SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 35 Pedang Lentur



Peserta yang menjadi lawan Suro adalah murid utama dari sebuah perguruan cabang dari sebuah pulau yang ada disebelah timur dari javadwipa.


Nama perguruan dari perguruan itu sesuai dengan ilmu andalan miliknya, yaitu Perguruan Pedang Lentur.


Lelaki yang bernama Made Pasek itu berumur sekitar dua puluhan tahun. Dia lebih tinggi daripada Suro tetapi tak lebih dari setengah jengkal.


Suro masuk sebagai murid utama tidak banyak tetua perguruan yang mengetahuinya. Apalagi mereka yang setingkat murid tentu tidak akan mengenalnya. Karena memang rekomendasi langsung dari ketua perguruan, yaitu Dewa Pedang. Dia didaftarkan dalam seleksi sebagai murid utama dari Dewa Pedang sendiri. Karena itulah dia mewakili perguruan pusat.


Kondisi itulah mengapa mereka tidak pernah sekalipun mendengar namanya. Baik dari murid cabang maupun pusat tidak ada yang mengenalnya.


Justru ada hal yang aneh sekelompk orang bukan berasal dari orang perguruan sedari awal meneriakan nama Suro. Sepertinya mereka mengenal orang itu begitu dekat. Sebab begitu semangatnya mereka memberikan dukungan. Jumlah mereka yang hampir seratus orang itu bukan jumlah sedikit. Sebab jumlah penonton yang mengelilingi arena pertarungan tak lebih dari delapan ribu.


Mereka semua kumpulan orang-orang yang terlihat urakan dengan gaya berpakaiannya tak memperlihatkan layaknya seorang penduduk. Mereka berteriak-teriak sambil berjoget dengan gerakan yang terlihat ngawur.


"Suro! Suro! Suro! Suro...... uyeee!"


Dewa pedang yang melihat kelakuan Kolo weling sedari tadi membuatnya harus mulai mengurut-urut keningnya yang tiba-tiba pusing.


Setelah diberi pertanda dimulainya pertarungan oleh wasit, segera Made pasek mencabut pedangnya yang masih melingkar dipinggangnya. Karena pedangnya itu memang unik dapat dijadikan ikat pinggang.


Serangan pedang lentur menghajar ke arah Suro dalam satu tarikan nafas. Hantaman pedang lentur itu ditangkis dengan sarung pedang yang sedari tadi digengamnya sambil kakinya surut dua langkah. Entah mengapa pedang yang sedari tadi digengamnya bersama sarungnya belum dicabut.


Made pasek yang melihat seranganya ditangkis dengan begitu mudahnya segera mengejar keberadaan Suro. Seperti mempunyai pikiran sendiri pedang itu ikut berbelok kekanan mengejar arah Suro yang menghindar dari sabetan pedang lentur itu.


Suro yang tak menyangka gerakannya mampu dikejar oleh ujung pedang segera ujung jari telunjuknya menghantam bilah pedang itu dengan kuat. Jurus semacam patokan yang mengunakan ujung jari telunjuknya merupakan Jurus Pukulan Belalang sembah. Jurus itu diajarkan Eyang Sindurogo diawal-awal belajar ilmu olah kanuragan.


Bilah pedang yang dalam satu kedipan mata akan segera menusuk jantungnya dengan sebuah patokan dari satu ujung jarinya telah terpental kearah yang berlawanan.


Made terkejut melihat cara Suro menangkis jurus pedangnya yang dikenal paling susah diraba oleh lawan. Kini ditangkis hanya cukup dengan mengunakan satu jari. Dia tidak mengira jurus pedang kebangaanya seperti dilayani dengan setengah hati.


Bahkan sampai detik itu Suro belum juga mencabut bilah pedangnya. Pedang yang dipegang oleh Suro merupakan pedang yang pernah dihadiahkan Eyang Sindurogo kepadanya.


