
"Gawat, pasukan kekaisaran sepertinya sudah tidak mampu lagi bertahan. Bahkan aku yakin, jika aku tidak segera menolong dalam waktu sepertanakan nasi, maka benteng itu akan jatuh di tangan musuh!"
Suro muncul di tengah udara. Tubuhnya melayang pada ketinggian lebih dari dua kali pohon kelapa.
Sehingga pandangan matanya mampu menyapu keseluruh penjuru dan menyaksikan semua yang telah terjadi di medan pertempuran. Kondisi benteng kota He Bei sudah dipenuhi dengan mayat milik pasukan kekaisaran.
Secara keseluruhan kondisi pasukan kekaisaran sudah dalam keadaan genting, mereka sudah sangat terdesak. Meskipun gerbang utara belum mampu ditembus pasukan musuh, namun bukan berarti pasukan musuh tidak mampu menyerang melewati benteng yang menjulang tinggi itu.
Benteng itu hanya menjadi penghalang bagi pasukan yang memiliki tingkat kekuatan shakti ke bawah, tetapi tidak berlaku bagi yang sudah mencapai tingkat langit ke atas.
Mereka yang sudah mencapai tingkat langit adalah prajurit yang sudah diperkuat dengan benih iblis. Jika pun bukan yang sejenis dengan itu, maka jumlahnya sangat sedikit.
Dengan keadaan itu ancaman terbesar yang dihadapi pasukan kekaisaran bukan saja hancurnya gerbang utara. Justru yang paling mengancam adalah adanya para musuh yang mampu masuk ke dalam benteng atau ke atas benteng dan mulai mengamuk disana.
Serangan mereka lah yang paling banyak merenggut korban ribuan nyawa pasukan kekaisaran. Walaupun dengan jumlah korban sebesar itu, sebenarnya pasukan yang menyerbu ke dalam dan ke atas benteng kurang dari lima ratus prajurit.
Tetapi dengan itu saja sudah membuat ribuan prajurit kekaisaran betebaran menjadi mayat. Kini pasukan musuh berjumlah ribuan dengan kekuatan setara tingkat langit dan dilindungi zirah iblis telah bermunculan dari dalam gerbang gaib.
Mereka serentak bergerak menuju benteng kota He Bei untuk ikut menggempur pasukan kekaisaran. Dengan kondisi itu tentu pasukan kekaisaran akan segera hancur. Sekuat apapun mereka berusaha bertahan, pasti akan hancur.
Kondisi itulah yang membuat Suro bimbang, karena pada saat bersamaan dia telah menemukan aura sesat dari Pusaka Kunci Langit yang dibawa Karuru.
Pilihan pertama menyerang pasukan gabungan musuh atau pilihan kedua menghabisi Karuru dan merebut Pusaka Kunci Langit.
Pandangan mata Suro yang bimbang kembali menyapu ke arah medan pertempuran yang ada didepan matanya. Setelah itu matanya berpindah menatap keatas langit.
'Aura sesat dari kunci langit ada disana. Mengenai Karuru sepertinya bisa menyusul. Tetapi kondisi pasukan kekaisaran sudah dalam kondisi sangat genting.
Mereka sudah tidak bisa menunggu lama. Aku yakin, jika pasukan yang berdatangan dari dalam gerbang gaib itu bergabung dengan pasukan musuh yang berada digaris depan, pasti pasukan kekaisaran akan dibantai habis oleh mereka.' batin Suro sambil melesat ke arah medan pertempuran.
Akhirnya Suro memilih menyelamatkan ratusan ribu pasukan kekaisaran yang sudah diujung tanduk. Pasukan berkulit hitam kelam yang bergerak berduyun-duyun ke arah benteng kota He Bei tidak akan mungkin lagi ditanggung oleh pasukan kekaisaran, karena pasukan itu sangatlah kuat.
Perhitungan Suro mengenai nasib pasukan kekaisaran memang tidak salah. Jika sampai pasukan itu ikut menggempur benteng kota He Bei, maka pasukan kekisaran dalam waktu yang singkat akan mampu ditumpas habis oleh musuh.
Namun sebelum Suro sampai di medan pertempuran, mendadak musuh lain muncul didepan matanya menghadang jalan dan langsung menyerang dirinya tanpa ba bi bu lagi.
