
Belum berhenti dari keterkejutannya atas kehadiran sesosok lelaki yang sangat mirip dengan Eyang Sindurogo, kini beberapa sosok lain telah bermunculan dan salah satunya langsung menyerang dirinya.
Trang!
Suro segera menangkis serangan yang begitu cepat. Pedang Pembunuh iblis yang telah berubah menjadi pedang kristal Dewa kekuatannya meningkat drastis. Bersama hantaman bilah pedang yang digenggam Suro, serta merta meledak lah kekuatan api hitam yang begitu besar.
"Kurang ajar ini racun api!"
Beruntung lelaki itu menyadari sesaat setelah hantaman pedang Suro yang membuat ledakan api, sehingga dia mampu menghindari sambaran api yang hendak menelan tubuhnya. Bahkan lelaki yang memiliki wajah masih relatif muda itu sampai tersurut beberapa tindak.
"Satu-satunya bilah pedang yang menyimpan kekuatan wisanggeni adalah bilah Pedang yang dimiliki Pedang iblis. Bagaimana ceritanya pedang milik dia bisa berada ditanganmu, bocah?" Lelaki itu masih terkejut dengan tebasan pedang Suro yang disertai semburan api hitam yang begitu besar.
Setelah berhasil menghindari serangan balik yang dilakukan Suro, dia menjadi begitu penasaran dengan pedang yang digunakan Suro. Matanya terbelalak saat melihat, bahwa pedang yang sedang dipegang Suro adalah bilah Pedang kristal Dewa yang tidak pernah dia lihat lagi. Sejak awal kemunculannya pertama kali yang sudah berlangsung ribuan tahun lalu.
"Mengagumkan sekali akhirnya aku bisa melihat kembali Pedang Pembunuh iblis telah berubah wujud menjadi pedang kristal Dewa. Bagaimana engkau bisa mendapatkan rahasia tentang Pedang Pembunuh iblis yang mampu menjadi senjata sekelas pusaka Dewa, dengan merubahnya menjadi Pedang kristal Dewa. Padahal tidak seorangpun tau caranya, kecuali yang empunya sendiri, yaitu Wisanggeni."
"Jadi katakan padaku, apa hubunganmu dengan Wisanggeni?"
"Eyang guru...! Eyang guru...ini aku Suro!" Suro tidak menjawab rentetan pertanyaan lelaki itu. Dia justru sibuk berteriak memanggil sosok yang melayang diatas menara tinggi ditengah wilmana itu.
"Aku tidak mengenal Wisanggeni? Aku juga tidak peduli dengan nama itu! Sekarang kau yang justru harus menjawab pertanyaanku. Apa yang telah kau lakukan kepada guruku? Bagaimana sekarang dia tidak bisa mengenaliku lagi?" Suro memandang Ke arah lawannnya dengan penuh amarah.
"Apa yang telah kau lakukan kepada Eyang guru?" Dia kembali berteriak sambil menebaskan pedangnya, sehingga lontaran api hitam langsung menerjang ke arahnya.
Terjangan api hitam membuat lelaki itu memilih menjauh. Sebab kobaran dari Pedang Pembunuh iblis itu sangatlah panas.
Entah bagaimana caranya api hitam yang sebelumnya melahap semacam pagoda ditengah wilmana itu, kini telah padam. Seharusnya api itu tetap akan menyala sampai semua menjadi abu, kecuali penguasa pedang itu menginginkannya padam.
Suro tidak menyadari jika api yang membakar bangunan itu telah menghilang. Karena dia sedang sibuk menghadapi lawannya yang kecepatannya begitu mengagumkan. Dia baru mengetahui api itu telah padam, setelah dia berhasil memukul mundur lawannya.
Suro kembali menatap ke arah lelaki yang masih melayang diudara. Dia masih sangat penasaran dengan sosok lelaki itu. Walaupun penampilannya jelas berbeda dari Eyang Sindurogo. Tetapi paras dan perawakannya tidak mungkin salah lagi, jika itu pasti Eyang Sindurogo gurunya.
Suro kemudian menyadari bahwa ada yang salah dengan ekspresi yang diperlihatkan sosok itu. Karena begitu datar tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Bahkan tidak memberikan reaksi apapun saat namanya dipanggil berkali-kali.
