
Setelah ajian puter giling dirapal maka dari tangan kiri Suro sesuatu yang bersinar melesat ke depan membentuk semacam gerbang gaib. Kemudian berputar cepat lalu kembali ke arah mereka. Dalam satu kejap semua sudah ditelan masuk ke dalam gerbang gaib.
Sekejap kemudian mereka sudah sampai di halaman rumah Kolo weling. Terlihat Mahadewi, Made Pasek sedang berlatih tehnik sepuluh pedang terbang. Diantara mereka tidak terlihat Kolo weling, entah dimana. Seharusnya dia ikut berlatih ilmu pedang itu bersama Mahadewi dan juga Made Pasek.
"Eh kakang Suro akhirnya sudah kembali, tetapi mengapa muncul secara menda..dak!" Mahadewi kebingungan melihat Suro muncul tanpa angin tanpa hujan dan juga tanpa mereka sadari sudah ada dihadapan mereka.
Namun mulutnya langsung tercekat, sebab secara berturut-turut muncul Dewi anggini, Dewa Pedang, Dewa Rencong dan juga empat orang lainnya yang Mahadewi tidak pernah mengenal sebelumnya.
"Guru ternyata datang bersama kakang Suro juga!" Melihat Dewi anggini juga datang menyusul, membuat langkahnya terhenti saat dia ingin mendekati Suro. Dia kemudian menjura dengan dalam ke arah mereka. Sebab selain ada gurunya diantara mereka juga ada kepala perguruan Pedang Surga, yaitu Dewa Pedang.
Made pasek melihat kedatangan mereka, juga langsung menghentikan latihannya. Kemudian berjalan untuk menyambut, dia ikut menjura seperti yang dilakukan Mahadewi.
"Bagaimana perkembangan latihan kalian? Apakah sepuluh chakra kecil di ujung jari tangan kalian sudah terbuka semua?"
"Aku sudah kakang Suro!"
"Kamu selalu tidak mengecewakan guru!" Dewi anggini tersenyum mendengar perkataan Mahadewi barusan.
"Sembah bekti murid. Mahadewi mampu melakukan, semua berkat gemblengan dari guru yang telaten membimbing Mahadewi selama ini." Maha dewi kembali menjura lebih dalam ke arah Dewi anggini.
"Mengapa sampai tiga purnama guru? Bukankah sebelumnya guru mengatakan hanya beberapa hari saja? Mahadewi sampai khawatir takut kenapa-kenapa." Mahadewi berbicara dengan gurunya sambil mencuri-curi pandang ke arah Suro. Agaknya yang lebih dia khawatirkan bukanlah gurunya, justru seseorang yang sedang berbicara dengan Made pasek, yaitu Suro.
"Sebenarnya memang hanya beberapa hari saja, tidak sampai setengah purnama. Namun entah mengapa saat sampai di perguruan pusat menurut perkataan mereka kami sudah pergi sejak tiga purnama yang lalu. Entah mengapa justru terjadi perbedaan waktu yang terentang waktu cukup jauh. Guru kurang memahaminya, nakmas Suro yang mengetahuinya. Apapun yang terjadi, itu bukan masalah besar. Sebab perjalanan itu akhirnya membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Guru dan lainnya akhirnya mendapatkan alasan, mengenai sabab musabab hilangnya ingatan kakang Sindu." Dewi anggini melanjutkan perbincangannya dengan Mahadewi.
Suro setelah bertanya kepada Made pasek tentang Kolo weling yang sedang sibuk meramu, dia kemudian pamit ke arah Dewi anggini untuk pergi menemui Kolo weling. Dia juga menyuruh empat mantan prajurit, yaitu Bekel Astawa dan yang lainnya untuk menunggu di rumah Kolo Weling.
Dia bersama Dewa Pedang dan Dewa Rencong kemudian melanjutkan perjalanan ke belakang rumah Kolo Weling. Tujuan mereka adalah rumah di atas bukit yang sekarang dijadikan tempat tinggal Maung dan juga tempat Kolo weling meramu racun dan juga penawarnya.
Sejak kepergiannya yang katanya sudah tiga purnama itu, maka rumah di atas bukit yang dipagar keliling dengan benteng yang cukup tinggi itu, otomatis hanya Kolo weling seorang yang berani memasukinya. Hal itu disebabkan keberadaan Maung begitu menakutkan bagi siapapun yang hendak memasukinya.
Beruntung Suro sudah membuatkan pagar betis yang tinggi, sehingga Maung sekalipun tidak sanggup melompatinya. Jika sampai Maung harimau sebesar sapi dewasa itu berkeliaran sendiri, tentu akan banyak penduduk yang jatuh pingsan karena ketakutan.
Setelah berjalan santai tidak beberapa lama Suro dan dua pendekar, akhirnya sudah sampai didepan gerbang besar yang begitu kokoh didepan mata mereka. Gerbang itu terbuat dari balokan kayu jati yang sudah tua, karena terlihat menghitam.
