
Tetua Xie Tie yang memimpin pasukan adalah yang terkuat diantara tetua yang lain. Dia saja masih berada pada tingkat langit lapisan enam. Sedangkan tetua yang tersisa kurang dari setengah lusin. Tepatnya lima tetua yang tersisa.
Mereka kebanyakan tidak selamat dari jurus Dewa Matahari Menampakkan wajah. Keputusan mereka melakukan serangan gabungan menjadi salah satu keputusan yang buruk.
Sebab bukan hanya gagal, tetapi justru kebanyakan dari mereka berakhir tragis. Banyak dari mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Namun itu bukan satu-satunya hal buruk yang menerpa mereka. Setelah ledakan besar itu serangan susulan ikut menghabisi para tetua lebih banyak.
Serangan tehnik perubahan api tahap hitam milik Suro telah banyak memakan korban pada pihak Perguruan Lembah Beracun.
Kini mereka semua hanya bisa tertunduk penuh khidmat menunggu keputusan pemuda yang berada didepan mereka.
Tetapi pikiran Suro justru tidak sedang berkonsentrasi kepada orang-orang yang sedang menunggu dirinya berbicara. Pandangannya justru terganggu dengan apa yang dilakukan Geho Sama dan Dewa Obat yang masih berusaha melumpuhkan Yon Suzaku.
Mereka berlari kesana kemari mengikuti Yon Suzaku seperti lalat mengejar bau bangkai. Jika dalam kondisi yang biasa dia mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan hal itu.
Tetapi demi menjaga wibawanya dihadapan para tetua dan anggota Perguruan Lembah Beracun, dia mencoba menahan tawanya sebisa mungkin. Dia mulai menggaruk-garuk kepalanya sambil pandangannya beralih kepada tetua Xie Tie yang barusan menyatakan menyerah mewakili semua anggota perguruan yang tersisa.
"Jelaskan kepadaku, tentang hubungan perguruan kalian dengan pasukan Elang Langit? Selain itu apakah kalian memiliki hubungan langsung dengan Dewa Kegelapan?" tanya Suro sambil menatap tetua Xie Tie didepannya.
"Maafkan kami pendekar agung, kami memang memiliki hubungan dengan pasukan Elang Langit yang dipimpin Karuru.
Tetapi kami tidak mengetahui apapun tentang Dewa Kegelapan yang barusan pendekar sebut. Justru baru kali ini kami mendengar nama yang cukup asing." Tetua Xie Tie menjawab Suro dengan pelan tetapi cukup jelas.
Tetua Xie Tie lalu mencoba menjelaskan secara singkat posisi perguruannya mengenai hubungannya dengan pasukan Elang Langit.
Dari penjelasan para tetua, sesungguhnya Perguruan Lembah Beracun tidak punya urusan dengan kepentingan besar pasukan yang dipimpin Karuru di Negeri Atap Langit.
Hubungan mereka hanya mengenai ruang lingkup kekuasaan mereka yang berada disekitar wilayah He Bei. Mereka berusaha mengalahkan saingan terberat mereka, yaitu Perguruan Kuil Suci.
Suro hanya menganggukan kepala untuk menyingkat pembicaraan. Dia sudah tidak tahan untuk segera melesat membantu Geho Sama dan Dewa Obat yang masih saja belum sanggup melumpuhkan Yon Suzaku.
"Untuk saat ini aku menerima pernyataan menyerah kalian. Dan mengenai hal lain aku perlu berdiskusi dengan Dewa Obat," ucap Suro sambil kembali memperhatikan ke arah Geho Sama yang tidak juga berhasil melumpuhkan Yon Suzaku. Sebab makhluk itu terus bersikeras untuk tidak mau menyerah.
Terdengar Dewa Obat meruntuk kesal melihat sikap siluman elang tersebut. Seandainya mereka tidak berjanji hendak menangkapnya hidup-hidup, tentu sedari tadi siluman itu mereka habisi dengan mudah.
Sebab satu-satunya cara mencari tau tentang makhluk bernama Karuru hanyalah dari siluman itu. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengorek dari mulut Yon Suzaku.
Tetapi tentu saja untuk dapat mengorek informasi tersebut, langkah pertama adalah melumpuhkannya terlebih dahulu. Padahal saat itu beberapa titik meridian miliknya telah ditotok.
Bahkan akibat ditotok, kini kaki dan beberapa bagian tubuhnya seperti kebas dan mulai lumpuh, namun siluman itu tetap saja dapat berontak dan bersikeras menolak untuk menyerah.
"Jangan beringsut sampai aku kembali," ujar Suro sambil melesat menghampiri Geho Sama dan Dewa Obat.
