
"Kenapa kita kembali ke alam kegelapan bocah?"
Dewa Rencong segera menyadari tempat yang dituju setelah keluar dari gerbang gaib.
"Mohon maaf paman, sebab sebelumnya Suro sudah mencoba bertanya kepada kaca benggala tetapi apa yang aku lihat dalam kaca benggala tidak ada apapun, kecuali hanya kegelapan saja, paman."
"Aku rasa, sejauh yang Suro tau, tidak ada tempat yang tidak dapat dilihat oleh kaca benggala, kecuali tempat ini. Walau sebenarnya aku hanya menebak-nebak saja. Tetapi Suro rasa wajib kita coba untuk memastikannya benar atau tidaknya."
"Lalu kemana kita akan mencarinya? Bukankah alam ini sangat lah luas. Selain itu akan sangat berbahaya, jika kita harus berlama-lama disini."
"Sebentar saja paman. Suro hanya meminta waktu sebentar, jika kita tidak dapat menemukan mereka. Maka tujuan berikutnya kita akan pergi ketempat relik kuno disimpan. Tetapi untuk sementara aku akan memilih mencari mereka disini terlebih dahulu."
"Apakah paman keberatan?" Suro menatap Dewa Rencong yang berdiri disampingnya.
"Sudahlah lanjutkan, tetapi kamu serap hawa kegelapan yang ada disekitarmu. Aku akan mengikuti dibelakangmu saja, agar aku tidak terlalu banyak menyerap hawa kegelapan." Dewa Rencong menganggukkan kepala sambil memberi tanda, agar Suro melangkahkan kaki kedepan mendahului dirinya yang lebih memilih untuk mengikuti dibelakang saja.
"Jangan khawatir mengenai hal itu, paman. Aku akan menyerap sebanyak mungkin hawa kegelapan. Pedang milikku dan juga Geho sama, justru memintaku untuk menyerap sebanyak mungkin hawa kegelapan, mumpung sedang berada disini."
"Mereka menjamin diriku tidak akan terpengaruh oleh efek jahat dari hawa kegelapan. Karena mereka berdua akan menampung seluruh kekuatan yang akan aku serap. Sehingga tidak akan ada sisa hawa kegelapan dalam tubuhku, walau hanya sedikit."
"Geho sama Bahkan mengatakan kepada Suro akan sanggup menampung seluruh kekuatan yang aku serap, seberapapun banyaknya. Entah lah maksudnya apa tetapi kata dia, itu bukan masalah besar. Sebab dia dulu pernah menjadi inang bagi jiwa Dewa Kegelapan, sehingga hal itu bukan menjadi masalah bagi jiwanya."
"Mereka memintaku melakukan hal itu karena kekuatan milik kami telah terkuras oleh jurus yang aku gunakan sebelumnya, yaitu Jurus keempat dari Tapak Dewa Matahari. Mungkin jika aku tidak didukung oleh ke tiga kekuatan jiwa yang bergabung denganku dan juga tidak dibantu paman pastu aku sudah kehilangan nyawa. Sebab jurus itu sangat menguras tenaga."
"Pantas saja dulu eyang guru pernah bercerita jika, seumur hidup dia hanya sekali mengerahkan jurus keempat itu. Sebab jurus itu juga hampir saja membuat dia kehilangan nyawa."
"Setelah merasakan sendiri bagaimana menakutkannya efek yang ditimbulkan setelah mengerahkan jurus itu, kini aku memahami mengapa eyang guru dulu hampir kehilangan nyawanya? Sebab saat sebentuk cahaya terang yang merupakan miniatur matahari kecil telah terbentuk di permukaan telapak tanganku, maka saat itu juga baru aku sadari jika bola energi yang sangat padat itu sedang menyedot seluruh tenaga dalamku dengan sangat cepat."
Mereka kemudian melesat terbang, namun tidak secepat biasanya. Mereka berdua juga terbang tidak terlalu tinggi, mungkin hanya setinggi pohon kelapa. Sebab mereka memang sedang mencari keberadaan wilmana, wahana terbang yang digunakan Batara Karang. Dewa Rencong terus mengekor dibelakang Suro. Sebab tempat dibelakang Suro lah, tempat yang paling bersih dari hawa kegelapan. Sambil melesat terbang Suro terus menyerap seluruh hawa kegelapan yang berada didepannya.
Cukup lama mereka terus melesat, tetapi sepanjang perjalanan apa yang mereka lihat hanya menemukan kegelapan yang cukup pekat dan seakan tidak ada ujungnya.
