SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Bersatu Dengan Dewa Memusnahkan iblis



“Sebentar lagi kita lihat, siapa yang telah mengali kuburannya sendiri?” ucap Suro yang segera memperlihatkan kekuatan yang tidak diperkirakan oleh pasukan musuh. Dalam hitungan detik jurus Empat Sage yang mampu menyerap seluruh aura kekuatan menerjang segala jurus yang dikerahkan Tongkat iblis dan seluruh pasukannya.


Aura kekuatan kegelapan terlihat begitu kental menyelubungi serangan mereka. Secara akal kekuatan kegelapan yang begitu banyaknya tidak akan berani Suro telan secara mentah mentah, sebab itu sama saja seperti hendak bunuh diri.


Namun kenyataannya dalam waktu yang tidak lebih dari satu menit semua serangan tertelan habis dalam pusaran yang dikerahkan Suro. Semuanya amblas tanpa sisa dan kini pusaran itu mengincar mereka semua.


“Bodoh, kau sebentar lagi pasti akan berada dalam pengaruh kekuatan kegelapan yang baru saja kau serap!” teriak kegirangan Tongkat iblis. Belum juga mulutnya tertutup rapat, justru serangan balasan menghajar mereka.


Duuuuuuuuum! Duuuuuuuuuum!


Ledakan begitu dahsyat menghajar pasukan kegelapan dan membuat mereka yang berjumlah ribuan terkena. Tubuhmu mereka bukan hanya hancur, tetapi juga lenyap tanpa menyisahkan apapun. Keadaan itu tentu saja membuat mereka semua tidak menyangka dan berubah menjadi kacau balau pasukan kegelapan yang tersisa.


Serangan yang dikerahkan Suro itu tidak hanya dikerahkan sekali, tetapi secara berturut-turut sambil terus mengerahkan jurus Empat Sage. Pusaran besar itu memaksa pasukan kegelapan yang dipimpin oleh Tongkat iblis harus mundur.


Namun Suro seperti tidak memberikan celah bagi musuhnya dapat melarikan diri. Dia terus memborbardir dengan jurus Sabda Sang Hyang Wenang. Dengan jurus itu seperti membuat tangan Suro seakan menjelma menjadi ribuan bahkan lebih.


“Kalian pikir aku akan melepaskan kalian semua. Aku pastikan, tidak satupun dari kalian yang dapat lepas dariku!” teriak Suro dengan aura yang membuat musuhnya dipenuhi dengan beribu pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban.


Padahal Suro telah menyerap kekuatan kegelapan yang teramat banyak, seharusnya dalam keadaan itu dia kini telah terperangkap dalam cengkraman kesadaran Dewa Kegelapan alias dalam kendalinya. Keadaan itu seperti yang terjadi pada pendekar aliran hitam yang berkhidmat menerima kekuatannya dan menjadi pengikut Dewa Kegelapan.


Walaupun mereka masih memiliki kesadaran sendiri, namun ada kekuatan dalam diri mereka yang membuat mereka akan mematuhi apapun perintah Dewa Kegelapan. Bahkan jika mereka diperintahkan untuk masuk ke dalam lubang neraka tanpa ragu pasti akan mereka lakukan tanpa bertanya sedikitpun.


“Tidak mungkin, bagaimana dia tidak terpengaruh oleh aura kekuatan kegelapan yang telah dia serap?” seru Tongkat iblis dengan wajah penuh rasa terkejut yang tidak dapat hanya dengan raut mukanya saja. Begitu juga para siluman dan semua yang berada di pihaknya.


Mereka kini masing masing berniat hendak menyelamatkan diri mereka sendiri dengan kabur dari serangan pusaran Jurus Empat Sage di depan mereka, sebab pusaran itu akan langsung menelan mereka yang berhasil di hisapnya. Tubuh mereka yang terhisap bukan hanya diserap seluruh aura kekuatannya, tetapi aura kehidupan dan juga tubuhnya lenyap tanpa sisa.


Begitu mengerikannya kekuatan dari jurus yang dikerahkan oleh Suro menjadi alasan bagi Geho Sama dan Eyang Sindurogo segera memerintahkan pasukan kerajaan dan juga pasukan pendekar untuk bergegas menjauh dari area pertempuran setelah Suro menjelaskan rencananya kepada mereka berdua.


Jika pasukan pendekar dan juga para prajurit dari tiga kerajaan masih berada di sekitar pertempuran itu, maka dapat dipastikan mereka juga akan ikut terhisap tanpa pandang bulu. Karena itu adalah kekuatan Jurus Empat Sage yang dikerahkan sampai pada tingkat puncak dimana segala hal yang hidup akan terhisap.


“Cepat mundur!” teriak Tongkat iblis yang kini menyadari, jika kekuatan Suro jauh melampaui dari perkiraaannya. Dia seperti sedang menghadapi sebuah kekuatan dewa yang tidak mungkin bagi dia dan pasukannya dapat menang.


