
Serangan yang menghujani Suro meskipun tidak berhasil melukai, tetapi cukup merepotkan dirinya. Materi hitam yang terbentuk dari hawa kegelapan mampu berubah sedemikian keras.
Dntang! Dntang!
Setiap hantamannya seperti Godam yang mampu menghancurkan batu karang sekalipun. Beruntung Pedang Kristal Dewa merupakan pusaka kelas dewa, sehingga sekeras apapun material hitam itu dapat ditebas semua.
Meskipun setiap sabetan yang dilakukan Suro mampu membelah gunung, namun saat menangkis material hitam yang mencoba menusuk dirinya, tangan Suro yang memegang bilah pedang itu harus bergetar kuat.
Setelah jurus pedang dan petirnya tidak dapat menyerang dengan maksimal, maka Suro memutuskan mengerahkan tehnik perubahan tanah miliknya secara bersamaan.
Braak!
Naga Api yang dikendalikan Lodra yang sebelumnya lenyap amblas ke dalam tanah, kini muncul tepat dibawah Dewa Kegelapan. Naga api itu bergerak cepat mencoba menggulung tubuh lawannya.
"Cacing sepertimu ingin menghancurkan tubuhku!" Suara Dewa Kegelapan terdengar saat Naga Api berhasil menggulung tubuhnya dan hendak meremukan seluruh tulangnya.
Entah bagaimana caranya panasnya api hitam yang menyelimuti Naga Api tidak mampu membakar tubuh Dewa Kegelapan. Suaranya saja yang terdengar begitu kesal, sebab hawa kegelapan yang meliputi dirinya sudah begitu pekat dan sudah tidak mampu melihatnya secara kasat mata.
Buuuum!
Kekuatan milik Dewa Kegelapan meledak. Tubuh Naga Taksaka yang berupa lahar langsung hancur menyebar kesegala arah. Bahkan Suro segera melindungi tubuhnya dengan tehnik Perubahan tanah miliknya.
Dinding tanah menjulang melindungi tubuhnya dari lahar yang terlontar seperti hujan. Namun wujud Naga Taksaka dapat dia pulihkan kembali seperti semula dengan cepat. Suro telah menggantinya dengan tubuhnya yang baru dengan ukuran dua kali lebih besar dari sebelumnya.
Serangan dari Naga Taksaka kali ini tidak berarti dihadapan Dewa Kegelapan. Hal itu bisa diketahui karena pada saat bersamaan dia justru sibuk menghujani Suro dengan serangan menggunakan material hitam miliknya.
Bentuk material hitam seperti tombak yang mampu memanjang dan memendek sendiri, dan juga mampu mengejar Suro setiap kali mencoba menghindarinya. Jumlah segala bentuk material hitam itu sangatlah banyak tak terhitung lagi.
Jika tanpa jurus Langkah Maya mungkin Suro sudah tak mampu menghindar dan terkena serangan yang menghujaninya tanpa henti. Sambil menghindari serangan musuh, Suro mencoba menembus pertahanan lawan dengan menggunakaan jurus pedang terbang miliknya.
Suro berharap dengan serangannya kali ini pedangnya mampu menembus pertahanan Dewa Kegelapan. Hal itu dikarenakan dirinya tidak dapat melakukan serangan jarak dekat. Keberadaan material hitam menghalangi dirinya mendekat lebih dari lima tombak.
Jurus semesta hitam yang dikerahkan lawannya memiliki daya pertahanan yang sangat kuat. Bahkan Naga Taksaka sendiri yang sedari tadi mencoba menyerang tubuh lawan tidak mampu lagi mendekat.
Seperti juga Suro, tubuh Naga Taksaka terus dihujani materi gelap tanpa henti. Beruntung naga itu bukanlah makhluk bernyawa, dengan menggunakan tehnik perubahan tanah Suro kembali dapat memulihkan tubuh naga itu dengan cepat.
Karena rapatnya pertahanan lawan jurus pedang terbangnya pun akhirnya gagal menembusnya. Seakan semua serangan dari jurus pedang miliknya telah terbaca oleh musuh. Padahal serangan jurus pedang terbang Suro bergerak begitu cepat dan hanya dirinya yang mengetahui jurus gubahannya itu.
"Hahaha...kau pikir kau mampu melukaiku? Semua seranganmu sudah terbaca oleh mata nujumku ini!" Suara Dewa Kegelapan terdengar dibalik pekatnya hawa kegelapan yang menyelimutinya.
"Mata nujum apanya! Makan ini mata julung-julung!" Tanah yang berada dibawah Dewa Kegelapan mendadak menghantam sosok itu dengan begitu kuat.
Suro tertawa geli melihat Dewa Kegelapan harus melesat cukup tinggi menghindari kuatnya hantaman yang baru saja dia dikerahkan. Dewa Kegelapan kemudian menghantam balokan tanah yang baru saja menghajar tubuhnya.
Braaak!
"Sialan, pantas saja jurus Perubahan tanahmu begitu kuat, ternyata Antaboga yang menjadi gurumu!"
Suro terkejut mendengar ucapan lawannya, sebab dia mengetahui sosok guru dibalik jurus yang baru saja dia kerahkan. Namun sebelum sempat bertanya material hitam yang berupa ribuan mata tombak kembali menghujani dirinya dan bergerak seperti memiliki pemikiran sendiri.
Serangan itu mirip dengan jurus rantai hitam milik Batara Antaga, bahkan jurus semesta hitam itu juga memiliki kekuatan mirip jurus Batara Karang yang mampu melenyapkan jurus api hitam milik Suro.
