SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 67 PERTARUNGAN TAHAP FINAL part6



Saat Datuk Bandaro merapalkan sesuatu kalimat, dibelakang tubuhnya muncul sebuah aura kekuatan yang besar. Aura kekuatan itu kemudian masuk ke dalam tubuh Datuk Bandaro.


Hrrrrggggg!


Seringai diwajahnya memperlihatkan taringnya yang panjang. Kemudian dengan satu hentakan yang begitu keras, sampai telapak kakinya membekas dilantai. Dia melontarkan tubuhnya ke arah tetua. Tubuhnya berputar menerjang dengan ganas. Cakar yang muncul dari perisai di kedua lengannya menjadi ujung tombak serangannya.


Trang!


Bilah pedang milik tetua menghantam dengan keras. Kekuatan yang melambari hantaman pedang itu lebih kuat dari pada sebelumnya, sekitar sepuluh persen dari kekuatan tetua. Tetapi sesuatu hal yang mengagumkan terjadi, tubuh Datuk tidak terlempar bahkan tidak bergeming.


Tetua terkejut dengan kekuatan lawan yang mampu menahan kekuatannya. Walau hanya berkekuatan sepuluh persen tetapi pada awal pertarungan dengan kekuatan tak lebih dari lima persen telah membuat tubuh Datuk terlempar sejauh satu tombak setengah.


Ditengah keterkejutannya tubuh Datuk berputar kakinya menyapu ke arah kaki tetua dengan cepat. Segera tetua melompat menyelamatkan dirinya agar tubuhnya tidak terjungkal. Belum berhenti disitu kedua cakarnya segera membabat ketubuhnya yang meloncat itu. Beruntung bilah pedangnya segera menangkis serangan itu dengan cepat.


Kekuatan yang dimiliki Datuk entah bagaimana kini telah meningkat pesat. Dia terlihat begitu beringas dengan dengusannya yang terdengar begitu keras seakan suara harimau.


Perguruan Inyiak Dubalang Atau kadang hanya disebut Perguruan Inyiak Balang artinya adalah Perguruan Harimau. Tetapi kata-kata inyiak dubalang bisa diartikan sebagai harimau jadi-jadian atau penganut silek harimau yang mengunakan kekuatan mistis untuk meningkatkan kekuatannya, yaitu dengan memangil kekuatan roh harimau.


Seberapa besar Kekuatan yang didapat dari pemanggilan roh, tergantung dari pencapaian tingkatan roh yang dipanggilnya. Semakin tinggi tingkatan roh yang dipanggil semakin besar pula kekuatan yang diperoleh. Tetapi semakin tinggi tingkat roh harimau yang dipanggil sebanding dengan kekuatan jiwa yang diperlukan untuk mengendalikan roh tersebut.


Jika kekuatan jiwa yang memangil lebih lemah daripada tingkatan roh harimau yang dipanggil, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah dia akan kehilangan kesadaran atau kesadarannya justru dikuasai roh harimau yang dipanggil itu. Perangai, gerak gerik dan kebuasan seekor harimau akan menguasai kesadarannya. Tetapi dalam beberapa kasus saat kesadaran dirinya masih menguasai setengah jiwanya maka yang terjadi sifat buasnya lebih dominan. Meskipun dengan kondisi itu dia masih bisa menguasai dirinya.


Kemungkinan yang terjadi pada Datuk Bandaro adalah kemungkinan yang terakhir. Sifat buas yang menyertai setiap serangannya semakin bertambah dengan bertambahnya kekuatan Datuk.


Setelah hantaman bilah pedang tetua yang menyerang balik dengan ganas, membuat Datuk memilih mundur beberapa langkah. Dia membatalkan niatnya menyerang dengan kedua cakarnya. Kemudian dia bergerak seperti merebah seakan harimau yang sedang bersiap-siap menerkam.


