
Gerakan siluman Wewe Gombel begitu cepat
Wihihihihi.......!
Jdaaaar!
Siluman itu tertawa seakan mengejek, setelah beberapa kali Jurus Jari Dewa Mengguncang bumi mampu dihindari oleh siluman itu. Sebaliknya berkali-kali serangan milik siluman itu nyaris mengenai Suro.
Dewa Rencong begitu geram tubuhnya segera meloncat tinggi mencoba membelahnya menjadi dua, tetapi kembali siluman itu mampu mengelak.
Sinar dari kedua mata siluman yang memiliki ukuran sebesar kepalan tangan manusia itu menghantam ke arah Suro. Sinar itu mampu meledakkan batu besar yang dipijaknya. Beruntung ilmu meringankan tubuhnya mampu menyelamatkan dirinya dari serangan yang mematikan itu.
"Bagaimana ini paman sepertinya siluman itu bisa membaca serangan kita. Bahaya jika kita tidak segera menghabisinya, takutnya nanti paman bisa digondol pergi."
Dewa Rencong tidak menjawab perkataan Suro dia hanya bisa mendengus kesal sambil bersalto untuk menghindari serangan siluman yang terus mengejarnya.
"Apa aku bilang, siluman itu sepertinya menyukaimu paman!" Suro berteriak keras sambil tertawa melihat Dewa Rencong terus dikejar Siluman Wewe Gombel.
Siluman itu terus mengejar Dewa Rencong sambil terus menghantamkan serangan yang berupa sinar dari kedua matanya. Serangan dari siluman dengan mudah dihindari oleh pendekar dari Swarnabhumi itu, justru dia berhasil menyerang balik ke arah silumman dengan menggunakan pedang cahaya miliknya. Walaupun serangan itu tidak membuat luka serius pada tubuh siluman tersebut.
Saat siluman itu sibuk menghindari serangan balik dari Dewa Rencong, maka Suro mengambil kesempatan itu untuk menyerang siluman Wewe Gombel.
Blaaar!
Dengan hilangnya terjangan sinar dari jurus Suro, siluman itupun jatuh ke tanah dengan tubuh terbelah menjadi dua.
"Akhirnya selesai sudah." Suro tertawa melihat Dewa Rencong mendengus kesal siluman yang digunakan untuk menjajal pedang cahaya miliknya sudah mati.
"Hahahahaha...! Tenang saja untuk siluman berikutnya Suro biarkan pedang paman yang menghabisinya."
Setelah siluman Wewe Gombel itu berhasil dihabisi mereka kemudian melanjutkan pencarian ke seluruh bagian dari desa Kedung Gede. Tetapi setelah beberapa kali memutari desa yang tidak terlalu besar itu, mereka tidak melihat ada tanda-tanda kehadiran siluman. Maka Dewa Rencong memutuskan, kembali meneruskan perjalanan menuju ke desa berikutnya.
Setelah menembus area persawahan yang membentang luas akhirnya mereka sampai di desa Pulutan. Di desa itu mereka bertemu dengan dua ekor ular raksasa yang mengamuk. Ular itu mampu menyemburkan racun ke arah mereka berkali-kali. Suro mengingatkan Dewa Rencong akan bahaya racun yang disemburkan itu. Dia sedikit khawatir melihat pendekar Swarnabhumi itu, terlalu bernafsu untuk segera menghabisi dua siluman tersebut. Suro merasakan kekhawatiran itu cukup beralasan, karena racun itu begitu ganas sehingga mampu melumerkan tubuh manusia menjadi seonggok daging tanpa butuh waktu yang lama.
Melalui pertarungan yang sangat sengit, akhirnya dua siluman ular itu mati. Setelah pertarungan itu selesai maka mereka kembali melanjutkan perburuannya. Tujuan mereka berikutnya adalah suatu desa yang berada disebelah utara timur laut dari desa Pulutan. Nama desa itu adalah desa Kali Gowa yang artinya sungai dari dalam goa.
Nama itu sebenarnya diambil dari sebuah Goa besar yang terdapat dipinggiran desa. Sebab dari dalam goa itu memang mengalir keluar sebuah sungai bawah tanah yang cukup deras aliran airnya.