Tetua Xie Tie menganggukkan kepala mendengar perintah Suro. Keputusan itu juga diikuti semua anggota perguruan Lembah Beracun.
"Biarkan aku yang melumpuhkannya," ujar Suro sambil melesat mendekat ke arah Yon Suzaku.
Dia memahami, jika tidak mudah membuat makhluk itu tunduk. Karena itu dia menggunakan jalan pintas agar mudah baginya membuat Yon Suzaku tidak lagi mampu melakukan perlawanan.
Sebelum Yon Suzaku menyadari apa yang akan dilakukan Suro kepadanya, mendadak pemuda itu telah berada didepan mukanya.
Satu kebutan tangannya telah membuat mulut siluman itu ternganga lebar. Gerakan berikutnya adalah memasukan racun pelumpuh tulang masuk ke dalam mulut Yon Suzaku.
Tidak ada pilihan lain bagi Suro untuk melumpuhkan Yon Suzaku, kecuali dengan racun itu. Racun yang dia gunakan cukup banyak, karena dia adalah jenis siluman yang memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan manusia pada umumnya.
Bahkan lebih kuat dibandingkan para pendekar yang tingkat kekuatannya sama. Walaupun begitu, akhirnya dengan racun pelumpuh tulang Yon Suzaku tetap dapat dilumpuhkan dan ditangkap hidup-hidup.
Setelah makhluk itu dapat dilumpuhkan Geho Sama lalu mendekat. Dia berupaya bertanya tentang beberapa hal. Namun Yon Suzaku tidak Sudi membuka mulutnya.
"Jangan harap kalian mampu membuka mulutku dan berbicara tentang apa yang ingin kalian ketahui tentang Yang Mulia Karuru!" Mata Yon Suzaku melotot penuh amarah.
Racun pelumpuh tulang milik Suro memang membuat makhluk itu tidak mampu lagi untuk melawan. Tetapi dia tetap memilih bersikeras menolak berbicara sepatah katapun mengenai hal-hal yang ditanyakan kepadanya.
Suro juga bertanya seperti yang ditanyakan Geho Sama sebelumnya. Tetapi makhluk itu bersikeras tidak mau membuka mulutnya. Matanya melotot penuh amarah menahan murka, karena memang hanya tindakan itu yang bisa dia lakukan.
Tubuhnya sendiri sebenarnya sudah lemah lunglai, tetapi martabatnya sebagai pasukan elit Elang Langit menolak untuk menjadi penghianat bagi kaumnya.
Suro sebenarnya cukup kagum dengan sikap yang ditujukkan Yon suzaku, hanya saja dia membutuhkan beberapa informasi dari makhluk tersebut.
"Karena kalian berdua sudah tidak mampu membuka mulutnya, berarti kini adalah giliranku."
Dewa Obat membiarkan Geho Sama dan Suro mengorek informasi dari Yon Suzaku terlebih dahulu. Dia lebih memilih sedikit mundur sambil tersenyam-senyum melihat metode yang digunakan mereka berdua untuk mendapatkan informasi dari Yon Suzaku.
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa keras kepalanya Yon Suzaku.
"Aku memiliki cara yang mudah menghadapi orang-orang yang begitu keras kepala seperti makhkuk ini.
Tidak perlu menggunakan kekerasan atau juga harus membuat urat leher menegang seperti yang kalian lakukan. Aku yakin cara ini akan sangat ampuh membuat siluman ini membuka suaranya."
Dewa Obat berjalan pelan sambil menikmati tatapan Yon Suzaku yang memelototi dengan penuh nafsu membunuh yang besar. Makhluk itu begitu penasaran mendengar ucapan Dewa Obat yang terdengar begitu percaya diri.
Mendengar ucapan Dewa Obat, sebenarnya telah membuat kecemasan melingkupi jiwa Yon Suzaku. Sebab dia merasakan hal buruk bersama setiap langkah Dewa Obat ke arahnya.
"Untuk menghadapi siluman keras kepala seperti dirinya jangan menggunakan cara yang biasa. Kalian hanya akan membuang-buang waktu. Sudah serahkan saja padaku hal kecil seperti ini." Dewa Obat mengambil sesuatu dari balik bajunya.
Sebelum mereka mengetahui apa yang hendak di ambil, satu sentilan dari jari Dewa Obat melemparkan sebuah benda langsung masuk ke dalam tenggorokan Yon Suzaku.
Lalu Dewa Obat menotok urat dilehernya beberapa kali, maka tanpa dikehendaki Yon Suzaku pill itu langsung masuk ke dalam perutnya.