
Suro tetap tertawa, meskipun Dewa Obat melotot seakan bola matanya hendak loncat. Akhirnya pendekar itu menghentikan perbuatannya.
Dia lalu menghela nafas panjang untuk meredakan kekesalannya. Sebab percuma juga melakukan hal itu dengan menyaksikan apa yang Suro lakukan dengan terus menertawainya.
Akhirnya dia mulai menjelaskan alasannya kepada Suro mengenai ucapan dan tindakannya yang terasa berlawanan.
"Tujuan aku mati itu agar bisa meninggalkan dunia ini dan langsung menuju Nirwana. Sehingga aku tidak terjebak dalam lingkaran samsara.
Kali ini aku memang ditakdirkan sebagai seorang manusia. Tetapi jika aku nanti mati, lalu matiku tidak sempurna, maka jiwaku akan bereinkarnasi dan terlahir kedunia kembali.
Apa jadinya jika saat aku terlahir kembali bukan sebagai manusia. Apa tidak lucu jika saat terahir kembali aku ditakdirkan menjadi seekor curut?
Kematian yang aku cari adalah kematian secara sempurna dengan ditandai moksa seluruh wadakku atau ragaku hilang langsung menuju Nirwana.
Jika aku mati gara-gara racun, tentu tidak akan membuat diriku mati dan moksa langsung menuju Nirwana." Dewa Obat mengakhiri penjelasan panjangnya menjawab pertanyaan Suro.
Tetapi pemuda itu membuat dirinya kembali menggerutu kesal. Sebab mendengar penjelasan panjang darinya, dia justru menguap berkali-kali seperti bosan mendengar jawaban panjang darinya.
Dengan kesal pertapa itu lalu melangkahkan kaki ke altar yang menjadi bagian lapangan luas tempat para prajurit dari tembikar itu berjajar.
"Awas tuan pertapa!"
Krak! Krak!
Wuuus...
Zraaat!
Tranggg!
Di saat kakinya melangkah, prajurit dari tanah liat yang dibakar itu langsung bergerak menyerang. Pedang yang ada dalam genggamannya itu mendadak bergerak cepat melesat hendak menebas leher Dewa Obat.
Beruntung Suro sigap segera mengerahkan jurus Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran. Beruntung sinar itu melesat mendahului serangan prajurit dari tanah liat.
Tetapi itu adalah serangan pembuka dari serangan selanjutnya yang lebih brutal.
"Hati-hati para patung prajurit itu hidup semuanya!"
Dewa Obat segera memperlihatkan kemampuan dirinya menggunakan senjata. Golok yang ada ditangannya segera dia tebaskan berkali-kali menangkis serangan yang datang.
Trang! Trang!
Dewa Obat terus berusaha menghalau serangan patung-patung yang kini mengerubungi dirinya seperti para lalat.
Beruntung dia sebelumnya telah membawa Golok Sang Naga Pembantai. Golok itu dengan mudah menebas seluruh patung yang mengepungnya.
Tetapi dia cukup berhati-hati, sebab sedari awal dia mengetahui, jika senjata yang digunakan patung-patung itu sangatlah beracun. Bahkan untuk membunuh seekor gajah cukup sebuah sayatan kecil.
Demi menghindari serangan para patung yang berebut mendekatinya, maka dia melambari tenaga dalam cukup besar. Sehingga tebasan yang dia kerahkan mampu menjangkau jarak lebih dari dua tombak.
Suro cukup terkesima melihat tehnik senjata yang dikerahkan Dewa Obat, selain menggunakan senjata panah, ternyata pertapa yang lebih dikenal sebagai ahli pengobatan itu sangat handal menggunakan bilah golok ditangannya.
Seperti sekarang golok Sang Naga Pembantai bergerak dengan sangat lincah dan berkekuatan sangat besar, sehingga tidak satupun para patung itu memiliki kesempatan mendekatinya.
"Tebasan Golok Naga Lapar!"
Tetapi daya perusak yang ditimbulkan tebasan itu tidak sehebat seperti dalam jurus Tebasan Sejuta Pedang miliki Suro. Tetapi kekuatannya sudah cukup meratakan patung hingga sejauh lebih dari lima tombak.