"Kalian mengganggu langkahku saja! Giliran kalian akan tiba setelah aku menghabisi mereka terlebih dahulu!"
Suro segera menghindar dari serangan Roku Suzaku. Tetapi musuh tidak mau melepaskan dirinya. Bahkan kini yang menyerang dirinya bukan hanya Roku Suzaku, di belakangnya seluruh pasukan Elang Langit ikut menyerbu dirinya secara bersamaan.
Serangan itu segera dihindari dengan menggunakan jurus Langkah Maya. Kemudian dia kembali melanjutkan niatnya menuju ke tengah medan pertempuran. Tepatnya ke tengah pasukan musuh yang berkulit hitam.
Belum sempat Suro menyerang musuh, kembali dari berbagai arah seluruh pasukan Elang Langit menyerang dirinya. Kali ini Suro sudah begitu kesal giginya bergemeletukan menahan marah.
"Sepertinya kalian tidak memberiku pilihan." Suro mendengus kesal melihat musuh tidak membiarkan dirinya menyerang pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis.
"Naga Taksaka mengamuklah!"
Kekuatan perubahan api tahap hitam yang melambari pukulan jarak jauh milik Suro melesatkan kobaran api yang berbentuk sebuah ular naga. Lesatan kobaran api itu awalnya menerjang ke arah pasukan Elang Langit.
Tetapi begitu pasukan Elang Langit yang mengepung Suro bergerak menghindar, maka api itu terus melesat bergulung-gulung ke arah pasukan milik Khan Langit dan Kerajaan Goguryeo.
Terutama kobaran api itu menyerang musuh yang memiliki kulit gelap yang berkekuatan tingkat langit. Mereka berlesatan terbang menghindari serangan Suro.
Namun serangan itu hanyalah serangan pembuka, setelah itu kembali Suro mengerahkan jurus perubahan api hitam.
"Serigala Neraka!"
Berkali-kali pukulan jarak jauhnya menghantam pasukan Elang Langit yang hendak mengepung dirinya. Walaupun kobaran api dapat dihindari pasukan Elang Langit yang memiliki jurus ruang waktu, tetapi musuh lain tidak mampu menghindarinya.
Pasukan berkulit hitam yang hendak menghindar, berhasil dikejar oleh kobaran api berbentuk serigala berkepala tiga. Kobaran api itu seperti memiliki nyawa sendiri. Bergerak dan terus mengejar tanpa membiarkan musuh lepas.
Baaam...
Baaaam...
Setelah sebelumnya dia terus dikejar dan tidak dibiarkan lepas oleh Pasukan Elang Langit, maka kali ini giliran Suro yang mengejar mereka. Setelah berhasil menghindar dari serangan api tahap hitam miliknya, pasukan Elang Langit menyebar ke berbagai penjuru diatas udara .
Mereka sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali menyerang. Tetapi pemuda itu tidak membiarkan begitu saja musuh berbuat sesuka mereka. Sebelum musuh bergerak kembali menyerang dirinya, Suro justru telah mendahului mereka.
Dia segera membuka serangan dengan menggunakan jurus tendangan penghancur langit. Tentu saja setiap serangan itu didahului dengan pengerahan tehnik Langkah Maya.
Dia juga tidak membiarkan musuh menyadari kedatangannya agar mereka memiliki kesempatan untuk membentuk segel tangan. Jika itu terjadi, maka musuh mampu menghindari serangan miliknya dengan menggunakan tubuh palsu.
Perasaan mereka langsung berubah menjadi begitu buruk. Apalagi Roku Suzaku, dia sebelumnya harus melarikan diri dari Suro, sewaktu pertempuran di kota Shaanxi.
Dia bahkan harus kabur sejauh mungkin dari pemuda itu. Tetapi kini dia mendapatkan titah dari Karuru untuk menghabisi musuh yang dia sebelumnya harus lari darinya.
Dia sejak awal sudah ragu untuk menyerang pemuda itu, tetapi perintah Karuru adalah sesuatu yang mutlak tidak dapat dirubah. Keraguan yang dia rasakan segera terbukti.
Dua anggota pasukan yang bersama dirinya tidak mampu menghindar dari serangan Suro. Dia mampu muncul didekat musuh, tanpa musuh sempat menyadari kedatangannya. Saat pemuda itu sudah muncul didekat mereka, maka itu artinya semua sudah terlambat.
