
"Aku selalu takjub dengan kemampuan muridmu! Apa yang eyang Sindurogo katakan beberapa waktu yang lalu ternyata terjadi. Kekuatan murid eyang memang luar biasa!" Dewa Pedang yang berada disamping eyang Sindurogo tidak mampu menyembunyikan keterkesimaan dirinya selama pertarungan berlangsung.
"Hahaha...! Jangankan dirimu aku saja tidak akan menyangka dia mampu melakukan sampai sejauh ini!"
Mereka terus bergerak menghabisi pasukan kegelapan. Tiga manusia bertanduk yang dihadapi oleh Dewa Rencong dan Dewa Pedang berhasil dihabisi oleh eyang Sindurogo.
Tubuh mereka dilenyapkan sebelum berusaha kembali pulih dengan tehnik empat Sage. Para naga dan manusia kelelawar melesat cepat kembali ke arah gerbang gaib yang masih terbuka di bukit seberang.
Para pasukan kegelapan kebanyakan mati setelah ditelan oleh Maha Naga Taksaka yang begitu besar. Setelah semua pasukan kegelapan pergi, wujud ular raksasa bertubuh magma panas dan diselimuti api hitam disekujur tubuhnya itu ikut lenyap amblas kedalam bumi. Sepertinya Lodra memberitahu kepada Suro, jika tugasnya telah selesai.
Mereka semua akhirnya berhasil memukul mundur pasukan musuh dan mengusirnya lenyap pergi ke alam lain. Kali ini bukit dimana berdiri Perguruan Pedang Bayangan akhirnya harus hancur lebur karena pertempuran barusan. Beruntung para anak-anak dan wanita telah diselamatkan terlebih dahulu.
Semua mayat yang bergelimpangan dari pihak mereka segera dikuburkan dengan layak. Dari pihak musuh tidak ada mayat satupun, karena untuk membunuh mereka memang tidak dibiarkan tubuhnya tetap ada yang tersisa. Musuh yang menyerang Perguruan Pedang Bayangan adalah makhluk abadi yang akan cepat pulih kembali jika masih tersisa bagian dari tubuhnya.
"Mengapa nakmas Suro belum muncul eyang?"
Pertanyaan dari Dewa Pedang membuat Eyang Sindurogo baru menyadari hal itu. Sebab mereka semua baru saja membantu para anggota perguruan menguburkan mayat-mayat korban peperangan yang baru saja terjadi.
Para anggota dan para tetua perguruan masih terus membereskan kehancuran yang terlalu parah diterima perguruan Pedang Bayangan.
"Benar juga, mengapa begitu lama waktu yang dibutuhkan dirinya untuk menyembuhkan para tetua dan anggota perguruan kalian?" Eyang Sindurogo meskipun tidak takut muridnya akan celaka, namun dia terlihat sedikit khawatir.
"Apakah nakmas Suro telah bercerita kepada eyang, jika semenjak ditinggalkan oleh eyang, dia bergabung dengan perguruan kami? Bahkan saat ini nakmas sudah menjadi tetua muda di perguruan pusat." Dewa Pedang mencoba menjelaskan dengan pelan agar eyang Sindurogo tidak salah paham.
"Benar, angger Suro telah bercerita mengenai hal tersebut. Dan baru saat ini aku punya kesempatan untuk mengucapkan terima kasih yang tidak terukur kepada adimas Dewa Pedang dan juga Perguruan Pedang Surga. Karena telah mengurus muridku satu-satunya selama ini. Maafkan jika muridku telah membuat kalian semua menjadi kerepotan mengurusnya." Eyang Sindurogo segera menjura kepada Dewa Pedang.
Lelaki berjuluk pendekar nomor satu itu terkejut dengan perlakuan yang di dapat. Dia langsung menahan tubuh eyang Sindurogo untuk tidak meneruskan tindakannya itu.
"Tidak, tidak Pendekar Lelananging Jagat. Jangan memberikan penghormatan itu kepada kami. Karena kami tidak layak mendapatkan penghormatan dari seseorang yang telah menolong perguruan kami sejak dulu. Sejak Mahaguru justru tuan pendekar telah memberikan pertolongan kepada perguruan kami, bahkan sampai detik ini. Justru perguruan Kamilah yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada eyang Sindurogo."