Ciri khas yang mencolok dalam silek harimau adalah kuda-kuda rendahnya. Dalam ilmu silat yang lain bentuk kuda-kudanya berdiri seperti tiang yang kokoh. Tetapi pada silek harimau justru merendah bahkan kadang seakan merebah dengan satu kaki ditekuk kebelakang. Tubuhnya pun merunduk sedang kedua tangannya menapak tanah dengan ujung jari-jarinya sebagai tumpuannya. Seakan seekor harimau yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya.


Kembali Datuk menerjang ke arah tetua dengan cepat. Serangan Datuk kali ini mengkombinasikan serangan kaki dan cakar agak berbeda dari sebelumnya. Gerakan kakinya bergerak cepat seiring serangan dari kedua cakarnya.


Dia bergerak memutar mengelilingi tetua. Tendangan dan sapuan kaki menemani terjangan cakar yang bergerak semakin ganas. Meskipun begitu ganasnya serangan yang dilakukan Datuk, tetapi masih mampu ditangani tetua dengan baik.


Kemampuan seorang tetua tentu tidak bisa disandingkan dengan para peserta. Walau kekuatan Datuk Bandaro yang menyerangnya telah empat kali dari kekuatan awal tetap tak mampu menembus pertahanan tetua Tunggak Semi.


Beberapa kali kaki Datuk Bandaro mencoba mengunci leher maupun tangan tetua yang memegang bilah pedang. Tak terhitung berapa kali juga cakar yang bergerak begitu ganas mencoba mencabik-cabik tubuhnya. Tetapi semua tetap mampu diatasi dengan baik.


"Ampang nan limo Angin, Ampang nan limo Agni, Ampang nan limo Besi bergabunglah bersamaku!"


Kembali Datuk Bandaro memangil Roh Harimau setingkat panglima(ampang nan limo). Tetapi kali ini dia memangil tiga sekaligus. Setelah dia selesai merapalkan aura kekuatan besar hadir melingkupi tubuhnya.


Kali ini tetua mewaspadai kekuatan yang telah bergabung dalam diri Datuk.


Selesai jiwanya bersatu dengan tiga kekuatan yang dipanggil dia langsung melontarkan tubuhnya sekuat tenaga.


"Pukulan Harimau Ampang Aia(air)! Ampang Angin! Ampang Agni(api)! Ampang Besi!"


Dalam keadaan dirinya terbang menerjang dengan cepat, dia melepaskan empat pukulan jarak jauh secara berurutan. Pukulan dari Perguruan cabang itu memiliki sebutan pukulan harimau. Empat Pukulan Harimau itu sebagai pembuka jalan yang beriiringan dengan cepatnya luncuran tubuh Datuk Bandaro. Serangan utama yang berupa dua cakar ditangan segera bergerak cepat mencoba mencabik-cabik tetua. Terjangan tubuhnya memiliki kekuatan berkali lipat dari serangan sebelumnya.


Tetua Tunggak semi segera menghindari pukulan jarak jauh Datuk Bandaro. Saat dia sibuk menghindari pukulan jarak jauh saat itulah cakar-cakar Datuk menerjang dengan begitu buas disertai gerungan suara harimau membuat serangannya begitu mengerikan.


Para penonton bahkan sampai ketakutan seakan seekor harimau telah hadir dipodium. Hal itu membuat para penonton menjadi panik. Sehingga sempat terjadi kegaduhan diantara penonton. Beruntung para pengurus sekte segera bertindak cepat untuk menghentikan kepanikan penonton.


Terjangan cakar-cakar itu seakan ingin menjadikan tubuh tetua itu menjadi serpihan kecil-kecil. Pedang ditangan tetua segera menangkis semua serangan Datuk yang menyambar dengan ganas. Satu kelengahan sang tetua mengakibatkan satu pukulan jarak jauh yang belum sempat dihindari mengenai tubuhnya. Membuat tetua harus tersurut sampai dua langkah. Pukulan Ampang nan limo basi atau besi menghantam tubuhnya. Kelengahan tetua terjadi karena dia terlalu sibuk menangkis serangan cakar Datuk Bandaro yang menerjang dengan begitu buas.