Sebelum gerbang itu dibuka, tanpa mereka sadari sesosok makhluk sudah menunggu dibalik gerbang. Begitu gerbang itu terbuka, maka sosok itu langsung berlari ke arah mereka dengan cepat seperti hendak menerkam.
"Ghoooooaaaarrrr!"
Sambil meloncat tinggi harimau itu mengaum dengan begitu keras, sehingga membuat kaget semua. Kejadian itu berlangsung secara cepat dan begitu mendadak. Bahkan hal itu tidak di antisipsi oleh dua pendekar dibelakang Suro. Sebab sepanjang jalan mereka terus sibuk membahas tentang sesuatu hal, sehingga tidak menyadari kedatangan Maung.
Demi melihat penampakan yang begitu mengerikan semua langsung bubar, kabur tunggang langgang, kecuali Suro yang tetap berdiri ditempatnya dan justru merentangkan tangannya dengan selebar-lebarnya. Karena dia tau makhluk yang mengaum dengan begitu keras itu ingin memeluk dirinya.
"Ternyata kamu sudah kangen dengan sahabatmu yang ganteng ini, Maung? Hahahha...!"
Pada saat Suro tertawa lebar, Dewa Rencong justru merutuk seperti bunyi petasan serenteng.
"Bocah semprul, sialan. Jantungku hampir saja copot. Tidak ada bocah waras yang mainannya harimau sebesar gajah. Dasar bocah gemblung sialan! kutu kupret!" Dewa rencong terus mengumpat panjang lebar kali tinggi. Karena dia benar-benar kaget setengah mati mendengar suara dan penampakkan Maung yang sangat mendadak.
Dewa Pedang tidak jauh berbeda dengan Dewa Rencong dia juga langsung melesat terbang cukup tinggi, setelah melihat Maung yang melompat ke arah mereka barusan. Bedanya dia hanya mengelus-elus dadanya, sebab nyawanya hampir saja keluar, demi melihat Maung yang datang secara mendadak.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah rumah di atas bukit. Dibelakang Suro agak berjauhan dua pendekar berjalan mengikutinya. Dewa Rencong masih melanjutkan tradisi umpatannya sepanjang jalan. Suro hanya tertawa mendengar umpatan Dewa Rencong yang tidak jua berhenti.
Apalagi saat dia ditawari untuk duduk diatas punggung Maung bersama dirinya, Dewa Rencong meruntuk bertambah cepat seperti kicauan burung yang menang lomba, tidak ada jeda maupun berhentinya.
Mendengar ocehan Dewa Rencong yang bertambah cepat, justru membuat Suro tertawa lebih keras. Dia tidak dapat menahan tawanya sambil duduk manis sendirian diatas punggung Maung. Bagi Suro ocehan pendekar dari Swarnabhumi itu menyerupai kicauan burung Murai batu. Sehingga bagi dirinya mungkin terdengar begitu indah. Tetapi mungkin bagi dia saja, sebab Dewa Pedang sampai menutupi kedua lubang kupingnya mendengar ocehan Dewa Rencong yang terus-terusan tanpa jeda.
"Nakmas Suro sudah datang ternyata! maaf nakmas, paman tidak mengetahuinya. Sehingga tidak menyambut kedatangan nakmas di depan gerbang!" Kolo weling yang sedang sibuk meramu obat, buru-buru keluar. Karena dia penasaran mendengar keributan yang berasal dari suara manusia di sekitar tempatnya bekerja.
Dia tidak takut adanya penyusup masuk ke area didalam bukit itu. Dia justru penasaran siapa yang berani berhadapan dengan Maung.
"Tidak usah paman, tidak perlu menyambut segala. Suro masih sanggub melakukannya sendiri."
Kolo weling tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Suro. Dia sudah memahami pasti Suro tidak mau diperlakukan istimewa.
"Tidak perlu Kolo weling." Dewa Pedang menepuk pundak Kolo weling sambil mengajak berjalan ke arah ruangan tempat dia meramu racun. Setelah melihat kedatangan Kolo weling barusan, Dewa Rencong baru mau menghentikan omelannya. Dia yang masih kesal hanya mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum membalas ucapan Kolo weling barusan.
"Bagaimana paman Kolo weling, apakah ada kemajuan dalam mempelajari kitab dewa racun?"
"Tentu saja nakmas, karena setelah nakmas pergi sekitar satu setengah purnama seseorang datang berkunjung ke perguruan pusat Pedang Surga. Dia mengaku bernama Tohjaya."
Sambil berbincang mereka terus berjalan ke arah ruangan yang dijadikan tempat Kolo weling meramu.
"Menurut perkataan Eyang Udan Asrep dia adalah kepala Perguruan Racun Neraka yang baru. Setelah urusan dengan perguruan Pedang Surga selesai, oleh eyang Udan Asrep kemudian diantar ke sini. Wakil ketua eyang Udan asrep memintanya membantu paman memahami kitab dewa racun."
