
"Kurang ajar! Makhluk apa sebenarnya kalian ini!" Kemarahan, kekesalan dan kengerian Lam Thian bercampur aduk menjadi satu seperti adonan yang tidak bisa diketahui mana yang paling dominan.
Melihat wakil ketua perguruan miliknya mati dengan begitu menggenaskan, membuat Lam Thian seperti disambar geledek. Dia tidak mampu mencerna kejadian yang barusan terjadi adalah nyata bukan mimpi.
Dia mengetahui secara persis seberapa kuat dan mematikannya jurus dan ilmu racun yang dimiliki wakil ketua Hong Shan. Dia adalah orang terkuat kedua setelah dirinya.
Gelar pendekar Katak Kematian bukanlah isapan jempol belaka. Gelar itu didapatkan, karena reputasinya yang sangat mengerikan bagi kawan maupun lawan.
Hampir tidak ada yang pernah selamat jika bertarung dengan lelaki itu, kecuali segelintir kecil saja. Termasuk didalamnya yang masih selamat adalah Dewa Obat yang hampir mati keracunan terkena serangan tapak Kehancuran milik Hong Shan.
Tetapi kali ini dia melihat sendiri bagaimana jurus Tapak Kehancuran itu telah dipecundangi oleh lawannya. Sebab bukan hanya tidak berusaha menghindar, justru sosok yang berhadapan dengan wakil ketua Hong Dong menyerap sampai habis tidak tersisa racun ganas milik lawannya.
Tentu kejadian didepan matanya itu membuat semua tersentak tidak mampu mempercayainya, termasuk dirinya sebagai ketua Perguruan Lembah Beracun.
"Mereka adalah para dewa yang hendak mencabut nyawamu Lam Thian!" Teriakan Dewa Obat menjawab gerutuan penuh kekesal ketua Lam Thian.
Tentu saja sontak teriakan itu semakin membuat panas kuping dan seakan hendak meledakkan kemarahan yang sudah berada diubun-ubun kepala ketua Lam Thian. Rasanya dia ingin mencacah tubuh Dewa Obat selagi masih bernafas sampai tidak terhitung jumlahnya.
Apalagi sejak awal ditambah dengan kematian Hong Shan, serangan panah chakra yang dikerahkan Dewa Obat semakin menggila. Akibatnya anggota perguruan miliknya semakin banyak yang mati.
Jurus panah seribu atau Janu Sahasra memakan korban yang lebih banyak dibandingkan serangan Suro maupun Geho sama. Apalagi lelaki itu terus melepaskan jemparing atau anak panahnya tanpa takut diserang oleh musuh.
"Serang berikutnya kita akan gunakan Formasi serangan Angin Hitam!" Ketua Lam Thian mulai memberikan perintah kepada bawahannya.
Ketua Lam Thian berencana menggunakan serangan gabungan untuk memastikan kali ini mereka berhasil menghabisi Suro.
Dia tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri, setelah melihat serangan balik yang dilakukan Suro. Apalagi setelah melihat nasib wakil ketua Hong Shan, membuat ketua Perguruan Lembah Beracun cukup berhati-hati dan tidak berani meremehkan kekuatan musuhnya.
Sebelum dia mengerahkan serangan terkuat perguruan mereka, ketua Lam Thian terlebih dahulu memerintahkan beberapa tetua dan murid utama untuk menyerang Suro dari berbagai sisi. Serangan itu hanya untuk mengecoh musuh, sehingga Suro dapat dibuat lengah dengan membuatnya terus sibuk.
Melihat serangan yang berbeda, Suro mencoba membaca strategi lawan. Dia akhirnya memilih menggunakan jurus pedang terbang miliknya untuk menghadapi musuh.
Namun setelah beberapa jurus dia mengkombinasikan serangannya dengan jurus-jurus tendangan penghancur neraka.
Belasan jurus berikutnya, musuh yang bergabung mengepung dirinya, dia sadari telah semakin bertambah kuat. Sebab kekuatan beberapa tetua yang ikut bergabung sudah berada ditingkat langit ke atas.
Melihat kondisi yang tidak menguntungkan itu Suro tidak lagi menahan kekuatannya. Apalagi mereka semua adalah para ahli racun yang sangat berbahaya.
Senjata yang dia gunakan lebih dari lima belas bilah pedang telah berseliweran melesat menyerang musuh. Kombinasi jurus pedang dan tendangan penghancur neraka sebenarnya sudah sangat dahsyat.