Sampai didesa itu mereka segera menuju ke Goa besar yang menjadi asal-usul nama desa tersebut. Goa itu berada disisi sebelah kanan dari desa. Menurut penjelasan Ki Demang Kalinyamat para penduduk Kali Gowa pertama kali melihat penampakan ular keluar dari goa tersebut. Sebelum mengamuk menghancurkan setengah desa dan membuat para penduduk sangat ketakutan. Apalagi saat siluman itu memangsa sanak saudara mereka, membuat para penduduk memilih meninggalkan desa secepatnya.
Konon kabarnya goa tersebut tembus sampai laut kidul. Tetapi entah benar atau salah sebab tidak ada yang benar-benar berani membuktikan legenda itu. Hal itu disebabkan sungai bawah tanah yang mengalir ke luar dari dalam goa sewaktu-waktu dapat meluap dan memenuhi goa besar itu.
Mereka menunggu cukup lama didepan mulut goa yang lumayan lebar. Mereka tidak memasuki goa tersebut karena kondisi sudah malam, sehingga tidak memungkinkan memasukinya. Karena memang dengan kondisi itu semakin membuat dalam goa bertambah gelap.
"Tidak ada silumannya paman! Tetapi jelas Ki Demang mengatakan sebuah siluman ular yang sangat besar berada dalam goa ini. Apa Ki Demang Kalinyamat tidak salah mengatakannya?"
"Tunggu sebentar nakmas, aku merasakan hawa pembunuh yang kuat keluar dari dalam goa itu. Entah makhluk apa? Tetapi dia mulai mendekat."
"Benar paman, aku juga mulai merasakan hawa pembunuh yang pekat. Selain itu kekuatan siluman ini agaknya lain dari pada sebelum-sebelumnya paman."
Sssshhhhhhh! Ssssshhhhh!
Setelah hampir tiga paha ayam masuk kedalam mulut Suro, mendadak penampakan ular sangat besar menyeruak keluar dari mulut goa. Suara desisan ular itu sudah terdengar terlebih dahulu sebelum kepalanya muncul dari dalam goa.
"Sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Pasti kekuatan siluman ular ini berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan siluman yang pernah kita hadapi paman."
Jarak antara mereka dengan siluman ular itu tak lebih dari empat tombak. Tentu dalam jarak yang tidak terlalu jauh itu bukan jarak yang aman dari terjangan ular yang begitu besar.
"Agaknya siluman ini bisa digunakan untuk menguji kekuatan pedang cahaya milik paman yang berwarna biru itu."
"Benar nakmas, siluman ini lebih kuat berkali lipat. Seluruh sisik yang menutupi tubuhnya, aku yakin memiliki tingkat kekerasan yang jauh melebihi siluman sebelumnya."
"Apakah paman membutuhkan pil ini untuk memulihkan kekuatan terlebih dahulu?"
"Tulang tua ini lebih kuat daripada tulangmu anak muda!"
"Baiklah, jika paman menolak pil tujuh bidadari ini. Padahal khasiat pil ini mampu memulihkan kekuatan pendekar yang sudah berada pada tingkat shakti sekalipun." Suro kembali memasukan pil itu kedalam botol kecil yang dia simpan dipinggangnya.
"Silahkan paman berbincang-bincang dengan ular siluman itu?
Suro menunjuk ke arah ular besar yang masih belum beringsut dari mulut goa. Suara desisnya begitu menakutkan. Kemungkinan umur dari siluman itu lebih dari lima ribu tahun. Bisa dilihat dari besar dan aura kekuatan yang dipancarkannya. Bentuk tubuhnya setengah manusia lidahnya terus menjulur-julur seperti kebiasaan ular lainnya.
"Lebih baik Suro tidak mengganggu pertempuran paman kali ini. Agar paman bisa memastikan dan mengira-ngira pedang cahaya jenis apa untuk menghadapi siluman yang tingkatnya lebih tinggi seperti ini."
"Hati-hati paman, ular itu sedang kelaparan. Bahkan dia menyebut paman sebagai kambing bandot."