Selesai berbicara Dewa Pedang langsung duduk bersimpuh dan hendak menundukkan kepala kepada eyang Sindurogo. Tetapi eyang Sindurogo tidak membiarkan hal itu terjadi dia segera bersujud lebih dahulu kepada Dewa Pedang.
Terjadi kecanggungan terhadap mereka berdua karena kejadian itu.
"Hahahaha... sudah lupakan hal itu eyang, selain itu, karena nakmas Suro bergabung dengan perguruan, justru kami seperti mendapatkan anugerah besar yang tak terhitung."
"Seperti sekarang. Jika nakmas Suro tidak datang membantu, tentu tidak ada yang tersisa dari kami."
Saat mereka sedang berbicara Azura yang merupakan ketua perguruan Pedang Bayangan datang. Azura mulai menjura kepada Dewa Pedang dan kepada Eyang Sindurogo, sebelum dia berbicara kepada mereka berdua.
"Ketua aliansi Pedang Surga tuan pendekar Dewa Pedang, relik kuno yang tersimpan didalam perguruan kami sebaiknya saya serahkan kepada tuan pendekar Dewa Pedang."
"Sebaiknya jangan berikan kepada diriku, karena benda itu nanti hanya akan mengundang makhluk kegelapan untuk meratakan perguruan pusat. Selain itu dengan melihat musuh-musuh yang begitu kuat, aku tidak mampu melindunginya. Sebaiknya serahkan benda tersebut kepada Pendekar Tapak Dewa Matahari ini. Eyang Sindurogolah yang paling pantas dan kemungkinan sanggup melindungi relik kuno itu."
Eyang Sindurogo mengaruk-garuk kepalanya, karena namanya disebut-sebut.
"Benda itu adalah milik perguruan kalian jadi sebaiknya orang perguruan yang melindunginya. Aku sepertinya tidak pantas melindunginya."
Azura terlihat kebingungan mendapatkan penolakan dari eyang Sindurogo.
"Lalu kepada siapa relik kuno ini sebaiknya akan aku titipkan, jika tuan Pendekar Lelananging Jagat yang terkuat di seluruh langit Benua Timur ini menolak?"
"Uhuk!" Eyang Sindurogo terbatuk-batuk mendengar namanya sebagai yang terkuat di Benua Timur disebut.
Dia agak malu dengan sebutan itu, sebab karena keteledorannya dia justru dapat dimanfaatkan oleh Batara Karang dan Batara Antaga untuk menampung pecahan jiwa Dewa Kegelapan. Dan karena sebab itulah akhirnya raga Dewa Kegelapan berhasil dibebaskan.
"Sepertinya julukan yang terkuat di Benua Timur bukan aku yang menyandangnya."
Azura kebingungan mendengar jawaban eyang Sindurogo. Dewa Pedang juga ikut terkejut dengan ucapan lelaki itu.
"Mungkin bukan sekarang, tetapi sebentar lagi tetua muda kalian yang akan menyandang julukan terkuat di kolong langit Benua Timur ini. Angger Suro yang aku maksud akan menyandang julukan itu sebentar lagi."
"Dan sebaiknya dia yang menyimpan relik kuno itu. Dia juga telah menyimpan salah satunya. Setelah kami berhasil merebutnya dari upaya Batara Karang yang hendak mengambil relik kuno di puncak gunung yang berada disekitar Himalaya sana."
Eyang Sondurogo lalu menceritakan kejadian di puncak putih tiga saudara spiritual atau juga dikenal dengan nama gunung Gangkhar Puensum yang berada di perbatasan Tibet dan Bhutan.
"Aku yakin dia yang paling pas menyimpan benda gawat seperti itu. Karena dia memiliki pusaka milik Geho sama yang dapat menyimpan dengan sangat aman. Karena dikunci oleh ilmu sihir dan disimpan didalam alam yang hanya bisa dibuka olehnya."
Saat mereka sedang berbicara mendadak terdengar suara tanah yang terbelah.
Kretaaak! Kretaaak!
Dari dalam tanah muncul Suro bersama para tetua dan juga murid perguruan yang sebelumnya dibawa masuk ke dalam tanah. Jumlah mereka semua lebih dari dua ratus orang.