Made segera menyabetkan pedangnya dengan begitu hebat. Seakan sebuah tarian pedang. Jurus pedang yang berasal dari perguruannya, dipadukan jurus Seribu kepakan sayap pedang. Orang yang menyaksikan gerakan Made pasti akam berdecak kagum dengan keindahan geraknya. Walaupun sebenarnya tarian itu begitu mematikan.


Suro yang terlihat antusias melihat tarian jurus pedang itu. Seakan tidak menyadari bahaya dibalik serangan itu.


"Tarian pedang senior sangat mengagumkan dan indah. Sayangnya jurus ini kurang matang dalam mengabungkan unsur kedua jurus."


Made pasek yang mendengar perkataan Suro seakan tersulut emosi. Bagaimana tidak dalam kondisi pertempuran justru dirinya diajari oleh anak kemaren sore yang belum lurus kencingnya. Giginya gemeletak menahan amarah.


Dewa pedang yang mendengar perkataan Suro tertawa terkekeh. Kemampuan pendekar itu memang sangat mengagumkan dalam jarak puluhan tombak dia masih bisa menangkap suara Suro.


Sri Maharaja Wasumurti juga memincingkan matanya melihat reaksi Dewa Pedang yang tertawa sendiri. Lalu diceritakan kepada raja kalingga itu tetapi dia tidak memahami unsur lucunya dimana.


Dewa Pedang sebenarnya sedang mentertawakan kepolosannya. Perbuatan Suro yang sebenarnya bagus mencoba memberi tahu kelemahan jurus lawan. Tetapi ini bukan pertarungan latihan tetapi benar-benar pertarungan yang bisa mengakibatkan luka yang fatal.


Walaupun Dewa pedang mentertawakan kepolosan bocah tersebut. Tetapi dalam hatinya dia mengagumi pemahaman ilmu pedang yang dia miliki. Dalam beberapa jurus dia sudah melihat kekurangan jurus lawan.


"Tutup mulutmu dan cabut pedangmu!"


"Sepertinya tidak perlu senior. Seperti yang aku katakan jurus senior belum matang."


Suro masih berusaha menjelaskan kepada Made pasek. Tetapi reaksi yang diperoleh adalah gempuran serangan yang lebih hebat lagi melabrak ke arah Suro.


Suro beberapa kali mengelak dan menangkis dengan sarung pedangnya. Kadang hanya dengan ujung jari telunjuknya untuk mengusir kejaran ujung pedang yang berbelok. Bahkan perubahan arah pedang lentur bergerak dengan sangat cepat dan tiba-tiba. Pedang itu terus mengejar mencoba menancapkan ujungnya yang tajam.


Pergerakan pedang yang menebas kemudian secara mendadak akan berbelok memburu lawannya yang menghindar, tentu bukan jurus sembarangan apalagi dipadukan dengan tehnik Dewa Pedang.


"Makan ujung pedang ini jika kamu bilang belum matang!"


Serangan Made pasek semakin gencar menyerbu tubuh Suro. Bahkan tidak ada satu serangan balik yang dilancarkan Suro. Hal yang dia lakukan hanya berkelit, menghindar dan menangkis.


Begitu mudahnya serangan Made pasek dihindari oleh Suro membuat dia semakin frustasi. Tetapi tidak dengan para penonton yang menyaksikan pertarungan itu. Orang-orang awam yang melihat seakan Suro tak mampu memberikan perlawanan dan sangat ketakutan melawan serangan pedang lentur yang begitu gencar.


Para penonton itu mulai bersorak menertawakan Suro. Melihat junjungannya dicela para penonton lain Kolo weling murka dia segera membuat yel-yel dengan teriakan yang lebih keras sampai tenggorokannya terasa serak.


"Kalau senior tidak percaya bahkan aku bisa menghancurkan jurus ini hanya dalam satu jurus. Terlalu banyak kelemahan dari jurusmu."


"Hancurkan jurus ini mulut lancang!"


