
Mahesa yang telah sampai di arena pertarungan menatap Rithisak dengan senyuman khas miliknya.
"Kisanak! Ternyata takdir mengariskan kita untuk bertarung di sini." Mahesa berbicara sambil tersenyum lebar. Sebab dengan mendapatkan lawan Rithisak bagi dia lebih mudah cara menghadapinya dari pada melawan Narashinga. Hal itu sesuai dengan apa yang dia harapkan, dengan tanpa terlalu bersusah payah bisa mengantarkan dirinya untuk lolos ke tahap berikutnya.
"Hahahahaha! Benar sekali kisanak takdir yang mengiring kita untuk bertarung di arena ini. Takdir ini juga yang akan menjawab rasa penasaranku dengan tehnik yang kisanak miliki. Berusahalah kisanak semaksimal mungkin. Entah siapa diantara kita yang nanti akan menang minimal kita sudah mempertontonkan kedahsyatan ilmu pedang dari perguruan kita."
Rithisak membatin bersukur dengan lawan yang dia hadapi bukan Suro. Membuat dia terlihat tersenyum dengan begitu sumringah. Sebab dia akan menghadapi lawannya tanpa beban lagi.
Mahesa yang mendengar perkataan lawannya terlihat menganguk-anguk sambil tetap memperlihatkan senyum khasnya. Dia membenarkan pendapat Rithisak.
"Benar sekali kisanak mari kita perlihatkan kedahsyatan ilmu pedang milik perguruan kita didepan khalayak perguruan pusat. Mereka orang pusat biar tau. Bahwa kita orang cabang tidak bisa dianggap remeh. Mereka murid perguruan pusat selalu mengatakan kita orang cabang hanya bisa bergantung pada orang pusat saja." Terlihat ada nada kesal dengan ucapan yang barusan diucapkan Mahesa
"Berusahalah semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kisanak punya. Karena aku juga tidak akan berusaha menahan lagi kekuatan yang aku punya." Rithisak kemudian mulai mencabut dua bilah pedang andalannya.
Mahesa hanya mengangguk dan mulai bersiap untuk menyerang dengan tujuh bilah pedang terbang miliknya.
Dewa Rencong kemudian memberikan aba-aba tanda dimulainya pertarungan.
"Camar menyambar menembus ombak"
Tanpa menunggu lama lesatan bilah pedang dari sebuah kotak yang ada dipunggung Mahesa menerjang seperti peluru.
"Pusaran Pedang Dewa!"
Dua bilah pedang Rithisak berputar membentuk pusaran pedang menghalau serangan tiga bilah pedang yang menari indah dibawah kendali Mahesa. Luncuran dua bilah pedang berikutnya semakin membuat repot Rithisak yang memaksanya bergerak semakin bertambah cepat.
Lima bilah pedang menghajar Rithisak dari berbagai arah seakan kumpulan burung camar yang menyambar-nyambar dengan cepat. Melalui pengendalian yang dilakukan Mahesa kelima bilah pedang itu bergerak dengan apik. Seakan hidup memiliki nyawa dan pikiran masing-masing.
Trang! Trang!
Bilah pedang beradu dengan semakin cepat menandakan peningkatan kecepatan serangan Mahesa. Rithisak terlihat menangkis pedang yang mengrubutinya dengan gerakan yang sangat gesit. Gerakannya semakin bertambah cepat seiring kecepatan serangan yang dilakukan lawan.
Sebenarnya kondisi Rithisak seperti sedang dikeroyok lima orang sekaligus. Dengan kondisi seperti itu dia masih mampu melayani serangan lima bilah pedang yang mengurungnya dari berbagai arah.
"Langkah Rubah api!"
Satu bilah pedang dia tendang dengan cepat dan kuat membuatnya terlempar keras ke arah si empunya pedang yaitu Mahesa. Satu peluang itu segera diambil dan digunakan Rithisak untuk keluar dari kungkungan pedang lawan.
Mahesa mencoba menghindari serangan pedang miliknya sendiri yang terlempar keras ke arah kepalanya. Rithisak langsung mengunakan kesempatan itu segera melesat cepat mendekati Mahesa.
