SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 112 BANTUAN DATANG part 3



Enam pedang sesat mendengar perintah Jenggala segera berhenti menyerang lawannya dan bergerak mundur dengan waspada. Walaupun mereka tidak mengerti maksud perintah Jenggala, Karena pertarungan yang mereka jalani tidak dalam kondisi buruk bahkan sempat mampu mendesak para tetua.


"Apa maksudmu Jenggala? Kita sedang unggul kenapa kita harus mundur?" Wanawasa sedikit kesal mendengar perintah Jenggala.


"Junjungan Pedang iblis telah kalah, dia kabur ke arah selatan. Kita akan menyusul Kanjrng junjungan Pedang iblis! Tujuan kita datang di negeri ini adalah mengawal junjungan. Kita tidak ada urusannya dengan peperangan ini."


"Jangan bicara nglantur kamu Jenggala. Siapa yang mampu mengalahkan junjungan Pedang iblis?"


"Lihatlah yang dilakukan bocah itu!" Jenggala menjawab pertanyaan Wanawasa dengan menunjuk ke arah Suro.


Suro masih berusaha mengendalikan pedang yang ditangannya. Dia menatap tajam ke arah lawan yang kini telah bertambah enam orang, yang langsung mendekati Jenggala. Api hitam dari bilah pedang yang digengamnya semakin bertambah besar, seiring dengan bertambahnya chakra yang dihisap dari tubuh Suro.


"Bukankah itu Pedang Pembunuh iblis? Bagaimana bocah ini mampu menguasai Pedang Pembunuh iblis sehingga bisa membuat api hitam sebesar itu?"


"Benar wanawasa bahkan kita saja belum tentu sanggup melakukan seperti yang dilakukan bocah itu! Menurut perkataanya Kanjeng Junjungan Pedang iblis telah mampu dikalahkan bahkan kabur melarikan diri ke arah selatan. Kemungkinan orang yang telah mengalahkan junjungan adalah bocah itu sendiri. Entah kemana Dewa Pedang, seharusnya dia yang menjadi lawannya."


Enam tetua yang sebelumnya sibuk bertarung dengan enam Pedang Sesat, setelah lawannya mundur mereka bergegas mendekati tetua Tunggak Semi untuk memberikan pertolongan. Karena setelah terlempar cukup jauh sepertinya tetua itu mengalami luka dalam.


'Mati aku, bilah pedang ini menghisap chakraku seperti pusaran air yang tidak ada ujungnya. Sampai kapan pedang ini terus menghisap chakraku?' Suro merasa ketar-ketir dengan situasi yang sedang dihadapinya, tetapi wajahnya tidak menampakkan kekhawatiran. Justru terlihat seakan penuh kebanggaan memamerkan kemampuannya didepan tujuh jagoan aliran hitam, seperti sebuah aksi sulap yang hebat.


Walaupun chakra miliknya tidak akan habis dihisap bilah pedang yang terus menempel dalam gengamannya, tetapi jika dalam waktu yang bersamaan harus melawan salah satu dari ketujuh pedang sesat, tentu akan menjadi masalah besar untuk dirinya.


Tujuh Pedang Sesat tentu saja tidak begitu saja mempercayai jika junjunganya dikalahkan bocah bau kencur seperti Suro. Walaupun saat menyaksikan kemampuan yang diperlihatkan mereka mengakuinya. Sebab melihat api hitam yang begitu besar, mereka para Pedang Sesat bisa mengetahui bocah itu sangatlah kuat. Karena mereka sendiri tidak begitu yakin bisa melakukan seperti yang dilakukan Suro.


Menurut cerita pedang itu adalah milik seorang tokoh golongan putih yang telah diracuni terlebih dahulu sebelum bertarung dengan Pedang iblis. Sebab pendekar itu salah satu pendekar terkuat di Benua Tengah sana. Sehingga Pedang iblis melakukan segala siasat untuk mengalahkan lawannya agar bisa mendapatkan Pedang Pembunuh iblis yang terkenal itu.


Menurut kabar pedang itu begitu diinginkan Pedang iblis karena keistimewaan yang dimiliki bilah pedang tersebut. Keistimewaan yang di maksud adalah api hitam yang muncul pada bilah pedangnya.


"Bocah bagaimana kamu mendapatkan pedang junjungan?” Wanadri yang melihat pedang ditangan Suro tidak mampu menahan rasa penasarannya dengan nasib junjungannya.


"Aku tidak perlu mengatakan berkali-kali dengan nasib pemilik pedang ini. Tanyakan saja pada rekanmu aku sudah menceritakannya. Cukup sekali aku menjelaskan."


Wanadri begitu kagum melihat Suro begitu tenang menjawab pertanyaannya. Karena biasanya para tokoh aliran putih akan ketakutan. Tetapi melihat Suro menjawab pertanyaannya tanpa memperlihatkan perubahan sikap suatu hal yang sangat mengagumkan.


