SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 90 SERANGAN BANASPATI



Suro akhirnya telah membuktikan perkataan tetua Dewi Anggini mengenai tehnik empat sage yang mampu menyerap kekuatan siluman. Dan terbukti apa yang diucapkannya itu memang benar adanya. Seperti yang dikisahkan dalam cerita siluman Geho Sama. Sebab setelah tehnik itu dikerahkan, seluruh tubuh ular raksasa yang sedang membelit Suro justru ikut terserap bersama kekuatan empat anasir alam lainnya yang berada disekitarnya.


Siluman ular itu sebagian tubuhnya berbentuk menyerupai tubuh manusia memiliki kepala, tangan dan badan selayaknya manusia, walaupun tidak benar-benar mirip karena wajahnya begitu menakutkan dengan gigi hanya memperlihatkan taringnya saja. Lidahnya bukan seperti milik manusia pada umumnya, lebih pantas disebut lidah ular. Hidungnya juga tidak seperti bentuk hidung manusia, walaupun sama-sama memiliki dua lubang. Seluruh tubuhnya itu bersisik menghitam dan agak kehijauan seperti tertutup lumut.


Rambutnya tidak pantas disebut sebagai mahkota kepala, karena hanya beberapa ratus lembar saja. Lebih mirip ijuk yang kasar daripada disebut rambut atau justru mirip duri landak, walau menjuntai panjang ke bawah. Seperti badannya, dikulit kepalanya yang hampir plontos itu tertutup oleh sisik-sisik yang bentuknya lebih kecil dibandingkan yang berada dibadan sampai ke ekor.


Tubuh ular itu begitu besar bergerak menggulung dan melilit mencoba meremukan seluruh tulang belulang Suro. hingga tubuh Suro tidak terlihat sama sekali.


Begitu tehnik empat sage dikerahkan dengan kekuatan maksimal seluruh tubuh ular itu terhisap Semuanya musnah tidak berbekas sama sekali. Bahkan Suro sendiripun tidak menyangka dengan kedahsyatan tehnik yang sejak dulu dia kuasai itu.


Setelah kejadian itu mereka tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan susulan yang berasal dari siluman ular lainnya. Kemudian setelah merasa kondisi sudah cukup aman, segera Dewa Rencong mengajak Suro kembali ke kapal.


"Sebaiknya kita kembali saja ke kapal nakmas. Aku rasa sudah tidak ada lagi siluman ular yang datang menyerang. Lebih baik kita secepatnya melanjutkan perjalanan menuju Ujung Para."


"Nuwun inggih paman." Suro segera mengikuti Dewa Rencong berlari beriringan menuju kapal.


Setelah sampai dikapal Suro segera mengutarakan apa yang sejak tadi membuatnya gelisah.


"Paman Pendekar sebaiknya Suro harus segera bermeditasi ada sesuatu yang agaknya mengganggu saya paman, setelah menghisap siluman ular itu. Entah perasaan apa membuat Suro merasa tidak nyaman?kemungkinan ini adalah aura negatif milik siluman itu ikut terhisap dalam diriku."


"Selain itu sebenarnya Suro juga tidak mengetahui efek apa yang timbul dikemudian hari, jika menghisap kekuatan bangsa siluman itu. Untuk menghindari kejadian buruk yang akan timbul dalam diri Suro, sebaiknya dari sekarang saya harus mengantisipasinya terlebih dahulu."


"Benar apa yang nakmas katakan. Sejak awal kita harus mengantisipasi hal yang buruk yang bisa saja terjadi akibat menyerap kekuatan para siluman."


"Selain itu ular-ular siluman itu kemungkinan telah melarikan diri tidak lagi berani menyerang kita nakmas. Apalagi setelah pemimpin dari ular-ular itu telah berhasil nakmas Suro serap sampai tak menyisahkan apapun. Jadi nakmas bisa leluasa menggunakan waktu untuk bermeditasi tanpa memikirkan serangan susulan dari para siluman."


"Ini juga pengalaman paman pertama kalinya menghadapi para bangsa siluman. Paman juga tidak menyangka dengan ketahanan tubuh mereka yang tidak mempan oleh energi tebasanku yang aku kerahkan dengan maksimal. Aku yakin jika energi tebasanku itu mengenai sebuah bukit pasti akan hancur. Tetapi entah mengapa hanya membuat tubuh siluman itu terlempar jauh."


