
“Gawat, cepat kerahkan kekuatan kalian untuk membantu Tuan
Suro menguasai kegelapan ini!” teriak Geho Sama yang melihat serangan Dewa Kegelapan dengan begitu ketakutan.
Mata Geho Sama melihat seluruh alam semesta kegelapan dimana mereka berada seakan jutaan kuku yang siap mencincang mereka dari segala arah. Kini tidak ada tempat bagi mereka dapat melarikan diri apalagi untuk sembunyi.
Kini Geho Sama hanya bisa meruntuk dan memasrahkan diri kepada kekuatan Suro yang mencoba menguasai kekuatan dari kegelapan. Jika rencana mereka gagal, maka tidak ada lagi dirinya alias lenyap tanpa sisa.
Rupanya ada hal besar yang di dapat dengan membawa pertempuran di dunia kegelapan, yaitu mereka akan terjebak di dalam dunia kegelapan sampai salah satu ada yang mati. Entah itu Suro atau Dewa Kegelapan.
Namun Geho Sama memilih mengambil resiko itu dan tetap membantu Suro, sebab mustika jiwanya ada di dalam Suro. Andai pun dia tidak ikut dan Suro mati, maka dia pun ikut mati. Oleh karena itu dia memilih bertempur bersandingan bersama Suro. Apalagi selama ini dia sudah cukup lihai
menguasai kekuatan kegelapan. Walaupun sekala dalam penguasaannya tidaklah sama dengan kekuatan milik Dewa Kegelapan.
Duuuuuuuuuuuuuum!
Suro yang melihat serangan itu hanya bisa pasrah, sebab dia tidak mampu mengerahkan kekuatan kegelapan yang dapat menghadang serangan Dewa Kegelapan. Begitu mengerikannya serangan yang datang sampai membuat Geho Sama
sekalipun bergetar hebat.
Hasil dari serangan yang datang dari berbagai arah dan tidak dapat dihindari itu akhirnya sudah dapat ditebak dengan mudah oleh Dewa
Kegelapan, jika Suro tidak mampu menahannya dan musnah tanpa bekas.
Hanya saja dia tidak memperlihatkan sebuah senyuman kepuasan meskipun telah berhasil menghabisi lawannya, sebab dia mengetahui apa yang akan bakal terjadi. Meskipun begitu matanya memincing sesaat setelah dia berhasil menghabisi Suro, sebab dia tidak kembali berada dalam pertempuran yang berada
di atas Gunugn Mahameru, namun tetap berada di Dunia Kegelapan.
“Apa yang sebenarnya direncanakan manusia sialan itu, bukankah dia mengetahui aku tidak akan terkalahkan saat berada di sini?” tanya Dewa Kegelapan dalam hati dengan penuh penasaran.
Kini pandangan Dewa Kegelapan tertuju pada Suro yang telah berdiri utuh
seperti semula seperti tidak pernah terjadi serangan yang dia lakukan
sebelumnya. Begitu juga yang terjadi pada Geho Sama kembali hidup setelah tubuhnya hancur lebur tanpa sisa.
“Astaga, aku masih hidup rupanya, syukurlah,” gumam Geho Sama yang terkejut saat menyadari dirinya hidup kembali dan tidak mati setelah
terkena serangan dari Dewa Kegelapan yang telah menghancurkan tubuhnya.
“Ini adalah kekuatan dari Pusaka Kalacakra milik Sang Hyang Ismaya,” ujar Suro menjelaskan secara singkat kepada Geho Sama yang masih tidak
mempercayai dirinya kembali hidup.
“Kau pikir aku tidak tahu, dasar bocah sialan!” gerutu Geho Sama yang awalnya tidak mengerti mengapa saat serangan Dewa Kegelapan datang dia melihat Suro terlihat begitu tenang. Geho Sama melihat Suro tidak menujukkan rasa takut sedikitpun dengan dahsyatnya serangan lawannya.
“Aku pikir kau tahu, sebab tubuhmu menggigil seperti orang
ketakutan,” sahut Suro.
“Bocah bodoh, bagaimana aku tidak takut, karena itu artinya
“Padahal kini pun aku masih dapat membayangkan rasa sakit yang tadi aku rasakan saat kulit dan dagingku hancur terkena serangan Dewa Kegelapan?” sambung Geho Sama sambil bersungut-sungut.
