SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 190 Katak Seribu Lengan



"Makhluk apa ini paman? Tidak sekalipun aku pernah melihat ada makhluk wujudnya seperti ini!"


"Kau kira aku bapaknya? Mana aku tau makhluk ini jenis apa! Masuk ke alam ini saja aku baru sekali ini!" Dewa Rencong menggerutu mendengar pertanyaan Suro.


Karena jujur dia memang tidak mampu memahami makhluk jenis apa yang terlihat dari kejauhan itu. Baginya makhluk itu begitu menjijikan dan juga begitu mengerikan.


"Entah makhluk jenis apa, dari bentuknya tidak pernah aku temui makhluk seperti ini. Tetapi agaknya tubuh yang hitam gelap itu mirip Bhuta kala. Kemampuannya untuk memulihkan tubuhnya juga mirip." Mereka berdua hanya melihat dari kejauhan sebab lesatan tangannya yang menerjang kesegala arah terlalu berbahaya untuk didekati.


"Beruntung kamu memiliki kekuatan yang mampu menyerang dalam jarak jauh seperti ini. Kalau tidak, akan sulit bagi kita untuk menghabisinya. Apalagi tangannya yang bisa muncul dari tubuhnya bisa melesat dengan begitu jauh. Ini sangat tidak masuk akal, agaknya makhluk ini dibuat sebagai makhluk penjaga alam ini."


"Apakah aku gunakan saja tehnik empat sage untuk menghisapnya paman? Seperti saat Suro menghabisi para Bhuta kala waktu itu."


"Bocah gendeng, jangan bercanda. Makhluk sebesar itu akan kau hisap! Kekuatan kegelapan yang dia miliki akan membahayakan pikiranmu. Sekarang saja kau sudah cukup gendeng. Apa kau ingin berakhir nasibnya seperti Pujangga gila?" Dewa Rencong melotot ke arah Suro yang sibuk mengendalikan Naga Taksaka.


"Bukankah dia sudah gila sebelum menjadi seperti itu paman?" Suro mengrenyitkan dahi mendengar ucapan Dewa Rencong.


"Benar, dan kamu juga sama. Sekarang sudah gendeng, nanti kalau kau lakukan niatmu gendengmu tidak akan bisa lagi diobati!"


Suro tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong. Dia ingin membantah ucapan lelaki itu tetapi dia memilih mendiamkan saja. Sebenarnya dia ingin kembali menjelaskan, jika yang menyimpan kekuatan makhluk itu bukan dirinya.


Namun dia juga tidak membantah perkataan Dewa Rencong. Sebab saat menyerap Bhuta kala, tetap ada saja energi kegelapan yang masih tersisa didalam tubuhnya.


"Baiklah sepertinya hanya Naga Taksaka ini yang akan menjadi andalan kita saat ini!"


Suro terus berusaha menghabisi makhluk yang berada cukup jauh dari mereka berdua. Makhluk itu memiliki mata yang memenuhi kepalanya. Pada awalnya makhluk itu hanya memiliki tangan berjumlah sepuluh pasang yang menyebar di disebelah kanan dan sebelah kiri tubuhnya.


Tangan yang berada disebelah kanan awalnya menjulur cukup jauh sampai tidak terlihat. Agaknya dia menyerang target yang berada cukup jauh darinya, seperti saat menyerang mereka berdua.


Kemudian saat Naga Taksaka bergerak terbang mengelilingi tubuhnya kedua puluh tangan itu secara bersamaan mencoba menangkap tubuh api hitam itu.


Tetapi dengan seiring serangan yang dilakukan Naga Taksaka tangan itu bertambah menjadi begitu banyaknya. Karena setiap satu lengannya yang terbakar, maka akan tumbuh tangan lain dalam jumlah dua kali lipat.


Kondisi itu membuat tangannya semakin bertambah banyak. Kini jumlahnya sudah tidak terhitung menyebar di sekujur tubuhnya yang sebesar bukit. Bentuk tubuhnya secara keseluruhan mirip seekor katak. Bentuk mulutnya yang dipenuhi gigi seperti ikan hiu, bahkan beberapa kali saat terbuka terlihat gigi itu bahkan memenuhi rongga mulutnya sampai kekerongkongan. Mulutnya membelah dari ujung kanan ke kiri mirip seekor katak. Jika membuka dengan lebar akan terlihat dengan jelas ujung kerongkongannya.


