
"Kali ini aku akan membunuhmu makhluk jadi-jadian, tanpa Sindurogo ataupun muridnya kau bisa apa? Aku menebak tingkat kekuatan surga milikmu ini baru saja kau capai. Bahkan satu gerbang pun belum kau buka! Aku yakin kali ini kami dapat membunuhmu!
Apalagi tindakanmu bersama Sindurogo, benar-benar tidak akan.kami maafkan. Jadi jangan bermimpi kaki ini dirimu mampu selamat dari kami... hahaha...!"
Sejak Suro memperingatkan dirinya, Geho sama telah menarik kesembilan tubuh ilusi miliknya untuk merapat, sehingga dirinya dengan kembarannya dapat saling membantu.
Meskipun sembilan tubuh ilusinya adalah salah satu ilmu sihir miliknya, namun ilmu sihir ini menggunakan pecahan jiwanya. Dengan kondisi itu kesembilan makhluk kembarannya itu seperti nyawa cadangan bagi dirinya.
Tetapi karena mereka dibentuk dengan menggunakan pecahan jiwanya, maka apapun yang terjadi dengan mereka akan memiliki resiko yang dapat berakibat juga pada dirinya. Minimal kekuatan jiwa miliknya akan terlemahkan.
"Hahaha..apa yang lucu? Kambing botak sepertimu tidak pantas mengancamku! Makhluk jadi-jadian, sialan berani sekali menghina tubuhku yang perkasa ini! Memangnya kalian sendiri tidak pernah berkaca? Kalian juga tidak lagi pantas disebut manusia, dasar wedus gembel sialan!"
Geho sama memaki-maki tidak terima ditinya disebut makhluk jadi-jadian.
"Tutup mulutmu!" tetua Arkados pusing tujuh keliling mendengar makian Geho sama yang tidak juga usai.
"Habisi makhluk sialan ini!"
"Kalian, kalian yang justru kambing sialan!"
Saat mendengar aba-aba serangan, Geho sama sebenarnya secara sepontan telah bersiap. namun dia berpura-pura menganggap enteng serangan yang akan dikerahkan lawan.
Dia sebenarnya memahami, jika sebagian kekuatan lawan yang sedang dia hadapi memiliki tingkat praktik kekuatan diatasnya dirinya.
Sebab dia memasuki ranah tingkat surga bisa dikatakan baru saja. Itupun bukan benar-benar dari kemampuan sendiri.
Tetapi karena bantuan minuman Sarkara Deva. Ledakan besar energi yang terkandung dalam Sarkara Deva akhirnya berhasil mendobrak batas kekuatan miliknya yang telah berada pada puncak tingkat langit. Hasilnya, dia akhirnya menembus kekuatan tingkat surga.
Dia begitu percaya diri meskipun dikepung musuh yang sebagian kekuatannya diatas dirinya, karena sejak dulu dia sudah terbiasa bertarung dengan lawan yang lebih kuat.
Salah satu kepercayaan dirinya adalah ilmu Langkah Maya miliknya yang sulit ditandingi kecepatannya.
"Kurang ajar, lenyapkan tubuhnya tanpa sisa!"
"Ajian Sapu Jagat!"
Wuuuus!
"Sialan dia mampu menghindari serangan kita!" Tetua Arkados merutuk serangan mereka hanya mengenai tempat kosong.
Belum selesai meruntuk, dia kembali berteriak "awas dibelakang kalian!"
Buuuaak!
Wuuush!
Craash! Craaash! Craaash!
"Aaaaarggghhh! Aaaaarggghhh!"
Setelah menghindar bersama kesembilan tubuh kembarannya Geho sama langsung menyerang lawannya dari arah belakang.
Kesembilan tubuh ilusi ikut menyerang lawan. Pukulan mereka berhasil mendarat dengan telak. Sekejap kemudian mereka menghilang kembali.
Geho sama menyerang musuhnya menggunakan Taru Bajra atau sebuah kipas besar berbentuk daun. Gempuran angin yang menghantam seperti badai adalah ribuan tebasan angin yang sangat kuat.
