SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 206 Perguruan Pedang Bayangan



"Maaf paman guru, ajian puter gilingku ada batasnya, mungkin terlihat sederhana hanya dengan membuat pusaran gerbang gaib dan menelan semuanya. Gerbang yang aku buat saat ini tidak mampu memindahkan lebih dari sepuluh orang. Jika lebih dari itu, Suro takut hanya akan memindahkan sebagian tubuhnya saja."


Para tetua yang mendengar ucapan Suro barusan saling berpandangan. Di belakang para tetua hampir separuh kekuatan pasukan Perguruan Pedang Surga yang berjumlah sekitar lima ribu sudah bersiap hendak ikut pergi ke Sundapura.


"Karena alasan itu Suro tidak mau mengambil resiko, jika harus mengantarkan orang sebanyak ini. Lebih baik paman guru pilih tetua terkuat yang akan ikut ke Sundapura."


"Apalagi lawan yang akan kita hadapi adalah makhluk yang paman sendiri sudah mengetahuinya. Semakin banyak yang menghadapinya, hanya akan memperbanyak korban yang akan dia mangsa."


Mendengar perkataan Suro yang tidak dia kira membuat kepala Dewa Pedang terasa gatal semua. Tangannya sibuk menggaruk-garuk rambutnya.


Dia kemudian menatap ke arah barisan para tetua yang berada didepannya.


"Baiklah jika begitu, paman guru hanya akan membawa kakang Dewa Rencong, Dewi anggini, kakang Kaliki, adimas Sinar gading, kakang Baurekso, tetua Datuk nan Bujang, tetua Gagak pamilih, tetua Kebo ijo."


Setelah mendengar perkataan Dewa Pedang Suro mengangguk. Para tetua yang telah dipilih oleh Dewa Pedang kemudian maju kedepan mendekat ke arah Suro.


"Maaf paman silahkan berjejer berdekatan dengan Suro."


Suro kemudian mulai merapal ajian puter giling lesatan cahaya dari pergelangan lengannya menerjang kedepan membentuk gerbang gaib kemudian berbalik arah menelan mereka dalam pusaran ruang waktu.


Tujuan mereka adalah Sundapura tempat dimana Perguruan Pedang Bayangan berdiri.


Sudapura merupakan ibukota kerajaan Tarumanegara saat pertama kali didirikan olah Raja diraja Jayasingawarman pada tahun 358 masehi. Kata Tarumanegara berasal dari kata taruma dana nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara. Sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa barat yaitu Citarum.


Saat ini adalah tahun 602 masehi Tarumanegara dipimpin oleh Maharaja Kertawarman. Raja tersebut berkuasa sejak tahun 561 masehi hingga tahun 628 masehi.


Kertawarman adalah raja Kerajaan Tarumanegara yang kedelapan yang menggantikan ayahandanya, yaitu Raja Suryawarman yang mangkat pada tahun 561 masehi.


Pada saat ayahandanya berkuasa telah berdiri Kerajaan Kendan. Sebuah kerajaan bawahan yang berada di Kendan, daerah sekitar Bandung serta Limbangan Garut oleh menantunya yang bernama Manikmaya.


Seorang Maharesi yang berasal dari keluarga Calankayana, India Selatan. Sebelumnya, ia telah mengembara, mengunjungi beberapa negara, seperti: Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Swarnabhumi(Sumatra), Nusa Sapi atau Ghohnusa(Pulau Bali), Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain. Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman.


Setelah menikah Maharesi itu dihadiahi oleh Raja Suryawarman, sebuah kerajaan bawahan yang ada di daerah Kendan (suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung). Pada saat diberikan itu sudah lengkap dengan rakyat dan tentaranya.


Dari Raja Manikmaya nanti akan ada penerus tepatnya adalah cicitnya yaitu Wertikandayu yang akan mendirikan kerajaan Galuh yang berdiri diampit dua aliran sungai, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.


Saat ini tahun 602 masehi Kerajaan Kendan cikal bakal Galuh masih dipimpin oleh Sang Kandiawan ayahanda dari Wertikandayun.


Posisi Perguruan Pedang Bayangan walaupun masuk Sundapura, namun berada agak jauh dari pinggiran kotaraja.


Itulah mengapa Suro mengirim semua bukan muncul di kotaraja Sundapura, tetapi langsung muncul ditempat tujuan mereka yang sesungguhnya.