"Benarkah? Aku tidak menyangka paman Tohjaya sampai datang kesini dan mengajari paman Kolo weling."
"Sebenarnya guru Tohjaya ingin bertemu langsung dengan nakmas. Paman sudah menganggabnya sebagai guru. Sebab selama lebih dari setengah purnama guru Tohjaya mengajari banyak tehnik rahasia tingkat tinggi dalam meramu racun dan penawar yang tidak aku ketahui sebelumnya."
"Guru Tohjaya melatih paman sampai sebegitu lamanya, sebenarnya tujuan awalnya hendak menunggu nakmas kembali dari Karang ampel. Tetapi setelah menunggu lebih dari setengah purnama nakmas tidak juga kembali, akhirnya dia pulang ke Dahanapura."
"Sebelum pergi guru Tohjaya menitipkan sesuatu untuk nakmas. Menurut guru itu adalah racun terkuat yang dapat digunakan untuk menandingi jurus selaksa dewa racun milik Dukun sesat dari Daha. Guru berpesan nakmas mengikuti intruksi yang ditulis, jika ingin menggunakannya dalam jurus selaksa dewa racun." Kolo weling kemudian memberikan kepada Suro sebuah bungkusan.
"Sebenarnya guru ingin memberikan langsung dan berbicara dengan nakmas, namun beliau sudah tidak ada waktu lagi. Karena dia harus buru-buru kembali ke Perguruan Racun Neraka. Menurut guru Tohjaya akan sangat berbahaya, jika dia meninggalkan perguruan yang baru saja dia bangun kembali, ditinggalkan begitu lama."
Dewa Pedang justru sibuk menatap ke arah dinding ruangan, dimana terlihat berderet-deret kelenting kecil semacam botol dari bahan semacam seperti kaca atau sesuatu yang mirip, ditata dengan cukup rapi.
"Apakah ini adalah penawar untuk berbagai racun yang Kolo weling buat?" Dewa Pedang menatap ke arah Kolo weling.
"Tepatnya hamba membuat itu semua berkat bantuan dan bimbingan dari guru Tohjaya."
"Akhirnya Perguruan Pedang Surga mendapatkan ahli racun dan juga tabib yang mumpuni. Sehingga bisa menjadi andalan!" Suro berseru dengan girang.
"Maksud nakmas?" Kolo weling terlihat kebingungan mendengar ucapan Suro barusan.
Uhuk! Uhuk
Mendapat pertanyaan dari Kolo weling, Suro justru pura-pura terbatuk dan mulai melirik ke arah Dewa Pedang sambil senyam-senyum.
Melihat Kolo weling yang terlihat kebingungan Dewa Pedang akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengangkat tabib weling masuk dalam bagian dari Perguruan Pedang Surga, yaitu masuk dalam bagian khusus pengobatan. Apakah tabib weling bersedia?"
Kolo weling tidak segera menjawab dia justru sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
"Tetapi anu tuan pendekar Dewa Pedang, bagaimana dengan para penduduk yang akan berobat? Hamba berat jika harus meninggalkan mereka dan tidak bisa menolong dengan memberikan pengobatan gratis bagi sebagian penduduk yang tidak mampu."
"Tidak ada yang berubah dari status itu Kolo Weling. Kamu masih bisa melakukan kegiatanmu seperti biasa. Bukankah tempat ini juga tidak terlalu jauh dari perguruan pusat Pedang Surga?"
"Saya menerima tawaran tuan pendekar. Selama saya tetap diperkenankan membantu para penduduk mendapatkan pengobatan gratis."
"Tentu saja Perguruan Pedang Surga, justru akan mendukung mengenai hal itu. Perbedaan yang ada setelah masuk ke dalam perguruan yang aku pimpin, adalah pesanan berbagai obat untuk keperluan perguruan kepada Kolo weling secara rutin. Selain itu ada dana yang akan membantu operasional Kolo weling. Dari perguruan Pedang Surga juga akan ikut membantu mencari bahan yang digunakan untuk membuat ramuan obat."
"Mengenai hal yang lain dipikirkan saja nanti sambil berjalan."
"Nuwun inggih tuan pendekar."
"Walaupun secara resmi belum masuk sebagai bagian perguruan. Tetapi kamu sudah menjadi bagian Perguruan Pedang Surga. Jadi cukup kamu panggil aku ketua perguruan atau kepala perguruan."
"Nuwun inggih tuan..eh ketua perguruan." Kolo weling tersipu karena belum terbiasa memanggil Dewa Pedang dengan sebutan ketua perguruan.
Mereka berdua berdiskusi panjang lebar cukup lama ditemani Dewa Rencong. Suro memilih bermain-main dengan Maung. Harimau itu sepertinya bosan berada di sekitar bukit itu. Akhirnya Suro mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan.
**
Ditunggu dukungan reader berupa coment, like, point dan koinnya.