Melihat serangannya telah masuk mengenai tetua Tunggak Semi tidak menghentikan serangan Datuk. Dia melanjutkan serangannya dengan lebih ganas. Bahkan tidak mengindahkan perintah Dewa Rencong untuk menghentikan serangannya. Menurut aturan setelah serangan peserta mengenai tetua maka pertarungan dianggab selesai dan kemenangan diperoleh peserta seleksi.


Sepertinya Datuk Bandaro telah kehilangan kesadarannya dan dikuasi sepenuhnya oleh roh harimau yang sudah bergabung dengan jiwanya. Beruntung Dewa Rencong segera bertindak cepat sehingga mampu menghentikan serangan Datuk Bandaro lebih jauh. Beberapa totokan ke arah tubuh Datuk Bandaro membuat tubuhnya kaku.


Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam yang merupakan guru dari Datuk Bandaro putih segera turun ke arah arena mencoba membantu Dewa Rencong.


"Mohon maaf Dewa Rencong sifat muridku yang keburu nafsu membuat kekuatan jiwanya kalah dengan Roh Harimau yang dia panggil."


Setelah wajahnya diusap oleh Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam kesadaran Datuk Bandaro telah kembali. Ditandai dengan perubahan wajahnya yang sebelumnya terlihat menakutkan telah kembali seperti semula. Dia sempat seperti kebingungan tetapi setelah melihat gurunya berada ditengah arena, segera dia menyadari bahwa dirinya sempat kehilangan kesadaran karena telah dikuasai roh harimau. Segera dia menjura kearah para tetua.


Tetua Tunggak Semi hanya tersenyum. Hantaman pukulan jarak jauh yang menerjang mampu bersarang pada tubuh tetua, membuat Datuk Bandaro memperoleh kemenangan dalam pertarungan itu.


Sebuah pertarungan yang sangat menegangkan akhirnya berakhir dengan sebuah kemenangan diperoleh Datuk Bandaro Putih.


Tetua Datuk Rajo Mustiko Alam yang merupakan guru dari Datuk Bandaro segera mengawal muridnya ke pinggir lapangan. Dia berniat menetralkan tubuh muridnya dan membersihkannya dari seluruh aura kekuatan yang bukan miliknya.


Setelah pertarungan Datuk Bandaro melawan tetua Tunggak Semi selesai, maka sesi pertarungan berikutnya segera dimulai dengan hadirnya tetua La Patiganna ditengah lapangan.


Dewa Rencong kemudian membacakan gulungan nama yang sudah ditangannya.


"Narashinga silahkan turun ke arena pertarungan tetua La Patiganna telah menunggu!"


Narashinga segera bangun dengan tersenyum mengembang berjalan ke arah arena. Tidak lupa dia mengangguk ke arah Suro sambil tetap memberikan senyumnya yang lebar. Dia begitu percaya diri setelah mampu menyerap khasiat obat yang telah diberikan Suro.


"Murid menghadap tetua, mohon petunjuk selanjutnya!"


"Tidak perlu berbasa basi silahkan nakmas menyerang jika sudah siap!"


"Nuwun injih tetua!" Kembali Narashinga menjura ke arah tetua.


Dia segera bersiap melancarkan serangannya. Seperti babak sebelumnya dia mulai mengempos tenaga dalamnya dan menjadikan udara disekitarnya mulai berkabut. Tetapi kali ini dia melakukan itu bukan untuk menutupi jejaknya dari lawannya.


Sejalan dengan langkahnya yang cepat ke arah tetua jarum-jarum es ikut menghujani secara terus menerus ke arah tetua. Membuat sang tetua menjadi begitu sibuk menangkis semua serangan jarum-jarum es yang menghujaninya. Dengan semakin tebalnya kabut yang dibuat Narashinga, membut serangan jarum es yang dikerahkan semakin bertambah banyak.


