
"Kakang nanti mampir kediamanku ya, akan aku perkenalkan kepada bopo ku," ucap Mahadewi kepada Suro.
Pemuda itu hanya menyengir dan mulai menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa kakang? Sepertinya kakang tidak meyukai permintaanku?"
"Bukan, bukan itu maksudku," sanggah Suro berubah menjadi kalut. Sebab wajah Mahadewi mulai berwarna merah seperti udang yang baru saja direbus.
"Jadi kakang setuju?" tanya Mahadewi kembali dengan wajah penuh selidik.
Suro sedikit ragu sebelum dengan pasrah akhirnya menganggukkan kepala. Wajah Mahadewi berubah menjadi begitu ceria melihat Suro menganggukan kepala.
Tetapi itu hanya berlangsung sekejap lalu menghilang dan berganti cemberut dan wajah yang mulai memerah hendak meledakkan kemarahannya. Namun urung dia lakukan, sebab Dewi Anggini berada didekat mereka, atau tepatnya sedang berjalan dibelakangnya bersama para pendekar lain.
"Kakang Suro jangan lupakan Niscita disini," ucap wanita ayu yang tiba-tiba muncul menggandeng tangan sisi lain dari tangan yang sedang dipegang Mahadewi.
"Cilaka," ucap Suro sambil menggeleng-gelengkan kepala, pertanda kepalanya sedang pusing tujuh keliling.
"Apa yang kau tertawakan Geho Sama, senang sekali melihat orang susah!" ucap Suro dongkol.
"Sukurin...." ucap Geho Sama melengos ke depan, dia lalu mulai membentuk gerbang gaib untuk mengantarkan semua menuju Medang.
****
Mereka setelah sampai di Perguruan yang didirikan Dewi Anggini, langsung meneruskan langkah bersama-sama menemui Dewa Pedang.
Setelah mendengar penjelasan dari Dewa Pedang, mereka menemukan kesamaan dengan apa yang dikemukakan Kolo Weling. Namun ada beberapa hal yang tidak diketahui Kolo Weling yang kini diceritakan oleh Dewa Pedang. Penjelasan tambahan itu terkait dengan Pusaka Kunci Langit.
"Apa? Jadi Pusaka Kunci Langit itu terbagi menjadi tiga bagian!" tanya Dewa Rencong dengan terkejut mendengar ucapan Dewa Pedang
"Benar itu kakang Salya, itu sebenarnya senjata jiplakan dari Sang Hyang Batara Guru. Bentuknya berupa tombak trisula di kedua sisinya. Bagian yang aku simpan adalah salah satu ujung trisula. Sedangkan yang ada di negeri Champa adalah trisula lainnya." Jelas Dewa Pedang didepan semua orang yang mengelilinginya.
Dewa Pedang lalu memperlihatkan kepada mereka semua sebuah batu persegi berwarna hijau yang terus berpendar.
"Batu giok dewa, pantas saja aura sesat dari senjata itu dapat ditekan, ternyata menggunakan wadah khusus."
Suro akhirnya bisa memaklumi, mengapa selama dia di rumah Dewa Pedang tidak merasakan hawa sesat dari pusaka iblis itu.
"Eyang Sindurogo sudah berpesan kepadaku, jika kalian telah datang, maka semua sesepuh dan seluruh anggota perguruan akan menyusul ke Gunung Arjuno."
"Mengapa harus menuju Gunung Arjuno, paman guru?" tanya Suro.
"Kita harus menjemput eyang Sindurogo terlebih dahulu sebelum menuju puncak Gunung Mahameru. Kita akan berkumpul nanti di telaga Ranukumbolo." jelas Dewa Pedang.
Dewi Anggini menjadi penasaran setelah mendengar penjelasan lanjut dari Dewa Pedang, "apa yang akan kita cari di telaga Ranukumbolo?"
"Aku yakin Prabu Godakumara sudah ada disana bersama pasukannya, atau mungkin Batara Karang dan mungkin saja Dewa Kegelapan juga telah berada di sana. Ini terkait dengan pintu langit yang hendak mereka buka." lanjut Dewa Pedang.
Mendengar penjelasan Dewa Pedang, maka pendekar yang lain tidak setuju. Akhirnya terjadi perdebatan terkait penjelasan Dewa Pedang yang langsung membawa seluruh pasukan menuju Gunung Semeru tanpa mengetahui apa yang menunggu disana.
"Demi kebaikan semua, alangkah baiknya untuk menjemput eyang guru dan juga mengamati apa yang terjadi diRanukumbolo itu menjadi tugasku dan Geho Sama," ucap Suro pelan.
Meskipun yang berbicara hanyalah pemuda belia, para sesepuh dan para pendekar langsung menghentikan perdebatan mereka.
"Semua pasukan termasuk paman guru, lebih baik meningkatkan kekuatan terlebih dahulu sebelum berangkat menuju pertempuran selanjutnya." lanjut Suro.