"Silahkan nakmas bermeditasi. Paman dan yang lainnya akan tetap berjaga semua untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan."


"Baik, terima kasih paman." Suro segera berjalan menuju kamarnya untuk memulai bermeditasi.


'Aku tidak menyangka bocah itu kekuatannya begitu menakutkan. Pantas saja waktu itu Dewa Pedang pernah sesumbar jika kekuatan bocah itu mampu melampaui kekuatan dari Eyang Sindurogo.' Dewa Rencong memandangi punggung Suro yang berjalan menjauh menuju kamarnya. Pertarungan barusan membuat dirinya kembali mengingat perkataan Dewa Pedang mengenai kemampuan Suro.


Suro segera bersila kemudian tangannya membentuk dhyana mudra untuk mempermudah dirinya mencapai tahap ketenangan Nirvana dalam samadhinya. Dengan tehnik sauca atau pemurnian dalam dan luar dibantu dengan tehnik pranayama Suro mulai membersihkan aura negatif yang berasal dari kekuatan siluman yang baru saja dia hisap.


Selain untuk menghilangkan aura negatif tahap samadhi yang dilakukan Suro juga bertujuan membantu dirinya memurnikan kekuatan siluman yang telah masuk dapat diolah dengan sempurna sehingga dapat bercampur dan menjadi bagian dari tenaga dalamnya.


Dia harus melakukan samadhi itu, sebab dia tidak mengetahui dampak buruk yang akan diterima jika tidak segera membersihkan energi negatif yang telah memasuki tubuhnya. Dia hanya berusaha mengantisipasinya dengan berusaha mengusir aura negatif siluman yang mungkin saja dapat memberi pengaruh buruk kepada dirinya dikemudian hari. Ini pengalaman pertama bagi dirinya menggunakan tehnik itu untuk menyerap kekuatan makhluk lainnya. Dia merasakan ledakan energi dalam tubuhnya meningkat drastis.


Suro benar-benar tidak menyangka kekuatan tehnik itu begitu mengagumkan. Pantas saja Eyang Sindurogo selalu mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kekuatan tehnik itu tidak lebih dari sepuluh persen saat dalam pertarungan. Kini dia menyadari dibalik alasan itu adalah, untuk menghindari baik kawan maupun lawan agar tidak terhisap seperti siluman ular barusan.


Selain itu juga Eyang Sindurogo juga mewanti-wanti dalam menggunakan kekuatan itu, hanya untuk menyerap energi alam tidak lebih dari itu. Tetapi agaknya kondisi yang barusan dia lakukan adalah kondisi yang masuk dalam pengecualian selama dirinya masih mampu mengatasi efek buruk yang akan terjadi.


Kini dia bisa memahami tentang cerita Geho sama yang memiliki kekuatan tak tertandingi setelah menyerap ribuan Raja dan Ratu siluman. Karena dia juga merasakan kekuatan begitu besar telah masuk dalam tubuhnya seiring lenyapnya siluman yang melilit tubuhnya.


Dewa Rencong, Mahadewi, Made Pasek tetap berjaga selama perjalanan mengantisipasi datangnya serangan siluman ular lainnya yang mungkin saja sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Tetapi hingga mereka sampai dipelabuhan Tanjung Para, tidak ada satu pun serangan susulan dari siluman ular yang muncul.


Para siluman itu kemungkinan telah mundur teratur. Apalagi setelah pemimpinnya yang memiliki tubuh setengah manusia berhasil dihisap Suro, tentu membuat para siluman ular itu ketakutan.


Sampai di pelabuhan Tanjung Para tidak banyak aktifitas yang terjadi. Bahkan semua kapal hampir tidak ada yang berani berlayar. Semua bersandar. Justru para nelayan telah menghentikan aktifitasnya sudah sejak semalam. Hal itu dikarenakan amukan siluman sejak semalam telah banyak menghancurkan kapal nelayan.


Mereka semua awalnya terkejut ada kapal jung yang dari sebrang selat berhasil menepi di pelabuhan Tanjung Para. Sebab dari semalam sudah delapan kapal nelayan dan ditambah kejadian tadi pagi satu kapal jung hancur diamuk siluman ular.


Para nelayan dan para pemilik kapal segera mengrubungi nahkoda kapal yang ditumpangi Suro. Mereka begitu penasaran dan ingin mencari tau tentang bagaimana kapalnya bisa selamat dari serangan para siluman ular.


