SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 475 Kemunculan Karuru part 2



Serangan Braholo langsung menerjang ke arah Suro dan yang lainnya. Tetapi dengan mudah Suro mengatasi serangan dari makhluk mengerikan itu. Salah satunya adalah dengan menggunakan pedang yang terhunus ditangannya.


Tebasan pedang dengan dilambari tehnik perubahan api tahap hitam berhasil membakar musuh yang berloncatan berusaha menerkam dirinya dan juga lainnya. Para Braholo itu langsung terbakar habis lenyap oleh api yang dikerahkan Suro.


"Apakah kau takut menghadapiku siluman blekok? Sehingga makhluk buruk rupa seperti ini kau suruh untuk menghadapiku?" Sambil terus menghabisi para Braholo Suro masih berteriak-teriak memancing kemarahan Karuru.


Dia sengaja melakukan itu, agar makhluk itu tidak lari dan dengan sendirinya akan menyerang dirinya. Atau minimal dia memiliki kesempatan untuk merebut Pusaka iblis Kunci Langit.


Suro tidak segera menyerang Karuru, sebab dia menghawatirkan keselamatan para pendekar terutama Mahadewi yang masih ditingkat shakti. Kekhawatirannya memang beralasan, apalagi para Braholo itu menyerang dengan begitu ganasnya.


Benda yang berada ditangan Karuru atau Ryoichiro Soga segera dia tebaskan. Seketika itu juga muncul seberkas sinar besar yang melabrak ke arah Suro yang sedang sibuk menghadapi para Braholo.


"Jurus Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran!"


Suro tidak membiarkan begitu saja musuh menyerang dirinya. Segera dia lesatkan sinar dari ujung jari telunjuknya


Bldaaaar!


Ledakan besar mengema dan membuat goa besar itu berguncang hebat sesaat setelah dua kekuatan bertemu di udara.


"Hahaha...kalian pikir aku terkejut kalian mampu sampai disini, justru akulah yang sengaja menunggu kedatangan kalian! Aku telah melihat semua kejadian yang akan terjadi! Karena itu aku tau tindakan apa yang harus aku lakukan agar kalian mati semua! Aku sengaja membuat kalian senang dahulu! Hahaha!"


"Siluman blekok bodoh! Hahaha...!"


Suro juga ikut tertawa lebih keras melihat serangan yang dilakukan Karuru berhasil dia tangkis. Tawa Suro yang begitu keras seperti mengejek Karuru, membuat makhluk itu menggerung penuh kemarahan. Di saat itulah dia tidak menyadari sesuatu yang telah menghampirinya.


Buuuuk!


Kraak!


Dubraaak!


"Apakah ini juga seperti yang telah kau lihat sebelumnya!"


Mendadak sosok Suro yang telah muncul dibelakang Karuru dan langsung menghantamkan tendangannya ke arah punggung Karuru. Kontan saja tubuh besar itu terlempar dan menghantam dinding.


"Sialan, anak manusia, aku pasti akan mencincangmu!"


Karuru yang sama sekali tidak menyadari kehadiran Suro tidak sempat menggunakan jurus lipat bumi dan mengganti tubuhnya dengan batang kayu. Dia sempat kebingungan mendadak Suro mampu muncul dibelakangnya.


Perpindahan tempat yang dilakukan Suro sedemikian cepat, sehingga kecepatannya melebihi satu kedipan mata sekalipun.


"Sepertinya memang tidak, kau tidak melihat apa yang akan aku lakukan padamu!" Suro berbicara sambil terus tertawa kecil.


"Dalam ranah ruang dan waktu semua tidak ada yang pasti. Banyak perubahan yang terjadi. Masa depan yang kau lihat dengan menggunakan pusaka itu adalah salah satu kemungkinan yang bisa terjadi!" Suro tertawa keras melihat kebingungan di wajah Karuru


Karuru menggerung melihat pemuda didepannya berbicara dan bertingkah seolah dia lawan yang lemah. Dia baru kali ini merasa diremehkan sedemikian rupa oleh lawannya.


"Ternyata, setelah menghadapi berkali-kali jurus lipat bumi itu, membuat diriku semakin mahir untuk menghilangkan keberadaanku dengan cara menyembunyikan aura kekuatanku. Cara itu tidak aku sangka berhasil untuk menghadapimu." Suro berbicara sambil terus tertawa kecil


Pemuda itu justru semakin keras tertawanya saat menyaksikan Karuru kembali menggerung dengan penuh kemarahan.


