SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 169 Akhir dari Perjalanan



Para tetua Tengkorak Merah tidak menyangka sama sekali dengan hasil akhir pertarungan barusan. Mereka tidak mampu mengungkapkan keterkejutannya dengan kata-kata. Bagaimana mungkin ahli pedang yang sangat mereka takuti bisa berakhir mati ditangan pemuda ingusan itu.


Melihat Suro menatap ke arah para tetua, membuat mereka tanpa sadar mulai menguncurkan keringat dingin. Apalagi Naga Taksaka yang telah menghabisi Kenana berada disebelahnya.


Tidak ada satupun yang segera menjawab pertanyaan Suro. Mulut mereka terkunci karena begitu ketakutan, padahal tidak ada nafsu membunuh maupun hawa pembunuh yang menerjang ke arah mereka.


Namun tatapan Suro yang begitu tajam telah membuat wakil ketua Tengkorak Merah sekalipun, bergetar hebat dipenuhi ketakutan.


Kemudian dari dalam tanah disamping Suro muncul sebuah penampakan lain, yaitu seekor harimau besar yang terlihat begitu buas.


"Paman, bukan kah tadi yang bertanya kepada saya. Aku rasa paman salah satu tetua perguruan ini. Siapa nama paman?" Suro menatap ke arah Dharmatungga. Wakil ketua Tengkorak Merah seketika wajahnya berubah nenjadi begitu pucat.


"Nama saya Dharmatungga, nakmas. Saya adalah wakil ketua perguruan kecil ini." Wakil ketua Tengkorak Merah segera menjawab sambil wajahnya dibuat sedemikian rupa, sehingga terlihat begitu ramah menatap Suro. Agaknya ketakutannya kepada Suro telah mbalung sungsum(begitu mendalam).


"Bagus, mumpung darahku belum turun dari kepalaku. Apakah paman masih ingin meneruskan pertarungan ini?" Suro bersama dua makhluk yang berada disamping kanan dan kirinya berjalan secara perlahan menuju ke arah Dharmatungga.


Para tetua semua terlihat begitu ketakutan. Para anggota perguruan sudah tidak perlu lagi ditanyakan apa yang sedang mereka semua rasakan. Tentunya mereka lebih ketakutan dibandingkan dengan apa yang dirasakan Dharmatungga. Apalagi yang ikut mengepung dan menyerang Suro pada awal kedatangannya, mungkin mereka mulai mengompol di celana.


Mereka tidak mengetahui seberapa kuat pemuda yang sepintas terlihat biasa itu, kecuali sebuah zirah yang mencolok melindungi tubuhnya. Mereka juga di buat kebingungan sejak awal, sebab tidak satu pun dari mereka mengetahui tingkat tenaga dalam Suro.


Meskipun mereka tidak mampu melihat tingkatan tenaga dalamnya. Tetapi melihat dirinya mampu melawan satu perguruan sebesar milik mereka seorang diri, membuat mereka mencurigai bahwa tingkat tenaga dalam Suro mungkin sudah mencapai puncak tingkat shakti. Mereka memiliki pemikiran seperti itu karena kemampuannya mampu mengimbangi kekuatan Pedang iblis yang memang sudah di puncak tingkat shakti.


"Mohon maaf nakmas, sepertinya kita ada kesalahpahaman saat berkenalan sejak awal. Sebaiknya paman meluruskan lebih dahulu. Kita Perguruan Tengkorak Merah tidak memiliki permusuhan secara pribadi dengan nakmas. Jadi sebaiknya kondisi yang tidak perlu terjadi ini tidak usah dibuat rumit dan berlarut-larut."


Suro berhenti melangkah dan mulai memincingkan matanya menatap lelaki yang mungkin berumur lebih dari setengah abad itu. Sikap lelaki itu terasa berbeda dengan sebelumnya saat berada didalam balairung yang terbakar.


"Jadi intinya paman akan melanjutkan pertarungan ini atau cukup sampai disini saja?" Suro kembali mencoba menegaskan jawaban yang diberikan Dharmatungga.


