
Melihat rentetan terjangan pedang yang berwujud bulu hitam dari sayap Pujangga gila dan ditambah puluhan makhluk bajang yang kini jumlahnya semakin tak terhitung, membuat Geho sama dan eyang Sindurogo cukup kerepotan.
Sambil terus berusaha menghindari serangan Pujangga gila tangan Geho sama mulai membentuk mudra atau segel tangan. Itu adalah sebagai awal untuk memulai jurus tubuh ilusinya. Dia hendak menyerang balik dengan memecah tubuhnya menjadi sembilan kembaran dirinya. Tetapi dia berhenti dan tidak melanjutkan tindakannya itu, karena teriakan eyang Sindurogo.
"Jangan lakukan itu Geho sama! Aku tahu rahasia jurusmu itu adalah tehnik memecah jiwa seperti sedulur papat. Jika kau lakukan, sama saja kau mempermudah dirimu tertangkap oleh rantai milik Pujangga gila!"
"Jangan kau lakukan itu! Kau tidak tau seberapa kuat makhluk itu mencoba mencabut sukmaku?"
Eyang Sindurogo berteriak seperti itu karena pada saat itu satu rantai milik Pujangga gila bergerak sendiri dan dengan gencar terus mengejar Geho sama.
Mereka berdua saat ini hanya bisa menghindari hujan serangan yang dilakukan Pujangga gila. Beruntung para makhluk bajang yang merupakan bagian dari perwujudan Bhuta kala dapat dihabisi menggunakan ilmu empat Sage.
Karena serangan terus menerjang dan suara syair yang menghentak membuat Geho sama kemudian mengusulkan untuk meminta bantuan. Dia berniat memangil Suro karena dia memiliki Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Jika penjara semesta kegelapan saja bisa dihancurkan, tentu ilmu gendam yang dimiliki Pujangga gila yang tidak waras dapat dikalahkan. Karena itulah harapan untuk dapat mengalahkan ilmu gendam dari orang yang tidak waras itu, kemungkinan hanya bisa dilakukan oleh Suro.
"Bukankah itu sudah dibuktikan oleh tuan Suro dengan membuat tuan guru dapat tersadarkan kembali?"
"Benar juga apa yang kau katakan Geho sama!" Eyang Sindurogo tersenyum dengan begitu lebar mendengar ide cemerlang dari Geho sama.
"Apa yang kau katakan sangat masuk akal!"
"Sepertinya hanya ilmu pangruwat dewa itu yang mampu menandingi Ilmu Gendam iblis si Pujangga gila ini! Ilmu gendam itu begitu dahsyat, bahkan telah membuat kita bisa terkena pengaruh ilmu gendam miliknya."
"Cepat pangil muridku untuk segera datang kemari!"
"Jika kita tidak mampu menyelamatkan makhluk ini dengan mengembalikan kewarasannya, maka demi keselamatan umat manusia kita harus menghabisi makhluk ini. Akan sangat berbahaya kedepannya jika kita membiarkannya tetap hidup!"
**
Suro sebelumnya berpamitan kepada gurunya hendak menuju ke Perguruan Pedang Bayangan. Dia berniat mengambil relik kuno tempat makhluk sejenis Ashura di segel. Namun tidak berapa lama setelah kedatangannya sesuatu hal yang gawat terjadi di perguruan itu.
Sebab pada saat itu seseorang telah memimpin pasukan besar bergerak untuk menyerang Perguruan Pedang Bayangan. Dia adalah Batara Antaga yang memimpin pasukan kegelapan bergerak dari arah bukit yang ada di seberang.
Melihat hal itu seluruh tetua dan juga para anggota Perguruan Pedang Bayangan segera bersiap menghadapi musuh yang mulai berdatangan keluar dari gerbang gaib yang berada cukup jauh. Gerbang gaib itu entah mengapa justru muncul di bukit sebelah.
Suro bersama beberapa tetua berdiri diatas bangunan yang berada di puncak bukit. Tempat itu adalah tempat teraman. Karena bangunan yang memiliki kubah itu dilindungi sebuah sihir pelindung yang cukup kuat untuk menahan serangan pasukan kegelapan yang dipimpin Batara Antaga.
Namun entah berapa lama sihir pertahanan itu mampu menahan serangan musuh. Untuk mencegah agar sihir itu tidak dapat ditembus, maka para tetua lain dan seluruh anggota Perguruan Pedang Bayangan yang dipimpin Azura menahan pasukan musuh agar tidak dapat menjangkau sampai ke puncak bukit.
Mereka menghadang musuh digerbang perguruan yang berada di kaki bukit. Pertempuran itu langsung pecah begitu pasukan mereka bertemu dengan musuh. Suro bersama para tetua ikut berusaha menahan laju kekuatan musuh.
Setelah melakukan pertempuran dan mencoba menghabisi Batara Antaga, akhirnya Suro memilih mundur dan menghilang dari area pertempuran. Dia mencoba menghabisi para naga dan manusia kelelawar yang telah mengerumuni puncak bukit.
Dengan api hitamnya, akhirnya para makhluk kegelapan itu dapat dihabisi. Tetap itu hanya berlangsung sebentar, sebab gelombang demi gelombang pasukan kegelapan yang berupa naga dan manusia kelelawar kembali berdatangan.
Suro akhirnya melesat turun ke arah bangunan di bawahnya, yaitu bangunan yang berada di puncak bukit. Dia memiliki rencana yang hendak dia bicarakan dengan para tetua yang berjaga diatas bangunan itu.
