
Tempat yang di tuju oleh Suro berada di sebuah gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Sebuah pegunungan yang hutannya cukup lebat.
"Kita sudah sampai belum tuan pertapa?" Suro menatap Dewa Obat yang mencoba mengenali alam sekitar.
"Aku rasa memang tempat ini, tetapi aku tidak mengetahui sebelah mana sebenarnya makam itu."
Mereka lalu berjalan mencari petunjuk tentang makam Qin Shing Huang di seluruh penjuru hutan itu. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok.
Dewa Obat memilih ikut bersama Suro, sedangkan Geho sama mencari jejak sendirian.
Mereka memutari pegunungan Lishan dari dua arah yang berbeda. Dengan cara itu mereka dapat menghemat waktu. Tetapi setelah mereka bertemu ditengah, mereka segera menyadati tidak ada pentunjuk apapun tentang makam kaisar di hutan itu.
"Apa yang terjadi, apakah ada hal yang terlewatkan, sehingga kita tidak menemukan." Dewa Obat mencoba mengingat setiap celah yang dia lewati sebelumnya.
Namun dia bisa memastikan jika tidak ada hal mencurigakan yang bisa mereka temukan. Geho sama yang terbang rendah dapat mengingat jika jalan yang dia lewati telah dalam pengamatannya semua.
Dia sangat yakin tidak mendapati adanya petunjuk mengenai keberadaan makam kaisar Qing Shi Huang.
Bahkan sambil terbang rendah itu dia mengerahkan tehnik empat Sage untuk menemukan aura manusia atau para Suzaku yang merupakan siluman elang.
Seperti penjelasan Yon Suzaku jika Karuru dan para Suzaku pengawal khusus kepala suku Elang Langit, telah berada di pegunungan Lishan.
"Bukankah makam itu begitu dirahasiakan oleh rakyatnya. Sehingga para pekerja, selir dan pembantu yang mengiringi jenasahnya ikut dikubur bersama sang kaisar." Suro bertanya kepada Dewa Obat yang masih mengira-ira jejak keberadaan makam kaisar.
Suro pernah bertanya tentang makam itu kepada tetua Dewi Anggini. Sehingga dia sedikit banyak mengetahui sejarah tentang kaisar dan tata cara pemakaman para kaisar Negeri Atap Langit yang justru terkesan sadis.
"Apakah kau menemukan petunjuk bocah?"tanya Geho Sama yang kepalanya mulai berasap karena disuruh mengingat-ingat jejak yang barusan dia lewati.
"Bukan menemukan petunjuk, aku rasa cara kita mencari tidak tepat."
Dewa Obat memincingkan mata mendengar ucapan Suro barusan.
"Tidak tepat, maksudnya bagaimana?"
Suro tersenyum mendengar pertanyaan Dewa Obat.
"Tuan pertapa tentu mengetahui tentang makam kaisar Qing ini. Termasuk keberadaannya yang tidak dapat ditemukan oleh siapapun.
Walaupun ada sumber yang menyebutkan keberadaannya ada disekitar pegunungan Lishan ini."
Suro berhenti sebentar sambil melihat Dewa Obat yang mendengarkan penjelasannya dengan begitu serius. Dewa Obat belum mendapatkan petunjuk dari penjelasan itu. Karena itu dia menunggu penjelasan selanjutnya.
"Jika memang itu dirahasiakan dan tidak ada yang pernah menemukannya, maka aku memiliki kesimpulan, jika makam itu berada didalam tanah cukup dalam."
Geho sama terlihat tidak puas setelah penjelasan Suro selesai.
"Kau pikir aku tidak memperkirakan kemungkinan seperti itu? Aku sudah mengerahkan tehnik empat Sage untuk merasakan keberadaan para Suzaku dan Karuru.
Jika mereka memang ada didalam tanah disekitar pegunungan ini, tentu aku akan dengan mudah menemukannya. Bukankah kau juga melihat bagaimana jangkauan yang dapat aku capai untuk mendeteksi Yon Suzaku yang berhasil kita tangkap?
Tehnik empat Sage yang aku kerahkan telah meliputi seluruh pegunungan ini. Jadi tidak mungkin terlewatkan, bahkan aku mengetahui ada berapa harimau yang hidup di hutan ini!"
Suro membiarkan Geho Sama selesai berbicara dan mengutarakan pendapatnya. Setelah selesai baru pemuda itu meneruskan ucapannya.
"Memang benar apa yang kau ucapkan Geho Sama. Tetapi kau lupa mengenai pusaka iblis Kunci Langit yang ikut terpendam didalamnya. Bagaimana mungkin kita tidak merasakan keberadaan pusaka itu?
Bukankah itu adalah pusaka yang sangat sesat sekali. Sehingga pada jarak jauh saja kita seharusnya mampu mendeteksi keberadaannya.
Tetapi seperti ucapanmu yang mampu mengetahui setiap hawa atau aura kekuatan yang ada di pegunungan ini sekalipun, tetap tidak sanggup merasakan keberadaan pusaka iblis Kunci Langit.
Menurut perhitunganku, makam itu dibuat dengan batu khusus yang mampu menyembunyikan aura kekuatan. Sehingga pusaka yang memiliki aura begitu sesat sekalipun akan mampu di netralisir, sehingga tidak akan dapat dirasakan dari luar."
