SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 276 Formasi Sihir Hutan Ilusi



"Ini sudah kondisi gawat eyang, jika sampai pasukan kegelapan itu kembali menyerang dan kita tidak datang membantu, maka Suro yakin pasukan kegelapan akan membantai semua."


"Selama pertempuran yang Suro lewati sudah berapa puluh manusia bertanduk yang telah mencapai tingkat langit. Namun di tanah Javadwipa ini hanya ada dua pendekar yang telah mencapai kekuatan tingkat langit. Mereka adalah paman guru Dewa Pedang dan juga paman Dewa Rencong."


"Kondisi itu sangat berbanding terbalik dengan jumlah pasukan aliran hitam yang pernah kita hadapi. Mereka banyak yang telah mencapai tingkat langit setelah menyerap kekuatan kegelapan."


"Karena itu kita sebagai aliran putih harus memecahkan masalah gawat ini eyang. Kita harus meningkatkan kekuatan para pendekar aliran putih."


"Suro yakin eyang pasti memiliki cara tersendiri, minimal dapat meningkatkan kekuatan para tetua yang masih ditingkat shakti."


Eyang Sindurogo mendengar perkataan Suro dengan sangat serius. Dia mengerti apa yang dikatakan muridnya itu adalah sesuatu kekhawatiran yang sangat wajar dan dapat dimaklumi.


"Benar itu ngger. Eyang sudah membicarakan hal tersebut bersama tetua pedang adinda Dewi Anggini. Memang benar eyang memiliki cara tertentu untuk melakukan itu. Namun tidak akan secepat seperti cara pendekar aliran hitam yang menyerap kekuatan kegelapan untuk meningkatkan kekuatan mereka."


Eyang Sindurogo kemudian menceritakan sedikit kisah perjalanan hidupnya yang melatar belakangi dirinya menguasai ilmu yang hendak digunakan itu. Dia mengaku mempelajarinya saat dia menjelajahi negeri atap langit. Disana dia mendapatkan ilmu itu yang merupakan bagian dari ilmu pengobatan yang tak dikenal di tanah Javadwipa.


"Selain eyang belajar ilmu pengobatan dinegeri itu, eyang juga akhirnya bertemu dengan bidadari tangan seribu." Mata eyang Sindurogo menatap ke arah Dewi Anggini sambil tersenyum.


"Tehnik khusus ini memerlukan tanaman yang sangat langka. Dan susah untuk dicari. Kalaupun ada harus memiliki kriteria yang membuat tanaman itu dapat digunakan. Sebab beberapa bahannya harus memiliki umur yang minimal sudah berkisar seratus tahun."


Eyang Sindurogo kemudian menjelaskan kepada Suro bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Pill yang katanya mampu membantu para pendekar meningkatkan kekuatannya.


Suro setelah mendapatkan nama-nama bahan itu segera menulisnya.


"Namun ada satu bahan lagi yang ini paling susah untuk diketemukannya."


"Apa itu eyang guru?"


"Sesuatu yang berhubungan dengan naga sisik emas, yaitu kulit bekas dari makhluk itu. Bahan ini yang bisa dikatakan sangat mustahil diketemukan."


"Benar eyang, bahan itu memang sangat susah diketemukan, namun Suro memilikinya."


Eyang Sindurogo terkejut mendengar ucapan Suro barusan dia terlihat seakan tidak mempercayainya.


"Justru bukan kulit bekasnya saja yang Suro miliki, namun makhluk naga itu juga aku miliki. Naga itu aku tempatkan di rumahku yang berada di atas bukit. Eyang masih ingat bukan? Karena eyang sudah pernah Suro ajak datang ke sana."


"Luar biasa sangat mengagumkan, engkau benar-benar pembuat keajaiban ngger."


Suro tersenyum mendengar ucapan eyang Sindurogo.


"Baiklah kita menuju kesana saja eyang. Selain itu Suro akan bertanya kepada paman Kolo Weling mengenai bahan-bahan yang eyang sebutkan barusan memerlukan waktu berapa lama agar dapat terkumpul semua dalam jumlah yang dapat mencukupi."


"Eyang rasa, Kolo Weling tidak akan sanggup mengumpulkan semua. Karena beberapa bahan yang eyang sebutkan tadi sesuatu yang tidak bakal ada di tanah Yawadwipa ini. Sebaiknya kita sendiri yang akan mengumpulkannya beberapa tanaman yang tidak dapat dicari oleh Kolo Weling."


"Nuwun inggih eyang guru." Suro yang duduk bersimpuh segera menundukkan tubuhnya untuk menghormat kepada gurunya.


**


Suro kemudian pergi bersama eyang Sindurogo ditemani Dewi anggini dan juga Maung. Mereka segera lenyap dan kembali muncul didepan rumah Suro yang berada di atas bukit. Setelah sampai di rumah itu Suro membiarkan harimau taring pedang, sahabatnya itu untuk beristirahat.


Suro kemudian memperlihatkan naga sisik emas yang berada di sebuah ruangan khusus untuk ular itu. Disana mereka juga menemukan Geho sama sedang bersamadhi didekat ular berwarna keemasan yang sedang tertidur melingkar.


Setelah kembali dari Perguruan Pedang Bayangan, Geho sama memilih menghabiskan waktunya dengan bersamadhi untuk membersihkan jiwanya.


Geho sama memilih bersamadhi didekat naga itu, ada hubungannya dengan kemampuan alami yang dimiliki ular itu. Sebab Naga Sisik Emas yang terlihat sedang tertidur itu, sebenarnya terus menarik energi alam.


Kondisi itu membuat aliran darah dapat bersirkulasi dengan lancar, sehingga pikiran akan menjadi jernih dan memudahkan Geho sama dalam meditasinya. Bahkan kondisi itu juga dapat meningkatkan kekuatan secara signifikan.


