
"Tetapi ada yang sedikit aneh. Walaupun tudung kepalanya yang besar itu berusaha menutupi wajahnya, secara jelas aku melihat, jika wajahnya mirip seekor serigala. Apakah kau juga melihatnya bocah?" Dewa Rencong berbicara ke arah Suro yang muncul tidak beberapa lama setelah kedatangan dirinya.
"Aku tidak melihatnya dengan jelas paman Maung. Sebab gerakannya itu, entah mengapa, bahkan aku merasa itu terlihat begitu cepat. Aku sungguh kagum entah ilmu meringankan tubuh macam apa yang mereka miliki?
Tetapi aku merasa itu bukan murni ilmu meringankan tubuh. Suro justru merasa itu adalah sejenis tehnik ilusi yang sangat tinggi. Bisa jadi itu merupakan ilmu sihir.
Apa sebaiknya aku tanyakan saja kepada Geho sama, bukankah dia ahli sihir? Selain itu dia juga sudah cukup lama berada di dunia lain, apa saja yang dia lakukan makhluk jadi-jadian itu?"
"Benar angger, Geho sama juga berasal dari negeri Wajin. Seharusnya sedikit banyak dia mengetahui hal itu." Eyang Sindurogo menyahut ucapan muridnya.
Suro lalu menghubungi Geho sama melalui kesadarannya. Dia agak lama terdiam mencoba berbicara dengan makhluk yang sedang berada di alam lain.
'Aku belum bisa kembali kesana, masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Ini terkait dengan air Nirvilkalpa yang ada di negeri bawah tanah. Aku masih membutuhkannya.' suara Geho Sama terdengar menyentak dengan nada kesal.
'Aku tidak memintamu kembali, aku hanya hendak bertanya kepadamu tentang sesuatu. Saat ini aku sedang berada di Negeri Atap Langit. Ada sesuatu hal yang membuat kami berada di negeri ini.
Masalah yang hendak aku tanyakan kepadamu berhubungan dengan musuh yang kami hadapi. Sebab mereka memiliki kemampuan unik yang kemungkinan adalah tehnik sihir ilusi."
'Sudah, tidak usah berbelit-belit, aku sedang sibuk bersamadhi. Aku tidak punya banyak waktu. Cepat ceritakan saja semuanya. Jika aku memang bisa membantu menemukan jawabannya, aku akan segera menjawab.' Geho sama menjawab sambil kembali mendengus kesal.
Suro lalu bercerita kepada Geho sama tentang musuh yang dihadapinya.
"Seharusnya dirimu yang seorang ahli sihir dapat membantu kami menghadapi lawan kami ini."
Walaupun Geho sama merasa terganggu, tetapi dia tetap mendengarkan seluruh cerita Suro dengan cermat. Suro menjelaskan semua dengan suara batin melalui kesadaran mereka yang saling terhubung.
Penjelasan itu dapat didengar oleh Geho dengan cukup jelas. Walaupun saat itu mereka sebenarnya terpisahkan oleh dua alam yang berbeda.
Geho sama terdiam beberapa saat setelah mendengar penjelasan Suro. Dia mencoba menelaah setelah mendengar semua penjelasan itu. Meditasi yang dia lakukan sebelumnya, juga telah dia hentikan sedari tadi.
'Jadi begitu, aku sepertinya mengenal jurus yang mereka gunakan. Tidak ada yang mampu mengimbangi jurus langkah Maya milikku kecuali oleh jurus milik Karura.
Dia adalah makhluk setara dewa yang telah hidup ribuan tahun. Karura adalah pemimpin dari suku Elang Langit.
Mereka dapat menghilang seperti yang bisa dilakukan oleh jurus Langkah Mayaku. Keistimewaan jurus mereka itu adalah, mereka mampu memanipulasi lawan dengan cara tertentu.
Sehingga jika dalam keadaan terdesak, mereka dapat meloloskan diri dengan cepat. Cara yang biasa digunakan adalah menghilang seperti dalam jurus Langkah Maya atau menukar tubuhnya dengan benda mati.
Hal itu dapat dibuktikan seperti yang telah diucapkan tuan Suro barusan. Saat mereka hampir tertebas oleh jurus Amukan Rencong Nirwana, maka tubuh mereka menghilang dengan didahului sebuah ledakan yang menghasilkan kepulan asap tebal.