Dewa Rencong mengaruk-garuk kepalanya sambil mendengus geram, sebab selesai berbicara Suro justru melangkah menjauh menuju ke arah belakang. Di bawah sebuah pohon jati yang besar, dia kembali meneruskan kegiatannya memakan perbekalan yang terhenti bersama kedatangan siluman ular barusan. Dan dengan tanpa rasa bersalah dia mulai menghabiskan ayam goreng sambil menyaksikan pertarungan Dewa Rencong melawan Ular raksasa itu.
"Semangat matamu! Dasar bocah gemblung!" Dewa Rencong meruntuk memaki-maki sambil menghindari terjangan ekor ular yang mulai menyerangnya. Kekuatan hantaman ekor ular itu mampu menghancurkan pohon besar sekali libas.
Pedang cahaya yang terlihat jelas bersinar biru dibawah temaram cahaya bulan berhasil menebas berkali-kali ke badan Ular.
'Edan pedang cahayaku hanya mampu membuat luka kecil. Pedang cahaya ini tidak akan mampu memotong tubuh ular itu dengan sekali tebas.'
Melihat pedang cahaya miliknya tidak berefek besar melukai tubuh ular, maka dia mengerahkan tenaga dalam lebih besar untuk membuat pedang cahaya miliknya itu bertambah lebih kuat. Setelah pengerahan tenaga dalam yang besar wujud dari pedang cahaya miliknya berubah menjadi putih bersih dan lebih menyilaukan daripada sebelumnya.
Braaaak!
Siluman ular itu mengamuk menerjang Dewa Rencong dan tidak membiarkan pendekar Swarnabhumi itu bernafas.
Demi menghindari serangan siluman ular itu Dewa Rencong bergerak dengan sangat cepat dan mulai membuat serangan balasan yang mampu melukai sekujur tubuh ular besar itu. Pada serangan penutupan pedang energi yang keluar dari jempol kanannya itu bersinar begitu menyilaukan.
Craaaas!
Begitu pedang cahaya yang bersinar putih itu diayunkan ke kepala ular itu, maka langsung jatuh mengelinding di tanah. Belum puas dengan memotong kepala, Dewa Rencong kembali mengayunkan pedangnya ke tubuh ular itu, untuk memastikan ular itu benar-benar mati. Sebab saat kepala itu mengelinding, tubuh ularnya masih menghantam ke arah Dewa Rencong dan menerjang ke sekeliling membuat dentuman berkali-kali.
"Habis sudah ayam gorengnya!" Kata Suro sambil beranjak dari tempat duduknya. Kakinya segera melangkah mendekati Dewa Rencong yang terlihat kelelahan. Sebab pedang cahaya yang bersinar putih barusan ternyata memerlukan tenaga dalam yang sangat besar. Walaupun tingkat tenaga dalam pendekar itu sudah sangat tinggi.
"Bagaimana paman masih menolak pil ampuh ini?" Suro mengacungkan satu butir pil didepan wajah Dewa Rencong yang sedang bersandar pada sebuah pohon. Tanpa perkataan apapun dia langsung merebut dari tangan Suro.
Setelah menelan obat itu dia mulai bermeditasi untuk membantu tubuhnya menyerap khasiat obat tersebut.
Suro hanya tertawa-tawa kecil melihat Dewa Rencong akhirnya menerima pil yang dia tawarkan. Sambil menunggu Dewa Rencong selesai bersamadhi, Suro memainkan sebuah alunan suara menggunakan selembar daun yang dia tiup.
Alunan suara itu terdengar begitu merdu memecahkan keheningan malam pedesaan yang sedang ditinggal penghuninya itu. Suara alunan itu bahkan terdengar sampai jauh.
Tanpa dia sadari belasan binatang malam mendekati dirinya yang menghayati setiap alunan nada yang dia tiup. Cukup lama Suro terus memainkan nada-nada yang keluar dari selembar daun yang ada diujung mulutnya itu. Suara alunan nada itu berhenti begitu Dewa Rencong terbangun dari samadhinya. Setelah melalui meditasi yang agak lama tadi akhirnya Dewa Rencong mampu menyerap seluruh khasiat obat dengan sempurna.
Suro segera berhenti memainkan daun yang ada diujung bibirnya, sebab begitu Dewa Rencong bangun, hewan liar yang sedang mengerumuni Suro segera kabur menjauh.