"Benar aku setuju dengan hal itu,"sambung Dewa Obat.
"Aku akan meningkatkan kekuatan kalian, apalagi kita memiliki kulit Naga Raja sisik emas."ucapnya sambil menatap naga raksasa dibelakang Suro yang melingkar ditemani Maung didekatnya.
Akhirnya mereka semua setuju dengan usulan Suro yang menurut mereka sangat tepat. Apalagi dalam pertempuran sebelumnya kekuatan mereka tidak mampu mengalahkan pasukan Prabu Godakumara. Jika mereka tidak ditolong Sang Hyang Anantaboga, tentu tidak akan ada yang hidup.
****
"Kakang lupa, ya? Mumpung kakang ada di Medang, sebaiknya kita bertemu bopo," ucap Mahadewi dengan lembut.
Suro sedikit bingung dengan cara berbicara Mahadewi yang terasa berbeda. Tetapi pikirannya kini sedang sibuk dengan segala hal yang terjadi di seluruh negeri Yawadwipa.
Diluar dari apa yang dijelaskan Dewa Pedang mereka terus mendapatkan kabar buruk diberbagai negeri. Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Skalabrak di Swarnabhumi, Kerajaan Kalingga termasuk ditimur Blambangan juga diserang pasukan Prabu Godakumara.
Mereka menyebar dan menyerbu ke berbagai wilayah di Yawadwipa. Serangan itu bukan untuk menjarah harta benda, tetapi justru menculik penduduk dalam kondisi hidup atau pun mati.
"Waktu tidak banyak adinda, bukan kakang menolak," Suro mencoba memberi pengertian kepada Mahadewi.
Dara itu kini terasa berbeda, dia bahkan tidak menunjukkan sikap yang biasa dia lakukan, jika keinginannya tidak dikabulkan oleh Suro. Mahadewi tersenyum dengan begitu manis. Bahkan seolah Suro tidak pernah melihat dara itu tersenyum begitu manis seperti sekarang.
"Apa kakang belum mendengar jika Mbah Wiro telah tinggal di Medang. Dan demi menyambut kakang, bopo rela membayar mahal kepada Mbah Wiro agar kakang mau menemui bopo," kembali Mahadewi merajuk.
Mendengar nama mbah Wiro dan ayam goreng, seketika akal sehat Suro langsung menghilang dia mulai sibuk mengelap air liurnya yang tidak berhenti mengalir.
"Benar, kakang menolak ayam bakar dua baskom besar? Bukan dua baskom, justru empat baskom," ujar Mahadewi mencoba meyakinkan Suro sambil mengacungkan empat jarinya.
"Kakang mau atau tidak sowan ke rumah bopo?"
"Mau..mau...mau..," jawab cepat Suro tanpa berpikir panjang.
"Aku ikut! Awas kalau kau tidak memperbolehkanku bocah!" seru Geho Sama yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Aku penasaran seperti apa sebenarnya rasa ayam goreng Mbah Wiro yang kerap digumamkan bocah gendeng ini?"
"Ambyar sudah...," Tangan Mahadewi mulai menepuk-nepuk jidatnya.
Mahadewi mulai senewen mendengar Geho Sama justru hendak memaksa ikut, berarti rencana pertemuan Suro dan ayahandanya akan berakhir ambyar.
"Kalau begitu aku juga ikut ya, mbakyu Mahadewi?" Luh Niscita segera menyambar percakapan mereka.
"Apalagi ini..?" Matanya menatap wajah Luh Niscita yang datang sambil menebarkan senyumnya yang begitu menawan.
Sejak kedatangan Luh Niscita di Perguruan milik Dewi Anggini, dara itu menjadi pemandangan terindah bagi para murid perguruan. Ratusan murid perguruan dengan sigap mengantarkan dara itu setiap kali hendak mencuci pakaian dikali.
Pikiran Mahadewi semakin ruwet mendengar Luh Niscita datang dan menimbrung pembicaraannya dengan Suro. Mimpinya yang sudah dia gadang-gadang sejak berada di Kademangan Cangkring hancur sudah.
"Tidak, ini tidak boleh hancur aku tidak boleh menyerah," gumamnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia mencoba menguatkan tekadnya.
"Kalau aku tidak diperbolehkan ikut, berarti kakang Suro juga tidak," ucap Luh Niscita kepada Suro dengan senyum merajuk.
Wajah Mahadewi bertambah kusut dengan ancaman wanita itu.
"Baik, baik kalian boleh ikut!" sewot Mahadewi dengan mata yang sudah mulai melotot ke arah Luh Niscita.
"Berarti aku juga boleh ikut?" tanya Made yang kebetulan lewat didekat mereka.
"Tidaaaak!" Teriak Mahadewi yang bertambah sewot.
"Sudah, sudah kita berangkat sekarang bertemu bopomu adinda," Suro mencoba menengahi.
****
Pusaka Kunci Langit