Nahkoda kapal itu segera menceritakan apa yang dia lihat saat berada ditengah lautan. Bagaimana para penumpangnya mampu menghabisi semua siluman ular yang menyerang sampai habis tak tersisa. Para pemilik kapal dan nelayan begitu terkesima mendengar cerita nahkoda itu. Karena dia menceritakan begitu mendetail dari setiap moment yang mampu dia tangkap dengan matanya langsung.


Cerita tentang para pendekar yang berhasil menghabisi siluman ular di selat Juwana begitu cepat menyebar. Hal itu menjadi perbincangan di seantero Ujung Para.


Setelah turun dari kapal jung Dewa Rencong dan yang lainnya segera bergegas menuju kademangan Kalinyamat sebelum nantinya terus lanjut menuju Kadipaten Banyu Kuning.


Sekali mereka menyempatkan untuk mengisi perut, kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka seperti bekejaran dengan waktu agar bisa secepatnya sampai di Kadipaten Banyu Kuning.


Setelah istirahat terakhir itu mereka kehilangan jejak keberadaan Suro. Mereka sebelumnya disuruh duluan oleh Suro saat mereka akan meninggalkan rumah makan dimana sebelumnya mereka mengisi perutnya.


Setelah sampai dipinggir hutan mereka memilih berhenti menunggu kedatangan Suro, sambil membiarkan Kuda mereka merumput. Agak lama mereka menunggu kedatangan Suro yang tidak juga kelihatan batang hidungnya.


Perjalanan mereka selanjutnya adalah melewati hutan lebat didepan mata mereka. Karena tujuan perjalanan mereka Kademangan Kalinyamat berada dibalik hutan itu.


"Cilaka paman, cilaka paman!.. cilaka!" Suro yang datang belakangan segera berlari ke arah Dewa Rencong kuda dia ikat sembarangan di akar pohon yang tidak begitu jauh dari jangkauannya. Dewa Rencong segera berdiri dengan penuh kewaspadaan. Mahadewi dan Made Pasek tidak ketinggalan segera mencabut bilah pedangnya. Mereka semua mengira telah terjadi hal yang gawat dengan kedatangan Suro yang tergopoh-gopoh.


Dewa Rencong sudah terlihat kesal, karena Suro tidak segera menyusul setelah istirahat terakhir di warung makan dikampung terdekat. Padahal mereka semua telah melihat dia sudah selesai makan. Mereka sempat berpikiran yang macam-macam, takut terjadi sesuatu yang menimpa dirinya.


"Ada apa nakmas Suro? Apakah terjadi serangan siluman didesa yang barusan kita lewati?"


"Bukan! Bukan!...Ini lebih gawat" Suro tidak segera menjawab dia mengatur nafasnya terlebih dahulu karena barusan dia harus memacu kudanya seperti kesetanan setelah mengetahui dirinya ketinggalan cukup jauh.


"Lebih gawat dari pada itu paman pendekar!"


"Lebih gawat? Memang berita apa yang lebih gawat dibandingkan dengan serangan siluman?"


"Lalu apa yang gawat dari berita itu?"


"Anu paman, terjadi pemalsuan warta!"


"Pemalsuan warta? Maksudnya bagaimana nakmas? Paman tidak paham dengan arah pembicaraan nakmas."


Bukan saja Dewa Rencong saja tetapi Mahadewi dan Made Pasek ikut memincingkan matanya mendengar Suro berbicara berputar-putar tidak jelas. Mahadewi dan Made Pasek yang sudah mencabut bilah pedangnya kembali memasukan kedalam sarungnya.


"Anu paman mereka menyebut nama orang yang telah berhasil membunuh para siluman itu dengan sebutan Pendekar Gemblung! Apa itu tidak memalsukan Kabar, paman? Bukankah yang membunuh itu saya."


Dewa Rencong menepuk-nepuk jidatnya sambil menahan marahnya.


"Dasar bocah gemblung aku pikir hal penting apa. Ternyata masalah itu."


"Hehehe iya paman masalah itu, tetapi apa itu bukan hal yang gawat paman. Apa kata Eyang Guru nanti jika saya dikenal sebagai Pendekar Gemblung? Apa dia nanti tidak meceramahi Suro dari pagi ketemu pagi paman? Hal yang sangat gawat itu paman!"


Dewa Rencong hanya bisa mengaruk-garuk pipinya mendengar pengaduan Suro.