"Itu thole Suro, nakmas Azura silahkan serahkan relik kuno itu kepadanya." Eyang Sindurogo menunjuk kearah Suro yang baru saja datang.
"Kalian silahkan lanjutkan, aku ada urusan dengan Bidadari lengan seribu."
Eyang Sindurogo lalu melesat menuju puncak bukit. Agaknya dia hendak melanjutkan kembali pembicaraannya dengan tetua Dewi Anggini yang tertunda karena harus membantu memenangkan peperangan.
Suro yang hendak berbicara dengan gurunya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
'Ada apa eyang guru malah kabur?'
Geho sama yang mendengar suara batin Suro langsung menanggapinya dengan nada kesal.
'Betina?' Suro belum memahami maksud ucapan Geho sama yang membalasnya dari ruang kesadarannya.
'Betina? Hahahaha! Burung emprit gendeng, kamu samakan panggilan perempuan dengan cara bangsamu menyebutnya.' Lodra kali ini tertawa mendengar makian kekesalan Geho sama yang ternyata belum dilupakannya.
Suro akhirnya harus pasrah kepalanya menjadi tempat pertikaian dua kesadaran yang sama-sama tidak mau mengalah. Geho sama yang sedang kesal tidak peduli lagi dengan Lodra.
Isi kepala Suro terdengar seperti dengungan lebah, dia cukup pusing mendengarkan suara yang bersahut-sahutan didalam kepalanya. Karena itulah mengapa dia tidak mendengar suara Azura yang begitu dekat.
"Tetua muda, tetua muda Suro, halo tetua...apakah tetua mendengarku?"
"Oh, maaf saudara Azura aku tidak mendengarnya. Ada apa saudara Azura bisa aku bantu?"
"Relik kuno ini sebaiknya aku titipkan kepada tetua muda, sesuai saran Ketua Dewa Pedang dan juga eyang Sindurogo."
Suro yang mendengar penjelasan Azura terkejut. Serta merta dia menoleh ke arah Dewa Pedang yang masih berdiri didekat mereka.
"Apa ini tidak salah paman guru, menitipkan sesuatu yang sangat penting seperti ini kepadaku?"
Dewa pedang tersenyum ke arah Suro, sebelum dia menjawab, seseorang yang berada disampingnya lebih dahulu menjawab pertanyaan Suro.
"Tentu saja yang paling pas menyimpan itu dirimu, bocah. Orang waras tidak akan sudi menyimpan benda yang akan mengundang makhluk kegelapan, seperti mengundang malaikat kematian. Kamu sudah gemblung, bocah. Jadi memang pas, hanya orang gemblung yang berhak menyimpan benda segawat relik kuno itu." Dewa Rencong tertawa terkekeh setelah menjawab pertanyaan Suro.
'Apalagi ini?' Suro menggaruk-garuk kepalanya.
Dewa Pedang hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Dewa Rencong barusan, dia kemudian menjelaskan alasan mengapa benda tersebut sebaiknya disimpan oleh Suro seorang. Penjelasannya itu sama persis seperti yang telah diucapkan oleh eyang Sindurogo.
"Memang benar apa yang dikatakan tuan guru. Setiap benda yang disimpan dalam Pusaka Sarang lebah iblis tidak akan dapat diambil oleh orang lain, kecuali oleh pemiliknya sendiri. Aku bisa menjamin hal itu." Geho sama segera menanggapi ucapan Dewa Pedang, sebab dialah yang mengetahui mengenai pusaka tersebut.
Azura segera menyerahkan relik kuno ke tangan Suro. Selang beberapa saat kemudian relik kuno yang berada ditangannya lenyap. Hal itu terjadi setelah tangan kanan Suro membuat segel mudra beberapa kali.
Itu adalah bentuk ilmu sihir yang diajarkan Geho sama kepada Suro, agar dia bisa menggunakan pusaka sarang lebah iblis.
"Mengagumkan sekali." Dewa Rencong terkesima dengan kejadian barusan.
"Memang seberapa besar pusaka itu mampu menampung?" Dewa Pedang ikut penasaran.
Suro tidak menjawab hal itu dia justru menoleh ke arah Geho sama. Karena yang mengetahui hal Ikhwal tentang Pusaka Sarang iblis tidak ada yang lain, kecuali dia seorang.
