SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 306 Calon Mantu Pilihan



Setelah hari kelima akhirnya Geho sama telah menyelesaikan tugasnya membuat sihir pelindung. Keberhasilannya itu segera dikabarkan Geho sama kepada tuannya 'aku telah selesai dengan formasi sihirku, tuan Suro.'


Setelah Suro mendengar ucapan Geho sama melalui kesadaran dalam dirinya, dia tidak ingin menunggu waktu lama. Karena itulah dia segera bergegas mengerahkan Langkah Maya. Sekejap itu juga dia telah sampai di depan Geho sama.


"Akhirnya aku bisa mengambil relik kuno ini. Tetapi tunggu sebentar....apakah ini sudah benar-benar aman Geho sama?" Suro berhenti bergerak saat hendak mengangkat archa batu berukuran segengaman kepalan manusia.


Dia sepertinya sedikit ragu, hal itu dikarenakan kejadian sebelumnya yang membuat makhluk kegelapan berhasil memasuki negeri bawah tanah.


"Jangan khawatir sihir perlindunganku ini sangat kuat, bahkan telah menguras seluruh kekuatanku," Geho sama tersenyum penuh bangga atas keberhasilannya.


Suro segera mengambil relik kuno, dia cukup yakin dengan ucapan Geho sama. Hal itu dibuktikan dengan tidak terjadi apapun, setelah Suro mengambil archa batu diatas altar yang penuh ukiran rumit. Dia lalu menyimpan archa itu masuk kedalam pusaka sarang lebah iblis. Seketika itu juga relik kuno lenyap dari tangannya.


"Relik kuno sudah berhasil kita ambil, artinya kita akan melanjutkan perjalanan Geho sama. Namun kita akan berpamitan terlebih dahulu kepada paman La Tongeq sakti terlebih dahulu. Apalagi kekuatanmu juga belum kembali pulih."


"Untuk memulihkan kekuatanku dengan cepat itu sesuatu hal yang mudah tuan Suro."


"Maksudnya?" Suro memincingkan mata mendengar ucapan Geho sama.


"Maksud hamba, tuan Suro bisa memulihkan tubuhku ini dengan menggunakan madu yang dimiliki lebah iblis. Aku yakin setelah Ratu dan Raja lebah iblis bersatu, mereka telah menghasilkan madu yang sangat berkhasiat itu."


Geho sama kemudian menceritakan kepada Suro lebih jelas, karena dia terlihat kebingungan.


"Jadi begitu...aku baru mendengar mengenai hal itu. Aku jadi penasaran mendengar ceritamu Geho sama," ucap Suro sambil terlihat terbelalak matanya mendengar penjelasan Geho sama barusan.


Suro kemudian mengikuti ucapan Geho sama merapalkan mantra agar Ratu lebah datang dan memberikannya madu miliknya.


Setelah dia selesai membaca mantra, muncul seekor lebah terbang didepan Suro yang memiliki kepala seorang wanita. Lebah itu memiliki ukuran cukup besar seperti anak yang berumur lima tahun.


Lebah itu lalu memberikan apa yang diminta. Sebuah kendi kecil yang terbuat dari semacam kaca yang bening diberikan kepada Suro. Sehingga cairan yang ada didalam kendi kecil itu terlihat jelas. Didalam cairan berwarna keemasan terlihat ada letupan-letupan listrik. Sekilas jika dilihat dalam kegelapan, cairan itu mirip penampakan kembang api.


"Sebaiknya tuan Suro menggunakannya sebaik mungkin, karena hanya ini yang kami punya. Dan bukan perkara yang mudah untuk menghasilkan jumlah sebanyak ini."


Setelah selesei berbicara dan memberikan kendi kecil kepada Suro, maka siluman ratu lebah itu kembali menghilang dari pandangan.


"Setelah Ratu lebah dan Raja lebah bersatu, maka koloni lebah itu akan menghasilkan sebuah cairan yang sangat dahsyat," ujar Geho sama. Dia terlihat begitu terpesona dengan cairan yang ada didalam kendi ditangan Suro.