Setelah sampai di atas kubah itu, Suro menyadari, jika para naga dan manusia kelelawar yang berusaha menghancurkan sihir pelindung semakin bertambah banyak dari pada sebelumnya.
Jika sihir perlindungan hancur, maka akan membahayakan keselamatan para wanita dan anak-anak yang bersembunyi dibeberapa bagian gedung, tepatnya mereka bersembunyi di bagian ruangan bawah tanah.
Para anak-anak dan wanita bersembunyi ditempat itu, karena pasukan kegelapan yang telah mengepung seluruh bukit tidak memberi kesempatan siapapun dapat melarikan diri.
Pada pertempuran yang dia lakukan sebelumnya sebelum naik ke atas bukit, Suro menyadari jika kekuatan Batara Antaga kini tidak seperti yang dia temui sebelumnya. Kini makhluk itu telah memiliki kekuatan tingkat surga. Melihat hal itu dia berpikir harus mencari bantuan yang dapat menolongnya. Karena itulah dia hendak mengutarakan niatnya itu kepada tetua Dewi Anggini yang berjaga dipuncak bukit.
"Gawat tetua, sepertinya kekuatan Batara Antaga mengalami peningkatan yang sangat menakutkan. Dengan kekuatan yang kita miliki, kurasa kita tidak akan menang melawan dia dan pasukannya."
"Lalu apa yang akan nakmas lakukan?" Tetua Dewi anggini bertanya ke arah Suro menanggapi perkataan Suro barusan.
Suro segera mengutarakan niatnya bukan hanya kepada tetua Dewi Anggono, tetapi kepada para tetua lainnya yang sedang menjaga tempat tersebut. Para tetua itu adalah pertahanan terakhir, jika sihir pelindung akhirnya dapat dihancurkan musuh.
Hal pertama yang terlintas dalam pikiran Suro untuk dapat bantuan yang mampu memperkuat pasukannya adalah Dewa Pedang dan Dewa Rencong. Dengan kekuatan mereka berdua, Suro yakin akan sangat membantu menghadapi Batara Antaga bersama pasukan kegelapan dibelakangnya.
Suro kemudian berpamitan kepada tetua Dewi anggini dan lainnya untuk meminta bantuan. Sekejap kemudian setelah lenyap, maka Suro telah sampai dikediaman Dewa Pedang.
Beruntung pada saat itu Dewa Pedang dan Dewa Rencong sedang berada di kediaman Dewa Pedang untuk memperdalam latihan ilmu jiwa. Dewa Pedang cukup tertarik dengan kemampuan Dewa Rencong yang pernah diperlihatkan, yaitu kemampuan sedulur papat.
"Maaf paman, Suro datang tanpa permisi, karena ini dalam keadaan sangat gawat dan tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya panjang lebar. Intinya Suro harus membawa paman berdua menuju Perguruan Pedang Bayangan, sekarang juga."
Dewa Rencong dan Dewa Pedang yang sedang berlatih di ruangan khusus terkejut dengan kedatangan Suro yang muncul secara tiba-tiba. Mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya Suro terpaksa menjelaskan secara singkat tujuan kedatangannya.
Setelah selesai menjelaskan sesingkat mungkin, maka bersama mereka berdua Suro kemudian kembali ke Perguruan Pedang Bayangan. Dia tidak ada waktu lagi untuk mengumpulkan para tetua lain. Bahkan Dewa Pedang tidak diberi kesempatan untuk memberitahukan kepergiannya kepada wakilnya, yaitu eyang Udan Asrep.
Beruntung mereka bertiga datang dengan cepat sebab para tetua yang berjibaku dengan musuh sudah tidak sanggup menahan musuh lebih lama. Suro dibantu Dewa Pedang dan Dewa Rencong segera menyerang balik ke arah pasukan Batara Antaga. Pasukan kegelapan yang terus berdatangan menyerang Perguruan Pedang Bayangan terlihat jauh lebih banyak dibandingkan sebelum ditinggalkan Suro menjemput dua pendekar.
Tiga puluh bilah pedang milik Suro berseliweran menyerang musuh yang telah mengepung puncak bukit dimana relik kuno tersimpan. Serangan yang dilakukan Suro kali ini tidak menggunakan kekuatan api hitam dalam skala besar.
Karena itu hanya akan membuang-buang tenaga. Sebab kekuatan Batara Antaga dapat melenyapkan api hitam miliknya seperti sebelumnya.
Dia mengakali dengan menggabungkan tehnik api hitam dengan jurus pedang terbang miliknya. Sekujur bilah pedangnya diselimuti api hitam. Dengan panas api terkuat itu banyak sudah pasukan lawan yang berhasil dia habisi.
Setiap manusia bertanduk dan makhluk kegelapan yang tertebas bilah pedang yang dilambari api hitam, maka dalam sekejap itu juga akan diselimuti oleh api hitam. Mereka tidak akan ada yang selamat, sebab api itu akan membakar habis sampai menjadi abu.
Dewa Pedang dan Dewa Rencong menggunakan tehnik yang diajarkan dari Sang Hyang Ismaya. Tehnik yang menggabungkan kekuatan sedulur papat. Kekuatan yang menguasai keempat unsur alam utama.
Saat Suro sedang sibuk bertempur, mendadak Suro mendengar suara didalam kesadarannya.
'Tuan Suro, kumohon untuk secepatnya datang kesini, kami memerlukan kekuatan yang tuan miliki.'
'Geho sama? Apa yang terjadi?'
Geho sama lalu bercerita kepada Suro tentang musuh yang mereka hadapi.
'Baik, aku akan pergi kesana secepatnya."