Suro sebenarnya dalam keadaan itu sangat waspada. Satu alasan yang membuat dirinya harus bersiap, yaitu lawannya dapat menyerang dirinya kapanpun dalam waktu sekejap seperti yang dia lakukan barusan. Karena itu saat Karuru menghilang dan muncul kembali didekatnya dia tidak lagi terkejut.


Kunci Langit yang dipegang Karuru kembali menghantam Suro dengan dilambari kekuatan besar dan kecepatan seperti kilat. Tetapi serangan itu langsung di tahan dengan pedang yang sedari tadi telah terhunus.


Buru-buru Karuru mundur beberapa tindak. Dia harus melakukan itu jika tidak mau terkurung dalam kobaran api hitam yang meledak bersama tebasan yang dilakukan Suro.


"Mengapa kau mundur? Sepertinya kau mengenali perubahan api ini! Tingkahmu seperti yang dilakuan para prajurit dari Goguryeo dan Khan Langit yang berkulit hitam yang barusan kabur terkencing-kencing!"


**


Di saat Suro bertarung dengan Karuru, maka Mahadewi, Geho Sama, Dewa Rencong dan tetua Dewi Anggini beserta para pendekar masih sibuk bertarung menghadapi pasukan Braholo.


Geho Sama dan Dewa Rencong memilih menggunakan jurus sepuluh jari Dewa Mengguncang Bumi. Jurus pertama dari Ilmu Tapak Dewa Matahari itu memang sudah lama mereka kuasai semenjak pertarungan di hutan yang dipenuhi formasi sihir saat hendak menemukan Perguruan Sembilan Selaksa Racun.


Pada pertempuran sebelumnya Suro berhasil menghabisi musuh tidak menggunakan tajamnya pedang Kristal Dewa, tetapi menggunakan panasnya api hitam untuk menghabisi pasukan musuh.


Melihat hal itu maka Dewa Rencong dan juga Geho Sama kembali mencoba menggunakan jurus pertama dari Tapak Dewa Matahari. Ternyata sinar panas itu mampu memotong tubuh musuhnya.


Dengan jurus itu mereka berdua mampu melindungi para pendekar yang berada dibelakangnya. Meskipun begitu para pendekar itu tidak hanya berpangku tangan melihat dua pendekar melindungi mereka.


Mahadewi memilih bertarung sambil berlindung dibelakang gurunya tetua Dewi Anggini. Kali ini dia benar-benar ketakutan melihat ganasnya serangan Braholo.


Dengan mata kepala sendiri dia melihat beberapa pendekar diterkam dan ditelan para Braholo dalam waktu sekejap. Mulut Braholo itu mampu melebar mirip mulut seekor ular yang mampu menganga dengan sedemikian lebar.


"Kalian mundur beberapa tindak aku hendak menghabisi dengan cara yang lebih cepat!"


Melihat serangan Braholo yang berjumlah sedemikian banyak, akhirnya Geho Sama mengerahkan tehnik empat Sage untuk membuat para Braholo itu lenyap terhisap oleh jurus itu.


**


Setelah beberapa jurus yang terlewati kembali Karuru menatap nanar ke arah para pendekar yang berhasil menghabisi pasukan Braholo.


"Apa kau terkejut mendapati kami bisa menghabisi pasukan yang kau bangun?"


Karuru tidak menjawab tetapi memilih menyerang pemuda itu. Dia berniat menghabisi Suro secepatnya.


Tetapi sejak tadi berusaha menyerang, mereka berdua justru seperti sedang bermain kucing-kucingan. Kecepatan Jurus Lipat Bumi selalu dapat dipatahkan Suro yang menggunakan jurus Langkah Maya. Melihat hal itulah dia baru menyadari sesuatu hal.


"Ini adalah jurus Langkah Maya milik Geho Sama. Jadi memang benar, dia itu adalah Geho Sama dan kalian berdua adalah orang-orang yang telah membantai pasukan Elang langit milikku!" Tatapan Karuru menyapu ke arah Geho Sama yang berada di kejauhan.


"Ternyata cara berpikirmu dan gerakanmu sama lambatnya seperti jalannya kura-kura. Tentu saja dia adalah Geho Sama, bukankah tampilannya sekarang lebih menarik bukan? Ya...tentu saja lebih mengagumkan dibandingkan dirimu yang tampilannya justru mirip siluman blekok kecebur comberan. Hahaha...!"


Karuru terus menyerang Suro dengan kecepatan yang terus bertambah. Tetapi pemuda itu juga tidak mau kalah, setiap dia mempercepat serangannya, maka dia juga lebih cepat lagi menghindar.


