
Setelah tugasnya mencari dan meminta bantuan kepada Pendekar Gemblung telah dia laksanakan semua, maka dia bersama sembilan pengawalnya segera memutuskan kembali secepatnya kuda dia pacu tanpa henti agar bisa secepatnya ditajuk. Sehingga bisa menghemat waktu untuk secepatnya mengabarkan berita penting itu sampai di telinga Mahapatih.
Begitu sampai di Tajug dia segera menemui Mahapatih Lembu Anabrang yang sedang berada di tenda megah khusus untuk dirinya.
"Jadi bagaimana Senopati apakah tugas yang aku titahkan kepadamu untuk menemui Pendekar Gemblung sudah kamu laksanakan."
"Sembah pangabekti Gusti Mahapatih, nuwun inggih sesuai titah Gusti Mahapatih tugas untuk mencari Pendekar Gemblung telah dapat hamba laksanakan semua dengan baik."
"Mereka juga menyetujui untuk ikut serta menuju Kadipaten Banyu Kuning dan bersedia membantu menumpas para siluman yang ada dalam barisan pasukan Medusa."
"Mereka? Memang ada berapa Pendekar Gemblung yang senopati temukan? Bukannya Pendekar Gemblung itu hanya satu orang?"
"Ampun Mahapatih dari cerita sebenarnya yang hamba dapat, Pedekar Gemblung yang dimaksud ternyata seseorang yang pasti Gusti Mahapatih mengenalnya."
"Aku mengenalnya? Perasaan aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Pendekar Gemblung? Siapa sebenarnya Pendekar Gemblung ini, Senopati Aryo Seno? Jangan membuat aku penasaran!"
"Ampun Gusti Mahapatih, Pendekar Gemblung yang kita cari itu ternyata nakmas Suro."
"Nakmas Suro? Apakah yang kamu maksud nakmas Suro murid dari Eyang Sindurogo?"
"Benar sekali Gusti Mahapatih dan saat kami bertemu dengan nakmas Suro, dia bersama dua murid dari Perguruan milik Dewa Pedang. Selain itu dia juga ditemani seorang pendekar dari Bukit Lamreh yang berjuluk Dewa Rencong."
"Dewa Rencong pangeran dari Kerajaan di ujung Swarnabhumi ada di tanah Javadwipa ini? Suatu hal yang mengejutkan . Sudah lama aku mendengar sepak terjangnya didunia persilatan. Suatu kehormatan dia ada disini. Andai saja dia mau membantu pasukan kita tentu akan semakin memperkuat barisan kita senopati."
"Ampun Gusti Mahapatih jika saya berlaku lancang membuat keputusan tanpa meminta pendapat dari Gusti Mahapatih. Sebab saat pertemuan hamba dengan mereka, hamba telah menawarkan hadiah kepada mereka berdua, jika bersedia membantu barisan kekuatan pasukan Kerajaan Kalingga. Tidak disangka ternyata mereka menyaggupi permintaan saya."
"Kamu sungguh luar biasa senopati mampu mengajak Dewa Rencong membantu melawan pasukan Medusa. Dia biasanya akan menjauhi segala urusan yang berhubungan dengan urusan kerajaan."
"Justru Dewa Rencong sendiri yang menjamin Gusti Mahapatih, bahwa mereka berdua nakmas Suro dan juga dirinya akan tetap membantu Kerajaan Kalingga menumpas para siluman, meskipun Dewa Pedang menolak bergabung dengan pasukan Kalingga."
"Hal itu karena berhubungan dengan status yang disandang nakmas. Karena nakmas sekarang telah menjadi salah satu tetua dari Perguruan milik Dewa Pedang. Tetapi dengan jaminan Dewa Rencong status nakmas Suro yang telah menjadi tetua muda Perguruan Pedang Surga bukan menjadi halangan untuk tetap bisa membantu Kerajaan ini Gusti Mahapatih."
Aku puas dengan tugas yang telah kamu jalankan Mahapatih."
"Sekali lagi mohon beribu ampun Gusti Mahapatih, saat Dewa Rencong itu menyanggupi permintaan saya, dirinya mengajukan beberapa persyaratan."
"Syarat? Syarat apa yang diinginkan pendekar tersebut?"
Kemudian Senopati Aryo Seno mulai menjelaskan semua syarat yang dikemukakan dirinya saat pertemuannya di Kademangan Kalinyamat. Dan segala hal yang dia dapatkan dari pertemuan itu.
"Apakah artinya ituDewa Rencong juga mampu menghabisi para siluman?"
"Benar Gusti Mahapatih, menurut penuturan pendekar tersebut. Dia juga baru mengetahui setelah bertarung bersama nakmas Suro melawan para siluman selama dalam perjalanan mereka."