"Jadi apa rencanamu?" Dewa Obat kali ini tidak sabar mendengar penjelasan Suro yang sedikit rumit baginya.
Dia lalu berjongkok dan meletakkan kedua telapak tangannya ke permukaan tanah. Lalu Suro mulai mengerahkan tehnik perubahan tanah untuk membaca apa yang tersimpan dibawah tanah.
Matanya terpejam saat dia mulai mengerahkan jurus yang di dapat dari Sang Hyang Antaboga itu. Wajahnya lalu berubah seperti melihat sesuatu yang menarik.
"Mengagumkan, aku tidak menyangka dibawah tanah sedalam ini ada bangunan seluas dan semegah ini. Bagaimana mereka membuatnya?"
Dewa Obat dan Geho Sama tentu saja penasaran mendengar ucapan Suro yang berbicara tentang sesuatu hal yang dia temukan dengan menggunakan tehnik perubahan tanah miliknya.
Dewa Obat begitu kagum dengan tehnik perubahan tanah yang dikuasai oleh Suro.
Dia tidak menyangka sama sekali ada manusia yang menguasai jurus perubahan tanah sampai tingkat setinggi itu.
"Jika aku tidak melihat langsung apa yang mampu dia lakukan, tentu aku tidak akan mempercayainya."
"Jurus perubahan tanah yang dia lakukan seperti ini bukan sesuatu yang mengagumkan. Dia bisa melakukan sesuatu hal yang lebih mengagumkan dengan tehnik perubahan tanah miliknya," sangah Geho Sama.
"Hal mengagumkan apa yang kau maksud?"
"Misalnya mengantarkan dirimu menuju kedalam bumi ini," jawab Geho Sama ringan.
"Mengantarkan kita masuk ke dalam tanah?" Mendengar penjelasan Geho Sama, Dewa Obat kembali mengulang perkataannya barusan untuk menegaskan, jika apa yang dia ucapkan tidak ada yang salah.
Geho Sama hanya menganggukkan kepala sambil menunggu Suro selesai mengerahkan ilmunya. Dia melakukan cukup lama, sebab apa yang dia lihat cukup rumit dan memiliki cakupan sangat luas.
Dia sedang berusaha menemukan pintu masuk menuju komplek makam sang kaisar Qing yang berada jauh di dalam tanah.
Selang beberapa saat kemudian Suro membuka matanya dan tersenyum lebar.
"Sesuai dengan perkiraan ku, memang makam itu susah ditemukan karena letaknya yang tersembunyi jauh dibawah tanah. Aku berusaha mencari jalan masuk ke tempat itu.
Tetapi ternyata tempat itu hanya bisa dilewati dari satu arah saja. Satu buah pintu batu raksasa yang menjadi penghubung antara dunia luar dengan makam yang sudah terkubur ratusan tahun lalu."
Setelah mengerahkan tehnik perubahan tanah Suro menemukan jika makam itu tidak sesederhana yang mereka kira. Sebab komplek makam itu begitu luas. Saking luasnya tempat itu setara sebuah Kademangan yang ada di Caringin.
Bahkan makam itu memiliki pertahanan selayaknya sebuah pertahanan kota kerajaan. Beberapa lapis benteng melindungi makam utama.
Secara keseluruhan makam utama berbentuk seperti dua piramid yang ditumpuk. Dua piramid itu menghadap kedua arah yang berbeda, menghadap ke atas dan ke bawah.
"Lalu dimana pintu masuk yang kau katakan barusan?" Geho sama bertanya sambil mengedarkan pandangannya.
"Bukit yang lumayan besar itu adalah letak makam utama. Tetapi jalan yang dilalui tidak sesederhana yang kita kira sebelumnya. Aku tidak berani memaksa masuk, sebab takut itu akan membuat makam itu hancur.
Karena kemungkinan besar tempat dimana sang kaisar disemayamkan berada pada dasar piramid yang menghadap ke bawah."
**
Makam Kaisar pertama itu terletak di kaki utara Gunung Lishan, 35 kilometer timur laut Xi'an, Provinsi Shaanxi, Mausoleum Qin shi huang adalah makam Kaisar Qin shi huang, pendiri kerajaan bersatu pertama dalam sejarah Tiongkok selama abad ke-3 SM.
Dimulai pada 246 SM, gundukan kuburan bertahan hingga ketinggian 51,3 meter di dalam kandang persegi panjang berdinding ganda yang berorientasi utara-selatan.
Hampir 200 lubang yang menyertainya berisi ribuan tentara terra cotta seukuran aslinya, kuda terra cotta dan kereta perunggu dan senjata. Sebuah penemuan terkenal di dunia.
Bersama dengan makam pemakaman dan peninggalan arsitektur berjumlah lebih dari 600 situs dalam area properti seluas 56,25 kilometer persegi. Semua itu bersumber dari catatan dari seorang sejarawan bernama Sima Qian ( 145-95 SM),
Sebagai makam kaisar pertama yang menyatukan negara, ini adalah yang terbesar dalam sejarah Tiongkok, dengan standar dan tata letak yang unik, dan sejumlah besar objek pemakaman yang sangat indah. Ini membuktikan berdirinya kekaisaran bersatu pertama - Dinasti Qin, pada abad 3 SM.
Kaisar Qing menggunakan kekuatan politik, militer dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memajukan tingkat sosial, budaya dan ilmu artistik kekaisaran.