
"Ryoichiro Soga aku tau kau ada didalam!"
Geho Sama berteriak keras memanggil Karuru. Tidak ada yang pernah nama itu disematkan kepada Karuru, tidak juga para Suzaku.
Nama Karuru adalah pemberian dari kepala suku sebelumnya. Sebab saat dia masih bayi kondisinya sekarat.
Kemudian dia dapat diselamatkan dengan cara tertentu melalui perantara nyawa seekor gagak. Karuru memiliki makna nyawa pinjaman dari asal kata Kariru(pinjaman).
Tidak banyak yang mengetahui namanya kecuali orang-orang yang cukup dekat dengannya. Itupun bisa dihitung dengan jari. Mereka juga tidak lagi menyebut dengan nama itu.
"Apakah perlu aku serang dengan astraku?" Dewa Obat menatap ke arah Geho Sama.
"Aku takut justru akan membuat kita terkubur hidup-hidup." Geho Sama menjawab sambil berdecak kesal karena kesulitan membuka pintu batu didepannya.
"Coba aku gunakan tehnik perubahan tanah mungkin aku bisa membukanya." Setelah mereka tidak mampu akhirnya Suro berjalan menghampiri pintu batu yang ada dihadapan mereka.
Pertama dia memeriksa kondisi batu yang terpampang didepannya.
"Kemungkinan pintu ini memang tidak bisa didorong tetapi digeser. Tetapi mengeser batu sebesar ini tidak mudah."
Suro lalu menarik nafas panjang mengatur pernafasannya terlebih dahulu, lalu kedua kakinya membentuk kuda-kuda sejajar bahu.
Kedua tangannya menempel pada lempengan batu utuh yang beratnya melebihi berat puluhan ekor gajah.
Sraaak!
Pada nafas pertama pintu itu akhirnya terbuka cukup lebar yang memungkinkan mereka masuk ke ruangan itu. Tetapi didepan mereka sebuah pemandangan mengerikan terpampang didepan mata mereka.
Hampir semata kaki darah yang menggenangi ruangan itu. Karena itulah mengapa darah dapat merembes keluar dari sela-sela pintu batu.
Mata Suro merah menandakan kemarahannya atas kekejaman yang dilakukan pasukan Elang Langit. Mereka rela mengobarkan para bayi yang tidak berdosa demi kepentingannya dapat terwujud.
"Ini hanyalah bagian kecil, jika Dewa Kegelapan berhasil menguasai tiga dunia." Geho Sama menepuk pundak Suro yang masih tertegun.
Sejak pintu batu itu terbuka, mereka segera menyadari jika pusaka maupun Karuru sendiri sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi.
"Kemana lagi kita akan mencari pusaka itu?" Suro menatap Geho Sama yang juga tidak bisa memberikan jawaban.
"Apakah dirimu masih mampu melacak jejak Karuru?" Suro kembali bertanya kepada Geho Sama.
"Terlalu jauh bocah, kekuatan Karuru mampu memindahkan dirinya pada jarak yang tidak dapat aku jangkau." Geho Sama menjawab sambil menghela nafas panjang.
"Sebaiknya kita bertanya saja pada Subutai. Mungkin dia memiliki informasi tentang Karuru atau setidaknya mengetahui garis besar mengenai rencana besar Pasukan Elang Langit." Suro segera teringat pada Subutai.
Sebab Subutai merupakan pasukan mata-mata yang sangat tangguh dan pengumpul informasi yang handal.
"Sebentar, tulisan kanji ini begitu menarik." Dewa Obat menatap lekat pada tulisan yang terukir dipeti besar yang terbuat dari batu giok kwalitas tinggi tempat jasad Kaisar Qing Shi Huangdi bersemayam.
"Apa yang tertulis ini tuan pertapa?" Suro yang mendengar perkataan Dewa Obat ikut menatap peti giok milik Kaisar Qing Shi Huangdi.
Tetapi seluruh tulisan yang ada diatas peti itu adalah huruf kanji kuno yang tidak dimengerti oleh Suro. Tulisan itu satu jenis dengan huruf yang merangkai nama golok Sang Naga Pembantai, yang kini menjadi milik Dewa Obat.
Sebelum menjawab Dewa Obat justru menatap Suro sambil menggaruk-garuk pipinya.