"Pantas saja saat berada disini aku merasa energi alam seakan ditarik untuk bersirkulasi di sekitar bukit ini." Eyang Sindurogo menatap makhluk yang melingkar dengan rasa takjub.


"Sudah berapa tahun dirimu memelihara naga ini, ngger Suro? Mengapa eyang tidak pernah menyadarinya?"


"Bagaimana mungkin? Sebab untuk memiliki tubuh sebesar itu, memerlukan chakra yang luar biasa banyak? Bagaimana mungkin dengan waktu yang tidak begitu lama sudah membuat naga ini menjelma menjadi sebesar pohon kelapa?"


"Benar eyang, sebab waktu itu dirinya ikut pergi ke alam kegelapan dan menyerap energi yang tak terukur banyaknya. Sampai saat ini dia masih tertidur."


"Berarti kita masih menunggu sampai ular ini berganti kulit?"


"Tidak eyang, Suro sudah menyimpan kulit lama dari naga ini, saat dia selesai berganti kulit aku menyimpannya."


"Suro merasa kulit ular itu sangat indah, jadi sayang jika harus dibuang."


"Syukurlah kulit itu tidak kamu buang ngger. Selain karena kelangkaannya kulit itu berharga karena memang dilapisi emas murni ngger. Jadi bisa dikatakan jika memelihara ular ini seperti memelihara pesugihan karena akan membuat dirimu sangat kaya raya."


Suro tertawa mendengar penjelasan gurunya.


"Jadi kita akan melakukan yang mana dulu, eyang? Menyerang Perguruan Sembilan Selaksa Racun, pergi mencari relik kuno atau justru mencari bahan untuk meramu pill yang akan digunakan untuk meningkatkan kekuatan para tetua, eyang?"


"Semuanya sekaligus."


"Ha? Maksudnya bagaimana eyang?"


"Entah kebetulan atau tidak, sepertinya takdir telah mengarahkan kita untuk menyerang Perguruan Sembilan Selaksa Racun. Karena disanalah berbagai bahan yang kita butuhkan dimiliki oleh perguruan itu. Selain itu, sesuai penjelasan pak tua salah satu relik kuno berada di perbatasan antara negeri Champa dan negeri Funan. Jadi bisa dikatakan kita lakukan semuanya sekaligus."


"Sendiko dawuh eyang." Suro menjawab ucapan gurunya sambil menjura.


**


Keesokan harinya Eyang Sindurogo, Suro, Geho sama dan Dewa Rencong bersiap-siap hendak berangkat menuju Perguruan Sembilan Selaksa Racun.


Eyang Sindurogo yang kali ini memimpin mereka berempat. Sebab beberapa puluh tahun yang lalu dia pernah mencoba membumi hanguskan perguruan itu, namun karena sesuatu hal membuat eyang Sindurogo membatalkan niatnya.


"Paman Kolo weling aku minta bantuan paman untuk mencari bahan-bahan yang telah aku catat."


"Baik nakmas jangan khawatir aku akan berusaha mencarinya."


"Para tetua kali ini akan membantu mengawal Kolo weling. Bahan yang akan mereka kumpulkan sesuatu yang sangat berharga untuk perkembangan perguruan. Karena itu aku harus memastikan terjaga dengan baik." Dewa Pedang setelah mendapat kabar dari tetua Dewi Anggini mengenai rencana Suro dan gurunya yang hendak pergi ke negeri Champa. Pagi itu dia datang untuk melepas keberangkatan mereka, juga ada beperapa hal yang hendak dibicarakan langsung.


Salah satunya yang hendak dibicarakan Dewa Pedang sebelum mereka berangkat menuju negeri Champa, adalah terkait keberadaan Tongkat iblis. Dia berjanji akan menggerakkan seluruh aliansinya untuk mencari informasi keberadaan tokoh golongan hitam yang kini menjadi pengikut Dewa Kegelapan.


Setelah semua persiapan selesai dan tidak ada lagi yang dibicarakan, maka Eyang Sindurogo segera mengerahkan Langkah semu yang akan membawa mereka menuju Perguruan Sembilan Selaksa Racun.


**


"Eyang Sindurogo mengapa kita justru muncul di hutan? Bukankah kita hendak menyerang Perguruan Sembilan Selaksa Racun?" Dewa Rencong menatap ke arah Eyang Sindurogo yang sebelumnya telah mengerahkan ilmu Langkah Maya.


Mereka semua ikut menatap ke arah Eyang Sindurogo, menunggu penjelasan darinya.


"Tenang saja Salya(nama asli Dewa Rencong) aku tau apa yang aku lakukan. Perguruan Sembilan Selaksa Racun sebenarnya berada didekat kawasan hutan ini. Namun karena dilindungi formasi sihir hutan ilusi maka orang seperti kita, tidak dapat mengetahui letak keberadaannya. Pihak-pihak yang tidak diinginkan tidak akan sanggup menemukannya."


"Karena alasan itulah dulu aku tidak berhasil membumi hanguskannya."


"Benarkah hal itu eyang? Tetapi mengapa paman Tohjaya tidak mengatakan hal ini kepada Suro?" Suro cukup terkejut mengenai hal yang sebegitu penting, tetapi tidak diceritakan oleh Ketua Perguruan Racun Neraka.


"Kemungkinan dia tidak mengetahui hal ini."


"Lalu bagaimana kita menyerang perguruan itu eyang, jika kita tidak dapat menemukan keberadaannya?"


"Kita tanyakan hal itu kepada ahli sihir yang mengetahuinya." Pandangan eyang Sindurogo beralih kepada Geho sama yang terlihat sedang serius menatap seputaran hutan.