Sebenarnya sejak tadi secara diam-diam Suro berusaha merebut Pusaka iblis Kunci Langit. Tetapi usahanya selalu gagal. Karena itulah dia melampiaskan kekesalannya dengan terus berusaha membuat Karuru bertambah murka.


"Kurama Tengku dan beberapa anak buahmu telah aku habisi. Termasuk yang sedang berada di dalam makam Kaisar Qing. Siapa lagi yang mampu menghabisinya, tentu saja kamilah yang menghabisinya. Beruntung kau sudah melarikan diri. Jika tidak, tentu aku akan membuat dirimu juga pergi menyusul anak buahmu." Suro tertawa kecil melihat musuhnya semakin murka.


Selain Karuru sebenarnya Suro mewaspadai keberadaan sosok kuat lainnya, yaitu Batara Karang. Tetapi di tidak melihat ataupun merasakan aura kekuatannya.


"Dimana Batara Karang? Aku yakin dia ada dibelakang semua kekacauan ini!"


"Kau ingin tau dimana junjungan berada? Rasakan dulu serangan ku ini!" Serangan yang berupa sinar berkali-kali melesat dari pusaka yang tergenggam ditangannya. Jurus Lipat Bumi yang dia kerahkan juga bertambah semakin cepat.


Beberapa jurus yang dikerahkan Karuru pernah dihadapi oleh Suro, sehingga dia bisa mengatasinya. Melihat hal itu tentu saja Karuru tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Apakah semua ini juga sudah kau lihat?" Kembali Suro berhasil menyerang lawannya dengan telak.


Pemuda itu tidak memberi kesempatan bagi Karuru untuk membuat segel tangan agar bisa menukar tubuhnya dengan sebatang kayu. Tendangan Penghancur Langit berhasil menghantam kepala Karuru.


Kepala Karuru seperti dihantam dengan sebuah batu sebesar gajah. Dia sampai tersurut beberapa langkah sambil memegangi kepalanya.


Serangan Suro membuat kepala Karuru menjadi pusing tujuh keliling. Beberapa kali tangannya mengusap-usap matanya seperti melihat sesuatu. Mungkin karena terlalu parah pusing yang dirasakan, sehingga saat menatap, dia merasa didepan matanya melihat gajah terbang memutari kepalanya.


"Katakan kepada Batara Karang, jika diriku tidak akan membiarkan rencananya berjalan mulus!" Suro berbicara sambil menoleh ke arah pertarungan yang dilakukan Geho Sama dan yang lain.


Pertarungan mereka berjarak cukup jauh dari Suro. Tetapi dengan melihat sekilas dia mengetahui, jika mereka mampu mengatasi serangan para Braholo. Pemuda itu akhirnya dapat bernafas lega. Itu artinya Mahadewi dan yang lainnya dalam kondisi aman tidak perlu dikhawatirkan.


'Sialan mengapa sebelumnya aku tidak diberikan penglihatan, jika diriku akan dapat dengan mudah dihajar manusia ini?' Karuru kembali menyerang Suro menggunakan Kunci Langit sebagai senjata miliknya.


Wuuuttt...


Braaakkkk!


Serangan yang dikerahkan Karuru tidak sama seperti sebelumnya. Wujud aura sesat yang dihantamkan oleh Karuru dari pusaka Kunci Langit membentuk kepala sebuah makhluk raksasa bertanduk dua. Suro memilih menghindar menggunakan Langkah Maya.


Beruntung dia bertindak dengan tepat, sebab lantai goa yang terhantam langsung lumer mengepulkan asap hancur oleh serangan barusan.


"Sekuat apapun dirimu, jika terkena aura sesat darinya maka tubuhmu akan hancur!"


Suro segera menyadari aura itu berasal dari semacam embun yang memiliki keasaman sangat tinggi. Sebegitu kuatnya, hingga besi yang tersentuh oleh serangan tadi akan sanggup hancur dengan cepat, seperti sabun yang direndam dalam air dapat hancur lumer.


Sosok yang muncul dari Pusaka Kunci Langit ternyata sebagian dapat terus mengejar Suro. Beberapa kali pemuda itu harus menghindar menggunakan Langkah Maya. Meskipun begitu sembari menghindari, dia tetap sesekali menyerang balik Karuru.


"Kau pikir hanya dirimu yang memiliki mainan seperti ini!"


Setelah membentuk segel tangan dengan menggunakan dua jari, yaitu jari telunjuk dan jari tengah dia menandai lantai goa.


"Muncullah Naga Bumi!"