"Apakah ada yang salah dari pertanyaanku tuan pertapa?" Suro yang ditatap dengan pandangan aneh merasa tidak nyaman.
"Sepertinya dari sekarang cara meanggilmu kepadaku harus dibenahi."
"Maksud tuan pertapa dibenahi bagaimana? Apakah ada yang rusak?" Kali ini giliran Suro yang menggaruk-garuk pipinya.
Dia juga mulai memicingkan matanya mendengar ucapan Dewa Obat. Padahal menurut pandangan Suro tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Bukankah kau ingin belajar memanggil para Astra senjata gaib milikku?"
"Benar tuan pertapa, tetapi saat ini belum ada waktu yang tepat untuk belajar kepada tuan pertapa. Mungkin setelah kita pergi dari makam ini dan kembali ke kota Shaanxi aku memiliki kesempatan untuk melakukan itu." Suro menjelaskan kepada Dewa Obat dengan perasaan aneh.
Sebab menurut dirinya saat ini bukan waktu yang tepat membahas masalah itu. Apa lagi kini tempat itu si penuhi dengan darah yang mulai mengental.
Bahkan demi menghindari darah yang membanjiri lantai, mereka bertiga tidak menyentuh lantai sedari awal mereka memasuki ruangan itu. Mereka terbang melayang mengitari dan meneliti seluruh ruangan tersebut.
Kekuatan mereka bertiga sudah mencapai tingkat surga. Sehingga melakukan hal tersebut bukanlah halangan besar.
"Mengenai waktu yang akan kau pilih untuk memulai belajar itu terserah dirimu. Tetapi hal yang mengganjal bagiku saat ini adalah cara memanggilmu kepadaku.
Seharusnya kau memanggilku dengan sebutan guru, nah itu baru lebih pas," ucap Dewa Obat sambil memberikan acungan jempol kepada Suro.
Suro tidak segera menjawab, sebab dia tidak biasa memanggil Dewa Obat dengan sebutan itu. Tetapi demi mendapatkan ilmu yang dimiliki Dewa Obat, dia mempertimbangkan permintaan pendekar itu.
Jika dia memanggil Eyang Sindurogo dengan panghilan eyang guru dan kepada Dewa Pedang dengan panggilan paman guru, maka kini dia memanggil Dewa Obat tidak mungkin dengan pangilan yang sama saat dia memanggil eyang Sindurogo.
Walaupun sebenarnya jika melihat umur dan tampang yang dimiliki Dewa Obat dan Eyang Sindurogo lebih tua Dewa Obat. Tetapi Suro tidak mungkin menyebut dengan sebutan yang sama.
Suro kemudian menjelaskan alasannya kepada Dewa Obat.
Lelaki tua itu menganghuk-angguk sambil tersenyum ceria. Sebab secara resmi akhirnya dia memiliki murid. Dia menerima semua alasan yang dikemukakan Suro dan tidak keberatan dengan usulannya.
"Lalu apa arti dari tulisan ini tuan guru?" Kembali Suro menyinggung Dewa Obat mengenai tulisan yang ada diatas peti mati.
"Ini berkaitan dengan pusaka Kunci Langit. Tulisan ini adalah bahasa kiasan dalam bentuk sebuah puisi indah."
Lalu Dewa Obat menjelaskan artinya dalam bahasa yang Suro mengerti. Bukan hanya Suro Geho Sama juga tertarik dengan penjelasan Dewa Obat mengenai puisi yang terukir di atas peti mati.
Dari sekian larik panjang puisi itu ada dua Bali puisi yang membuat Suro begitu tertarik.
"Kunci Langit adalah perahu, tetapi gerbangnya adalah puncak Meru tempat bersemayam para Dewa Batara."
"Apa artinya ini?" Suro menatap Dewa Obat yang justru mengangkat bahu.
"Aku hanya mengalih bahasakan. Tetapi mengenai maknanya aku tidak mengetahuinya." Dewa Obat menjawab singkat.
**
"Tidak aku sangka dirimu berhasil mendapatkan pusaka itu Ryoichiro Soga!" Batara Karang menatap seorang makhluk tinggi besar dengan sepasang sayap hitam di punggungnya.
"Tidak percuma, dulu nyawamu telah aku selamatkan." ujar Batara Karang lebih lanjut.
