
"Serangan ini berasal dari Karuru, kita harus menghabisi Karuru dan merebut pusaka iblis kunci langit darinya." ucap Geho Sama.
"Tentu, tetapi sebelum kita mengejar, sebaiknya aku akan menyingkirkan serangan darinya terlebih dahulu!" Balas Suro sambil menatap lesatan bayangan hitam dari atas langit.
Suro menahan Geho Sama yang hendak mengerahkan jurus Langkah Maya. Ucapan Suro membuat langkah Geho Sama terhenti. Dia sepertinya sudah tidak sabar untuk menghadapi Karuru. Matanya menatap kelangit dimana lesatan bayangan hitam datang.
"Janus Agni Sahasra!"
Suro segera melesatkan panah api miliknya. Seketika anak panah yang dia lesatkan berkali-kali itu mengganda dan menjelma menjadi ribuan anak panah yang menyasar para pasukan yang
diciptakan Karuru dari pusaka kunci langit.
Mereka adalah Braholo yang entah bagaimana telah diperkuat dengan aura sesat dari pusaka iblis Kunci Langit. Tubuh mereka juga dipenuhi zat asam yang mampu menghancurkan apapun.
Ledakan setiap panah segera membungkus para Braholo dengan api hitam. Dalam waktu yang singkat semua Braholo yang hendak turun menyerang pasukan kekaisaran telah lenyap.
Melihat jurus Suro berhasil melenyapkan lesatan serangan yang datang dari atas langit, Jendral Yuwen Shiji dapat bernafas dengan lega. Matanya kembali menatap ke arah api hitam yang mulai padam.
Berkat serangan Suro sebelumnya, pergerakan pasukan musuh berhenti seketika. Api hitam yang sebelumnya membumbung tinggi membuat mereka tidak segera melanjutkan serangan.
Kesempatan itu digunakan pasukan pemanah kekaisaran terus menghujani mereka yang masuk dalam jarak tembak.
Jendral Batjargal menggerung penuh kemarahan, akibat serangan Suro dan Geho Sama ikut melenyapkan ratusan pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis. Sehingga pasukan yang menjadi andalannya berkurang banyak.
Setelah lautan api dihadapan mereka lenyap, maka pasukan mayat hidup milik ketua Yin Hua segera bergerak mendekat ke arah benteng. Hujan panah dari pasukan kekaisaran tidak menghentikan langkah mereka.
Panah yang menancap pada tubuh mereka tidak berarti apa, sebab memang mereka tidak merasakan sakit sama sekali. Mereka semua tidak lebih dari pada wadak bagi para hantu yang menjadikan mereka sebagai pasukan mayat hidup. Ketua Yin Hua memang sengaja menjadikan pasukan mayat hidup itu sebagai tameng pasukan yang lain.
Jendral Batjargal segera menggerakkan seluruh pasukan Khan Langit begitu pasukan Ketua Yin Hua bergerak. Para pendekar aliran hitam yang lain juga mengikuti langkah Jendral Batjargal.
Pemimpin pasukan kebanggaan Kerajaan Goguryeo yaitu Jendral Sejong dan Jendral Joseon segera bergabung. Mereka segera memimpin pasukan Goguryeo ikut merangsek ke depan.
Mereka serentak kembali menggempur pasukan kekaisaran yang berlindung didalam benteng lapis kedua. Suro sempat menatap ke arah pertempuran yang ada di bawah.
"Seranganmu sebelumnya sudah cukup membantu mereka. Lebih baik kita segera menghabisi Karuru. Dia ancaman yang lebih berbahaya!" Geho Sama memahami apa yang sedang dipikirkan Suro yang hendak membantu pasukan kekaisaran.
Suro menganggukan kepala menjawab ucapan Geho Sama. Setelah itu mereka berdua segera mengerahkan Langkah Maya secara bersama-sama menuju ke atas awan mengejar Karuru. Sekejap kemudian mereka telah muncul dibalik awan.