Walaupun menurut tuan Suro jurus itu terlihat seperti mirip sihir ilusi, tetapi menurut pandanganku itu sesuatu yang lain. Aku yakin jurus itu adalah jurus milik Karura. Seandainya itu benar, maka itu adalah sesuatu yang lebih hebat dari jurus ilusi. Jadi, sebaiknya tuan Suro berhati-hati.'
'Lalu bagaimana pendapatmu mengenai hilangnya para bayi dan matinya para penduduk yang kering darahnya? Seperti yang telah aku ceritakan barusan.
Apakah hal tersebut dapat membantumu mengira-ira kemungkinan siapa sebenarnya pelaku dari kejadian ini?" Dan apa sebenarnya yang hendak direncanakan mereka?" Kembali Suro mencoba bertanya kepada Geho sama, sebab jawaban sebelumnya terasa kurang memuaskan bagi dirinya.
'Mungkin saja mereka dijadikan tumbal untuk suatu upacara tertentu. Sebab dalam ilmu hitam hal itu sangat lumrah dilakukan. Apalagi menurut yang tuan Suro katakan, jika Dewa Rencong sempat merasakan jika aura kekuatan mereka mengandung aura sesat.'
'Selain itu ada hal lain yang sebaiknya kau tau, eyang guru sempat menyebut, jika jurus yang digunakan itu mirip dengan sebuah aliran hitam di negeri Wajin. Jurus itu kabarnya berasal dari seorang Tengu. Apakah nama itu mengandung arti tertentu?'
'Jadi begitu, kemungkinan mereka ada hubungannya dengan hantu temma. Makhluk itu bisa dikatakan sebagai musuh bebuyutanku dulu. Dia adalah tangan kanan dari Karuru pemimpin suku elang langit.'
Setelah selesai bertanya kepada Geho sama, Suro lalu menceritakan hal itu kepada yang lainnya. Meskipun itu tidak menjawab keseluruhan pertanyaan yang ada, tetapi itu telah cukup membantu. Sebab mereka akhirnya memiliki sedikit gambaran, tentang musuh yang sedang mereka hadapi itu.
Belum lama mereka berbicara kini dari empat arah mata angin penampakan api yang meluncur ke langit dan meledak, membuat mereka secara serentak segera bergerak menyebar.
Ledakan api itu membuat langit diatas kota Shanxi terang benderang dalam beberapa saat. Suro dan Mahadewi langsung melesat kembali ke arah selatan.
Dengan jurus Langkah Maya, maka dalam sekejap dia telah sampai didekat pasukan elit penjaga kota yang baru saja memberikan tanda.
"Musuh sudah berhasil mencuri bayinya kakang!" Mahadewi berteriak agar Suro segera bergerak menolong.
Suro tidak sempat memasuki rumah dimana suara tangis bayi itu berasal, sebab sesosok bayangan justru telah melesat keluar menembus atap. Bayangan hitam itu menggunakan jubah besar, seperti beberapa sosok yang sempat dihadapi Dewa Rencong
Saat Suro berusaha mendekat ke arah musuh, justru lesatan belati kecil semacam pisau terbang, lebih dahulu menyergap langkahnya. Namun serangan itu tidak mampu menghentikan langkah pemuda itu.
Sebab dengan mudah semua serangan itu dipatahkan. Pedang yang berada ditangan Suro bergerak dengan sangat cepat merontokkan semua pisau terbang yang melesat ke arahnya.
Suro tidak ingin lawannya melarikan diri, karena itu dia segera mengejar. Dia kembali menyerang musuhnya dengan jurus pedang begitu berhasil menyusul.
Setiap tebasan maupun tusukan pedangnya dia lakukan cukup berhati-hati, sebab seorang bayi sedang berada ditangan lawannya.
Seperti ucapan Dewa Rencong sebelumnya, Suro juga melihat wajah musuhnya itu memang seperti serigala, tetapi itu kemungkinan hanyalah topeng belaka.
Jika melihat pengerahan kekuatan yang diperlihatkan musuhnya Suro dapat memprediksi, jika tingkat kekuatan lawan masih di tingkat shakti. Tetapi entah mengapa tehnik meringankan tubuhnya itu mampu bergerak sedemikian cepat, sehingga semua serangannya meleset.
"Siapa sebenarnya kalian ini?" Suro bertanya dengan kesal, sebab musuhnya itu selain menculik anaknya, dia juga membunuh kedua orang tuanya.
Melihat serangannya tidak juga mengenai lawan, Suro kemudian mencoba mempercepat tempo serangannya. Namun hal itu tidak juga berhasil menghentikan langkah lawan.