"Karena alasan itu jugalah dulu aku membiarkan mereka dapat bersatu kembali dan dapat hidup damai di alam yang tidak dapat didatangi kecuali atas kehendakku. Memang tidak salah keputusanku menyimpan pusaka itu," imbuh Geho sama.


Suro menatap isi kendi kecil yang terlihat begitu indah.


"Apakah hanya diminum begitu saja Geho sama?"


"Benar tuan Suro, cukup langsung diminum. Tetapi jangan terlalu banyak, coba saja satu atau dua tetes saja terlebih dahulu agar tuan tidak terkejut atas efek yang ditimbulkan."


Seperti apa yang diucapkan Geho sama Suro lalu meneteskan dua tetes ke dalam mukutnya.


Jdaaar!


"Wadawwww! Lidahku!"


Satu tetes itu membuat lidah Suro seperti teraliri listrik tegangan tinggi. Seluruh rambutnya langsung berdiri semua. Dari mulutnya terlihat asap tipis.


Ctar! Ctar! Ctar!


Namun setelah itu, tubuhnya seperti terisi suatu kekuatan yang berlimpah-limpah. Letupan-letupan listrik terlihat menyelubungi tubuh Suro.


"Luar biasa, ini apa Geho sama? Sensasi kekuatan ini terasa sangat mengagumkan."


Suro lalu memberikan kepada Geho sama kendi kecil yang berisi madu lebah iblis itu.


Gluk!


Satu tegukan masuk kedalam mulut Geho sama.


"Sudah cukup, silahkan tuan simpan kembali."Setelah itu dia mengembalikan kendi kecil itu kepada Suro.


Suro justru memelototi wajah Geho sama yang tidak memperlihatkan reaksi apapun. Tetapi itu hanya beberapa saat kemudian suara ledakan kekuatan dan letupan listrik keluar dari mulut Geho sama.


Ctar! Ctar! Ctar!


Bldaaar! Bldaaar!


Tetapi dia sepertinya sudah mengantisipasi kejadian itu, sebab Geho sama tidak menunjukkan reaksi terkejut. Dia lalu mulai bermeditasi untuk menyerap kekuatan dahsyat yang terkandung dalam cairan yang telah dia teguk.


Suro memahami seberapa kuat reaksi yang ditimbulkan dari seteguk madu lebah iblis itu. Karena dia yang hanya menelan dua tetes saja rasanya kekuatan yang terkandung sudah begitu luar biasa. Khasiatnya sepuluh kali lipat dari pill tujuh bidadari.


Buuuum!


Wuuuushhhh!


Setelah tidak beberapa lama Geho sama menyelesaikan samadhinya dengan ditandai ledakan dari dalam tubuhnya. Setelah itu hentakan angin menerjang ke segala arah dengan cukup kuat.


"Mengerikan memang benar legenda yang pernah aku dengar. Jika madu ratu dan raja siluman lebah iblis memang sangat dahsyat. Akhirnya aku menembus kekuatan surga."


Mendengar ucapan Geho sama Suro terkesima.


"Luar biasa, kalau seperti ini, aku memiliki modal tanbahan untuk meneruskan perjalananku mencari dewa kegelapan dan juga keberadaan kekuatan kegelapan disegel. Meskipun nanti bertemu dengan makhluk kegelapan yang telah mencapai tingkat yang mengerikan."


"Aku juga akan memberikan beberapa tetes untuk paman La Tongeq sakti. Pasti pemberianku akan membuat kekuatannya semakin pesat."


"Jangan langsung berikan lelaki itu dalam jumlah banyak. Pertama berikan dua tetes dahulu, selanjutnya diberikan secara bertahap sampai dia menembus tingkat langit. Sebab jika tuan Suro memberikan lebih dari takaran itu, aku rasa justru akan membunuhnya. Seluruh nadinya akan pecah, karena tidak sanggup menahan kekuatan yang sangat besar."