"Bagaimana ada makhluk mengerikan seperti itu! Agaknya itu bukan makhluk satu-satunya. Pasti banyak makhluk sejenis itu di alam ini. Karena jurang neraka yang memiliki energi kegelapan tidak sampai sepekat ini saja, memiliki begitu banyak makhluk terkutuk."


"Apalagi di tempat seperti ini, kita pasti akan menemukan lebih banyak makhluk mengerikan seperti itu! Makhluk ditempat ini kekuatannya bisa beberapa kali lipat dibanding apa yang kita temui di hutan Gondo Mayit!" Dewa Rencong terus mengoceh disamping Suro.


Agaknya tangannya sudah cukup gatal untuk menghajar, tetapi dia juga menyadari serangan miliknya tidak berguna sama sekali. Akhirnya dia hanya melampiaskan kekesalannya kepada pemuda belia yang berada disampingnya.


Disampingnya Suro terus berusaha mencoba membakar habis makhluk itu. Tetapi alih-alih menghabisi, justru lengan makhluk itu terus bertambah semakin banyak.


"Makhluk ini ukurannya sangat mengerikan, jangkauan tangannya itu sangat mengagumkan. Seakan dia diciptakan memang untuk menjaga alam ini." Dewa Rencong terbang melayang disamping Suro sambil ikut mengamati keadaan, jika sewaktu-waktu ada makhluk lain yang menyerang mereka dari arah lain.


Dia hanya bisa terus berkomentar sambil menatap makhluk itu dari kejauhan dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Suro.


Naga Taksaka terus menyerang dari berbagai sisi terbang dengan kecepatan tinggi. Tangan makhluk itu terus bermunculan dari setiap sisi tubuhnya. Padahal sudah tidak terhitung berapa banyak tangan yang ingin menangkap tubuh Naga Taksaka justru dibakar habis.


Setiap tangan yang terbakar dengan cepat akan kembali pulih. Kemudian akan tumbuh satu lengan tangan dari sisi tubuh yang lain. Makhluk itu juga tidak pernah jera, meski sudah berkali-kali tangannya berhasil dibakar setiap kali mencoba menangkap tubuh Naga Taksaka.


Kemudian makhluk itu melakukan sesuatu yang diluar perkiraan Suro. Sebab saat api hitam tanpa sengaja melesat didepan mulut makhluk itu, mendadak mulutnya yang begitu lebar langsung menangkap Naga Taksaka. Kemudian ditelan masuk kedalam perutnya.


"Waduuuh Naga Taksaka ditelan!" Suro terkejut melihat makhluk itu justru menelan habis api hitam miliknya.


'Tidak perlu khawatir bocah, makhluk itu hendak memadamkan api hitam milikku. Tetapi jangan pernah bermimpi api ini ada lah inti api abadi. Jika aku masih terhubung dengannya, tidak akan ada yang bisa memadamkannya kecuali atas ijinku.'


Lodra kemudian mengerahkan tehnik api miliknya yang membuat ukuran Naga Taksaka didalam tubuh makhluk itu membesar dengan cepat.


Seperti perkataan Lodra, makhluk itu tidak mampu memadamkan kobaran api hitam. Entah bagaimana caranya, justru Lodra menggunakan kesempatan itu untuk menyerap kekuatannya. Kemudian tubuh Naga Taksaka membesar dengan cepat.


Hal yang terjadi kemudian tubuh kodok itu seperti ikut dipaksa untuk terus bertambah besar. Tubuh makhluk itu membesar tanpa ada batasnya. Bahkan mulutnya yang menganga lebar karena kepanasan, justru membuat tubuh Naga Taksaka semakin bertambah besar. Tubuh katak itu sekarang bentuknya membulat dan mulai melayang naik ke atas.


Buuuuum!