Tetapi Suro merasa lawan sedang merencanakan sesuatu yang buruk, karena itu dia berusaha memaksa musuh menjauh sejauh mungkin. Dia mencoba menjaga jarak dengan musuh yang mengepung, maka terpaksa Suro menggunakan juga ilmu Tapak Dewa Matahari.
Lesatan sinar dari ujung jari telunjuknya menghantam musuhnya yang hendak mendekati dirinya. Dengan pertahanan itu, akhirnya musuh menyerang dengan serbuk racun dan juga asap beracun.
Sebab dia menyadari serangan sebenarnya bukanlah itu. Dia memilih menelan penawar racun dan menengak Sharkara Deva.
Musuh yang berusaha mendekati dirinya selalu dapat dia usir dan menjauh kembali. Sinar dari sepuluh jari dan juga belasan pedang terbang miliknya ampuh menghalangi musuh untuk mendekat.
Pedang dan sinar bergerak selaras saling menutupi seakan semua memiliki nyawa dan pikiran masing-masing. Sebuah bentuk keindaahan seni bela diri seakan itu adalah pertunjukan tarian yang sangat mematikan.
Bahkan lawan yang melihatnya akan dibuat takjub dengan apa yang dilakukan Suro. Semua gerakan pedang yang melesat, meliuk dan berputar mencoba membantai seluruh lawannya seakan aliran air yang bergerak dengan penuh irama.
Beberapa murid utama dari perguruan itu berusaha memaksa mendekat dan menyerang dengan kekuatan penuh. Tindakan nekat mereka itu seperti tidak sayang dengan nyawa mereka sendiri.
Padahal sudah beberapa yang memaksa akhirnya kehilangan nyawa. Tetapi keadaan itu tidak membuat mereka jera, langkah mereka justru terus maju kedepan.
Suro segera menyadari para murid utama dan beberap tetua itu sengaja menjadi martir atau tumbal, agar rencana ketua mereka berhasil.
Ketua Lam Thian mengira kekuatan Suro telah terkuras, setelah sebelumnya menahan serangan kekuatan penuh miliknya, kini harus kembali berjibaku dengan para murid utama dan juga para tetua. Tetapi sayang dia tidak memahami kekuatan yang kembali diperoleh pemuda itu setelah menenggak Sharkara Deva.
Kekuatan serangan Angin Hitam merupakan gabungan kekuatan para tetua dan juga Ketua Lam Thian. Tenaga dalam mereka bergabung menjadi satu bersama seluruh kekuatan racun mereka.
Tenaga dalam itu melebur bersama racun membentuk terjangan kuat berwarna hitam pekat dengan kekuatan dahsyat berputar sangat cepat seakan badai tornado. Ketua Lam Thian akan memulai serangannya, jika telah terbuka celah.
Celah yang dimaksud adalah kesempatan saat Suro masih sibuk berusaha lepas dari kepungan asap beracun yang melingkupi dirinya.
Memang keadaan seperti itulah yang ditunggu ketua Lam Thian, waktu paling tepat untuk memulai serangan terkuat milik perguruannya.
Tetapi dalam kondisi kerepotan seperti itu, sesungguhnya Suro tetap tidak kehilangan kewaspadaannya. Dia masih mampu menyadari adanya ancaman dari serangan susulan musuh lainnya.
Ketua Lam Thian tidak mengetahui, pada saat itu dia sudah dalam kondisi siap menyambut serangan mereka. Untuk menghadapi serangan yang begitu kuat, maka Suro berniat mengerahkan jurus yang mampu menandinginya.
Ketua Lam Thian sudah merasa diatas angin, dia kali ini sangat yakin Suro tidak akan mampu menahan serangan yang begitu dahsyat. Tetapi pandangan mereka berubah drastis, setelah Suro mulai menghimpun tenaga dalamnya berpusat di telapak tangannya.
Cahaya putih bersinar sangat terang, seakan matahari muncul dihadapan mereka. Itu adalah awal dari serangan dahsyat yang dikerahkan pemuda tanggung itu.
"Formasi Angin Hitam!"
"Jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya!"
Duuuuuum!
Bersama suara ledakan itu semburat cahaya sangat menyilaukan mata menerangi seluruh area pertempuran. Seluruh serangan gabungan itu lenyap ditelan jurus milik Suro.