Kemampuan yang ditunjukkan Dewa Obat segera menyadarkan Suro, jika pemahaman senjata yang dikuasai pendekar itu sangatlah tinggi.
Sebab dalam tahap penggunaan senjata panah dia sudah mampu mencapai tahap tertinggi, yaitu anak panah chakra. Maka serangan golok yang dikerahkan Dewa Obat barusan telah menunjukan sesuatu yang sangat mencengangkan.
Pendekar itu kemampuannya dalam permainan golok minimal sudah mencapai tahap bersatu dengan pedang.
Serangan yang dikerahkan Dewa Obat berhasil membuat jarak dirinya dengan para patung yang terus berebut mengepungnya.
Serangan-serangan susulan yang dia kerahkan, semakin membuat jarak antara dirinya dengan para patung semakin jauh.
Tetapi tanpa mereka sangka sama sekali, saat jarak cukup jauh tidak mampu dijangkau oleh para patung prajurit, maka dari arah di belakang barisan patung yang datang seperti air bah itu telah melesat serangan lain.
Wuuung!
Wuuung!
Wuuung!
Anak panah berlesatan menghujani mereka bertiga. Suro dan Geho Sama yang sedari tadi memilih menyaksikan permainan golok Dewa Obat, akhirnya tidak tinggal diam.
Mereka berdua segera bergabung bersama Dewa Obat dan bergerak menangkis semua anak panah yang terus menghujani.
Mereka sadar, tempat yang berada dibawah tanah rawan hancur jika menggunakan kekuatan besar. Oleh karena itu mereka menggunakan energi tebasan angin untuk menghalau para patung.
Geho Sama kembali memunculkan pusaka Taru Braja untuk menghalau dan menghancurkan patung-patung yang berasal dari tanah liat. Suro juga menggunakan Jurus pertama dan kedua dari ilmu Tapak Dewa Matahari. Sepuluh sinar yang keluar dari setiap ujung jari tangannya menghancurkan petung-patung itu dengan mudah.
Tetapi masalah timbul setelah patung-patung itu hancur secara ajaib mereka mulai membentuk kembali tubuhnya yang hancur.
"Sihir macam apa ini Geho Sama, apa kau mengetahuinya?" Suro segera menyadari, jika jebakan yang mereka hadapi itu tidak sesederhana yang mereka kira.
"Bagaimana mungkin pasukan Elang Langit yang katanya sudah berada ditempat ini tidak menghadapi patung-patung ini?" Geho Sama ikut berdecak kesal.
Dia juga tidak mengetahui sihir yang digunakan untuk menggerakkan ribuan patung prajurit dihadapan mereka.
"Mengenai itu, kemungkinan mereka mendapatkan salinan peta tentang makam ini yang telah didapatkan oleh Batara Karang, sewaktu pertempuran di makam kaisar Gong." balas Suro.
"Makhluk itu lagi yang ternyata mendalangi semua ini. Bagaimana tuan Suro membiarkan makhluk itu kabur?" tanya Geho Sama sambil mengusir patung-patung mendekat.
Suro menceritakan secara singkat kejadian tersebut, sebab dia harus kembali menyerang patung-patung yang kembali datang.
"Geho Sama cepat pecahkan sihir yang membuat semua patung ini dapat hidup kembali! Jika tidak, maka kita akan tetap tertahan ditempat ini!" Suro berbicara ke arah Geho Sama yang terus mengumpat karena patung-patung itu kembali utuh setiap kali dihancurkan.
Geho Sama hanya menganggukkan kepala menanggapi perintah tuannya, sebab dia juga sambil menyerang patung tembikar itu. Dia terus menyerang sambil mencoba memecahkan sihir yang dipasang ditubuh patung-patung itu.
"Ini, aku ingat sekarang. Sihir ini adalah segel seribu hantu." Geho Sama langsung kembali merangsek kedepan.
"Ikuti apa yang aku lakukan, hancurkan kedua telapak kaki patung-patung itu sebelum kembali pulih!"
Sesuai perintah Geho Sama serangan kali ini tidak menyerang kepala dan tubuhnya. Tetapi justru menyerang bagian bawah. Sesuai ucapan Geho Sama seratus petung yang mereka serang tidak mampu memulihkan tubuhnya yang hancur.