Dengan langkah rubah api yang unik membuat Rithisak mampu lepas dari kungkungan lima bilah pedang milik Mahesa. Segera dia berusaha secepat mungkin mendekati Mahesa.
Mahesa yang melihat lawannya lepas dari kurungan pedangnya kembali melepaskan satu dari dua bilah pedang yang digengamnya. Pedang itu meluncur dengan cepat menghajar Rithisak.
Rithisak melihat satu bilah pedang meluncur kearahnya dengan cepat. Melihat hal itu dia segera menghindar dengan mengeser satu langkah kekiri. Lalu meneruskan langkahnya kembali bergerak cepat ke arah Mahesa.
Mahesa tidak tinggal diam setelah satu serangannya mampu dihindari lawannya dengan mudah, segera dia menarik empat buah pedang yang terlebih dahulu sempat disingkirkan Rithisak.
Trang! Trang!
Rithisak yang menyadari serangan pedang menerjang dari arah belakang. Segera dia menangkisnya dengan dua bilah pedang miliknya. Dengan membuat gerakan berputar kembali dia menebas dengan kuat ke arah bilah-bilah pedang yang meluncur dengan kencang. Membuat bilah pedang Mahesa terlempar jauh.
Langkah kaki Rithisak segera kembali meluncur cepat menuju ke arah Mahesa yang mencoba kembali menarik enam bilah pedang yang terlempar jauh.
"Ledakan Kemarahan Rubah Api!"
Dia menebaskan dua bilah pedangnya sekaligus melepaskan sambaran api yang cukup besar ke arah Mahesa. Sebuah ilmu pedang yang dikombinasikan dengan tenaga dalam yang bersumber pada kitab agni.
Rithisak terkejut dengan kekuatan yang telah dia lepaskan. Dia seperti tidak mempercayai dengan kekuatan tenaga dalam yang dia lepaskan. Walau hanya sekitar sepuluh persen dari tenaga dalamnya sudah membuat ledakan api yang cukup kuat. Bahkan Rithisak terkagum-kagum seakan bukan tenaga dalam miliknya sendiri. Dia kemudian baru mengingat obat yang telah diberikan Suro. Dia memastikan obat itu yang telah membuat kekuatannya sebegitu hebatnya.
Ledakan api itu terlontar begitu jauh melebihi dari yang dia harapkan. Lontaran api itu menerjang sejauh lebih dari dua tombak.
Serangan api yang menerjang begitu hebat mendahului si empunya jurus . Hal itu membuat Mahesa harus menyelamatkan dirinya dari kobaran api. Dia segera menjatuhkan badannya berguling kekanan sekaligus menjauh dari gerakan lawan yang masih mengejar.
Dalam kedaan berguling dia masih sempat mengendalikan bilah pedangnya. Kemudian dia membuat serangan balik ke arah lawan. Hal itu langsung menghentikan gerakan Rithisak yang akan melakukan serangan susulan.
Pertarungan mereka berlangsung dengan begitu sengit. Kali ini mereka mengeluarkan jurus-jurus yang tidak diperlihatkan pada babak sebelumnya. Tehnik api yang terlihat monoton pada babak pertama. Kini dilepaskan dengan varian-varian jurus yang semakin ganas. Sudah lebih dari tiga puluh jurus pertarungan mereka berlangsung dengan tempo yang sangat cepat.
"Ribuan Kepakan Sayap Pedang Menari!"
Bersamaan dengan teriakan Mahesa enam bilah pedang membentuk satu pasang rangkaian sayap. Kemudian menyerang Rithisak dari dua arah yang berbeda, dari samping kanan dan kiri. Kondisi Rithisak seperti terhimpit dua tembok dari rangkaian serangan pedang yang begitu ganas.
Sebuah tehnik pengendalian pedang yang mengagumkan. Sebab secara bersamaan dia juga menyerang Rithisak dari arah depan dengan mengunakan bilah pedang ketujuh yang tergengam ditangannya.