Setelah mereka sampai diatas awan mereka tidak menemukan Karuru. Begitu juga mereka berdua tidak melihat satupun pasukan Elang Langit yang sebelumnya menghilang setelah mengetahui Suro berhasil membunuh para Kingkara.
Sosok lain justru telah mununggu kedatangan mereka. Sesosok yang kini berada dihadapan mereka adalah makhluk hitam yang memiliki dua sayap, tetapi wujudnya tidak mirip sama sekali dengan Karuru.
Justru wajahnya mirip seperti para Braholo yang menyerupai manusia serigala. Namun dalam ukuran teramat besar. Tingginya lebih dari lima kali tubuh manusia normal.
"Dibandingkan dengan Karuru makhluk ini justru lebih mirip para Braholo. Apakah Karuru telah menyerap semua Braholo dan bersatu dengannya, sehingga wujudnya berubah menjadi sebesar ini?" ujar Suro sambil menatap wujud raksasa yang ada didepannya.
"Benar dengan apa yang kau katakan, makhluk ini mirip Braholo andai makhluk itu tidak memiliki sayap dikedua belikatnya." ujar Geho Sama membalas ucapan Suro sambil menatap dari jauh makhluk yang dimaksud.
"Para Baraholo yang sempat melesat dari balik awan tadi apakah juga berasal dari pecahan tubuh raksasa ini?" imbuh Suro sambil memperhatikan sekitar mencoba menemukan musuh lain.
Tetapi selain raksasa itu mereka berdua tidak menemukan siapapun. Karena itu tatapan mereka berdua kini hanya tertuju kepada makhluk raksasa berwarna hitam dengan wujudnya yang begitu menakutkan.
"Dari tubuhnya itu memancarkan aura sesat mirip sekali dengan aura pusaka iblis kunci langit. Mungkinkah memang Karuru bersembunyi dibalik wujud raksasa ini?" ucap Suro kembali sambil memincingkan mata dan menoleh ke arah Geho Sama. Tangannya tidak berhenti menggaruk-garuk kepala.
"Entahlah, aku juga tidak mengetahuinya. Kita buktikan saja apakah memang benar perkiraanmu itu!"
Sebelum Geho Sama memulai serangan, tanpa diduga makhluk raksasa itu justru lebih dahulu menyemburkan sesuatu yang mirip asap tebal yang menerjang cepat ke arah mereka.
"Goooooaaarrrrrggggghhhh!"
Suro segera menyadari hal itu dan mulai berteriak ke arah Geho Sama, "cepat menghindar Geho Sama, jangan sampai terkena!"
"Vayuvyastra!"
Suro segera mengerahkan astra milik Batara Bayu dewa penguasa angin. Maka muncul seketika badai angin ribut yang segera melenyapkan serangan dari asap yang disemburkan makhluk raksasa dari mulutnya.
"Maha Naga Taksaka!"
Geho Sama tidak tinggal diam bersama Lodra dia mengerahkan tehnik perubahan api hitam yang berwujud naga raksasa. Wujud dari Naga Taksaka menyerupai semburan api yang begitu besar. Kobaran api itu melesat dan mulai menggulung tubuh sang raksasa.
"Gooooaaaaarrrrrrrr...!"
Kembali rakasasa itu menyemburkan asap putih yang menyelubungi tubuh Maha Naga Taksaka. Sehingga seluruh kobaran api itu dan juga tubuh raksasa itu terselubungi kabut pekat.
Setelah itu raksasa itu menyemburkan ke arah Geho Sama dan Suro.
Goooooaaaaaarrrrrggghhhhh.....!
Gerungan kemarahan makhluk itu kembali disertai dengan semburan semacam asap. Suro mengetahui jika asap itu mampu melumerkan apapun karena bersifat sangat asam.
Tetapi selain bersifat asam, Suro merasa semburan milik raksasa itu ada sesuatu yang berbeda. Sebelum mengetahui perbedaannya mereka berdua memilih menjauh terlebih dahulu.