Made pasek segera mengejar Suro membabat tubuh Suro dengan cepat. Gerakan pedang yang lentur itu kadang seakan cemeti menyentak dan menghantam ke arah Suro dengan begitu keras dan cepat.


Kemudian Suro surut lima langkah kebelakang dengan cepat. Bahkan Made terkejut dengan gerakan Suro yang begitu cepat. Sebelum Made Pasek kembali berniat mengejar dia. Melihat Suro mencabut pedangnya dia begitu waspada sehingga langkahnya terhenti.


Made Pasek ragu untuk mengejar Suro. Dia justru penasaran dengan apa yang dilakukan lawannya itu. Sebab alih-alih menyerang dia justru memperagakan jurus Seribu kepakan sayap pedang.


Melihat peragaan jurus yang diperlihatkan Suro membuat Made Pasek tertegun. Bukan hanya Made Pasek bahkan para murid dari Perguruan pusat dibuat terkagum-kagum menyaksikan gerakan jurus yang diperlihatkan Suro.


Para tetua juga terbelalak dengan kemampuan bocah yang ingin langsung diangkat Dewa Pedang menjadi tetua. Mereka kini mengerti mengapa Dewa Pedang begitu ngotot dengan pendapatnya. Bahkan Dewa Pedang ikut terkagum dengan kemampuan Suro yang meningkat begitu pesat.


Kelebatan pedang Suro yang begitu cepat dan terarah terlihat begitu sempurna. Gerakan jurus yang diperlihatkan Suro, seakan baru pertama kali ini dia melihatnya. Made pasek tak mengira kemampuan bocah kecil yang menjadi lawannya. Seakan dia bertarung dengan gurunya.


Kini dia sadar ucapan yang dikatakan sebelumnya bukan ejekan tetapi benar-benar saran dari seorang ahli pedang. Tetapi dia tidak habis pikir bagaimana bocah sebesar itu bisa memiliki pemahaman tentang pedang begitu tinggi.


"Kira-kira seperti itu senior. Jurus pedang yang senior gunakan begitu banyak kelemahan dan sangat berbahaya jika digunakan untuk menyerang lawan yang pemahamannya lebih tinggi."


"Bocah ini bukan waktunya kalian latihan! Kalau kalian ingin berdiskusi jurus pedang bukan disini tempatnya! Kalian disini untuk bertanding! Dan kau bocah! Disini kau jangan berbicara sok tau tentang ilmu pedang! Ini Perguruan Pedang Surga! Tempat berdiam Dewa Pedang! Pendekar Pedang Nomor satu dikolong langit!" Mata dari wasit itu melotot ke arah Suro dengan begitu lebar.


Wasit pertarungan itu merupakan salah satu tetua juga. Melihat dari tadi Suro bukan mencoba mengalahkan musuhnya malah mengajari membuat mulutnya semakin bertambah gatal untuk menyemprotnya.


Suro yang mendapat dampratan hanya bisa menyengir dan mulai mengaruk-garuk kepalanya.


Tetapi tidak dengan yang dilakukan Dewa Pedang yang melihat kelakuan Suro semakin tertawa terkekeh-kekeh. Dia tidak mengira pikiran murid Eyang Sindurogo itu begitu polos sekaligus begitu mengerikan dengan pemahaman pedangnya yang begitu tinggi dalam usia yang begitu muda.


Sebuah pencapaian yang bahkan susah dikalahkan orang lain. Membuat dia kemudian bertanya-tanya sendiri darimana Eyang Sindurogo mendapatkan murid yang begitu berbakat.


Bahkan dia yang dipanggil sebagai jenius dalam Perguruan Pedang Surga dan medapatkan gelar Pendekar Pedang nomor satu di Benua Timur, membutuhkan waktu yang panjang.


***


"Saya mengaku kalah!" Perkataan Made Pasek menghentikan wasit yang terus mendamprat suro dengan matanya melotot. Suro yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum kecil dan kadang menyengir sambil mengaruk-garuk rambutnya melihat mata wasit yang seakan mau copot.


