SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 250 Rantai Pemasung Sukma



Serangan yang dilakukan Pujangga gila membuat kemarahan eyang Sindurogo memuncak. Dia kemudian menghilang dan kembali muncul dihadapan Pujangga gila. Hal pertama yang dia lakukan adalah menghancurkan buzuq alat musik yang dimilik Pujangga gila itu.


Braaak!


Alat musik itu langsung hancur mesti sebenarnya itu termasuk sebuah jenis pusaka tingkat tinggi. Tetapi kekuatan surga milik eyang Sindurogo terlalu besar tidak dapat ditanggung, sehingga buzuq itu langsung hancur berkeping-keping.


"Hahahaha...!" Melihat alat musiknya hancur bukan marah justru Pujangga gila tertawa sepuasnya.


Bersamaan dengan suara tawa yang merupakan bagian ilmu gendam, sebuah rantai hitam melesat cepat menerjang ke arah tubuh eyang Sindurogo.


Serangan yang begitu mendadak segera ditepis dengan pedang cahaya miliknya. Namun dia terkejut mengetahui jika rantai itu tidak bisa ditangkis, seperti rantai itu adalah sesuatu yang tidak nyata. Kondisi yang mengejutkan itu membut rantai terus melesat dengan cepat.


Semua sudah terlambat, sebab rantai itu kini telah amblas masuk kedalam tubuhnya. Dia segera berusaha mencoba mencabut rantai tersebut. Dia terkejut sekarang rantai yang menembus tubuhnya tetap tidak bisa dia pegang. Namun rasa sakit saat rantai menembus kulitnya terasa sangat nyata. Sesuatu yang sangat aneh, dan dia tidak mengetahui rantai apa yang sebenarnya masuk kedalam tubuhnya itu.


Mengetahui hal itu eyang Sindurogo berusaha menjauh dari Pujangga gila. Keanehan yang dirasakan semakin bertambah, Karena setelah sesaat kemudian dia segera merasakan kesakitan yang teramat sangat disekujur tubuhnya. Sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi yang harus dia lakukan adalah segera menjauh dari Pujangga gila.


"Setan alas rantai apa ini?" Bersama gerungan kemarahannya eyang Sindurogo melesatkan dua sinar dari kedua matanya dan dari jari telunjuknya.


Zraaaaaat! Zraaaaaat!


Meskipun terjangan sinar dari mata dan dari jari telunjuk dapat dihindari oleh Pujangga gila, tetapi kesempatan itu segera digunakan eyang Sindurogo untuk semakin menjauh dari musuhnya. Dia merasakan keanehan yang tidak dapat dijelaskan, karena kesakitan yang dia dera sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang benar-benar sangat menyakitkan.


Rasa sakit itu mendera sekujur tubuhnya setiap kali rantai itu mencoba membetot. Dia merasa ada sesuatu kekuatan yang aneh dan sulit dijelaskan dimiliki rantai hitam yang berhasil masuk kedalam tubuhnya itu.


"Tidak kena! Tidak kena! Weeeeeeee...! Hahahahaha..!" Lelaki dengan rambut gimbal itu mulai berjoget dan tertawa keras setiap kali serangan yang dikerahkan eyang Sindurogo tidak mengenai dirinya.


Rantai miliknya itu memiliki kemampuan unik, yaitu dapat menarik sukma musuhnya. Karena nama senjata itu adalah "Rantai Pemasung Sukma".


"Kurang ajar rantai apa yang dimiliki Pujangga gila ini? Bukan hanya ragaku yang ditarik, bahkan nyawaku seakan dibetot keluar dari ragaku?"


"Orang tua gila ini sudah aku cari sejak puluhan tahun yang lalu, mengapa tiba-tiba bisa muncul ditempat sejauh ini?" Eyang Sindurogo yang terus menyerang balik ke arah Pujangga gila. Sebenarnya sejak awal kedatangan lawannya ini dia sudah dibuat sangat terkejut.


Apalagi dengan kekuatan dan senjata yang tidak biasa ini membuat dia tidak habis pikir. Sebab dia ingat jika kekuatan lawannya itu dulu masih ditingkat shakti. Setelah tidak berjumpa sekian lama, justru Pujangga gila memiliki kekuatan yang setara dengannya. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak dimasuk akal.


'Aku paham sekarang, sepertinya orang gila ini mendapatkan kekuatan dari Dewa Kegelapan? Mungkinkah selama ini dia bersembunyi di alam kegelapan?'


