diceritakan Dewa Pedang barusan. Lalu bagaimana kita akan menghabisi para makhluk dari alam kegelapan? Tidak mungkin kita hanya mengandalkan semua kepada nakmas Suro?" Eyang Baurekso dari perguruan cabang Pedang Halilintar ikut berbicara. Dia datang ke perguruan pusat untuk melaporkan perkembangan perguruan yang dipimpin setelah dibantu dari pusat.
"Benar apa yang dikatakan kakang Baurekso. Sebab menurut penjelasan perguruan cabang saat mereka membantu mengatasi daerah yang diserang makhluk itu, ilmu pedang mereka seperti tidak berguna. Sebab mereka segera pulih setelah tubuhnya dihancurkan. Adakah ilmu yang mampu digunakan untuk menghabisi para makhluk kegelapan itu, tentunya selain yang dimiliki nakmas Suro?" Kali ini eyang Kaliki tidak mampu menahan untuk tidak ikut berbicara. Karena masalah yang sedang dihadapi beberapa daerah sesuatu yang sudah gawat.
Semua terdiam begitu juga Dewa pedang, karena dia merasakan sendiri bagaimana merepotkannya makhluk yang hampir mustahil di bunuh itu.
"Apa tidak bisa tetua muda Suro memberikan ilmu empat sage kepada kita? Bukankah itu berhasil menghabisi para makhluk kegelapan?" Seseorang petinggi perguruan membuka suara.
"Aku tidak setuju mengenai hal itu, sebab ilmu itu sebaiknya tidak disebarkan, karena akan sangat berbahaya sekali. Selain itu, apa yang dilakukan nakmas Suro tidak sesederhana yang kalian duga. Ada beberapa hal mengapa nakmas Suro tidak terpapar dari hawa kegelapan yang dia serap." Sebelum Suro menjawab Dewa Pedang sudah menjawab lebih dahulu.
Karena dia mengetahui rahasia ilmu empat sage dan bagaimana Suro memindahkan hawa kegelapan ke dalam bilah pedang dan kali ini juga diserap oleh jiwa geho sama. Sehingga dia tidak ikut terkena jahatnya hawa kegelapan.
"Lalu bagaimana caranya kita dapat membantu perguruan cabang menghadapi makhluk kegelapan? Padahal mereka berada pada tempat yang sangat jauh dari sini?" Kembali petinggi perguruan itu bertanya. Pertanyaan itu juga diaminin oleh tetua lainnya, karena itu memang mewakili keresahan mereka.
"Suro untuk saat ini tidak mengetahui bagaimana cara terbaik untuk menghadapi makhluk kegelapan itu, selain dengan cara yang hanya diriku yang mampu melakukannya. Suro juga tidak mengetahui ada ilmu yang mampu menghabisi mereka. Tetapi untuk saat ini Suro bisa membantu perguruan cabang secepatnya, setelah diketahui dimana serangan itu terjadi." Akhirnya Suro buka suara untuk mencoba memberikan solusi terbaik.
"Ilmu puter giling milik Gagak setan akan mengantarkan kemanapun dan dimanapun tempat yang sedang diserang makhluk kegelapan dengan cepat."
Suro menjelaskan ilmu ruang waktu miliknya, walaupun sebenarnya ilmu itu adalah milik Geho sama. Dia mampu menjamin jika dengan ilmu itu akan menjangkau setiap perguruan cabang ditempat sejauh apapun dalam waktu yang sangat singkat. Dia mengambil contoh saat dia mengantarkan semua dari alam kegelapan, langsung bisa tiba di gerbang Perguruan Pedang Surga. Walaupun saat membuat gerbang gaib seperti itu memerlukan chakra yang besar. Tetapi selama matahari masih bersinar Suro dapat memulihkan tenaga dalamnya dengan cepat.
"Lalu bagaimana cara kita mengetahui dengan cepat perguruan yang sedang diserang? Sehingga nakmas Suro bisa secepatnya memberikan pertolongan, sebelum anggota perguruan cabang dihabisi semua oleh makhluk kegelapan itu!"
Sebelum Suro menjawab pertanyaan barusan, dia berjalan ke arah Dewa Pedang dan mulai membisikan sesuatu ke arah kepala perguruan.
'Paman guru, sebaiknya aku katakan kepada mereka mengenai kaca benggala milikku atau tidak?'
'Sebaiknya jangan nakmas. Katakan saja kamu memiliki caranya' Dewa Pedang membalas menjawab pertanyaan Suro dengan berbisik pelan.
Setelah mendapatkan saran dari Dewa Pedang, maka Suro kembali berjalan ke depan para tetua.
"Intinya Suro memiliki kemampuan yang dapat memantau keadaan perguruan cabang yang kemungkinan paling besar peluangnya akan terkena dampak serangan."
"Sebelumnya aku sudah mendengar cerita dari kakek Kaliki, jika hingga saat ini serangan makhluk kegelapan belum sampai di Javadwipa maupun Swarnabhumi. Serangan itu juga bukan menyasar kepada perguruan cabang kita yang ada di sekitar Yawana, Champa, maupun yang ada di Singhanagari. Mereka rata-rata justru menyerang kota raja."
"Apakah kita perlu mendatangi daerah itu secepatnya paman guru?" Pandangan Suro beralih ke arah Dewa Pedang.