Serangan yang dilakukan Mahesa kini telah genap mengunakan ketujuh bilah pedangnya. Dengan kondisi tersebut masih tidak membuat Rithisak terluka meski hanya satu goresanpun. Pertahanannya begitu kokoh apalagi dengan tehnik api yang dia miliki menjadi nilai tambah pada dirinya.
"Ledakan Kemarahan Rubah Api!"
Mahesa terlempar terkena ledakan api milik Rithisak sampai sejauh dua tombak. Beruntung dia masih mampu menahan dengan perisai tenaga dalam yang sempat dia bentuk. Tak ayal beberapa bagian pakaiannya mengepulkan asap. Bahkan rambutnya yang tergerai dibagian ujungnya sebagian ikut terbakar.
Dia yang terlempar cukup jauh itu mencoba berdiri kembali. Badannya terasa ngilu pada beberapa bagian akibat efek ledakan yang begitu hebat. Tetapi tentu saja dia menutupi hal itu dari lawannya.
"Sebuah tehnik pengolahan api yang mengagumkan. Suatu tingkat pengolahan unsur agni yang luar biasa." Mahesa masih sibuk menepuk-nepuk pakaiannya. Ada beberapa bagian di pakaiannya masih ada kepulan asap.
"Hahaha kisanak terlalu berlebihan. Tehnik api di tanah Javadwipa banyak dipakai. Berbagai tokoh juga sudah mencapai tahap yang sudah sangat tinggi."
"Kisanak memakai tenaga dalam yang berdasar kitab bayu, bukan?"
"Benar kisanak?"
Mahesa sudah berdiri dengan satu bilah pedang ditangan kanannya. Enam bilah pedang yang lain terlempar cukup jauh dari jangkauannya. Pedang-pedang itu tersebar disebelah kanan dan kiri Rithisak. Dari posisi Mahesa sekarang terpisah hampir berjarak empat tombak. Jarak yang terlalu jauh untuk menjangkaunya.
"Jadi ini kelemahan tehnik tujuh pedang terbang!"
"Ada apa kakang? Sepertinya kakang mengetahui sesuatu?" Mahadewi menoleh ke arah Suro yang berbicara sendiri.
"Tidak apa-apa hanya saja aku merasa tehnik pedang terbang memiliki banyak kelemahan."
"Banyak kelemahan bagaimana kakang?"
"Lihatlah! Saat bilah pedangnya sudah terlempar cukup jauh akibat efek ledakan api, membuat penguna jurus itu kehilangan kendalinya. Keenam bilah pedang yang dia gunakan untuk menyerang lawan kini tergeletak tak dapat lagi dikendalikan dari jarak jauh."
"Benarkah kakang? Mahadewi terkejut dengan pemaparan yang barusan Suro ucapkan. Dia tidak menyadari fakta tersebut.
"Bagaimana kakang bisa mengetahui hal tersebut?"
"Aku sedang mengembangkan tehnik tersebut tetapi mengunakan cara yang lebih sempurna. Aku tak lagi mengunakan benang khusus untuk menggerakan bilah-bilah pedang tersebut. Karena pada awal latihan aku sudah menyadari ada yang salah jika mengunakan benang khusus untuk mengendalikan bilah pedang."
"Lalu bagaimana caranya kakang Suro mengendalikan pedang itu?"
"Eeeee.. Dengan tehnik yang pernah diajarkan guruku tetapi ada sedikit yang aku rubah agar bisa digunakan untuk mengerakkan bilah pedang."
"Apakah kakang akan menggunakan tehnik itu dalam pertarungan kali ini?"
"Aku rasa tidak mungkin terlalu dini jika tehnik itu digunakan sekarang. Tetapi entahlah sepertinya ide itu juga cukup bagus untuk mencoba jurus baruku. Apalagi lawan yang aku hadapi nanti semua murid utama yang hampir semuanya berada pada tahap tingkat tinggi. Tentu hal itu bagus sebab akan terlihat titik kelemahan dari jurus yang aku kembangkan jika ada lawan yang kuat."