Salah satu alasannya adalah rasa keterkejutan mereka saat menyaksikan semburan raksasa itu mengenai api hitam yang dikerahkan Geho Sama dan Lodra. Setelah asap itu menyelubungi kobaran api Maha Naga Taksaka, maka sesuatu hal yang mengejutkan terjadi. Kobaran api hitam yang awalnya mengganas, kini dengan cepat meredup dan akhirnya padam.
"Bagaimana caranya api itu bisa dipadamkan?"
Suro dan Geho Sama memilih muncul ditempat yang cukup jauh dari jangkauan semburan dari raksasa. Hal mengejutkan lainnya juga mereka rasakan saat semburan itu mengarah kepada mereka.
Saat semburan asap itu menerjang mereka berdua, maka nafas mereka mendadak seakan tersumbat dada terasa begitu sesak. Meski saat itu semburan dari raksasa belum mengenai tubuh mereka.
Mereka berdua tidak mengetahui apa sebabnya. Namun saat mereka mencoba bernafas, udara seakan menipis atau justru menghilang. Sehingga dada seakan mau pecah. Karena itulah mereka segera mengerahkan Langkah Maya.
"Kau juga merasakan juga, Geho Sama?"
"Benar nafasku seakan terputus. Huuuuuffffttt...!" Geho Sama kembali menghembuskan nafasnya.
"Apakah kabut yang kini melingkupi tubuh raksasa itu memiliki kemampuan menyerap udara sekitar?" Suro masih belum mengerti dengan kekuatan lawan.
"Kabut jenis apa yang dia kerahkan barusan, sehingga memiliki kemampuan yang mengerikan itu?" imbuh Suro dengan penuh rasa penasaran.
"Benar juga, aku mengerti sekarang mengapa api hitamku bisa dipadamkan. Seperti prinsip dalam alam, api akan membutuhkan angin, seperti juga ikan membutuhkan air. Tanpa nya, maka sedahsyat apapun kobaran api yang kita kerahkan akan tetap padam, meskipun itu adalah api tahap hitam." sahut Geho Sama segera mengerti apa yang terjadi
"Kalian semua kali ini akan aku habisi! Termasuk kau juga Geho Sama, kali ini aku pasti akan mengalahkanmu! Lihatlah wujud MahaBhuta ku ini! Hahaha...!"
Suro tertegun mendengar suara menggelegar dari raksasa yang berdiri mengambang dikejauhan itu dapat berbicara dengan bahasa manusia. Tetapi dengan kejadian itu yakinlah kini memang benar itu adalah wujud Karuru yang entah bagaimana bisa memiliki wujud begitu mengerikan.
Dengan tubuhnya yang sebesar itu, ditambah warna tubuhnya yang hitam pekat, lalu sorot matanya yang menyala semakin membuat sosok itu sangat mirip iblis.
"Dengan bermodalkan kekuatan seperti ini kau ingin mengalahkanku? Kau sepertinya belum bangun dari tidurmu Karuru!" ucap Geho Sama yang diakhiri dengan tawa kerasnya.
Ucapan Geho Sama semakin membuat kemarahan Mahabhuta bertambah meluap-luap.
"Kalian akan aku habisi semua! Kalian pikir dengan memiliki api neraka mampu membunuhku! Dengan kekuatanku sekarang jurusmu itu tidak ada gunanya!"
"Gooooaaaaarrr!"
Suara keras dari wujud baru Karuru yang bernama Mahabhuta menyemburkan kembali asap berwarna putih ke arah Suro dan Geho Sama. Mereka berdua mengetahui itu sangat berbahaya, sehingga sebelum terkena segera menghindar menggunakan Langkah Maya.
"Kiranya Karuru telah menemukan jurus yang mampu melawan api hitam kita bocah. Lebih baik kita gunakan jurus Brahmastra. Dengan serangan secepat kilat, maka jurusnya itu tidak berguna." Geho Sama menberikan usul kepada Suro.
"Baiklah, mari kita coba!"