"Terima kasih senior!" Suro kemudian menjura kearah Made Pasek.


"Tunggu senior sebagai tanda terima kasihku, aku akan menghadiahkan jurus yang lebih sempurna dari yang telah senior pelajari. Mohon senior menunggu sampai pemilihan tetua ini selesai aku pasti memberikan jurus ini."


Made pasek yang akan keluar dari arena kembali membalikan tubuhnya. Mendengar perkataan Suro seakan tidak percaya. Berharap itu hanya sebuah lelucon belaka.


Bocah yang jauh lebih muda darinya akan memberikan jurus ciptaanya yang lebih sempurna daripada gubahan jurus yang telah diciptakan tetua cabang sekaligus gurunya. Tentu itu adalah sesuatu hal yang mustahil


Tetapi melihat tatapan Suro yang begitu serius dan meyakinkan kembali mengingatkan jurus yang telah perlihatkan Suro kepadanya. Dia tidak memungkiri memang terlihat lebih sempurna daripada gurunya. Akhirnya dia mengangguk pelan.


"Baiklah aku akan berterimakasih jika memang jurus yang akan kau berikan lebih sempurna."


Suro kemudian tersenyum melihat Made pasek seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


Wasit yang mendengar perkataan suro bertambah melotot.


"Lelucon apa lagi ini?"


Suro yang mendengar perkataan wasit hanya mengaruk-garuk kepalanya dan sebelum kembali ke podium dia menjura terlebih dahulu ke arah wasit.


Dewa pedang yang mampu menangkap perkataan mereka semakin tertawa sampai terbahak-bahak. Membuat Maharaja Wasumurti semakin bingung dengan kelakuan pendekar pedang yang konon katanya terhebat di seluruh Benua Timur itu.


"Sepertinya ilmunya telah membuat jiwanya sedikit terganggu!" Batin Raja Kalingga itu.


Dewa Pedang semakin kagum dengan kejutan-kejutan yang diperlihatkan Suro kepadanya. Hanya dengan melihat jurus yang telah diperlihatkan sebelumnya oleh Made pasek dia sudah mampu membuat jurus yang lebih sempurna.


Tetapi dia yakin dengan perkataan Suro bukan gurauan belaka. Sebab dia jugalah yang menciptakan jurus pedang terhebat yang pernah dia lihat. Jurus Tebasan sejuta pedang adalah jurus yang bahkan mampu melampaui jurus pamungkas dalam kitab Dewa Pedang.


Dengan pernyataan Made pasek maka pertarungan sesi keempat dimenangkan Suro bledek.


**


Setelah sesi keempat dimenangkan Suro maka sesi berikutnya sudah menunggu. Wasit segera memanggil peserta berikutnya.


"Rithisak somnang melawan Basudewa"


Sesi kelima ini Rithisak Somnang melawan seorang kandidat dari Perguruan pusat. Dia merupakan salah satu dari beberapa kandidat yang dimiliki sekte pusat.


Para kandidat segera turun ke arena. Rithisak somnang yang berpapasan dengan Suro yang akan kembali duduk. Dengan mata melotot dia memberi tanda ke arah Suro satu jarinya digerakan ke arah lehernya seakan gerakan mengiris leher. Sambil mulutnya menyeringai seperti singa yang akan menerkam korbannya.


Suro kali ini tidak menunjukan reaksi apapun hanya berjalan lurus. Bahkan senyum yang biasa ia berikan tidak tersungging dibibirnya.


Rithisak somnang diperlakukan oleh Suro seolah tidak ada tentu bertambah meradang. Meskipun begitu dia sebenarnya ikut takjub saat menyaksikan kemampuan Suro yang sedang memperagakan jurus di tengah arena sebelumnya. Tetapi dia tidak habis pikir, mengapa Suro terus menghindari serangan Made Pasek. Karena hal itu membuat Rithisak tidak dapat mengetahui kemampuan tempur Suro yang sesungguhnya.


