
Narashoma atau Narasoma berasal dari dua suku kata dalam bahasa sansekerta yang berarti Dewa bulan yang menjelma manusia. Narashinga yang berarti seekor Singa yang menjelma manusia. Dua kakak beradik ini memang dididik sedari kecil untuk menjadi seorang Pendekar yang setangguh Dewa dan setangguh Singa.
Tetapi kali ini ketangguhannya benar-benar diuji. Karena kali ini dia sedang berhadapan dengan penerus dari Mahaguru Pasukan topeng iblis yang melegenda.
Konon saat ratusan pasukan gabungan dari golongan hitam yang mengepung pemimpin tertinggi topeng iblis itu mampu lolos dan menghilang tak seorangpun mengetahui rimbanya. Padahal orang-orang yang mengepung dirinya adalah ratusan orang yang terdiri dari gabungan pasukan elit golongan hitam.
Mereka yang masuk pasukan elit ini minimal setingkat pendekar kelas satu. Suatu hal yang tak mungkin terjadi jika ada yang mampu meloloskan diri dari kepungan orang yang sebanyak itu. Tetapi itulah yang terjadi dia dapat meloloskan diri.
Sebelum terjadi kemungkinan yang lebih buruk mengenai ribuan murid yang ada diperguruannya dia segera bergerak meminta bantuan kepada Dewa pedang. Dia berharap masih ada waktu untuk menyelamatkan mereka. Sebelum para pasukan elit golongan hitam menyadari ilmu pedang yang barusan dia gunakan adalah ilmu pedang bayangan milik perguruannya.
Dengan kemampuannya itulah semua muridnya akhirnya terselamatkan dengan kedatangan Dewa pedang. Dia datang bersama puluhan tetua dan ratusan murid tingkat tinggi diperguruannya dan memukul mundur semua pasukan gabungan golongan hitam.
Di arena pertarungan dua kandidat masih berusaha mengalahkan musuhnya dengan kemampuan yang dia miliki. Baik Azura maupun Narashoma mereka sama-sama mengunakan semaksimal mungkin kemampuan yang telah mereka miliki.
Entah bagaimana caranya yang akan dilakukan Dewa Rencong untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Mengingat dua petarung dalam kondisi sama-sama tak terlihat.
Narashoma menghilangkan wujudnya dengan bersembunyi dibalik kabut asap yang begitu pekat. Sedangkan Azura berkat kekuatan jiwa yang dia miliki melalui ilmu panglimunan membuat tubuhnya benar-benar tidak terlihat. Sesuatu hal yang tak disangka-sangka sebelumnya oleh Narashoma. Sebab kemampuan ini tidak diperlihatkan Azura pada babak pertama.
Kemampuan yang dilakukan Azura adalah kekuatan yang berasal dari kekuatan jiwa. Dalam diri manusia selain tenaga dalam yang bersumber dari empat kitab unsur alam,yaitu kitab bhumi, kitab air, kitab agni atau api dan kitab bayu atau udara. Ada sumber kekuatan lain.
Seperti dalam tehnik pedang selain membutuhkan kekuatan tenaga dalam diperlukan kekuatan lain untuk naik pada tingkat selanjutnya. Kekuatan yang diperlukan itu bersumber pada kekuatan spiritual. Sedangkan ilmu yang dipakai Azura mengunakan sumber kekuatan lain yang bersumber pada kekuatan jiwa.
Pada sumber kekuatan terakhir ini memiliki efek yang berbeda dari dua sumber kekuatan yang sebelumnya. Karena berkutat pada pengolahan jiwa yang tak berhubungan dengan unsur alam.
Setiap manusia yang hidup terbagi dua hal dalam dirinya yaitu wadak kasar dan wadak halus atau raga dan jiwa. Untuk memperkuat kekuatan raga bisa melalui pelatihan fisik dan peningkatan tenaga dalam. Tetapi untuk melatih kekuatan jiwa diperlukan pelatihan yang berbeda.
Pada tingkatan awal kekuatan ini mampu menyerang musuh dengan membuat musuhnya ketakutan, berkeringat dingin hanya dengan melepaskan aura yang difokuskan ke arah lawannya. Banyak tingkatan yang harus dilalui yang membuat efek yang lebih mematikan.
Seperti tahap berikutnya dapat membuat lawan tak mampu bergerak atau kehilangan kesadarannya setelah diserang jiwanya. Hal itu sangat berguna untuk melumpuhkan lawan tanpa harus melukainya. Bahkan untuk melumpuhkan lawan tanpa harus bergerak sekalipun.
Pada tingkatan tertinggi konon katanya mampu menarik keluar jiwa musuhnya keluar dari wadak kasarnya atau jazadnya. Ada juga dalam tingkatan tertentu mampu memasuki wadak musuhnya dengan ilmu ngrogoh sukmo atau pada tingkatan yang lebih tinggi ilmu itu disebut ngrogoh sukmo sejati.