"Pendekar Dewa Rencong mengatakan bahwa pedang tahap langit mampu melukai siluman itu. Hanya saja pendekar itu belum bisa memastikan pedang langit tingkat apa yang benar-benar bisa membunuh para siluman yang tingkat kekuatannya setara dengan Raja Siluman. Gusti Mahapatih sendiri pasti sudah menyaksikan bagaiman mengerikannya kekuatan satu Raja siluman yang pernah menyerang pasukan Kerajaan Kalingga di daerah Rahtawu."
"Ya memang benar kekuatan para Raja Siluman memang sangat mengerikan .Sebentar senopati, mengenai tahap pedang langit, siapa didalam barisan pasukan kita yang sudah mencapai tahap pedang langit?"
"Tidak satu pun dari barisan kita yang sudah mencapainya Gusti Mahapatih."
"Ternyata memang kita diharuskan bekerjasama dengan Dewa Pedang senopati. Beruntungnya dalam nawala yang kirim dia menyetujui penggabungan dua pasukan. Sehingga dengan kondisi itu kita pasti bisa menghabisi para siluman. Sebab para tetua Perguruan Pedang Surga dan Dewa Pedang sudah jauh melewati tahap pedang langit."
"Nuwun inggih Gusti Mahapatih."
"Aku tidak mempermasalahkan dengan syarat yang diminta Dewa Rencong. Kita juga akan ikut membantu pasukan dibawah pimpinan Dewa Pedang. Musuh mereka, adalah musuh kita juga." Mahapatih kembali memastikan semua syarat yang diinginkan Dewa Rencong akan dikabulkan.
"Selain itu jalur yang dia pilih sesuai dengan rencana kita sebelumnya. Karena memang penjagaan didaerah Juwana(pati) sangat ketat, selain itu jika lewat Juwana yang ada disebelah timur kita tidak akan bisa menyatukan kekuatan dengan Dewa Pedang. Karena posisi dia ada disebelah utara bagian barat dari Banyu Kuning. Jika melewati jalur Kademangan Kalinyamat dan memutari Gunung Retawu dari arah barat, maka kita akan bertemu dengan Dewa Pedang yang masih bertahan di perguruan cabangnya itu."
"Aku tidak menyangka jika murid Eyang Sindurogo itu justru yang akan menolong kita kali ini. Kerajaan ini belum bisa membalas budi untuk ikut menolong gurunya yang terjebak dalam alam lain. Kini kita kembali menyusahkan dirinya dengan sebuah kepentingan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya."
"Dulu jika tanpa pertolongan gurunya Eyang Sindurogo pasti Kerajaan Kalingga akan musnah akibat kraman yang hampir saja memenangkan peperangan. Beruntung pada detik-detik terakhir Pendekar Tapak Dewa Matahari itu datang. Jika dia datang terlambat sedikit saja seluruh pasukan pasti akan dibantai Banteng Iblis dan pasukan naganya."
"Kali ini muridnya yang datang menolong kita untuk ikut membantu memadamkan api pemberontakan yang dicetuskan oleh Ratu Ular Medusa."
"Aku baru ingat, sudah lama aku tidak bertemu dengannya lagi. Terakhir kali bertemu, saat dia ikut serta bersama gurunya Eyang Sindurogo membasmi Naga raksasa. Aku menjadi merasa bersalah karena waktu itu aku lah yang diutus untuk meminta bantuan Eyang Sindurogo membasmi Naga raksasa sesuai usul dari Dewa Pedang."
"Kesempatan ini sebaiknya aku gunakan untuk meminta maaf dan ikut berduka atas hilangnya Eyang Sindurogo didunia lain. Karena secara tidak langsung akulah yang membuat gurunya itu celaka."
"Itu semua sudah suratan takdir Gusti Mahapatih. Tidak ada yang bisa melawan takdir yang sudah ditetapkan." Senopati Aryo Seno mencoba memberikan pandangannya.
Mahapatih merasa bersyukur karena setelah peristiwa itu ternyata Suro justru diangkat oleh Dewa Pedang menjadi muridnya dan kini telah menjadi salah tetua di Perguruan Pedang Surga.
"Hamba juga menyaksikan sendiri pertarungan antara nakmas Suro melawan para begundal-begundal dari aliran hitam, ternyata dia telah menguasai Ilmu Tapak Dewa Matahari dengan baik. Kemampuannya sangat mengagumkan dalam sekejab puluhan orang yang menyerangnya mampu dihabisi. Saya rasa kekuatannya telah meningkat dengan pesat. Jauh lebih mengerikan dibandingkan kekuatan yang dia perlihatkan saat melawan naga raksasa bersama gurunya di Karang Ampel."