"Aku akan ikuti saranmu, Geho sama. Baiklah kita pergi sekarang."


Namun sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mendadak pintu ruangan rahasia itu didobrak dari luar dengan keras.


Braak!


Pintu ruangan dimana Suro dan Geho sama sejak tadi berbicara terbuka lebar. Ledakan itu membuat ruangan bawah tanah itu bergetar hebat.


Para penjaga segera berhamburan masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu.


"Pendekar Suro sudah ada didalam?"


"Benar, sebab sedari tadi tidak ada yang membuka pintu ruangan ini."


Para penjaga menatap penuh heran ke arah Suro. Sebab tidak ada satupun dari mereka yang merasa membukakan pintu untuk dirinya.


Suro hanya menyengir kuda mendengar berbagai pertanyaan dari para penjaga. Sebab saat masuk dia menggunakan Langkah Maya, sehingga tidak perlu melewati pintu.


"Apakah pendekar berdua tidak kenapa-kenapa? Sebab kami saja yang berada diluar merasakan getarannya cukup kuat."


"Tidak paman. Kami baik-baik saja. Maaf telah membuat kalian semua terkejut."


Geho sama hanya tertawa kecil. Dia juga tidak menjawab asal ledakan yang baru saja terjadi.


"Segel sihir pelindung negeri ini telah selesai dibuat. Kami akan pergi menuju kediaman paman sakti, terima kasih atas bantuan paman sekalian," Suro kemudian menjura ke arah para penjaga itu.


Para penjaga itu terkesima dengan sikap Suro yang begitu rendah hati, tetapi mereka kembali dikejutkan dengan apa yang mereka lihat. Sebab itu menjawab pertanyaan mengapa Suro bisa ada didalam ruangan itu tanpa melewati pintu.


Karena mereka berdua segera mengerahkan jurus Langkah Maya. Sekejap kemudian mereka berdua menghilang dari pandangan mata para penjaga.


**


Sesaat kemudian mereka berdua telah muncul di rumah La Tongeq sakti.


"Kakangmas Suro sudah pulang." Suara Luh Niscita terdengar begitu melihat kedatangan mereka berdua muncul di rumah La Tongeq sakti.


"Siapa lagi dara cantik yang mengejarmu?" Geho sama menatap Suro sambil menunjuk ke arah Luh Niscita. Suro justru menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa canggung.


"Apakah ada paman sakti, dinda Niscita?"


"Ada kakang, biar aku panggil Ramanda untuk keluar."


"Adinda maaf atas ucapan makhluk sinting itu. Jangan diambil hati."


Luh Niscita hanya mengangguk pelan sambil menahan malu.


Setelah dia masuk ke dalam beberapa saat La Tongeq sakti keluar dari dalam.


"Nakmas sudah pulang. Oh...Pendekar Geho sama juga sudah selesai membuat formasi sihir perlindungan ternyata."


Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, raut wajah lelaki itu berubah. Sepertinya dia segera menyadari, dengan kedatangan mereka berdua.


"Apakah ini artinya kalian berdua akan segera melanjutkan perjalanan?" Raut muka pendekar itu langsung berubah begitu mengetahui tujuan Suro kali ini.


"Benar paman, kita sedang berkejaran dengan keselamatan seluruh alam. Dan juga menyangkut keselamatan negeri dimana paman sakti tinggal disini."


"Jika kami berhasil menghabisi Dewa Kegelapan, tentu paman dan seluruh penduduk di alam ini akan ikut merasakan kebahagian. Sebab itu artinya alam ini dapat digunakan kembali," imbuh Suro.


La Tongeq sakti menarik nafas panjang lalu menghembuskan hingga berapa kali. Lelaki itu merasa berat ditinggalkan oleh Suro. Sebab kehadiran Suro sangat membantu mereka yang tinggal di negeri itu. Apalagi tanpa sungkan dan juga tidak pelit membagikan ilmu.


La Tongeq sakti yang paling merasakan pertolongan Suro. Sebab lelaki itu telah banyak dibantu. Terutama tentang ilmu Kanuragan. Dia mengalami banyak kemajuan.