Sesaat setelah ajian puter Giling dikerahkan Suro, maka gerbang gaib itu hanya dalam sekejap telah melenyapkan kesepuluh orang itu dari hadapan semua anggota Perguruan Pedang surga.


Sekejab kemudian Suro dan sembilan orang lainnya telah sampai digerbang Perguruan Pedang Bayangan.


"Luar biasa ilmumu sangat mengagumkan nakmas Suro" Tetua Sinar gading terkejut dengan kekuatan yang mengantarkan mereka dengan begitu cepat.


Suro hanya tersenyum dan mengangguk ke arah tetua itu. Pandangan mereka semua kemudian segera beralih ke arah bagian dalam Perguruan Pedang Bayangan. Sebab sekejab setelah sampai di gerbang Perguruan Pedang Bayangan, terlihat anak-anak dan para wanita berebutan berusaha berlari keluar dari kawasan perguruan. Mereka semua berusaha menyelamatkan diri secepatnya.


Kemungkinan mereka adalah keluarga para anggota perguruan. Karena melihat Dewa Pedang dan para tetua lainnya, mereka menundukan hormat dan menegur nama Dewa Pedang sambil berlari.


Kepulan asap yang membumbung tinggi terlihat begitu tebal dari seluruh pelosok area perguruan yang luas itu. Sebab perguruan Pedang Bayangan berdiri pada sebuah bukit besar, bisa dikatakan sebuah gunung.


Karena memang berada di sebuah deretan pegunungan. Seluruh area bukit sampai ke kaki bukit adalah termasuk dalam area perguruan. Letak gerbang Perguruan Pedang Bayangan berada di kaki bukit yang masih jauh dari pusat perguruan.


Tetapi dari kejauhan mereka sudah mampu menyaksikan, jika serangan sudah meluas. Walaupun belum seluruh area perguruan dibumi hanguskan. Tetapi kepulan asap sudah memenuhi hampir seluruh area sampai ke kaki bukit. Semakin naik, kepulan asap terlihat semakin menebal. Entah sudah berapa lama serangan itu berlangsung.


Sebab elang jawa atau alap-alap yang digunakan untuk mengirim nawala atau surat kepada perguruan pusat Pedang Surga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Beruntung Dewa Pedang segera bertindak cepat, sehingga masih ada waktu bagi mereka untuk memberikan pertolongan.


Makhluk itu merupakan naga api yang bentuknya mirip dengan makhluk yang pernah menyerang Dewa pedang di alam kegelapan. Selain para naga yang berjumlah lebih dari selusin, ada makhluk lain yang memiliki sepasang sayap.


Makhluk itu juga pernah ditemui Suro sewaktu masuk ke alam kegelapan, yaitu manusia kelelawar. Jenis makhluk ini terlihat lebih banyak berseliweran dibagian puncak bukit.


Serbuan panah dari darat terlihat menghujani makhluk itu, tetapi senjata itu bukanlah sesuatu yang mampu membunuh mereka. Meskipun anak panah itu telah dilumuri semacam minyak dan dibakar, tetapi senjata itu tidak mampu membunuhnya.


Penjaga gerbang perguruan itu segera menjura dengan penuh hormat kepada Dewa Pedang setelah melihat kehadirannya. Kemudian dia berlari ke dalam untuk memberi tahu yang lainnya atas kedatangan ketua aliansi besar Pedang Surga.


Dia meninggalkan satu rekannya yang kini terlihat kerepotan membantu mengarahkan para wanita dan anak-anak. Mereka begitu riuh teriakan dan isak tangis bocah menyertai langkah kaki mereka yang bergerak secepatnya meninggalkan area perguruan. Terlihat mereka terburu-buru, sehingga tidak ada barang berharga yang mereka bawa, kecuali pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Dewa Pedang yang hendak bertanya kepada penjaga, akhirnya memilih terus melangkah ke dalam bersama yang lain.


"Ada yang janggal paman mengapa para makhluk itu sedari tadi aku lihat justru lebih banyak menyerang area puncak saja. Mengapa para naga itu hanya menahan para pasukan bantuan yang bergerak dari bawah? Lihatlah kerusakan justru menjalar dari puncak perguruan, sehingga semakin naik semakin parah kerusakannya." Suro mencoba mempelajari situasi yang terjadi.