"Bukankah kita menemukan wahana terbang itu berada pada ketinggian yang bahkan berada jauh diatas awan?" Terdengar suara Dewa Rencong dari arah belakang.
Suro langsung berbalik dan menghentikan laju gerakannya.
"Benar, benar sekali apa yang paman Maung katakan. Baiklah kalau begitu, sesuai apa yang paman katakan kita akan mencari wilmana diatas awan." Suro kemudian melesatkan tubuhnya secara vertikal terus naik ke atas. Langit di alam itu sepenuhnya gelap, bahkan bintang pun tidak terlihat.
Setelah beberapa saat mereka sampai di lapisan awan hitam yang juga cukup padat. Entah seberapa tinggi lapisan awan yang sudah menunggu diatas mereka. Keadaan awan yang begitu tebal, mungkin yang membuat alam itu tidak memiliki siang.
Mereka terus melesat naik semakin tinggi. Begitu sampai di awan yang begitu tebal mendadak laju kecepatan terbang Suro melambat.
"Ada apa bocah, mengapa kamu memperlambat laju terbangmu?"
"Maaf paman, Lodra dari jiwa pedang milikku, meminta Suro untuk memperlambat. Karena dia memintaku untuk menyerap awan hitam ini sebanyak mungkin. Menurut perkataannya awan ini mirip dengan Laghima yang digunakan sebagai penggerak wilmana."
"Benarkah? Apakah itu artinya aku juga bisa menyerapnya?" Dewa Rencong ikut penasaran dia melihat awan hitam di sekeliling tubuhnya.
"Aku tidak yakin mengenai hal itu paman. Tetapi jika paman berniat mencoba menghisapnya, maka Suro akan menarik keluar hawa kegelapan yang ikut masuk ke dalam tubuh paman. Seperti yang pernah Suro lakukan pada saat kita baru pulang dari alam ini."
"Baiklah, paman akan mencoba menyerapnya barang sebentar. Karena cukup engkau tau, kekuatanku meningkat satu tahap setelah menyerap Laghima. Jika memang awan ini memiliki kondisi yang sama tentu sesuatu hal yang sangat berharga sekali. Sebab terbukti akan meningkatkan kekuatanku dengan pesat. Apalagi ada kamu bocah, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk paman coba."
Suro mengangguk dan mulai mengawasi Dewa Rencong. Pendekar dari Swarnabhumi itu lalu membentuk Dhyana mudra untuk memulai proses penyerapan.
Dewa Rencong menyerap awan hitam disekitar dirinya dengan tehnik pranayama atau yang tehnik pernafasan. Semua energi yang masuk dia serap melalui hidung. Kemudian dari hidung energi yang masuk disalurkan melalui tiga nadi yang bertemu di pangkal hidung agak ke atas.
Pendekar itu melakukan hal itu secara terus menerus dalam waktu cukup lama. Semua dilakukan mengikuti ritme tehnik pernafasan. Awan yang sebelumya cukup tebal secara perlahan berkurang.
Karena sirkulasi dalam tubuhnya bergerak dengan lancar, maka awan yang terhisap ke dalam tubuhnya juga bertambah cepat. Arus energi yang ada di sekitar Dewa Rencong mulai membentuk pusaran angin dan menarik awan dalam jumlah yang sangat banyak. Semuanya terhisap masuk ke dalam tubuhnya.
Setelah menghembuskan nafas panjangnya, Dewa Rencong kemudian menyudahi tehnik pranayama yang sedari tadi dia lakukan. Matanya terbuka dengan berbinar-binar. Satu senyuman cukup lebar menghiasai wajahnya.
"Aku rasa sudah cukup. Memang benar ada hawa kegelapan di awan ini. Entah bagaimana caranya kandungannya tidak setebal saat kita berada di bawah tadi. Aku rasa semakin kita mampu terbang setinggi mungkin, maka kadar hawa kegelapan juga akan menjadi semakin bertambah tipis, tetapi energi yang terkandung menjadi semakin murni."
"Entah bagaimana caranya, namun secara alami hawa kegelapan seakan mengendap ke bawah. Mungkin hawa kegelapan lebih berat masanya dari udara dan energi murni. Sehingga dengan sendirinya pada ketinggian seperti ini, hawa kegelapan yang terkandung sangat sedikit. Bahkan saat ini walau sudah menghisap sebegitu banyaknya energi murni, tetapi dalam tubuhku hawa kegelapan masih dapat aku tolerir."
"Intinya walaupun secara kasat mata awan ini juga terlihat cukup gelap. Tetapi tidak sejahat yang berada dibawah."