Mahesa masih mencoba mengulur waktu sambil mencari cara agar bisa kembali menguasai bilah pedang miliknya yang diluar jangkauannya.
"Bagaimana cara kisanak menggabungkan tehnik api dan ilmu pedang kisanak?"
"Untuk mengetahui tehnik tersebut mungkin lain waktu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk kita bertukar ilmu pedang . Saat ini lebih baik kita meneruskan bertukar jurus pedang milik kita!" Rithisak merasa Mahesa sedang mengulur-ulur waktu. Segera memulai serangannya ke arah Mahesa yang tersenyum ke arahnya dengan senyum yang tidak seperti sebelumnya. Kemudian Rithisak menerjang ke arah lawannya dengan cepat.
Mahesa yang tak-tiknya untuk mengulur waktu telah kandas hanya bisa tersenyum kecut dan menunggu kedatangan Rithisak. Segera dia berkelit kesebelah kiri sambil menyabetkan bilah pedangnya dengan gerakan berputar. Sebuah serangan balik yang membuat Rithisak secara reflek menahannya dengan bilah pedangnya sambil bergeser ke arah kanan dua langkah.
Kesempatan itu digunakan Mahesa bersalto ke arah dimana bilah pedang miliknya tergeletak. Setelah bergerak dengan cepat dia telah sampai ditempat yang dituju.
Rithisak terkejut dengan gerakan tipuan Mahesa segera dia menyadari arah lawannya menuju. Dia segera mengejar Mahesa mencegahnya agar jangan sampai dia kembali menguasai seluruh bilah pedang terbang miliknya.
Trang! Trang!
Melihat lawannya mengejar dengan cepat segera Mahesa melemparkan dua bilah pedangnya dengan kencang. Agar gerakan lawannya bisa terhambat.
Rithisak tidak tinggal diam dia menangkis serangan itu dengan mudah. Tangkisannya telah melemparkan dua bilah pedang itu terlempar begitu jauh dari si empunya pedang. Dia sengaja melakukan itu agar Mahesa tak mampu lagi mengunakan bilah pedangnya itu.
Melihat serangannya mampu ditangkis dengan begitu mudah segera Mahesa meraih satu bilah pedang lainnya. Kemudian tanpa ragu dia lucurkan bilah pedang itu untuk menyerang Rithisak.
Dalam waktu yang bersamaan dua bilah pedang yang sudah ditangkis Rithisak segera dia tarik kembali. Gerakan dua bilah pedang itu berputar balik menerjang Rithisak. Dalam satu waktu tiga buah bilah pedang siap menancap ketubuh Rithisak dengan begitu cepat. Mahesa mengakui lawan yang dia hadapi begitu tangguh. Sebelumnya dia menganggab sedikit remeh dengan kemampuan Rithisak. Tetapi setelah enam puluh jurus telah dia lalui mengubah pandangan awal. Ketangguhan lawan membuat dia dibuat begitu kewalahan.
"Ledakan Api Rubah Iblis!"
Kali ini ledakan api yang lebih kuat dari pada sebelumnya dan menerjang kearah Mahesa dengan dahsyat. Sebuah pamer kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Kekuatan yang berdasar pada kitab agni. Ledakan itu menyembur api yang begitu kuat seakan semburan api yang dilakukan Naga raksasa.
***
Jika reader mampu memberikan dukungan vote yang lebih banyak dari sebelumnya maka saya akan menambahkan chapter bonus.
Terima kasih kepada semua reader yang sudah ikut mendukung novel ini dengan memberikan vote di aplikasi novel toon yang jumlah poin anda juga terhubung dengan aplikasi mangatoon. Jadi poin yang reader kumpulkan di aplikasi manga toon dapat digunakan untuk mendukung novel ini dengan memberikan vote di aplikasi novel toon.
Terima kasih semuanya. Baiknya buat reader yang menagih up mulai membantu memberikan vote tentu bonus chapter akan diberikan. Sehingga ada timbal balik karen untuk menulis sekitar dua ribu kata diperlukan waktu yang tidak sebentar. Terima kasih untuk pengertiannya.