"Itu adalah sebuah dimensi dimana sebuah kerajaan siluman lebah berdiri dan berlindung. Pusaka itu hanyalah alat yang mampu menghubungkan dimensi tersebut. Jadi bisa pendekar bayangkan sendiri seberapa besar benda yang dapat disimpan di suatu dimensi yang berdiri sebuah kerajaan siluman?"
Suro ikut terkejut mendengar penjelasan Geho sama, apalagi yang lain. Mereka tidak menyangka sebegitu hebatnya kemampuan pusaka itu. Suro ikut terkejut karena juga baru mendengar hal tersebut.
Dia juga belum pernah memasuki dimensi didalam pusaka Sarang lebah iblis. Karena itulah mengapa dia tidak mengetahui seberapa besar dimensi yang dapat dimasuki melalui pusaka yang dia simpan dalam tubuhnya.
Setelah Geho sama selesai menjelaskan, Suro menatap ke arah puncak bukit.
"Apa yang dilakukan eyang, paman guru? Mengapa dia terlihat tergesa-gesa? Apakah ada hal gawat yang luput dari pengetahuanku?"
"Itu urusan orang dewasa, bocah. Anak ingusan sepertimu tidak perlu tau." Dewa Rencong menjawab tanpa rasa berdosa.
Dewa Pedang sampai terbatuk-batuk menahan tawa karena ucapan Dewa Rencong yang tidak ada saringannya.
"Dia hendak berbicara dengan tetua Dewi anggini nakmas." Dewa Pedang akhirnya yang menjawab pertanyaan Suro. Karena dia terlihat kebingungan dengan jawaban Dewa Rencong.
"Ow pantas jadi betina ini yang dimaksud Geho sama!"
"Hah? Apa betina?" Mereka terkejut mendengar ucapan Suro yang menyebut tetua Dewi Anggini dengan istilah betina.
"Bukan, bukan itu maksud saya."
Suro kebingungan hendak menjelaskan, dia akhirnya memilih terdiam dan pura-pura sibuk menggaruk kepalanya.
**
Setelah semua kehancuran yang diderita Perguruan Pedang Bayangan, akhirnya mereka berencana memindahkan perguruan itu pindah ke tempat lain. Karena total dari penyerangan pertama dan kedua ini, hampir dua pertiga anggota perguruan Pedang Bayangan tewas. Pada penyerangan kedua inilah kehancuran yang paling parah.
Mereka semua sangat trauma menghadapi para makhluk yang tidak bisa dibunuh, kecuali dengan cara tertentu.
Selain Dewi Anggini para tetua yang lain tetap berada di sana untuk menjaga. Dia kembali ke Kademangan Cangkring dimana Perguruan Pusat Pedang Surga berdiri. Dewi Anggini pergi bersama eyang Sindurogo, Dewa Rencong, Dewa Pedang, Geho sama dan tentunya Suro.
"Aku tidak menyangka hidupku menjadi begitu berwarna berkat dirimu le." Eyang Sindurogo berbicara dengan Suro tetapi matanya melirik ke arah tetua Dewi Anggini yang tersenyum manis kepadanya.
Suro ikut tersenyum-senyum bukan karena melihat tetua Dewi Anggini. Dia tersenyum karena mendengar ocehan Geho sama yang masih kesal dengan gurunya.
'Lihat gurumu yang gemblung itu jika sudah dekat dengan betinanya.'
'Sepertinya kamu iri melihat mereka berdua, Geho sama?' Kavacha yang biasanya banyak terdiam kini ikut berbicara. Hal itu membuat Lodra semakin bersemangat untuk kembali memanas-manasi Geho sama.
'Benar, sepertinya burung emprit ini sedang meradang karena kangen dengan siluman blekok yang sudah lama mati dibunuh Batara Antaga. Dia iri tidak punya pasangan. Apa perlu kita jodohkan dirinya dengan siluman nying-nying?' Lodra begitu bahagia melihat Geho sama bertambah semakin kesal.
Suro kemudian menghentikan pertikaian dalam alam kesadarannya, agaknya dia sudah sedikit gila karena begitu banyak suara yang dia dengar didalam kepalanya sendiri. Beruntung hal itu tidak membuat kewarasannya hilang secara permanen. Suro segera memerintahkan Geho sama untuk membawa mereka semua pergi ke Perguruan Pusat Pedang Surga.