“Jangan terlalu dipikirkan Geho Sama, bukankah kau hanya merasakan dalam waktu sesaat sebelum akhirnya kau mati dan kembali ke waktu saat ini?” sahut Suro.
“Jangan terlalu dipikirkan matamu, apakah kau benar-benar tidak memperdulikan dengan rasa sakti yang kau rasakan sebelumnya?” ucap kesal Geho Sama yang melihat seakan Suro tidak memperdulikan rasa sakti menjelang dia mati.
Padahal dia yakin Suro pasti juga merasakan seperti apa yang dia rasakan sebelumnya. Sebab dia melihat sendiri, jika tubuh Suro juga ikut hancur terkena serangan Dewa Kegelapan.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan anak manusia dengan
tetap bertarung di tempat ini?’” seru Dewa Kegelapan yang tidfak mampu menutupi penasarannya.
“Kau akan tahu setelah aku berhasil menghabisimu!” balas Suro yang masih berusaha menguasai unsur kegelapan.
“Benarkah kau mampu menghabisi diriku saat aku berada di Dunia Kegelapan ini?” ucap Dewa Kegelapan yang langsung diiringi suara tawanya yang menggelegar sekaan hendak meruntuhkan apapun yang ada di alam itu.
“Jika kau mampu, maka kau melampaui para dewa yang dahulu
berusaha menyegelku!” ucap Dewa Kegelapan yang langsung mengerahkan serangannya dengan lebih mengerikan lagi.
Ledakan tanpa api dan cahaya itu menerpa Suro dari segala arah ketika kekuatan Dewa Kegelapan menghantam mereka. Namun mata Dewa Kegelapan kali ini terpana, sebab sebuah bola melindungi tempat dimana Suro berdiri mengambang di udara bersama Geho Sama dan juga para tubuh gaibnya.
“Mustahil! Tidak aku kira ada manusia yang mampu melakukan
hal seperti ini, tidak juga para dewa yang pernah aku habisi dahulu,” ucap Dewa Kegelapan yang menyaksikan Suro kali ini mampu bertahan dari serangan yang dia kerahkan.
Tentu saja Dewa Kegelapan terpana dengan apa yang dilakukan Suro. Walaupun pertahanan yang dibuat Suro itu tidak bertahan dan akhirnya
hancur, namun itu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa.
Sebab kekuatan yang dia gunakan itu adalah kekuatan yang dia gunakan untuk menghancurkan para dewa.
Keputusan Suro yang membawa pertempuran ke dalam dunia kegelapan telah membuat kekuatan Dewa Kegelapan pada posisi puncaknya.
Hal yang tidak dapat dia pikirkan dan tidak dapat dia kira melihat Suro mampu menghadang kekuatannya. Karena memang tidak ada lagi tempat bagi Suro dapat menghindar meskipun itu sejengkal, sebab setiap inci dari Dunia Kegelapan itu berada dalam kendalinya.
Serangan barusan kembali menghabisi Suro dan Geho Sama,
namun seperti sebelumnya juga waktu kembali di bawa mundur dan berada pada saat Suro berhasil membawa Dewa Kegelapan berada di alam kegelapan.
“Aku ingin melihat, apakah kau masih mampu menahan seranganku berikutnya!” seringai Dewa Kegelapan yang kembali mengerahkan kekuatannya. Seketika dari berbagai arah muncul godam yang besarnya setara bulan dengan jumlah yang tidak dapat dihitung.
“Cepat bocah sialan lakukan yang terbaik aku tidak mau merasakan mati, segala kekuatan yang telah aku salurkan itu berisi segala pengetahuan yang aku miliki untuk mengendalikan kekuatan kegelapan,” ucap Geho Sama yang terus menempelkan telapak tangannya ke arah pungung Suro bersama tubuh gaib yang lain.
“Aku mengerti kekhawatiranmu Geho Sama, aku akan berusaha keras, tetapi seandainya ini tidak bertahan, kau sudah tahu bukan jika aku telah mengaktifkan Pusaka Kalacakra, maka kita akan kembali pada saat kita baru muncul di Dunia Kegelapan ini seperti yang terjadi barusan?”
“Cepat hadang serangan makhluk sialan itu!” teriak Geho Sama yang hanya bisa pasrah menyaksikan ribuan godam raksasa menerjang ke arah mereka seakan hujan yang datang dengan begitu derasnya.