Dalam waktu yang hanya sekejap itu tubuh musuh telah bergelimpangan. Tidak kurang dari dua puluh pasukan milik tetua Arkados telah tewas.
"Bagaimana kambing bandot? Apakah rambutmu yang tinggal tiga lembar itu ingin dipotong juga bersama kepalamu?" Geho sama tertawa-tawa kecil. Dia segera melenyapkan tubuh musuhnya yang hendak memulihkan diri dengan ilmu empat sage.
Sebelum musuh menyerang dirinya, Geho sama telah menghilang. Kemudian muncul lagi ditempat lain.
Wuuuush!
Trang! Trang!
Kali ini hantaman angin yang menghajar dari kipas besar dapat ditangkis oleh tetua Arkados dengan menggunakan pedang besar miliknya. Pedang berbentuk mirip huruf "S" berputar cepat menahan tebasan pedang angin yang menghantam dirinya.
Berkali-kali Gagak setan berpindah tempat dengan cepat dan menyerang lawannya dengan menggunakan kipas Taru Bajra.
Kondisi itu membuat para tetua kalang kabut. Tetua Arkados berupaya mengatur serangan balasan "Cepat serang dengan menggunakan gabungan formasi Segoro Geni dan Ajian Sapu Jagat!"
Tetua Arkados memerintahkan pasukannya untuk menyerang Geho sama meski dia sendiri juga sibuk menangkis ribuan tebasan pedang angin yang silih berganti menghajar dirinya.
Selain Geho sama, mereka juga kerepotan melawan sembilan tubuh ilusi. Karena secara terus menerus menyerang dengan cara seperti yang dilakukan Geho sama. Semua dilakukan dengan mengandalkan Langkah Maya.
Blaar! Blaaar!
Ledakan berturut-turut mencoba melukai Geho sama dan juga kesembilan tubuh ilusinya. Namun serangan itu hanya sia-sia, sebab tidak ada yang berhasil mengenai.
Craaash! Craaash!
Berkali-kali Gagak setan menyerang balik dengan menggunakan Taru Bajra. Meskipun serangan itu berhasil melukai dengan parah, namun belum mampu mengakhiri riwayat musuhnya.
Kekuatan memulihkan tubuh mereka sangat mengagumkan. Seperti juga para makhluk kegelapan mereka dapat memulihkan luka dengan sangat cepat.
Geho sama tidak sempat untuk mendekati tubuh mereka dan memusnahkan dengan menggunakkan ilmu empat sage.
'Gawat, jika caranya seperti ini tenagaku akan habis. Setelah menggunakan Taru Bajra berkali-kali dan juga mengerahkan ilmu tubuh ilusi, kekuatanku tinggal tiga puluh persen.'
Saat Geho sama sudah mulai kewalahan menghindari serangan Sapu Jagat dan Segoro geni dari beberapa tetua. Beruntung Suro telah datang untuk membantu menghadapi mereka.
Puluhan pedang terbang melesat menyerang pasukan Perguruan Pemuja Dewa Kegelapan.
Geho sama segera menarik nafas panjang, sedikit lega dengan bantuan Suro. Dia sebenarnya bukan takut dengan ilmu Segoro geni, tetapi Ajian Sapu Jagat itu yang dia khawatirkan. Sebab Naga Taksaka sebegitu dahsyat saja dapat dilenyapkan dalam sekejap.
Serangan jurus pedang terbang milik Suro ampuh menghentikan hujan serangan yang terus mengejar Geho sama. Karena mereka sibuk menghindari dan menangkis puluhan pedang yang berseliweran dengan kecepatan tinggi.
"Apakah tulang tuamu masih kuat Geho sama?" Suro melirik ke arah Gagak setan yang berdiri sambil menyangga tubuhnya menggunakan pusaka kipas Taru Bajra.
"Tcih...lawan selemah mereka tidak akan membuat keringatku keluar!" Geho sama menjawab sambil menarik nafas cepat alias ngos-ngosan.
"Orang tua yang sombong, hahaha...!"