Suro membuat kesimpulan sambil terus melangkahkan kakinya terus ke dalam perguruan. Terlihat naga itu menyerang balik ke arah asal lesatan panah-panah yang menghujani makhluk yang berseliweran di udara.


"Para makhluk itu berperilaku ganjil! Lihatlah mereka hanya bergerak seperti bertahan saja! Seperti sudah ada yang mengatur pergerakan mereka. Karena menurut pengalaman diriku saat menghadapi para naga, mereka bergerak hanya berdasarkan instingnya sebagai makhluk buas. Ini sesuatu hal yang baru aku lihat, mereka bergerak seakan menggunakan sebuah strategi!"


"Tidak bocah, ini bukan kali ini saja. Apakah kamu tidak mengingat saat manusia kelelawar yang mampu berbicara manusia mencoba mengatur serangan?" Dewa Rencong membantah ucapan Suro.


"Benar paman aku lupa. Apakah para naga dan yang lainnya juga diatur oleh sesosok makhluk yang awalnya manusia seperti para paman prajurit dari sisa pasukan Medusa waktu itu? Lihatlah para makhluk itu kebanyakan hanya berkutat di sekitar puncak bukit?"


Di puncak bukit yang luas berdiri semacam benteng yang mengelilingi sebuah bangunan didalamnya. Tempat itu adalah bangunan utama. Sekaligus merupakan tempat tinggal kepala perguruan.


"Mereka langsung menyerang di puncak tertinggi dimana pusat perguruan berada." Dewa Pedang masih mencoba ikut membaca situasi.


Mereka semua terus berlari ke atas, berlawanan dengan arah para wanita dan anak-anak yang berlari ke bawah untuk menyelamatkan diri.


Saat mereka berlari hendak menuju puncak bukit serombongan lelaki menjura ke arah mereka. Dewa pedang akhirnya memilih berhenti untuk membalas sapaan mereka.


"Selamat datang ketua Dewa Pedang, maaf kami harus meminta bantuan kepada perguruan pusat. Tetapi bagaimana mungkin secepat ini ketua Dewa Pedang sudah sampai di Perguruan Pedang Bayangan?"


Penjaga pintu gerbang yang sebelumnya berlari berhasil bertemu dengan salah satu petinggi perguruan Pedang Bayangan. Mereka bersama dengan yang lain segera bergerak untuk menyambut kedatangan rombongan Dewa Pedang.


"Nanti saja membahas mengapa kami bisa datang dengan cepat? Katakan mengapa serangan makhluk itu kebanyakan hanya menyasar disekitar puncak bukit? Lihatlah semburan api para naga itu terus menerus membakar bangunan dibalik benteng diatas bukit itu!" Dewa Pedang menatap ke arah petinggi perguruan yang mengenali Dewa Pedang.


Lelaki yang ditanya kembali menjura sebelum menjawab pertanyaan Dewa Pedang.


"Ampun ketua, benar sekali memang sejak kedatangan para makhluk itu hanya menyerang bangunan utama saja. Mereka sesekali menyerang bagian bawah. Kami tidak mengetahui alasannya mengapa?"


"Tetapi karena hal itu kami sedikit bersyukur, sebab dengan arah serangan seperti itu justru membuat kerusakan yang dibuat tidak menghancurkan seluruh perguruan. Sehingga korban yang berjatuhan tidak terlalu banyak."


"Sebenarnya ada sesuatu rahasia yang berada di atas puncak bukit, dimana tempat itu juga merupakan kediaman ketua perguruan cabang. Namun saya tidak mengetahui secara persis. Karena rahasia itu hanya diketahui oleh ketua. Tradisi menjaga rahasia itu sudah turun temurun sejak lama."


**


**Note;


Kisah lengkap Kerajaan Kendan bersumber pada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4. Ini masuk dalam nasakah wangsakerta.


Di dalam naskah wangsakerta itu juga merupakan sumber mengenai catatan sejarah Kerajaan Tarumanegara.


Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh Panitia Wangsakerta. Hal itu dilakukan untuk memenuhi permintaan ayahandanya (Panembahan Girilaya) untuk menyusun naskah kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara.


Panitia ini didirikan untuk mengadakan suatu gotrasawala (simposium/seminar) antara para ahli (sajarah) dari seluruh Nusantara. Penyusunan seluruh naskah menghabiskan waktu sekitar 21 tahun. Selesai sekitar tahun 1698 masehi**.