Selain itu Suro melihat sesuatu yang sangat ganjil terkait kedua bola matanya yang menyala merah seakan ada jilatan api yang berkobar keluar dari mata itu.
"Eyang guru!" Suro kembali berteriak ke arah lelaki itu. Tetapi lelaki itu tetap terdiam hanya sorot matanya begitu tajam menatap ke arah pertarungan yang sedang dia lakukan.
"Benarkah itu Eyang guru Sindurogo?" Melihat lelaki yang terbang itu tidak memberikan reaksi apa-apa, membuat tatapannya beralih ke arah orang yang baru saja menyerangnya.
"Disini tidak ada Eyang Sindurogo yang ada hanya Sang Hyang Junjungan Sukmo Ngalemboro." Lelaki yang berada dihadapan Suro yang menjawab sambil kembali menyerang Suro.
Kecepatan lelaki itu lebih cepat daripada serangan sebelumnya, tetapi setelah Suro menghisap awan hitam dalam jumlah yang sangat banyak, kini gerakan tubuhnya menjadi begitu ringan. Sehingga kecepatan tubuhnya mampu mengimbangi serangan lawan yang bergerak begitu cepat.
"Aku Sang Hyang Sarawita tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama! Entah siapa dirimu tetapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi penghalang rencana besarku!" Sambil berbicara lelaki itu kembali menyerangnya dengan kecepatan yang berkali lipat lagi.
Traang!
Hantaman pedang lawan mengenai pundaknya dengan telak. Suro terpental cukup jauh. Namun saat terpental itu, justru beberapa kali Suro berhasil melesatkan sinar dari ujung jari telunjuknya ke arah lawannya.
Kecepatan lelaki itu begitu mengagumkan, sehingga mampu menghindari semua lesatan sinar yang dikerahkan Suro.
Lelaki itu kembali terkejut saat Suro mampu bangkit setelah terhantam kerasnya tebasan pedang miliknya
"Bagaimana mungkin pakaian perang itu mampu menahan kekuatan bilah pedangku? Apakah zirah itu juga pusaka kelas Dewa? Darimana kamu mendapatkan murid sekuat ini, Sidurogo? Jika tidak aku habisi sekarang juga bocah ini pasti akan menjadi ancaman besar. Mumpung belum mencapai kekuatan puncaknya lebih baik sekarang juga akan aku habisi dirimu bocah!" Lelaki yang mengaku Sang Hyang Sarawita itu lalu kembali menyerang Suro.
Apa yang dikatakan lelaki itu bukan omong kosong sebab kali ini dia menyerang Suro dengan lebih kuat dan lebih cepat dari sebelumnya. Entah seberapa kuat orang itu yang jelas serangan ini pun bukanlah kekuatan puncaknya. Tetapi lelaki itu selalu menghindari kuatnya hempasan api hitam yang melambari bilah pedang Suro.
Meskipun tingkat kekuatan lelaki itu begitu dahsyat, namun Suro tidak begitu saja bisa ditundukkan. Meskipun berkali-kali pedang lawan mengenai tubuhnya dan membuat tubuhnya terhempas beberapa kali, tetapi permainan pedang dipadu jurus Tapak Dewa Matahari membuat lawannya juga dibuat kewalahan. Puncaknya saat sinar dari ujung jari telunjuknya menghantam bagian dada lawannya hingga jebol.
"Mengapa seharian ini aku bertarung dengan orang yang bukan makhluk sewajarnya?" Suro tidak terkesima melihat musuhnya yang telah jebol dadanya masih dapat bangkit kembali dengan cepat. Sebab bukan kali ini saja dia pernah bertempur dengan makhluk yang memiliki kemampuan seperti yang sedang dia hadapi sekarang.
"Kau ini sebenarnya siapa? Bagaimana bisa tiba-tiba eyang guru yang terjebak di dimensi lain, kini sudah bersama kalian?"
"Dan darimana kalian mendapatkan sebuah istana yang mampu terbang seperti ini? Apakah paman ini sejenis Dewa yang tinggal di negeri atas awan? Tetapi mengapa seorang Dewa memiliki tampang sebegitu jeleknya. Bahkan paman Kolo Weling yang tampangnya penuh codet lebih ganteng daripada paman?" Suro menatap tajam ke arah lawannya yang telah memulihkan luka didadanya dengan cepat.