Tendangan penghancur langit miliknya langsung menghajar tubuh mereka dengan dilambari kekuatan mengerikan. Tendangan Suro begitu keras sehingga mampu menghancurkan tengkorak pasukan Elang Langit.
Serangan yang barusan dikerahkan Suro akhirnya membuat musuh kelabakan. Sebagian dari anggota pasukan Elang Langit justru telah berjatuhan menghantam bumi dengan luka yang membuat orang akan sulit mengenali lagi wajah mereka.
Di lain pihak, ketika Suro sedang menghadapi Pasukan Elang Langit, pasukan Goguryeo dan Khan Langit justru melesat ke arah Suro.
Mereka tidak membiarkan pemuda yang menghujani dengan api hitam dibiarkan hidup lebih lama. Walaupun kekuatan mereka masih ditingkat langit, namun jumlah mereka sangat banyak hingga ribuan.
Dengan jumlah itu mereka merasa sanggup menghabisi Suro, walau sebelumnya telah dihujani dengan serangan api tahap hitam. Tetapi api hitam itu hanya mampu menghabisi beberapa puluh dari bagian pasukan dan masih menyisahkan ribuan lainnya.
Mereka yang berhasil selamat segera mengejar Suro. Mereka hendak menghabisi pemuda yang berhasil menghabisi sebagian dari pasukannya.
Arah serangan pasukan yang sebelumnya bergerak ke arah benteng, kini berbelok arah menuju Suro yang masih melakukan pertarungan melawan pasukan Elang Langit diatas udara. Tetapi justru itulah yang diharapkan Suro.
Karena dengan itu dapat memberikan waktu lebih lama bagi pasukan kekaisaran untuk dapat bertahan di dalam benteng. Selain itu Suro telah menyiapkan serangan spesial untuk ratusan musuh yang melesat ke arahnya.
Pasukan itu segera menutup jalan bagi Suro untuk kabur. Suro hanya tertawa melihat tindakan mereka yang bodoh. Seharusnya mereka menyadari, jika tidak ada cara apapun untuk mengepung seorang pengguna jurus ruang waktu.
Mereka yang bergerak serentak dengan mengandalkan naluri akhirnya berakhir gagal. Suro justru telah bergerak menghadang musuh sebelum sampai.
Tubuh mereka yang berlesatan ditengah udara langsung diserang Suro. Bahkan sebelum mereka menyadari kehadiran Suro, justru mereka sudah berjatuhan dari atas udara. Satu demi satu mereka yang melesat ke atas kembali berjatuhan seperti hujan dengan kondisi tubuh telah terpisah.
Tentu saja pasukan yang berkekuatan tingkat langit itu tidak sanggup menyadari kehadiran pemuda itu. Sedangkan pasukan Elang Langit yang juga memiliki jurus ruang waktu saja dibuat tidak berkutik olehnya. Sangat pantas pasukan itu akhirnya tewas berjatuhan menghujani pasukan di bawahnya dengan darah mereka.
Demi menghadapi pasukan gabungan yang diperkuat dengan benih iblis, Suro memilih menggunakan jurus sepuluh jari dewa mengguncang bumi. Sepuluh larik sinar yang muncul dari kesepuluh jarinya membabat ratusan musuh yang berlesatan di udara menghampiri dirinya.
Tentu saja jurus itu dikerahkan bersamaan dengan jurus Langkah Maya. Sehingga dia mampu berpindah dari satu musuh ke musuh lainnya dengan sedemikian cepat. Seolah dalam satu waktu Suro mampu menghabisi lusinan musuh.
Mereka sebagian yang memiliki tubuh hitam legam tidak menyangka, jika Suro memiliki jurus itu. Sebab dalam pertempuran yang terjadi di dalam goa Suro tidak memperlihatkannya. Dia justru menyerang mereka hanya dengan menggunakan jurus pedang yang dilambari api hitam.
Mereka tidak mengira pemuda itu juga mampu mengerahkan jurus jari dewa mengguncang bumi. Sebab selama dalam goa hanya Dewa Rencong dan Geho Sama yang menggunakan jurus itu.
**
Note: Jika anda merasa novel ini tidak pantas didukung saya tidak memaksa. Tetapi jika para reader mendukung tentu saya sebagai author akan sangat berterima kasih banyak dan semakin semangat.
Sekian Terima kasih banyak bagi yang telah mendukung novel ini