Itu bisa terlihat setiap jurus petir hitam dan pedang yang dikerahkan Suro seperti amblas lenyap tak berbekas. Bahkan jurus tebasan sejuta pedang sekalipun tidak mampu menghancurkan jurus semesta hitam.
Begitu juga kekuatan tebasan pedang angin miliknya seperti terhisap tanpa bekas. Sehingga kuatnya tebasan itu langsung menghilang begitu saja setelah menyentuh hawa kegelapan yang memenuhi udara sekitar tubuh lawannya.
Saat menghadapi jurus lawan yang cukup rumit dan memiliki keunikan yang mengagumkan, pikiran Suro justru sedang terpaut pada kejadian di awal pertarungan dengan makhluk tersebut.
Suro begitu penasaran saat beberapa kali berhasil menyerap hawa kegelapan dalam jumlah besar, Suro merasakan peningkatan kekuatannya bertambah secara signifikan.
Dia juga merasakan perbedaan besar setelah mengalami pencerahan sempurna, kini tubuhnya tidak terpengaruh hawa jahat pada kekuatan musuh yang diserapnya. Meskipun hawa kegelapan yang berhasil dia serap berjumlah sangat banyak.
Karena itulah dia cukup penasaran hendak memastikan kembali dan ingin menyerap hawa kegelapan lebih banyak daripada sebelumnya. Tetapi untuk melaksanakan niatnya itu dia harus mendekat ke arah lawannya minimal dibawah empat tombak.
Sebelum dia melaksanakan niatnya, Suro membuat mudra untuk mengerahkan jurus empat Sage dengan kekuatan penuh.
Seketika itu juga terjadi pusaran angin disekitar tubuh Suro yang melesat mendekati Dewa Kegelapan. Dengan dibantu Naga Taksaka yang menyerang dari sisi lain mencoba memecah konsentrasi lawannya, Suro mulai mendekat.
Dia segera menggunakan Langkah Maya untuk menghindari serangan lawan dan juga mencari celah agar mampu menerobos pertahanan musuhnya itu. Kecepatan berpindah tempat dengan jurus itu memang sangat mengagumkan.
Namun pertahanan lawan begitu kuat, sehingga tidak membiarkan Suro mampu menembusnya. Meskipun begitu dia bergerak sambil terus mencoba menyerap hawa kegelapan dengan teknik empat Sage miliknya. Dia juga menghujani musuhnya dengan sinar yang melesat keluar dari jari telunjuknya.
'Kurang ajar, bagaimana mungkin ini terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Jika tubuhnya adalah manusia biasa, mengapa tidak terpengaruh oleh hawa kegelapan yang dia serap?'
'Apakah ini keistimewaannya yang membuat para dewa cukup percaya diri, jika utusannya kali ini dapat menghabisiku dengan tuntas?'
Meskipun Dewa Kegelapan dihujani serangan dengan begitu dahsyat dia mampu menahan semua serangan Suro.
Seperti juga sebelumnya bukan saja Suro, Naga Taksaka sekalipun tidak mampu menembus pertahanan lawan yang begitu kuat. Keberadaan material hitam mampu melindungi tubuhnya hingga radius lebih dari empat tombak.
Material hitam itu sangat kuat sehingga dapat menjadi perisai pelindung yang sulit ditembus. Selain itu juga mampu menyerang musuh dengan kemampuan yang tidak mudah dihadapi. Setiap serangan material hitam itu dapat bergerak seperti punya mata dan pikiran sendiri. Sebuah jurus yang sangat mengagumkan sekaligus mengerikan.
Dengan kuatnya pertahanan musuh Suro dan Naga Taksaka akhirnya gagal mencoba mendekat ke tubuh musuhnya. Bahkan hanya untuk mendekat ke arah musuh kurang dari empat tombak saja mereka tidak mampu melakukannya.
Padahal Suro sudah menggabungkan dengan jurus Langkah Maya, namun seperti sebelumnya hampir seluruh gerakannya agaknya telah terbaca oleh lawannya.
Naga Taksaka sendiri telah berkali-kali tubuhnya berhasil dihancurkan oleh lawannya menggunakan material hitam. Tetapi Suro juga dapat kembali memulihkan tubuh naga itu dengan cepat.
Bahkan sejak tadi serangan pedang terbang milik Suro tidak satupun yang berhasil menembus pertahanan musuh. Semua itu tentu saja adalah karena keberadaan material hitam yang melindungi tuannya. Selain dapat bergerak bebas, material hitam itu juga dapat berubah menjadi bentuk lain dengan sangat cepat.
Melihat seluruh serangannya tidak juga mampu menembus pertahanan Dewa Kegelapan, Suro lalu mengerahkan tehnik perubahan tanah miliknya kembali. Dinding tanah langsung menghajar berturut-turut ke arah lawannya.
'Gawat, dia juga mampu mematahkan jurus perubahan tanahku,' Suro kali ini kehabisan kata-kata melihat kemampuan lawan yang tidak dia duga sama sekali.
Sebab lawannya juga mampu mengerahkan perubahan tanah seperti halnya dirinya. Hal itu bisa dimaklumi karena memang Dewa Kegelapan sesungguhnya menguasai Panca Maha bhuta atau lima unsur utama pembentuk alam.
Sebab pada dasarnya catur mahabhuta atau empat Anasir alam berasal dari unsur yang dikuasai oleh Dewa Kegelapan, yaitu Akasa. Kali ini segala dinding tanah yang menyerang dapat dipatahkan dengan sangat mudah.
Melihat hal itu Suro lalu merubah serangannya dengan jurus keempat ilmu Tapak Dewa Matahari. Di telapak tangan kanan Suro terbentuk bola chakra yang berwarna putih begitu menyilaukan mata.