Satu satunya keputusan yang tepat saat menghadapi musuh yang begitu kuat tentu saja adalah melarikan diri. Hanya saja Suro tidak berniat untuk melepaskan mereka. Karena memang dia kembali ke dunia manusia untuk melenyapkan seluruh kekuatan kegelapan tanpa sisa.


Setelah mendapatkan pemahaman dewa, dia menemukan cara untuk menghancurkan kekuatan Dewa Kegelapan agar tidak membahayakan alam manusia seperti yang diperintahkan Sang Hyang Ismaya kala itu, yaitu dengan melenyapkan semua kekuatan kegelapan yang sempat ditinggalkan di dunia manusia.


Kekuatan kegelapan yang di tinggalkan itu berupa pasukan kegelapan. Tanpa mereka semua ketahui, jika kekuatan kegelapan yang telah diberikan akan diambil kembali untuk menjadi jalan bagi Dewa Kegelapan dapat kembali ke dunia manusia. Semua itu seperti yang dahulu terjadi ketika para dewa berhasil menyegel dan mengembalikannya di alam kegelapan.


Suro mengetahui hal itu, karena itulah mengapa dia tidak mau menerima saran dari Geho Sama yang memintanya membawa Dewa Kegelapan ke alam manusia. Meskipun dengan menempatkannya di alam kegelapan akan membuatnya mampu menyerap aura kegelapan yang melimpah, namun setidaknya tindakannya itu berhasil menjauhkan Dewa Kegelapan dari dunia manusia.


 “Siapa yang memberikan ijin bagi kalian dapat kabur dariku?” teriak Suro lalu dari kesepuluh jarinya melesat sinar yang teramat terang dan menghadang semua pasukan kegelapan yang hendak kabur. Sinar itu segera membentuk pagar betis yang memastikan mereka tidak dapat pergi dan melarikan diri.


Jurus Penjara Sabda Sang Hyang Weneng yang mampu memenjarakan Dewa Kegelapan. Walaupun jurus itu tidaklah sama dengan jurus yang dikerahkan oleh Suro saat berada di alam kegelapan, namun itu cukup kuat untuk membuat pasukan kegelapan tidak dapat melarikan diri.


Pasukan Kegelapan yang melihat itu tentu saja tidak mau dikurung seperti itu, sehingga mereka segera menerjang penjara cahaya yang terang benderang seperti matahari muncul dihadapan mereka. Lalu siapa saja yang berniat menerjang, maka dalam waktu yang sekejap tubuh mereka langsung hancur dan lenyap tanpa sisa.


Keadaan itu membuat mereka yang melihat tentu saja langsung mengurungkan niatnya untuk kabur dengan menerjang penjara cahaya yang dibuat Suro. Kini ketakutan yang teramat sangat melanda seluruh pasukan kegelapan.


Melihat keadaan itu membuat Tongkat iblis berupaya mengalihkan kondisi kejiwaan pasukannya. Dia ingin membuat mereka tidak semakin kacau barisan pasukan yang dia pimpin. Dia lalu berteriak keras ke arah Suro, karena dia masih memiliki rencana lain, setidaknya dia tidak ingin menunggu mati dengan pasrah.


“Kau pikir kami akan takut menghadapimu! Semuanya kerahkan seluruh kekuatan. Tidak ada lagi tempat bagi kita melarikan diri, kecuali dengan membunuh pemuda ini. Oleh karena itu semua kita satukan serangan dalam formasi besar Amukan Dewa Kegelapan!” teriak Tongkat iblis yang menyadari, jika Suro tidak membiarkan mereka kabur. Karena memang Tongkat iblis menyadari satu satunya jalan untuk keluar dan menyelamatkan diri saat ini adalah dengan menghabisi Suro yang telah memenjarakan mereka.


“Bagus, kalian rupanya ingin melihat jurus terakhir dari Tapak Dewa Matahari, kini aku akan memperlihatkan kepada kalian, jangan lupa aku masih punya jurus dewa lainnya yang dapat menyempurnakan jiwa kalian yang telah tercemar Dewa Kegelapan!” ucap Suro.


Dia membiarkan pasukan kegelapan mempersiapkan serangan pamungkasnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan kegelapan yang mereka miliki. Karena itu justru yang dia harapkan. Pada saat bersamaan Suro juga bersiap mengerahkan jurus ketujuh dari Tapak Dewa Matahari yang selama hidupnya tidak pernah diperlihatkan oleh Eyang Sindurogo sekalipun, sebab itu memerlukan dukungan kekuatan yang harus sudah sampai tingkat dewa.


Suro tidak hanya mengerahkan jurus Ketujuh Bersatu Dengan Dewa Memusnahkan iblis, namun demi menyempurnakan kematian para pasukan kegelapan dia juga mengerahkan jurus dewa lainnya, yaitu Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.