"Tentu saja nakmas, kami tidak akan memperpanjang masalah ini. Kami anggab yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi. Karena memang sebelumnya diantara kita tidak ada masalah."


Suro menghela nafas panjang sebelum mulai melepaskan Naga Taksaka kembali ke asal mulanya, yaitu tanah dan bebatuan yang terbakar api hitam.


"Baiklah jika itu yang telah paman putuskan. Aku juga tidak akan memperpanjang lagi. Meskipun tindakan kalian menumbalkan nyawa manusia untuk menyempurnakan ilmu kalian, bukanlah tindakan seorang manusia. Itu adalah tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh para iblis. Sebaiknya kalian menghentikan tindakan sejenis itu kedepannya."


"Tindakan kalian itu sangat memalukan. Sangat nista bahkan sifat kalian lebih buas dari harimau besar ini. Dia lebih manusiawi dibandingkan dengan kalian yang manusia. Kalian hanya bentuk tubuhnya saja yang manusia, tetapi hati kalian bukanlah milik manusia."


"Mungkin tidak pantas aku katakan jika hati kalian sederajat dengan binatang. Tetapi para binatang sekalipun akan terluka, jika hatinya disamakan dengan jiwa kalian. Jiwa kalian itu setara dengan para iblis. Perbuatan kalian yang tidak memiliki perikemanusiaan, membuat jiwa kalian semakin tenggelam dalam kegelapan yang kalian ciptakan sendiri. Akhirnya sifat kalian berubah menjadi semakin keji."


Dharmatungga tersenyum kecut mendengar penuturan Suro barusan. Jika itu adalah orang lain, bukan Suro. Mungkin sejak tadi kepala Suro sudah diremukkan sampai tidak berbentuk. Walaupun darahnya sudah mulai mendidih setelah mendengar ceramah singkat Suro, tetapi wajahnya tetap tersembul sebuah senyuman.


Namun jangan tanyakan seperti apa bentuk senyuman yang dadanya sedang bergemuruh sebuah kemarahan. Dia akhirnya memilih tidak menanggapi perkataan Suro dan terdiam tidak menjawab sepatah kata pun.


Tetapi jangan kan menyerang, untuk menyangga tubuh mereka saja seperti tidak sanggup. Kaki mereka sampai sekarang saja masih bergetar hebat saat Suro berjalan mendekati mereka.


"Sebelum Suro meninggalkan perguruan ini, saya akan kembali lagi bertanya kepada paman. Karena niat saya datang ke perguruan ini, hanyalah ingin memastikan mengenai keberadaan ketua perguruan kalian iblis tongkat, dan seluruh pasukan yang ikut dibawa serta menuju Banyu Kuning. Apakah ketua kalian atau salah satu pasukan yang ikut dia, ada yang telah kembali ke perguruan ini? Selain itu, apakah Dukun sesat dari Daha pernah datang ke perguruan ini kurang dari satu purnama ini?" Suro menatap Dharmatungga tetap dengan tatapan dingin.


"Hingga saat ini sejak ke berangkatan mereka menuju Banyu Kuning, tidak satupun ada yang kembali ke perguruan ini, nakmas. Termasuk juga Dukun Sesat dari Daha, dia tidak pernah sekalipun datang ke Perguruan Tengkorak Merah dalam kurun waktu satu purnama ini."


Suro menghela nafas panjang sambil menatap ke arah para tetua dan mulai menatap ke seluruh penjuru perguruan. Kemudian dia kembali menatap Dharmatungga.


"Seandainya dari awal kalian menjawab pertanyaanku seperti yang telah paman lakukan, mungkin tidak perlu terjadi hal yang seperti itu!" Suro berkata sambil menunjuk-nunjuk ke arah puing-puing bangunan yang hancur akibat pertarungan yang baru saja selesai.


"Aku sudah tidak ada urusan di perguruan ini. Karena itu aku akan meninggalkan perguruan kalian sekarang juga." Suro kemudian berjalan ke arah Maung.