"Tidak menutupi kemungkinan itu nakmas. Tetapi tidak secepatnya, karena kita baru saja selesai melakukan pertempuran yang terlalu melelahkan. Kita harus memulihkan tubuh terlebih dahulu sebelum kembali melakukan perjalanan."
Suro mengangguk mendengar penjelasan dari Dewa Pedang.
Setelah Suro selesai berbicara, dia kemudian kembali kebelakang. Dewa Rencong yang ikut mendengar ucapan Suro barusan membuat dia tertarik atas rencana dirinya akan memdatangi tempat yang diserang oleh makhluk kegelapan.
"Aku tadi dengar nakmas berencana untuk mendatangi daerah Champa dan sekitarnya?" Dewa Rencong mencoba mengambil hati dengan memangil nakmas.
"Apakah paman berminat ikut?" Suro menoleh ke arah Dewa Rencong yang memanggilnya dengan panggilan nakmas. Dia merasa pendekar disampingnya itu sedang mencoba merayunya agar ikut diajak berpetualang ke perguruan cabang ditempat yang jauh.
"Aku belum pernah ketempat itu kalau nakmas kesana aku rela menemaninya."
"Jadi paman Maung tidak akan keberatan jika harus melewati gerbang gaib kembali?"
"Demi berpetualang ketempat yang begitu jauh, tentu paman tidak akan keberatan. Memang jalan hidup yang aku pilih adalah hidup berpetualang nakmas. Jadi bagiku perjalanan membasmi para makhluk kegelapan aku anggab sebagai perjalanan yang menyenangkan, aku tentu tidak mau ketinggalan." Dewa Rencong terlihat sumringah mengetahui dirinya ada kesempatan untuk ikut berpetualang.
"Bukankah waktu itu paman sudah bilang tobat-tobat saat masuk ke alam lain?" Suro masih mengingat jelas Dewa Rencong memaki-maki, karena kepalanya berputar tujuh keliling setelah keluar dari gerbang gaib.
"Ssssttttt...! Jangan diceritakan mengenai hal itu."
Dewa Pedang yang selesai memberi maklumat terakhir berjalan mendekati Suro. Setelah ucapan terakhir dari Dewa Pedang pertemuan dengan seluruh tetua selesai. Inti dari pertemuan itu adalah memberi tahu mereka semua tentang ancaman yang melibatkan seluruh jagat. Tindakan yang akan diambil akan melibatkan Suro, karena hanya dia satu-satunya yang mampu menghabisi para makhluk kegelapan. Selain itu hanya dia seorang yang mampu mengantarkan mereka ketempat jauh dengan lebih singkat.
Para tetua kemudian meninggalkan balairung. Terlihat Widura, Datuk Bandaro putih dan juga Narashinga mengangguk hormat saat lewat didepan Suro. Mereka begitu menghormati Suro, karena pada pertempuran di Banyu Kuning merasa berhutang nyawa.
"Apakah nakmas yakin mampu menggunakan ilmu puter giling untuk mampu mengantarkan kita ke perguruan cabang, jika terjadi penyerangan?" Dewa Pedang bertanya kepada Suro, sebab dia kurang yakin dengan apa yang dikatakan Suro barusan.
"Sebenarnya bukan Suro yang menjamin, tetapi pemilik ilmu itu yaitu Geho sama dia menyanggupinya."
"Lalu bagaimana nasib dengan mereka berempat, paman guru?" Suro bertanya ke arah Dewa Pedang mengenai Bekel Astawa dan juga ketiga temannya prajurit Lumajang.
"Bukankah nakmas yang telah menyelamatkan? Paman kira nakmas yang berhak menentukan nasib mereka!"
Suro kemudian bertanya kepada mereka berempat." Saya membebaskan paman berempat, terserah jika ingin kembali ke daerah masing-masing!"
"Nasib kami ini tidak ubahnya dengan prajurit pelarian yang sudah tidak memiliki tempat untuk mengabdi. Jika diperbolehkan kami akan tinggal dengan tuan pendekar." Bekel Astawa mewakili yang lain menjawab pertanyaan Suro.
"Baiklah, jika itu yang paman putuskan. Suro akan membawa paman sekalian tinggal bersama paman Kolo weling. Agaknya kesibukan dia sebagai tabib terkenal membutuhkan tenaga kalian untuk membantu melayani penduduk yang datang berobat dari berbagai desa."
"Paman guru, akan saya perlihatkan jika ilmu puter giling milik Gagak setan bisa digunakan untuk mempersingat perjalanan dengan berpindah tempat melalui tehnik ruang waktu. Apakah paman bersedia?" Suro menatap Dewa Pedang.
"Aku, aku ikut " Dewa rencong justru yang menanggapi ucapan Suro sebelum Dewa Pedang menjawab.
"Ya, sudah aku juga ingin melihat perkembangan Kolo weling yang sedang mengembangkan penawar racun dari kitab dewa racun." Dewa Pedang tersenyum ke arah Suro.
"Aku juga ikut, karena ingin bertemu muridku Mahadewi. Aku penasaran dengan perkembangan ilmu pedangnya, sudah sejauh apa dia mempelajari jurus sepuluh pedang terbang milik nakmas Suro?"