Narashinga kali ini mengunakan kemampuannya membuat kabut untuk dijadikan jarum kristal es. Serangan yang dia lakukan kali ini tidak dia lakukan setengah-setengah lagi. Hujan jarum es menemani setiap tebasan bilah pedang Narashinga.


"Pedang Bersatu Bersama Angin!"


Sabetan pedang Narashinga menerjang dengan begitu kuat. Serangan pedang Narashinga bukan sesuatu yang menyulitkan bagi tetua, tetapi serangan jarum-jarum es yang bergerak dari berbagai arah membuat dirinya harus meningkatkan kewaspadaanya.


Dengan berjalannya waktu kepulan asap kabut yang dibuat Narashinga semakin bertambah tebal. Seiring semakin tebalnya kabut semakin rapat pula serangan jarum kristal es yang menghajar tetua. Taulah kini bagaimana perasaan Suro yang harus menghadapi kepungan serangan yang mampu menerjang dari berbagai arah dalam satu waktu. Serangan jarum-jarum itu begitu kuat. Bahkan karena begitu kuatnya kristal es yang dibentuk Narashinga itu mampu menancap kedalam tembok-tembok di pinggiran arena.


Narashinga telah menyerang tetua dengan kekuatan yang tidak ditahan lagi. Setelah dia sebelumnya meminta pendapat dari para peserta lain yang telah melalui pertarungan pada babak ini.


Perkataan Azura masih terngiang-ngiang dikepalanya. 'Dengan semakin banyaknya peluang yang dimiliki maka semakin banyak juga kesempatan yang bisa digunakan untuk memperoleh kemenangan. Dengan menyerang dengan kekuatan penuh sejak awal pertarungan apapun hasil akhir yang diperoleh tidak perlu ada penyesalan lagi. Meski sebuah kekalahan yang akhirnya didapat, yang terpenting sudah berusaha keras sejak awal pertarungan.'


"Jurus Gelombang Pedang Menggulung Gunung!"


Serangan pedang Narashinga yang dikerahkan dengan kekuatan penuh dan diiringi hujan jarum es yang dia kendalikan, masih saja mampu ditepis semua oleh tetua La Patiganna. Walau kini wajahnya terlihat begitu tegang melayani serangan Narashinga.


'Edan, bocah ini menyerang dengan kekuatan begitu mengerikan. Pantas saja nakmas Suro harus menghancurkan arena pertarungan untuk menangkis semua jarum yang menerjangnya.' Tetua La Patiganna membatin setelah merasakan gempuran serangan pedang dan jarum es yang menghujaninya tanpa henti.


Narashinga yang telah memulihkan kekuatan tenaga dalamnya berkat obat yang diberikan Suro. Membuat chakra dalam tubuhnya dan darahnya bersirkulasi dengan begitu lancar. Sehingga membuat pengerahan tenaga dalamnya mampu menghimpun kekuatan yang begitu besar. Bahkan dia merasa seakan meledak dan memerlukan pelampiasan tenaga untuk mengurangi tekanan tenaga dalam yang dia himpun.


Serangan pedangnya yang dia lakukan meski telah dilambari kekuatan penuh masih tak mampu menembus pertahanan tetua.


Seiring dengan berjalannya waktu pertarungan sudah melewati dua puluh lima jurus. Tetapi semua serangan Narashinga yang begitu mematikan seperti menghantam tembok yang kokoh. Meski kabut yang dibentuk Narashinga sudah memenuhi arena pertarungan.


Buuk!


Sebuah tendangan tetua mengenai tubuh Narashinga entah bagian mana yang tertendang yang jelas tubuh Narashinga terlempar sampai keluar arena.


***


LANGKAH MENDAPATKAN BONUS POIN BAGI PARA PEMBACA, SEKALIGUS MEMBERIKAN BINGKISAN POIN AKHIR TAHUN BAGI AUTHOR