Tubuh makhluk yang mirip kodok itu akhirnya meledak. Dari dalam tubuh kodok itu menghambur api hitam yang begitu besar memenuhi tempat itu ke segala arah. Kemudian api itu kembali menyatu dan membentuk tubuh Maha Naga Taksaka.


"Selesai sudah akhirnya kodok gendeng itu hancur paman! Hahaha...!"


"Hancur matamu! Lihatlah penampakan apa itu! Alam ini membuat para makhluk itu lebih kuat. Pasti hawa kegelapan ini yang membuat mereka lebih susah lagi untuk di habisi."


Setelah tubuh itu hancur secara perlahan mereka kembali menyatu dan mulai membentuk wujud yang sama.


"Jangan khawatir paman kali ini akan aku musnahkan semuanya sampai tidak tersisa." Suro kembali memerintahkan Naga Taksaka untuk berputar cepat disekitar bagian tubuh raksasa yang kembali berkumpul. Kemudian Naga Taksaka mulai membentuk tornado api yang menjulang tinggi dan menghisap segala hal yang ada didekatnya.


Begitu kuatnya hempasan angin yang terbentuk membuat hawa kegelapan dalam radius lebih dari tiga ratus tombak ikut terhisap semua. Melebihi apa yang dilakukan Suro saat menghisap Bhuta kala.(satu tombak setara dengan 3,75 meter)


"Apakah jika seperti ini masih saja makhluk itu tetap hidup?"


"Bocah edan bagaimana kau bisa membuat api sebesar itu?"


"Sebenarnya ini bukan aku paman yang mampu melakukan hal itu. Sebab api hitam itu sebenarnya memiliki jiwa. Aku hanya memerintahkannya. Kemudian jiwa api itu yang bergerak dengan begitu hidup, karena memang dia sesungguhnya yang mengendalikannya."


Setelah semua selesai, pemandangan alam itu dapat terlihat lebih jelas. Penampakan alam itu begitu gersang melebihi tandusnya sebuah gurun sekalipun.


"Sudah selesai paman makhluk itu musnah."


"Lalu bagaimana caranya kita dapat menemukan paman guru dan tetua Dewi Anggini?" Suro bertanya ke arah Dewa Rencong yang menjawab dengan menggaruk-garuk kepalanya.


"Gunakan kaca Benggala saja bocah!"


"Apa yang bisa ditunjukkan paman sedari awal aku bertanya hanya menunjukan kegelapan alam ini. Lihatlah penampakannya tidak berubah sedari tadi paman!" Suro menunjukkan kaca benggala dari balik bajunya.


"Suro tidak mengetahuinya entah kenapa? Penampakan ini sama seperti saat Suro bertanya tentang keberadaan sisa pasukan Medusa, cermin ini hanya akan memperlihatkan sesuatu yang gelap seperti ini." Suro menatap cermin segenggaman tangannya itu dari berbagai sudut, tetapi tidak ada penampakan lain kecuali kegelapan yang sangat pekat.


"Apakah mungkin alam ini dilindungi sesuatu ilmu sihir yang membuat kaca benggala ini tidak dapat menembusnya paman?"


"Mungkin saja bocah." Dewa Rencong mendengar perkataan Suro membuat dia teringat kembali tentang sisa pasukan Medusa.


"Jangan-jangan sisa pasukan Medusa juga berada di alam ini. Bukankah menurut perkataanmu penampakannya sama seperti saat kita bertanya tentang adimas Dewa Pedang dan tetua Dewi Anggini."


"Benar juga paman, mengapa Suro tidak menyadarinya?"


"Karena kepala sudah mulai bertambah gendeng bocah."


Suro hanya tertawa terkikik mendengar ucapan Dewa Rencong barusan.


"Sebentar, paman tadi sempat memperhatikan jika sepuluh pasang tangan makhluk tadi yang berada di sebelah kanan sempat terlihat menjulur ke tempat yang sangat jauh. Aku yakin dia tadi sedang menyerang sesuatu. Kita akan kearah itu."


Suro dan Dewa Rencong kemudian terbang melesat. Didepan mereka Naga Taksaka melesat kebih dahulu untuk membuka jalan bagi mereka berdua.