Kemampuan Suro saat memperagakan jurus membuat semua terperangah, karena itu dia juga bertekad hendak membuat semua kagum kepada kemampuan yang dimilikinya.


Saat wasit telah memberikan tanda dimulainya pertarungan, segera Rithisak menyerang Basudewa. Serangan yang dilakukan Rithisak bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, sebab setiap tebasannya dilambari kekuatan perubahan api, sehingga setiap serangannya disertai hawa panas.


Keistimewaan tehnik pedang yang berasal dari Perguruan Pedang Rubah Api, adalah kemampuan mereka yang memadukan tehnik perubahan api kedalam ilmu pedangnya.


Dengan semakin gencarnya Rithisak Somnang menyerang Basudewa maka suhu disekitar juga ikut naik. Kelebat pedangnya kini berubah menjadi bilah pedang yang panas membara. Percikan bunga api bertaburan seiring dengan hantaman pedang yang beradu.


Dentingan pedang beradu silih berganti berjalan dengan begitu cepat sepuluh jurus telah berlalu. Terlihat kemampuan Rithisak Somnang diatas kemampuan Basudewa disebabkan kemampuan pengendalian api miliknya.


Begitu gencarnya serangan Rithisak Somnang ke padanya bak air bah yang mengulung. Sekarang bukan hanya pedangnya saja yang membara dari ujung bilah pedangnya beberapa kali telah menghempaskan semburan api.


Pedang yang dipegang Basudewa semakin lama terasa panas karena terus beradu dengan bilah pedang milik Rithisak Somnang. Dia juga bingung dengan lawannya sebab pedang miliknya yang cuma beradu aja bisa sepanas itu. Entah bagaimana lawannya itu mampu memegang bilah pidang yang terlihat membara itu.


Pertarungan mereka berjalan dengan cepat, kini sudah empat puluh jurus sudah terlewati.


Hawa panas dari pedang Rithisak sekarang bukan menjadi kendala buat Basudewa saja. Bahkan kini juga menjadi masalah buat pengunanya sendiri.


Meskipun kemampuan pengendalian api itu begitu hebat ternyata memiliki kelemahan batas waktu. Jika dia tidak segera menyelesaikan pertempuran ini maka justru dia sendiri yang akan kehilangan kesadaran.


Tubuhnya yang penuh peluh keringat sebesar jagung bercucuran membasahi bajunya. Badannya terlihat begitu kepayahan terlihat dari bagaimana pedangnya yang masih dipegang ganggangnya dijadikan penahan tubuh. Satu tangannya menyentuh lantai berikut satu dengkul kakinya.


Nafasnya begitu memburu bahkan air liurnya menetes seakan sebentar lagi dirinya akan kehilangan kesadarannya.


Kondisi Basudewa tidak lebih baik daripada Rithisak somnang. Tubuhnya yang bergerak dengan begitu cepat sampai berpuluh-puluh jurus membuat tubuhnya kini terasa lemas dan bergetar hebat. Kakinya tak mampu menyangga tubuhnya. Tatapannya masih menjurus ke arah Rithisak somnang yang juga sama-sama merasakan kepayahan.


Mereka berdua kemudian segera mengumpulkan kekuatannya secepat mungkin, karena yang paling cepat memulihkan tubuhnya tentunya akan menjadi faktor penentu kemenangan.


Setelah beberapa lama suhu tubuh Rithisak sudah mulai menurun. Kekuatannya yang sebelumnya seakan sudah terkuras habis telah mulai terkumpul kembali. Strateginya untuk segera menyelesaikan pertarungan tidak sesuai dengan rencana awalnya. Perlawanan Basudewa begitu gencar membuat serangannya tidak begitu efektif.