Geho sama yang sedikit memiliki peluang, setelah Pujangga gila disibukkan dengan serangan eyang Sindurogo yang menerjang berturut-turut, dia bergerak hendak membantu Eyang Sindurogo. Melihat hal itu eyang Sindurogo segera berteriak keras kearah manusia setengah siluman itu.


"Mundur Geho sama! Jangan mendekat! Rantai yang dia miliki sangat berbahaya!"


Benar saja satu buah rantai lain segera melesat dan berupaya mengejar tubuh Geho sama. Rantai itu terus mengejar makhluk itu seperti memiliki pikirannya sendiri. Sebab tuannya sendiri masih sibuk menghindari serangan dari eyang Sindurogo sambil tertawa cekikikan.


Entah apa yang sedang ditertawakannya, mungkin karena melihat Geho sama yang harus berjumpalitan menghindar. Meski saat itu dia sudah menggunakan Langkah semu miliknya, tetapi rantai itu seperti mampu menerka kemana musuhnya akan muncul kembali. Tentu saja hal itu membuat Geho sama kelabakan. Dia segera bergerak cepat agar dapat menghindari serangan rantai tersebut.


Setelah berusaha menyerang Pujangga gila tidak satupun mengenainya, membuat eyang Sindurogo beralih kepada rantai yang tidak dapat dia pegang itu.


"Kamu ingin menarik sukmaku? Kita lihat sehebat apa rantaimu ini mampu menahan ilmu pembantai siluman empat sage?!" Melalui rantai yang menembus kulit dan masuk kedalam tubuhnya, eyang Sindurogo segera mengerahkan ilmu empat sage untuk menyerap kekuatan lawan. Mereka berdua kemudian saling tarik-menarik kekuatan.


Beberapa kali sinar dari kedua mata eyang Sindurogo masih mencoba menghajar tubuh Pujangga gila. Namun lelaki gila selalu dapat menghindari serangan itu. Dia terus tertawa-tawa sepanjang pertarungan. Apalagi jika serangan eyang Sindurogo berhasil dia hindari, maka suara tawanya akan terdengar lebih keras.


Tawa yang menggelegar itu membuat seluruh bangunan disekitar tempat itu bergetar hebat. Bahkan bangunan yang ada didekat pertempuran yang sebelumnya selamat dari terjangan jurus eyang Sindurogo akhirnya rata dengan tanah.


Tawa itupun merupakan bagian dari ilmu gendam milik Pujangga gila. Tawa itu juga menghajar Gagak setan membuat dia semakin menutup rapat-rapat kupingnya.


Kesempatan itu juga digunakan sebaik-baiknya oleh Batara Karang untuk kabur dari tempat itu bersama para tetua dan anggota perguruan yang masih selamat.


Eyang Sindurogo merasakan setiap langkah kakinya mendekati Pujangga gila, maka nyawanya seakan ditarik rantai itu lebih kuat. Kondisi itu membuat dia merasa nyawanya semakin kuat hendak keluar dari raganya.


Karena alasan itulah dia tidak berusaha mendekati Pujangga gila. Dia justru terus menyerang Pujangga gila agar bisa memiliki kesempatan untuk membuat jarak mereka berdua semakin jauh.


Suara tawa dari Pujangga gila yang meledak-ledak membuat eyang Sindurogo semakin kesulitan menahan ilmu gendam tingkat tinggi itu. Apalagi rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya seakan tak tertahankan lagi. Kekuatan gendam yang diucapkan secara serampangan itu tersirat ucapan yang bertujuan untuk mematahkan tekad lawannya agar menyerah.


Meskipun semua ucapan Pujangga gila yang bersyair dengan bahasa sekenanya, tetapi suara itu terkandung kekuatan yang cukup merepotkan mereka berdua.


'Pujangga gila sialan, bagaimana dia kini memiliki kekuatan begitu mengerikan. Dulu aku mencari manusia gila ini, setelah membantai manusia dengan jumlah dan cara yang sangat mengerikan.' Eyang Sindurogo kali ini benar-benar menghadapi kesulitan besar. Sebab sekuat apapun usahanya untuk mampu melepas rantai yang masuk kedalam tubuhnya, maka akan sia-sia.


Rasa sakit yang teramat itu adalah akibat dari sukma yang hendak ditarik keluar dari raganya. Karena itulah mengapa eyang Sindurogo merasakan sakit disekujur tubuhnya seperti sejuta pedang menusuk tubuhnya.