Begitu juga saat dia dibantu untuk meningkatkan kekuatan jiwa. Sebab kekuatan seperti itu baru pertama kalinya dia ketahui. Setelah berlatih mengikuti penjelasan panjang, dia segera merasakan kekuatan jiwa itu.


Meskipun pencapaian yang dia dapatkan masih jauh dari puncak kekuatan jiwa, namun dia sudah merasakan manfaatnya. Dia kemudian melirik ke arah Luh Niscita yang berdiri disebelahnya.


"Uhuk! Uhuk!" Suro terbatuk memahami maksud lelaki itu.


"Jangan khawatir paman, doakan kami agar tetap selamat mengejar Dewa Kegelapan. Jika nyawaku masih selamat maka Luh Niscita akan aku bawa ke tanah Javadwipa."


"Selain itu aku mempunyai sesuatu yang akan membantu paman, agar menembus tingkat langit."


Suro kemudian mengajak La Tongeq sakti menuju pendopo yang terpisah dari kediaman utama.


Suro menjabarkan khasiat madu yang akan diberikan kepadanya. Setelah merasakan sendiri seberapa kuatnya madu itu, dia mulai mempercayai, jika kekuatannya mampu menembus kekuatan langit.


Dengan dipandu Geho sama dan Suro, akhirnya La Tongeq sakti menembus kekuatan tingkat langit.


"Hahahahaha...! Aku tidak menyangka kekuatanku mampu mencapai tingkat langit. Ini seperti mimpi yang tak pernah terbayangkan sekalipun." Wajah La Tongeq sakti terlihat begitu bahagia.


"Ini saatnya kami akan meninggalkan tempat ini paman."


"Apakah kalian tidak menunggu beberapa hari lagi agar nakmas melihat diriku berhasil mencapai kekuatan jiwa tingkat puncak?"


"Mohon maaf paman, kesempatan menghabisi Dewa Kegelapan adalah prioritas kami. Selagi dia belum mendapatkan kekuatan sejatinya, maka ini adalah kesempatan terbaik untuk menghabisinya."


Wujud naga bumi langsung muncul didepan mereka setelah Suro mengerahkan tehnik perubahan tanahnya.


Kraaak!


Buuuum!


Mereka berdua segera lenyap dari pandangan setelah tanah yang dibelah Suro kembali menutup dengan keras.


"Anak itu, jika aku tidak mengenalnya, aku pasti menyangka dia adalah salah satu dewa yang kesasar datang ke negeri ini. Tapi mungkin saja dia memang dewa. Mustahil anak seumuran Luh Niscita memiliki kekuatan sebesar itu."


"Tidak salah keputusanku, anakku bukan saja akan menikah dengan seorang Maharaja, namun justru akan lebih dari itu.


Aku akan diberikan keturunan seorang cucu yang berasal dari seorang dewa. Heheheee......!"


"Apakah kamu keberatan dengan hal itu anakku?" Mata La Tongeq sakti berpindah ke arah anaknya yang terlihat tersenyum-senyum mendengar ucapannya barusan.


"Selama itu membuat ramanda senang, maka Luh Niscita akan ikut senang."


"Baguslah kalau kamu berpandangan seperti itu. Kau memang anakku yang paling aku sayangi. Tentu saja, ramandamu ini akan bahagia tidak ketulungan, jika kamu bisa menikah dengan nakmas Suro.


Percayalah pemuda itu sangatlah istimewa. Dia bukanlah seseorang yang bisa ditemui dimanapun. Lihatlah ramandamu ini. Kini berkat pertolongan nakmas Suro, akhirnya memiliki kekuatan tingkat langit yang tidak sekalipun pernah ramanda bayangkan."


"Luh Niscita akan selalu mematuhi apa yang ramanda ucapkan dan berusaha untuk tidak mengecewakannya."


"Bagus kamu memang putriku yang selalu membuat ramanda bangga."