Sang Hyang Sarawita terkekeh mendengar ucapan Suro menyerocos seperti burung Betet.
"Aku tidak menyangka jika muridnya saja sudah begitu mengerikan jurus yang dikerahkan. Tidak salah kalau kau memang murid dari Sindurogo. Agar kau tidak mati penasaran bocah, jika tanpa tipu daya yang membuatnya terjebak terlebih dahulu, aku yakin tidak akan bisa menguasai gurumu lelananging jagat semudah sekarang ini."
"Berarti memang kalian sengaja menjebak guruku masuk ke alam lain, sehingga membuat dirinya langsung menghilang ditelan pintu dimensi itu. Sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan padanya? Sejak awal aku menyadari ada yang salah dengan sikap eyang guru dengan penampilannya yang tidak wajar ini. Reaksi yang terukir di wajahnya begitu datar tidak bedanya dengan sebuah patung. Sihir apa yang sebenarnya kalian gunakan, sehingga mampu membuat eyang guru tak ubahnya menjadi seperti sebuah wayang. Aku yakin kalian sekarang bisa memainkannya sesuka hati seperti seorang dalang."
Sang Hyang Sarawita terkekeh mendengar perkataan Suro yang mencoba mencari tau, tentang kondisi gurunya yang telah berubah menjadi seseorang yang lain.
"Sepertinya hari ini aku akan mendapatkan sebuah pertunjukan yang menyenangkan. Aku akan tunjukan kepadamu betapa dahsyatnya gurumu setelah aku jadikan boneka. Hahahahaha...!" Lelaki itu tertawa keras sambil melentingkan tubuhnya kebelakang menjauhi Suro. Dia langsung melesat ke atas bangunan ditengah wilmana.
"Sang Hyang Sukmo Ngalemboro hamba mohon bantuan pepulun, habisi bocah itu!" Lelaki itu menunduk didepan Eyang Sindurogo seperti menyembah selayaknya kepada seorang raja besar.
"Akan aku habisi bocah itu jika itu kemauanmu?" Pedang Chandrahasa atau pedang bulan yang dipeggang Eyang Sindurogo yang telah kehilangan ingatan berubah memerah pertanda suhunya naik secara cepat. Kekuatan panas yang dilepaskan bilah pedang itu begitu kuat.
"Nuwun inggih Hyang pepulun. Hamba mohon bantuan Hyang pepulun!" Sebuah senyuman terukir dibibir Sang Hyang Sarawita atau juga dipanggil Batara Sarawita saat dia menunduk diatas bangunan itu.
Dari jauh Suro melihat bilah Pedang Chandrahasa semakin memerah mengepulkan asap menandakan bahwa pedang itu berubah menjadi sangat panas, membuat Suro tersurut beberapa langkah.
'Jangan khawatir bocah, api hitam milikku ini adalah jenis api terkuat. Apalagi bilah pedangku telah engkau tempa dengan kekuatan yang sangat besar membuat bilah pedangku setara dengan pusaka Dewa.'
'Bukan pedang itu yang aku takutkan Lodra, tetapi justru orang yang memegang bilah pedang itu. Sebab kekuatan yang di milikinya, walau seorang diri mampu menghancurkan sebuah kerajaan besar sekalipun. Karena dia adalah orang terkuat yang tidak ada tandingannya dikolong langit Benua Timur ini.'
'Jika kau ingin tau seberapa kuatnya kekuatan yang dimilikinya sepuluh kali lipat dibandingkan orang yang telah membuat buntung tuanmu sebelumnya.'
Tetapi saat Suro melihat Eyang Sindurogo melayang turun dari ketinggian dia baru menyadari, seperti yang dikatakan Lodra aura kekuatan yang muncul bukanlah milik gurunya.
**
**Terima kasih semua yang tetap setia membaca novel ini. Tetap ditunggu dukungannya agar authornya tambah semangat menulisnya. Thanks buat yang sudah mendukung dalam bentuk sumbangan poin, koin, dan like juga komentarnya.
Maav tidak bisa saya sebutkan satu persatu nama yang telah mendukung novel ini.
Suwun