Dalam satu angkat seperti mengangkat seekor kambing. Tubuh Maung melintang dibelakang kepala dari bahu kanan ke bahu kiri. Kemudian tanpa ancang-ancang dia langsung melesat terbang menaiki bilah Pedang Kristal Dewa.


Lesatan tubuhnya itu telah meninggalkan tatapan mata orang-orang yang mengikuti lesatan tubuhnya dengan begitu ketakutan, takjub dan tentu saja kemarahan. Sebab dengan kepergiannya telah meninggalkan kehancuran besar perguruan mereka.


Walaupun sebagian dari mereka merasa bersyukur karena nyawa mereka masih selamat. Tetapi kebanyakan dari mereka merutuk penuh kemarahan.


"Kita harus membalaskan kematian anggota perguruan kita, wakil ketua! Saya sangat menyesalkan keputusan wakil ketua yang membiarkan pemuda barusan pergi begitu saja! Akan kita taruh dimana muka kita, jika bertemu saudara seperguruan kita yang telah dibantai olehnya?" Seorang tetua langsung berkicau karena merasa tidak puas dengan keputusan Dharmatungga membiarkan Suro pergi begitu saja.


Mendengar protes atas keputusannya barusan, membuat kemarahannya yang tertahan, seakan ada tempat untuk menyalurkannya. Maka mulailah wakil ketua yang sejak tadi terlihat begitu ramah kepada Suro menunjukan sifat aslinya yang kejam dan tempramental.


Matanya langsung melotot ke arah asal suara yang mempertanyakan keputusannya.


"Gudhel sompret aku tau dimana kau sembunyikan tubuhmu saat pemuda itu berjalan menghampiri kita! Jangan kau kira aku tidak melihatnya! Nyalimu yang sebesar kutu ayam jangan menceramahiku tentang keputusanku demi keselamatan nyawa kalian semua , terutama kau Gudhel sialan!" Wakil ketua Dharmatungga mulai menumpahkan kekesalannya. Tetua Gudhel mengetahui aksi sembunyinya diketahui menjadi begitu malu dan mulai menunduk menahan malu.


" Kau kira dengan tenaga dalammu yang tingkat shakti tahap dasar mampu menyentuh ujung rambut pemuda itu? Dia yang mampu menghadapi jagoan pedang sekuat Pedang iblis yang dibantu Kenana, kau kira bisa kita hadapi?"


"Satu pedang sesat seperti Kenana kekuatannya sudah ditingkat shakti tahap tujuh memang bisa kau setarakan denganmu, Gudhel sompret?" Dharmatungga tatapannya yang sudah memelotot kembali menoleh ke arah tetua Gudhel yang masih menunduk.


"Apa kau tidak melihat api hitam miliknya, jika dia mau, aku yakin dia mampu meratakan seluruh perguruan ini seperti menjentikan jarinya!" Matanya terus melotot ke arah seluruh anggota dan tetua yang kini terlihat menunduk semua.


Dia mulai mengomeli seluruh anggota perguruan yang memulai peperangan dengan menyerang Suro terlebih dahulu. Sebab dengan tindakan mereka, telah menghancurkan seluruh rencana miliknya untuk memperkuat Perguruan Tengkorak Merah, yaitu dengan menjadikan Pedang iblis ketua mereka yang baru. Padahal ahli pedang itu sudah berjanji menurunkan ilmu iblis kalipurusha.


Dia sudah bermimpi dengan bermodalkan ilmu itu, perguruan mereka akan meningkat pesat dengan kekuatan ilmu pedang yang terkenal kekuatannya itu. Kini harapan mereka sirna. Karena ilmu pedang iblis kalipurusha kini telah lenyap bersama matinya pengamal ilmu itu yang terakhir, yaitu Pedang iblis dan Kenana.


Kitab iblis kalipurusha sendiri telah dihancurkan Pedang iblis setelah dia menghafalkan ilmu itu. Awalnya dia tidak ingin ada yang mampu mempelajari ilmu itu, kecuali mereka sendiri.


Dia terus mengomel panjang lebar sampai yang mendengarkan dan mulutnya sendiri mengebul kepanasan.