Tanpa diketahui lawannya sebenarnya Suro sedang berkonsentrasi menghimpun chakra yang besar agar tidak habis dihisap bilah pedang yang dia pegang.


'Jangan khawatir bocah aku tidak akan menghisap seluruh chakramu! Sebagai rasa terima kasihku karena kau telah membiarkanku menikmati chakra yang aku sukai, aku akan membantumu menghabisi lawanmu!"


Suro kaget mendengar suara yang seolah berasal dari dalam kepalanya. Dia menatap lawan-lawannya dengan melotot meyakinkan bahwa suara barusan bukan berasal dari salah satu dari mereka.


Suro mengaruk-garuk kepala sambil membatin.' Baru kali ini ada pedang yang bisa berbicara apakah aku sudah gila?'


Suro mencoba meyakinkan dirinya menepuk-nepuk pipinya jika tidak sedang bermimpi, sambil terus memperhatikan bilah pedang yang sedang dia gengam.


'Kau memang sudah gila bocah! Berani sekali kau menggengamku. Beruntung chakra milikmu jenis chakra yang aku suka, jika tidak, tentu sudah sejak tadi aku menghabisi nyawamu!'


Suro beberapa kali memukul-mukul kepalanya mencoba memastikan kepalanya dalam kondisi baik-baik saja. Karena dia merasa ada sesuatu yang memasuki kepalanya. Sehingga suara yang beberapa kali terdengar itu terdengar begitu dekat seakan ada makhluk atau siluman yang memasuki kepalanya. Dia kali ini tidak bisa menutupi kebingungan dan kecemasannya.


Kelakuan Suro yang terlihat ganjil membuat Tujuh Pedang Sesat menaruh curiga. Wanadri mencoba memastikan apa yang dia lihat. Dia meminta keenam rekannya menahan para tetua jika dia mulai menyerang Suro.


'Bagaimana kau bisa berada di dalam kepalaku?' Suro mulai sedikit memahami apa yang terjadi, dia mulai berbicara dengan jiwa pedang yang dia gengam hanya dalam hatinya saja.


'Aku ini Lodra yang agung tentu saja aku bisa melakukan hal kecil seperti ini.' Lodra dari segi bahasa bisa diartikan si Pemarah besar.


'Lalu hal besar apa yang bisa kau lakukan untukku.' Suro masih mencoba menguasai pedang yang tidak mau dilepas dari gengamannya itu.


Tetapi kini dia merasa chakra yang dihisap bilah pedang tidak sederas sebelumnya. Kesempatan itu dia gunakan untuk menghimpun chakra. Karena dia melihat gelagat buruk dari ketujuh lawannya yang masih tidak mempercayai bahwa Pedang iblis telah kalah bertarung.


'Lihatlah hal yang bisa aku lakukan. Himpun saja chakra besar yang menjadi kesukaanku.'


Setelah jiwa dari Pedang Pembunuh iblis selesai berbicara, tiba-tiba tubuh Suro ditarik kuat terbang mengikuti lesatan bilah pedang yang menerjang ke depan. Pada saat yang bersamaan Wanadri juga hendak menyerang Suro. Dia menyadari ada sesuatu yang salah pada diri Suro yang bertingkah begitu aneh.


Suro melotot setelah secara mendadak tubuhnya dibawa terbang oleh pedang yang dia gengam.


"Pedang sialan apa yang akan kau lakukan!" Kali ini Suro kelepasan merutuk kepada bilah Pedang Pembunuh iblis.


'Tutup mulutmu bocah sialan! Ikuti saja diriku, aku akan menghabisi musuh yang hendak menyerangmu! Aku begitu membenci dengan aura busuk yang mereka miliki. Sama dengan chakra yang selama ini dijejalkan kepadaku! Dan manusia yang menyerangmu ini memiliki chakra yang sama busuknya dengan orang yang selama ini memanfaatkan kekuatanku!'


"Bocah setan kau berani menghadapiku!" Wanadri terkejut saat hendak memastikan dengan keanehan yang terjadi pada Suro, justru kini dia malah diserang lebih dahulu oleh Suro.


Eyang Tunggak semi ikut terkejut melihat Suro nekat menyerang satu dari tujuh Pedang Sesat tanpa rasa takut. Dia dan bersama tetua lain tidak bisa menolong Suro, sebab dalam satu gebrakan itu mereka juga kembali menghadapi lawan yang berat.


Pertempuran kembali pecah seiring serangan Suro ke arah musuh.


"Bocah ini urat takutnya sudah putus atau memang tidak bisa menggunakan isi kepalanya." Tetua Tunggak Semi hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat kenekatan Suro.