"Alunan nada apa yang nakmas mainkan barusan? Para hewan liar sampai berdatangan begitu banyaknya ikut menikmati alunan suara yang nakmas buat. Bahkan membuat mereka terlihat jinak."
"Alunan nada yang barusan saya mainkan Suro mengenalnya dengan nama nyanyian Sri Krisna."
"Nyanyian Sri Krisna? Paman tidak pernah mendengar ada nama kidung seperti itu. Tetapi terus terang alunan nada itu terasa tidak biasa nakmas. Paman merasa terbantu dalam meditasiku. Membuat pikiran tenang dan damai sesuatu yang sangat mengagumkan. Seperti mampu menyingkirkan semua hawa buruk. Bahkan seekor macan kumbang yang ikut bergabung mendengar alunan suara dari nakmas seakan sifat buasnya hilang."
Suro hanya mengangguk-angguk mendengar perasaan Dewa Rencong setelah mendengar alunan suara yang dia buat.
"Apakah suara alunan barusan bisa dijadikan senjata untuk menyerang musuh, nakmas?"
"Bisa dicoba paman kepada siluman berikutnya yang akan kita temui. Kali saja paman menginginkan peliharan seekor siluman Wewe Gombel yang bisa mengantar paman terbang kemanapun dengan lebih cepat."
Dewa Rencong hanya membalas dengan dengusan khasnya.
"Dari mana nakmas mendapatkan alunan nada itu?"
Suro terlihat agak ragu-ragu untuk menjawab.
"Suara alunan nada yang saya mainkan itu masuk ke dalam pikiranku saat aku menyerap sebuah kitab yang tidak memiliki aksara."
"Kitab apa yang nakmas maksud?"
"Kitab milik Eyang Sindurogo paman."
Suro tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai kitab tersebut. Dia justru mulai membersihkan tangannya dalam air sungai yang ada didekatnya.
"Apakah paman sudah merasa baikan sekarang?" Suro keluar dari pinggir sungai dan mulai mengeringkan tangannya yang basah.
"Ini bukan saja baikan nakmas. Aku merasa seperti kembali muda. Tenaga yang terhimpun begitu meluap-luap. Paman menjadi bertambah semangat untuk memburu para siluman selanjutnya." Dewa Rencong bangkit dari duduk bersilanya dan mulai melakukan peregangan dikaki dan tangannya. Agaknya dia sudah bersiap untuk memburu para siluman didesa berikutnya.
Setelah selesai membunuh siluman ular di desa Kali Gowa mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara. Desa-desa yang akan dituju itu masih berbatasan dengan daerah Rahtawu disisi timurnya.
Dalam perburuan dibeberapa desa tersebut berbagai macam siluman mereka temui. Mereka semua makhluk yang sangat mengerikan baik kekuatannya, wujudnya maupun ukurannya sesuatu yang sangat tidak lazim.
Pertempuran yang mereka lakukan sepanjang malam itu membuat mereka menjadi begitu kompak dalam melakukan serangan kepada para siluman. Setiap serangan yang mereka lakukan seakan saling mengisi, sehingga para siluman itu mampu dihabisi semua.
Dengan pertempuran itu pula Dewa Rencong sangat yakin mampu menghabisi para siluman kedepannya dan juga para pendekar lain yang sudah mencapai tahap pedang langit. Dengan temuan yang belum lama diketahuinya itu membuat dia merasa yakin mampu menghabisi para siluman tanpa mengharuskan Suro menggunakan jurus empat sage untuk menghisap kekuatan para siluman itu.
Menjelang fajar mereka telah menyelesaikan semua misi perburuan siluman di desa-desa, mengikuti petunjuk yang telah dijelaskan Ki Demang Kalinyamat. Sampai matahari mulai menyeruak diufuk timur sudah lebih dari dua puluh kampung disambanginya. Para siluman yang telah menyerang didesa-desa itu akhirnya mampu dihabisi semua.
"Akhirnya selesai sudah paman tugas kita menolong para penduduk Kademangan Kalinyamat ini."
"Sebaiknya kita segera balik ke kota kademangan untuk memberitahukan hal ini kepada Ki demang."