"Sangat mengejutkan sesuatu yang sangat tidak masuk akal seperti saat dia ikut serta melawan Naga raksasa yang begitu mengerikan. Keberanian dari nakmas Suro tidak akan membuat malu gurunya yang merupakan pendekar terkuat dikolong langit Benua Timur ini. Aku rasa nakmas Suro ini memang tidak memiliki rasa takut."
"Baiklah setelah mendapatkan warta darimu aku sangat yakin kali ini kita punya kekuatan yang mampu merontokkan seluruh kekuatan yang dibawah bendera Medusa. Perintahkan semua pasukan untuk bersiap menuju Kademangan Kalinyamat kita akan menyatukan pasukan kita dengan Dewa Pedang di Banyu Kuning. Aku yakin kali ini kita pasti mampu membumi hanguskan Perguruan Ular Hitam yang telah melakukan kraman."
"Sendiko dawuh Gusti Mahapatih titah akan langsung hamba laksanakan."
**
"Serangan siluman! Serangan siluman!"
Suara teriakan begitu riuh memecah keheningan malam disekitar Perguruan Pedang Halilintar. Sejak beberapa hari ini para siluman menyerang bertambah semakin sering. Tidak peduli pagi, siang, sore malam siluman itu berusaha memakan satu persatu nyawa anggota perguruan.
Suara kentongan yang bertalu-talu semakin menambah keriuhan yang membuat semua penghuni perguruan terbangun dari tidurnya. Walaupun memang sejak beberapa hari hampir tidak ada yang bisa tertidur dengan pulas. Sebab sewaktu-waktu para siluman itu bisa datang menyerang mereka.
Bagi mereka kekuatan serangan yang dilakukan para siluman sesuatu yang sangat mengerikan. Karena memang kebanyakan dari mereka trauma saat banyak rekan mereka mati dimakan hidup-hidup didepan mata mereka sendiri.
"Serangan siluman lagi, berapa banyak sebenarnya siluman ini? Sudah berkali-kali aku mengusirnya, tetapi seperti tidak ada habisnya." Dewa pedang segera meraih pedang yang ada disamping tempat tidurnya segera dia bergegas keluar.
"Dibagian mana siluman itu menyerang?"
"Dibagian gerbang selatan ketua?" Dewa Pedang bertanya ke arah salah satu anggota perguruan yang sedang berjaga. Dia masih sibuk mencoba membangunkan seluruh perguruan, dengan memukul kentongan sekeras-kerasnya agar semua menyadari akan datangnya bahaya.
Dewa Pedang tanpa menunggu lama segera melesat ke tempat yang ditunjuk.
Sebuah wujud raksasa yang menyerupai seekor monyet tanpa ekor dengan tinggi lebih dari satu tombak terlihat mengamuk dengan ganas. Mata yang merah menyala seperti api. Bulu kasar disekujur tubuhnya menyerupai ijuk tumbuh begitu panjang. Kuku dan taringnya yang panjang menambah menakutkan wujud siluman itu.
Beberapa anggota perguruan yang dalam jangkauannya diraup dimasukan ke dalam mulutnya. Entah sudah berapa puluh anggota perguruan yang masuk ke dalam perutnya. Mereka para anggota perguruan begitu mudahnya dikalahkan, bahkan pedang yang digunakan untuk mencincang dirinya justru dipatahkan dalam gengamannya. Pedang-pedang yang mengenai makhluk ini seperti menghantam baja. Bulu-bulu yang menutupi tubuhnya itu menyerupai sebuah perisai yang kuat.
Serangan yang bertubi-tubi menghantam siluman itu diterima dengan tanpa terusik sama sekali. Dia justru sibuk mengejar para anggota perguruan yang sebagian lari ketakutan.
Dari atas benteng melesat terjangan kekuatan energi pedang yang langsung menghantam ke tubuh siluman itu. Begitu kuatnya energi sabetan pedang dari jarak jauh itu, belum juga mampu menembus kulitnya. Tetapi dengan itu telah membuat sesosok siluman itu terpental sejauh tiga puluh tombak.
Semua orang segera memaklumi serangan jarak jauh yang mampu melemparkan siluman sampai begitu jauh. Walaupun sang empunya jurus sendiri belum menampakkan wujudnya. Karena tidak ada yang mampu membuat serangan begitu kuat kecuali Ketua Perguruan Dewa Pedang sendiri.
**
TERIMA KASIH SEMUA YANG TELAH MEMBACA DAN MENDUKUNG NOVEL INI SEHINGGA MERAIH NOMINASI. DEMI MENGAPRESIASI BENTUK DUKUNGAN INI SAYA AKAN MEMBERIKAN BONUS CHAPTER SEKITAR TANGGAL DUA PULUHAN TERIMA KASIH SALAM GEMBLUNG