Seperti penjelasan Geho sama sebelumnya, jika lawannya itu mampu menyaingi jurus Langkah Maya miliknya. Lawannya itu juga dapat menghilang seperti cara yang digunakan dalam Langkah Maya untuk menghindar dari setiap serangan.
Jika tidak memikirkan bayi yang berada ditangan musuhnya, sebenarnya Suro memiliki peluang yang lebih banyak untuk dapat menghabisi musuhnya.
Tetapi dia tidak ingin bayi yang bersama lawannya itu terluka, maka Suro berniat menyelamatkan bayi itu terlebih dahulu sebelum menghabisi musuhnya. Alasan itulah yang membuat setiap serangan Suro seperti tertahan dan tidak bisa dikerahkan secara maksimal.
Kecepatan musuh yang begitu luar biasa mampu membuat Suro yang telah menguasai Langkah Maya sekalipun cukup kerepotan. Hal itu juga yang membuat Suro harus berkejar-kejaran dengan lawannya yang terus berusaha kabur setiap kali ada kesempatan.
Beberapa kali lawannya itu menghujaninya dengan pisau terbang untuk membuka ruang bagi dirinya dapat terlepas dari kejaran Suro.
Suro terus mencecar tubuh lawannya dengan sabetan pedang, setiap kali berhasil menyusul lawannya. Semakin cepat Suro mengejar lawannya, maka musuhnya juga tidak mau kalah.
Karena begitu fokus menyerang dan mencegah musuhnya dapat melarikan diri, tanpa terasa pengejaran Suro telah cukup jauh. Sebab tanpa sadar musuhnya telah membawa dirinya keluar dari benteng kota. Mahadewi sekalipun tidak mampu mengejar, padahal wanita itu telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, yaitu jurus Langkah Kilat.
Suro mampu terus menyusul lawannya, semua itu berkat jurus Langkah Maya. Tanpa jurus itu, niscaya pemuda itu tidak akan mampu mengejar kecepatan lawannya.
'Pantas saja, tidak seorangpun penjaga kota yang pernah menangkap pelaku penculikan para bayi ini.' Suro hanya bisa membatin menyaksikan kecepatan lawan yang tidak biasa itu.
"Serang sekarang!"
Sebelum Suro memahami apa yang sedang dikatakan lawan yang berusaha dia hentikan langkahnya, mendadak dari arah kanan dan kirinya bermunculan musuh lain. Semua berjumlah empat orang dengan pedang dikedua tangannya.
Mereka segera membabat tubuh Suro, namun saat jarak mereka kurang dari dua kaki, Suro telah menghentikan langkah mereka semua. Sehingga mereka tidak dapat mendekat lebih jauh.
Sebab bilah pedang yang berada dipunggung Suro berlesatan ke kedua arah. Lebih dari setengah lusin bilah pedang milik Suro, akhirnya berhasil menghadang langkah kaki mereka.
Melihat serangan balik yang dikerahkan Suro berhasil menghentikan bala bantuan yang baru saja datang. Lelaki yang sedari tadi dikejar Suro itu hanya bisa mendengus dengan sangat kesal.
"Cepat habisi manusia ini, jurus yang dia gunakan dapat menandingi ilmu kita! Jangan biarkan dia terus mengikuti kita kembali ke markas! Secepat apapun aku melesat, tetap saja dia dapat terus mengikutiku!" Lelaki itu terlihat sedikit gugup mengetahui ada manusia lain yang mampu menandingi kecepatannya.
"Kalian pikir serangan ini mampu menghentikanku?" Suro tertawa lebar melihat lawannya ketakutan, karena selalu berhasil dikejar.
Jurus pedang Suro meskipun dikerahkan cukup hati-hati, agar bayi yang bersama lawan didepannya tidak terluka oleh senjata miliknya, tetapi serangan itu terlalu dahsyat. Sehingga lawannya dibuat kewalahan.
Lawan Suro sebenarnya hendak menggunakan kesempatan untuk kabur, ketika keempat kawannya datang menyergap. Namun sayang, Suro dapat mematahkan serangan mendadak itu hanya dalam satu gebrakan saja. Kejadian itu tidak disangka sama sekali oleh musuhnya.
Bahkan mereka juga tidak menyangka, hanya dalam satu gebrakan itu juga cukup untuk membuat mereka berlima kelabakan. Jurus pedang terbang Suro bergerak dengan sangat dahsyat menunjukkan kehebatannya kepada kelima orang yang mengepungnya.