"Jadi ini rahasia tetua Giling wojo mampu lolos dari kepungan pasukan elit golongan hitam." Dewa pedang menatap area pertarungan dengan sangat serius. Tetua Tunggak semi yang berada disebelahnya menoleh ke arah ketua sekte.
"Pantas saja ratusan orang yang telah mengepungnya tak mampu menemukannya. Akhirnya aku menyaksikan sendiri kehebatan ilmu yang tersohor itu! Sebuah ilmu yang berdasarkan kekuatan jiwa."
"Aku juga tidak menyangka seorang yang masih begitu muda mampu menguasai kekuatan jiwa setinggi ini. Sehingga membuatnya mampu menguasai ilmu ini." Tetua Tunggak semi ikut menyahuti perkataan Dewa Pedang.
"Kalau tidak salah nama ilmu yang dipakai anakmuda yang memakai topeng itu adalah ilmu panglimunan."
"Benar Tetua Tunggak semi itu ilmu panglimunan. Aku juga tidak menyangka jika ilmu ini masih ada. Sebelumnya aku mengira sudah musnah karena tidak ada yang mampu menguasainya atau tidak ada penerusnya. Aku tidak menyangka anak muda itu yang menjadi penerus ilmu panglimunan yang sudah kondang itu." Kini Dewa Pedang mengalihkan pandangannya ke arah tetua Tunggak semi.
"Benar ketua aku juga kagum dengan pencapaian kekuatan jiwa anak muda ini. Sesuatu hal yang pantas jika kemudian anak muda ini digadang-gadang menggantikan ketua perguruan yang sebelumnya telah meninggal."
"Iya sesuatu hal yang pantas karena dia sudah menuruni semua ilmu gurunya."
"Lalu bagaimana cara menghentikan dua petarung yang sama-sama tidak terlihat ini ketua?"
"Tunggu saja, sebentar lagi kita akan tau hasilnya. Jangan khawatir tentang bagaimana caranya menghentikan pertarungan ini jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Aku memilih Dewa Rencong dari bukit Lamreh menjadi wasit pertarungan bukan tanpa alasan. Sebab menurut sepengetahuanku dialah pendekar yang telah menguasai kekuatan jiwa pada tingkatan yang cukup tinggi. Jauh lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan pendekar yang pernah aku kenal!"
"Karena dari dulu dia sudah pada tingkatan yang membuatnya menguasai ilmu ngrogoh sukmo sejati."
"Bukankah itu ilmu yang mampu menguasai tubuh lawan melalui kekuatan jiwa?"
"Benar sekali tetua!"
"Aku mengira ilmu itu hanya ada dalam dongeng. Sebuah pencapaian kekuatan jiwa yang sangat mengagumkan. Pantas saja Dewa Rencong dari bukit Lamreh ini namanya mampu menggaung menyebrangi lautan sampai tanah Javadwipa." Tetua Tunggak semi mengelus-elus janggutnya sambil menatap tokoh yang sedang dibicarakan ini.
"Bagaimana ketua perguruan mengenal dia dan bisa hadir di perguruan pusat ini?"
"Jadi itu alasannya tokoh yang terkenal ini sampai di perguruan pusat. Aku mengira dia datang atas undangan ketua!"
"Hahaha..! Tetua jangan bercanda selain Sang Hyang Dewata hanya Eyang Sindurogo yang mampu memangilnya datang. Dia tokoh yang sama uniknya dengan Pendekar nomor satu dikolong langit Benua Timur ini. Tak ada yang mampu mengundangnya hadir kecuali dia sendiri yang menghendaki."
Trang! Trang!
Bledar!
Hantaman pedang dari balik kabut asap memecah ketegangan penonton yang menunggu kelanjutan pertarungan. Karena beberapa saat setelah Azura lenyap dari pandangan, Narashoma juga ikut menghilang kedalam balik kabut. Agak lama para penonton menunggu apa yang akan terjadi karena tidak ada pergerakan apapun di arena pertarungan.
"Menyerahlah, kali ini kau tak akan mampu mengalahkanku!" Terdengar suara Azura menyuruh Narashoma menghentikan perlawanannya.
"Jangan memandang remeh kekuatanku. Meski aku tak mampu melihatmu tetapi aku tau dimana dirimu berada!"
Azura yang tak bisa dilihat itu, oleh Narashoma serangannya masih mampu ditangkis. Dia melihat datangnya serangan dengan mengamati pergerakan Kabut asap yang ikut bergerak mengikuti sambaran pedang Azura.