"Sebaiknya Suro mulai menyerap hawa kegelapan yang ikut masuk dalam tubuh paman sekarang." Suro mengingatkan tentang bahayanya kadar hawa kegelapan yang ikut terserap masuk ke dalam tubuh.
Dewa Rencong mengangguk, dia kemudian kembali bersemadhi dalam posisi berdiri seperti tadi. Suro kemudian mulai menarik keluar hawa kegelapan dari dalam tubuh Dewa Rencong.
"Sudah cukup paman, walaupun belum semua. Namun aku yakin itu tidak membahayakan paman. Apalagi kekuatan jiwa paman sudah cukup tinggi. Selain itu karena kondisi kita sedang berada di alam ini, maka akan sulit menghilangkan semuanya. Nanti setelah kita kembali Suro akan membersihkan seluruh tubuh paman dari hawa kegelapan." Suro kemudian menghentikan tehnik yang dia kerahkan.
Seluruh hawa kegelapan yang Suro tarik keluar tidak diserap oleh Suro, tetapi oleh Geho sama.
"Tidak mengapa bocah ini juga sudah cukup buatku. Terima kasih sebelumnya."
"Tidak paman, tidak perlu berterima kasih. Ini sudah kewajibanku."
"Tidak aku harus berterima kasih, karena berkat saranmu. Aku mengalami peningkatan kekuatanku cukup pesat. Cukup kau tau bocah, saat aku selesai menyerap Laghima. Kekuatan langitku naik satu tahap. Dan kini aku kembali naik satu tahap."
"Dengan itu, maka aku sekarang sudah berada pada tingkat langit tahap tiga."
"Benarkah paman? Selamat paman atas pencapaian yang begitu cepat."
Dewa Rencong menganggukkan kepala sambil tersenyum dengan lebar.
"Aku harus menyesuaikan tubuhku dengan kekuatan yang aku peroleh. Karena itulah aku tidak berani meneruskan penyerapan. Selain karena adanya hawa kegelapan yang ikut masuk ke dalam tubuhku yang berhasil kamu tarik keluar barusan, juga karena tubuhku harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan kekuatan baruku. Jika tidak akan sangat berbahaya"
"Sejujurnya saat Suro menyerap laghima dalam jumlah sangat besar waktu itu, Suro juga mengalami peningkatan kekuatan yang sangat signifikan, paman Maung. Karena begitu besarnya energi murni yang aku serap, sehingga mendobrak tingkat tenaga dalamku. Semua itu terjadi tanpa sengaja tetapi justru membawa berkah kepada Suro. Sebab dengan adanya peristiwa yang tidak disengaja itu membuat tenaga dalamku masuk tingkat shakti."
"Dengan ucapan paman barusan yang membuktikan jika awan yang berada pada ketinggian ini cukup aman untuk diserap, agaknya Suro juga tertarik dan ingin melakukan seperti yang paman lakukan. Kali ini Suro akan menyerap awan hitam ini untuk diriku sendiri."
"Mohon maaf paman aku akan menuju awan yang disana itu? Sekaligus membuat jarak agar paman tidak terkena dampak tehnik empat Sage milikku." Suro menunjuk ke arah kumpulan awan yang agak jauh dari tempat mereka melayang.
Dewa Rencong mengangguk, dia menatap ke arah Suro yang melesat menjauh ke arah awan yang barusan ditunjuk.
'Geho sama apakah tubuhmu masih mampu menampung hawa kegelapan? Karena aku meminta tolong untuk menyerap hawa kegelapan yang ikut masuk kedalam tubuhku! Waktu itu kamu pernah mengatakan, jika kamu memiliki kemampuan yang khusus, sehingga dapat membedakan energi kegelapan dan mampu memisahkannya dengan baik. Apakah kamu masih saggup, Gagak setan?"
'Bukan masalah, hamba akan melakukannya tuan Suro.'
Setelah membentuk segel dhyana mudra Suro mulai menggelar tehnik empat Sage. Pusaran angin dengan cepat terbentuk disekitar tubuh Suro. Awan tebal yang berada disekitar tempat dia berdiri melayang, segera terhisap masuk kedalam tubuhnya.
Karena begitu kuatnya daya serap tehnik yang Suro lakukan, maka awan yang menutupi seluruh langit dalam radius hampir seratus tombak seakan tersibak. Setelah itu Dewa Rencong baru menyadari jika dilangit samar-samar terlihat semacam sinar matahari.
**
Ditunggu dukungannya terima kasih