"Gunakan itu untuk meraih kejayaan di Negeri Atap Langit ini. Jadikan seluruh daratan ini berada dibawah kekuasaanmu.
Setelah itu kita akkan menyerang langit. Kita akan mengantarkan Dewa Kegelapan menjadi penguasa tiga dunia! Hahahaha....!"
"Hahahaha....!" Karuru yang berada didepan Batara Karang ikut tertawa penuh kebanggaan, sebab tugas yang diberikan kepadanya telah dia selesaikan.
Artinya dia juga kan menjadi penguasa melebihi kekuasaan Geho Sama yang dulu pernah dia raih. Di begitu senang meski kematian anak buahnya cukup banyak demi tugas yang diembankan kepada dirinya.
"Apakah kau sudah mendapatkan penglihatan setelah kekuatan yang dimiliki Pusaka iblis Kunci Langit ini terbuka?"
Karuru segera menceritakan apa yang telah dia dapatkan, setelah sebelumnya dia memberikan pengorbanan kepada pusaka itu.
Setelah itu Batara Karang tertawa dengan begitu keras. Cerita Karuru membuat hatinya begitu senang.
"Ini adalah rencana besar yang aku katakan padamu sejak semula."
Karuru mengangguk dengan hormat kepada sosok Batara Karang yang duduk disebuah batu berbentuk kursi.
"Apakah kau telah mampu menghasut Khan Langit dan juga Raja Kerajaan Goguryeo agar ikut merebut daerah Negeri Atap Langit ini?"
"Jangan Khawatir mengenai hal itu junjungan Batara Karang. Semua berjalan sesuai rencana yang kita buat."
Batara Karang menganggukkan kepala menerima jawaban dari Karuru.
"Berarti semua masih dalam perhitungan kita," ucap Batara Karang.
"Lalu bagaiman dengan para pendekar dari Yawadwipa junjungan Batara Karang?"
"Jangan khawatirkan dengan mereka, semua memang sudah aku atur, sehingga mengikuti alur yang telah dipersiapkan.
Kehancuran kelompok Mawar Merah membuka peluang dirimu untuk menghancurkan Negeri Atap Langit ini. Jika kelompok itu tidak dihancurkan, aku yakin mereka akan melaporkan pergerakkan kalian kepada kaisar Yang."
"Benar mengenai hal itu junjungan, kemampuan mereka dalam mengumpulkan informasi memang spesialis mereka.
Tetapi sampai kelompok itu dihancurkan, mereka tidak membaca pergerakan kami di beberapa kota tempat kami menculik para bayi untuk tumbal persembahan pusaka iblis Kunci Langit."
Karuru berhenti sebentar untuk melihat reaksi Batara Karang atas penjelasannya.
"Lanjutkan penjelasanmu Ryoichiro Soga," ucap Batara karang kepada Karuru.
"Benar, mereka tidak melihat pergerakan kami. Sebab kami tidak berusaha mengganggu urusan mereka. Selain itu jurus ruang waktu milik kami menjadi kunci keberhasilan misi ini." tutup Karuru menjelaskan kepada Batara Karang.
"Jika seperti itu, maka jalan kita menuju puncak gunung Meru sebentar lagi kita jalankan."
"Aku membutuhkan tumbl lebih banyak untuk membebaskan para makhluk yang akan membantu kita dalam penyerangan kalian untuk menguasai Kekaisaran Yang ini."
"mohon maaf junjungan, ampuni diriku yang lancang hendak mempertanyakan rencana yang telah junjungan Batara Karang buat, bukankah para makhluk itu akan kembali ke alam ketiadaan, setelah menyelesaikan misinya?"
Tatapan Kakuru penuh harap agar Batara Karang mau menjawab pertanyaannya.
"Jangan khawatir mengenai hal itu, yang harus kau lakukan adalah kumpulkan tumbal sebanyak mungkin. Mengenai alam ketiadaan itu akan diselesaikan oleh penguasa alam itu, yaitu Dewa Kegelapan."
"Terima kasih junjungan atas jawaban yang membuat hatiku tenang. Hamba akan undur diri untuk melanjutkan rencana selanjutnya." Karuru lalu menjura dengan penuh hormat. Sesaat kemudian tubuh Karuru lenyap dari pandangan Batara Karang.
"Semua sudah berjalan sesuai rencana, semua ini berkat mata nujum Dewa Kegelapan...hahahaha....!"