Dewa Rencong terlihat begitu konsentrasi dipinggir arena. Dia sedang memperhatikan jalannya pertarungan yang tak bisa dilihat hanya dengan menggunakan kemampuan mata biasa.
Hampir semua penonton tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kelanjutan pertarungan. Sebab dua-duanya hilang dari pandangan. Ketegangan menyelimuti mereka semua. Bahkan hembusan nafas terasa keras terdengar.
Kejutan demi kejutan dalam pertarungan ini memperlihatkan kekuatan para kandidat tetua muda sangat luarbiasa. Mereka semua terdiri dari para pendekar yang pilih tanding. Karena setelah terpilih otomatis mereka harus melindungi perguruan yang berada dibawah pengawasannya. Sebagai pelindung sebuah perguruan tentulah bukan satu tugas yang ringan. Sebab yang akan dia hadapi adalah para jagoan dari perguruan lain yang ingin menyerang perguruan yang dibawah perlindungannya.
Trang! Trang!
Suara pedang saling beradu masih terdengar. Menandakan perlawanan yang dilakukan Narashoma belum berakhir.
"Berhenti! Sudah Cukup!"
Suara Dewa Rencong terdengar cukup keras. Kemudian dia menerjang ke arah kabut asap yang masih begitu pekat memenuhi arena pertarungan. Dengan libasan tangan yang mengandung tenaga dalam begitu kuat membuat kabut asap itu segera menyebar kesegala arah.
Terlihat Narashoma telah tersandera dua bilah pedang Azura. Dia masih ingin memberikan perlawanan meski bilah pedangnya tak lagi digengamnya. Satu bilah pedang Azura sudah bersiap menyembelih leher lawannya cukup dengan satu gerakan kepala Narashoma pasti akan tanggal dari badannya.
Mata dari Narashoma menyala menandakan ketidak takutan dengan resiko yang akan ditanggung jika dia mencoba melanjutkan perlawanan. Tidak salah dia menyandang nama yang maknanya begitu luar biasa. Karena memang dia diberikan keberanian yang setinggi langit. Kadang memang sangat tipis antara keberanian dan kebodohan hanya terpisah garis yang sangat tipis.
Beruntung Dewa Rencong sudah menghentikan pertarungan mereka sebelum terjadi sesuatu yang sangat fatal.
Narashoma masih tidak puas dengan keputusan Dewa Rencong menghentikan pertarungan. Tetapi keputusan wasit sudah final tidak bisa dirubah.
Setelah selesai diumumkan pertarungan yang dimenangkan Azura, Narashoma kembali kepodium dengan langkah gontai pupus sudah harapannya untuk menjadi tetua muda.
"Peserta untuk pertandingan berikutnya aku dapat satu nama yaitu, Rithisak somnang!" Terdengar Dewa Rencong membaca sebuah gulungan nama yang diambil secara acak dari dalam bumbung.
"Akhirnya giliranku tiba." Rithisak somnang segera bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju ke arah arena pertandingan.
'Semoga saja bukan murid dari Dewa Pedang yang akan menjadi lawanku. Kepalaku sudah pusing mendengar ocehan guru gara-gara aku membentak-bentak dan memelototinya.' Rithisak somnang berjalan sambil membatin.
'Apa yang istimewa dari bocah itu sehingga Dewa pedang memilihnya menjadi muridnya. Sejak awal aku tidak melihat yang istimewa darinya. Tetapi entah kenapa guru begitu khawatir dan memandang bocah itu terlalu tinggi. Tetapi daripada aku di omeli guru semalaman lebih baik aku mengalah jika harus bertarung dengannya. Apalagi mengingat waktu itu Dewa pedang terlihat begitu menakutkan menatapku. Lebih baik aku menghindari masalah besar.' Rithisak masih membatin sambil berjalan. Dia sampai didepan Dewa Rencong yang kembali mengambil gulungan nama didalam bumbung bambu yang dibawa tetua lain.
"Mahesa!" Dewa Rencong kembali memangil nama peserta yang akan melawan Rithisak.
"Sukurlah bukan bocah itu yang menjadi lawanku." Rithisak mendengar nama yang akan menjadi lawannya segera tersenyum.
"Apa yang kau katakan bocah?" Dewa Rencong yang tidak begitu jelas mendengar Rithisak mengatakan sesuatu menanyainya dengan sorot matanya yang begitu menakutkan.
"Bukan, bukan apa-apa tetua. Hehehe..! Rithisak segera memberi tanda bahwa apa yang dia ucapkan bukan hal yang penting. Dia begitu ngeri dengan tatapan wasit yang ada didepannya.
Mahesa segera berdiri sambil tersenyum. Dia berjalan dengan bahagia sebab musuh yang dia lawan bukan Narashinga. Dia melenggang ke arah arena pertarungan dengan senyum lebar.