"Tetapi, sepertinya aku memerlukan Sarkara Devamu. Kekuatanku terkuras setelah menggunakan pusaka Taru Bajra."
Suro sampai memincingkan mata mendengar ucapan Geho sama "bukankah dirimu tadi sempat menggunakan empat sage untuk menyerap kekuatan musuh, selain itu pill tujuh bidadari milikmu masih banyak?"
Suro tidak melanjutkan ucapannya, dia kemudian melemparkan kendi berisi Sarkara Deva kepada Geho sama. Senyum lebar langsung menghiasi wajah makhluk seperti burung itu.
"Mengagumkan, aku benar-benar menyukai minuman ini." Senyum Geho sama melebar.
"Ini saatnya kita menghabisi mereka semua, bocah!" Tanpa menunggu Suro, Geho sama telah menghilang dan muncul ditengah kepungan musuh. Dia muncul bersama sembilan tubuh ilusinya.
Dia telah menyimpan kipas besar miliknya. Dia memilih menggunakan jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari. Sepuluh sinar dari ujung jarinya menebas kesegala arah.
Melihat Geho sama memilih pertarungan jarak dekat, Suro segera menyusul dengan mengerahkan jurus Langkah Maya, lawan yang pertama kali dia serang adalah tetua Arkados.
Cras!
"Aaakkkh! Sialan!"
Setelah muncul dibelakang tetua itu dia berhasil menusukkan pedangnya. Namun sebelum Suro sempat membelah tubuh tetua Arkados menjadi dua bagian, dia telah menebaskan senjatanya yang cukup unik, memutar mengelilingi tubuhnya.
Pedang besar milik tetua Arkados yang berbentuk S berputar cepat mencoba menebas ke arah belakang. Dia hendak membelah tubuh Suro menjadi dua bagian.
Namun serangan tetua Arkados itu dapat dihindari dengan indah. Pedang miliknya yang masih menancap dibagian dada ditarik ke kanan sedemikian rupa, sehingga dalam satu gerakan itu telah menorehkan luka memanjang memotong tulang iga tetua Arkados, sekaligus menangkis senjata milik musuhnya itu.
"Aaaakkhh! Bocah sialan, kau telah membuatku murka!"
Tetua arkados yang mendapatkan luka begitu parah tidak membuatnya kehilangan kesadarannya. Dia justru kembali menyerang Suro dengan menebarkan senjata rahasia mirip cakram berwarna hitam.
Jumlah senjata rahasia yang melesat itu cukup banyak. Salah satunya berhasil melesat hendak menembus kepala Suro.
Trang!
"Mustahil senjataku tidak mampu menembus kepalanya!"
Senjata rahasia milik tetua Arkados terpental, karena Kavacha berhasil menahan serangan itu.
Suro dan Gagak setan yang bertarung dalam satu kesadaran yang sama, dalam satu gebrakan serangannya berhasil melenyapkan lima tetua yang salah satunya telah mencapai kekuatan tenaga dalam tingkat surga.
"Para tetua gunakan ajian sapu jagat, mumpung makhluk pelindungnya sedang sibuk menghadapi para Shurala!"
Lesatan ajian Sapu Jagat kembali mengenai tempat kosong. Bahkan tidak satupun tubuh ilusi Geho sama yang terkena.
"Kalian percuma, tidak akan aku sisakan satupun dari kalian yang telah menjadi bagian dari Dewa Kegelapan!"
Wuuuus!
"Awas bocah!" Sepontan Geho sama berteriak keras mencoba mengingatkan Suro yang baru saja muncul dan hendak menyerang musuh.
"Aaaarggghhh!"
"Akhirnya aku mengenaimu! Bocah sialan susah sekali aku menaklukkanmu...! Tugasmu sudah selesai Arkados, sampai disini biarkan aku mengurus bocah ini. Kamu habisi saja burung gagak sialan itu!"
Seketika muncul sesosok yang baru saja melesatkan rantai pemasung jiwa ke tubuh Suro. Dia tidak lain adalah Batara Antaga. Senyum lebar membuat kedua taring bawahnya keluar seperti babirusa.