"Bukannya nakmas sendiri yang menyebut diri nakmas dengan panggilan Pendekar Gemblung saat berhadapan dengan siluman ular?"


"Tetapi Masa aku disebut Pendekar Gemblung apa tidak biadab orang sudah menyebutku gemblung, paman?"


Mahadewi dan Made Pasek hanya bisa mengaruk-garuk kepala mendengar perkataan Suro yang tidak penting itu. Mahadewi mulai mengerutu karena harus menunggu Suro begitu lama hanya untuk sebuah berita yang sangat tidak penting itu.


Mata Dewa Rencong langsung melotot menatap Suro. Tentu saja dia merasa tersentil dengan perkataan Suro barusan karena yang pertama kali dan paling sering dan juga yang memberi nama pendekar gemblung adalah dirinya.


"Ma...maksud Suro bukan paman tetapi tadi orang-orang yang sedang berada diwarung. Hehehehe...!" Kali ini gantian Suro yang mengaruk-garuk kepalanya salah tingkah dengan pandangan Dewa Rencong yang melotot ke arahnya.


"Ah!....Suro rasa pasti paman nahkoda kapal itu yang menyebarkan nama pendekar gemblung. Karena waktu itu aku menyebutnya dengan begitu keras. Pasti gara-gara itu dia mengira namaku Pendekar Gemblung ."


"Gara-gara kakang kita akhirnya menginap di hutan ini!" Mahadewi mendengus kesal karena malam sudah mulai menghampiri. Matahari sudah mulai tenggelam. Jarak ke perkampungan terdekat adalah kampung yang barusan dilewati. Dan itu membutuhkan waktu setengah hari perjalanan kuda.


"Maaf saya pikir itu berita penting untuk didengar? Hehehe...!"


"Berita penting kepalamu!" Dewa Rencong ikut mendengus kesal dia lalu melangkah menghampiri kuda miliknya yang masih asik merumput.


"Malam ini kita akan menginap disini!" Dewa Rencong berbicara tanpa menoleh ke arah Suro dan lainnya. Agaknya dia benar-benar kesal dengan kelakuan Suro yang bertingkah begitu konyol.


Hikikikiki... wweerrrr!


Hikikikiki...wweeerrr!


Mendadak kuda-kuda mereka meringkik keras. Mengangkat-angkat kaki depannya.


"Kliwon! Hissssshhh! Kilwon!" Dewa Rencong segera memegang kekang kuda sambil mencoba memenenangkannya.


Belum selesai mereka terkejut dengan ringkikan kuda mereka yang berubah menjadi liar dari arah barat rentetan bola-bola api menghajar mereka semua.


Buuuum! Buuuum! Buuuuum!


Suara ledakan segera terdengar memecahkan kesunyian hutan. Bola-bola Api besar itu kembali menerjang ke arah mereka.


Buuuum! Buuuum! Buuuum!


Semua berjumpalitan menghindar dari serangan yang datang mendadak. Mereka belum mengetahui lawan yang akan mereka hadapi, karena wujud dari penyerangnya belum muncul.


"Serangan apa ini paman?"


"Tidak tau nakmas! Sebaiknya kalian semua tetap waspada!"


"Lihat sebelah utara dan barat ada api terbang!" Mahadewi berteriak histeris sebelum kembali serangan api dari dua arah yang berbeda itu menerjang dengan cepat.


Kali ini Dewa Rencong tidak membiarkan bola-bola api menerjang ke arah mereka. Energi tebasan angin segera menghalau dan menghajar sesosok yang terbang mendekat ke arah mereka.


Energi tebasan angin itu menerjang sejauh dua puluh tombak membelah hutan rimba itu seperti baru saja diterjang raksasa yang mengamuk. Semua pohon hancur lebur termasuk batu dan tanah ikut terbelah lebar sedalam lebih dari tiga tombak membentuk jurang baru.


Siluman itu terlempar jauh begitu energi tebasan itu mengenai mereka.


"Waspada kalian semua! Itu siluman Banaspati!" Dewa Rencong masih sempat memperingatkan ke semua akan bahaya yang mereka hadapi kali ini. Tubuh Dewa Rencong melesat menuju utara mengejar Banaspati yang terkena serangannya.


**


Tetap ditunggu dukungan anda semua pada novel SURO BLEDEK ini berupa like, comment, point dan **koin.


Terima kasih kepada semua yang telah membaca novel ini terutama yang telah mendukungnya.


Suwun**