"Sepertinya aku harus membuat strategi serangan baru. Serangan yang aku lakukan tidak mempan. Untung dia juga sama-sama kehabisan tenaga. Sehingga tidak menghabisiku dengan mudah." Rithisak sedikit mengeluh.


'Aku ada ide! Kali ini aku yakin pasti bisa mengalahkannya!' Rithisak masih menatap lawannya dikejauhan yang sama-sama kehabisan tenaga.


'Tetapi apa nanti yang dikatakan orang-orang dengan tindakanku. Tetapi orang itu terlalu tangguh. Sepertinya dia juga menyadari kekurangan tehnik Rubah apiku. Tak ada pilihan lain sepertinya!' Ada satu rencana terbesut dalam batin Rithisak. Sambil memikirkan rencananya dia terus menghimpun kembali kekuatan tenaga dalamnya yang telah terkuras.


Saat Rithisak sedang memikirkan cara terbaik mengalahkan lawannya, justru Basudewa telah bergerak menyerang dirinya.


"Pedang Bersatu Bersama Angin!"


Melihat lawanya telah bergerak menyerang, membuat Rithisak Somnang terpaksa kembali bersiap menyambut serangan lawannya.


Kemudian pertarungan mereka kembali berlanjut, tetapi kali ini Rithisak tidak menggunakan tehnik perubahan api untuk melayani serangan Basudewa.


Keputusan Rithisak itu membuat gerakan Basudewa semakin leluasa. Dia memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Sehingga tanpa adanya hawa panas gerakan Basudewa menjadi lebih leluasa. Kini dia dapat mengungguli lawannya.


Tanpa diketahui oleh Basudewa, sebenarnya apa yang dilakukan Rithisak merupakan bagian dari strategi untuk dapat mengalahkan lawannya. Setelah membuat Basudewa merasa diatas angin, mendadak serangan Rithisak menggila.


"Aku harus mengalahkannya dengan serangan kejutan." Batin Rithisak sambil terus mengempur lawannya dengan lebih dahsyat.


Kali ini serangan Rithisak kembali dilambari dengan tehnik perubahan api. Setiap tebasan pedangnya menghempaskan hawa panas yang lebih kuat dari sebelumnya.


Kekuatan dari sabetan pedangnya kembali meningkat. Sebab kali ini bukan hawa panas. Tetapi telah berubah menjadi hempasan kobaran api.


"Tehnik ini lagi, benar-benar merepotkan! Mulut Basudewa mengomel sambil melayani setiap tebasan pedang yang menghampirinya. Dia terus terdesak ke arah pinggir arena.


'Aku harus mendesaknya mundur lebih jauh lagi.' Batin Rithisak.


Basudewa kini keteteran melayani setiap sabetan pedang dari Rhitisak.


"Ini moment yang aku tunggu." Rithisak tersenyum melihat Basudewa tidak menyadari masuk dalam jebakannya.


Setelah itu satu sabetan pedang dengan dilambari kekuatan penuh element api menghantam dengan begitu keras kearah Basudewa.


Baaam!!


Ledakan itu akhirnya membuat tubuh Basudewa terlempar keluar dari arena.


"Sialan! Licik!" Basudewa memaki berkali-kali setelah terlempar keluar dari arena.


Basudewa segera menyadari mengapa lawannya terus mendesak dirinya dengan begitu gencar. Sebab dia hendak mengalahkannya dengan melemparkannya keluar dari arena. Karena aturannya adalah siapa saja peserta yang keluar dari arena akan dianggab kalah.


"Akhirnya aku bisa menyudahi pertarungan ini!"


Rithisak tersenyum rencananya berhasil. Walaupun kemenangan yang dia peroleh tidak menghasilkan kemenangan yang indah tetapi tetap saja intinya menang.


"Sialan! Kenapa aku tidak menyadari sedari tadi akal bulus orang ini? Muka Basudewa memerah menahan kekesalan.


Hasil akhir dari pertarungan itu dimenangkan oleh Rithisak.