
"Ketua Dewa Pedang akhirnya sudah kembali!" Penjaga gerbang Perguruan Pedang Surga berteriak, setelah dia melihat penampakan ketua perguruannya yang tiba secara mendadak tanpa mereka sadari kedatangannya sebelumnya.
Semua orang yang mendengar teriakan penjaga gerbang ikut mengulang. Sehingga segera orang-orang banyak berdatangan untuk menyambut kedatangan ketua perguruannya. Mereka langsung bergerak ke arah gerbang utama.
"Ada apa ini? Mereka seperti tidak melihat kita dalam waktu yang sudah lama saja?" Dewi anggini memicingkan matanya melihat orang perguruan menyambut mereka dengan begitu ramai.
Mereka yang menyambut bukan hanya para anggota perguruan, tetapi diantara mereka para petinggi dan juga para tetua ikut bersama mereka. Dewa Pedang yang hendak melangkahkan kaki akhirnya tertahan karena para anggota dan para petinggi perguruan berebut menyalami dirinya.
"Akhirnya tetua datang juga setelah sekian lama kami tunggu kedatangannya!"
"Apa yang kalian katakan? Aku pergi tidak lebih dari setengah purnama. Sikap kalian begitu aneh, seperti sudah sangat lama tidak melihatku saja!"
Para tetua dan para anggota perguruan yang mendengar ucapan Dewa Pedang barusan, justru terlihat kebingungan.
"Apa ketua yakin dengan apa yang telah ketua katakan?" Eyang Kaliki yang ikut menyambut kedatangan mereka merasakan keanehan dari apa yang diucapkan Dewa Pedang.
"Tentu saja bukankah begitu nakmas Suro?"
"Aku rasa memang benar apa yang dikatakan paman guru ee..maksud Suro ketua perguruan. Menurut perhitungan Suro, perjalanan sampai di Karang ampel tidak lebih dari tiga hari. Karena ada beberapa masalah yang kami hadapi diperjalanan, sehingga perjalanan kami menjadi terhambat."
"Kemudian ditambah pertualangan kita di alam kegelapan aku rasa tidak lebih dari lima hari atau enam hari. Karena disana tidak ada siang jadi agak susah untuk menghitung berapa hari. Tetapi menurut Suro kita menghabiskan di alam itu tidak lebih dari tujuh hari." Suro menjawab perkataan Dewa Pedang sambil mengaruk-garuk pipinya.
"Memang ada apa tetua? Sikap kalian agak aneh?" Dewa Pedang mengernyitkan dahinya, merasa ada sesuatu yang salah dengan sikap mereka.
"Mustahil jika kalian meninggalkan perguruan hanya dalam waktu sesingkat itu. Karena ketua bersama yang lain, telah meninggalkan perguruan pusat ini sudah hampir tiga purnama"
Perkataan tetua eyang Kaliki tentu saja membuat mereka berempat terkejut, selain empat perajurit sisa pasukan Medusa yang dibelakang mereka.
"Tidak masuk akal bagaimana bisa?" Dewa Rencong yang berada disamping Dewa Pedang tidak bisa mempercayai hal itu.
"Apa ada sesuatu yang salah dengan sihir ruang dan waktu yang nakmas kerahkan?Karena saat kita ada dialam kegelapan, paman sangat yakin tidak mungkin menghabisan waktu selama itu!"
Suro yang mendapatkan pertanyaan dari Dewa Pedang ganti bertanya kepada Geho sama.
"Ilmu puter giling yang aku gunakan untuk membuka ruang dan waktu, sehingga terbuka gerbang gaib tidak membuat waktu bertambah cepat paman guru. Aku sudah memastikan itu kepada Geho sama. Menurut Geho sama itu kemungkinan berkaitan dengan segel dewa yang aku lepaskan."
"Geho sama? Nama itu terasa tidak begitu asing? Dimana aku pernah mendengarnya?" Eyang Kaliki mengaruk-garuk dagunya.
"Kakang mendengar dari dongeng yang aku ceritakan!" Dewi Anggini menyahut ucapan eyang Kaliki.
" Nah benar, aku baru ingat!"
"Dan dongeng yang aku ceritakan itu, ternyata memang benar adanya. Nama yang disebutkan nakmas Suro adalah merujuk kepada siluman yang sama dengan apa yang aku ceritakan." Kembali Dewi Anggini menyahut pernyataan Tetua Kaliki.
"Dan siluman itu sekarang menjadi pengikutku, kakek Kaliki, hebat bukan!. Mujur kan diriku kakek? Tapi sayangnya siluman itu tidak semujur diriku! Hehehe...!"
"Maksud nakmas? Siluman itu tidak mujur bagaimana?" Eyang Kaliki bingung mendengar ucapan Suro.
"E..itu anu kakek Kaliki.."
"Sudah lupakan jangan digubris ucapan bocah gemblung itu!" Dewa Rencong memotong ucapan Suro yang ingin menjawab, jika Geho sama kesal, karena dia yang dikenal semasa hidupnya sebagai siluman terkuat, akhirnya berakhir sebagai kacung yang memiliki kasta terendah. Karena kalah dengan jiwa sebuah pusaka dari Batara Surya yang berupa zirah. Bahkan kalah dengan jiwa sebuah bilah pedang.
"Dimana kakang Udan Asrep? Suruh dia datang ke balairung bersama seluruh tetua, ada yang harus kita bicarakan." Dewa Pedang semakin mempercepat langkahnya.
"Hal gawat mengenai apa kakang Kaliki?" Dewa Pedang mulai mengrenyitkan dahinya.
"Aku akan menceritakan garis besarnya saja agar ketua memiliki gambaran masalah yang mungkin sebentar lagi akan kita hadapi!"
Dewa Pedang kali ini benar-benar menghentikan langkahnya untuk mendengar perkataan Eyang Kaliki.
Sebelum menjawab pertanyaan dia menarik nafas terlebih dahulu. Sebab sedari tadi dia keteteran mengikuti langkah Dewa Pedang yang melangkah cepat, seperti mengejar sesuatu.
"Satu purnama setelah ketua pergi ke Karang ampel, telah datang beberapa utusan dari perguruan cabang di daerah Champa(Kamboja), Sinhanagari (salah satu kerajaan di Myanmar), Syangkayodhyapura (kerajaan yang ada di Thailand), Marutma (sebuah kerajaan di selatan Thailand), Yawana (sebuah kerajaan di Annam Vietnam)."
"Selain mereka memberikan ucapan selamat atas keberhasilan ketua yang akhirnya mencapai tahap langit, mereka juga mengabarkan jika di daerah mereka telah diserang para makhluk berwarna hitam yang memiliki ciri-ciri dua sayap seperti kelelawar, dua tanduk di dahinya. Dan mereka juga memiliki ekor seperti sapi."
"Selain para makhluk itu, ada makhluk lain yang mirip dengan naga raksasa. Makhluk yang dulu pernah menyerang perguruan kita. Baik wujud dan kekuatan semua makhluk itu sangat tidak wajar. Apalagi daya hidup yang mereka miliki sebuah kemampuan yang paling mengerikan. Karena dengan kemampuan itu, membuat mereka mustahil untuk bisa dibunuh."
"Apa?! Mereka sudah mulai menyerang alam kita?" Dewa Pedang melotot begitu mendengar penjelasan tetua Kaliki.
"Apakah ketua sudah mengetahui tentang mereka?" Eyang kaliki justru terkejut dengan reaksi Dewa Pedang.
"Karena masalah yang terkait dengan makhluk yang kakang ceritakan itulah aku ingin mengumpulkan para tetua. Karena dibalik semua serangan itu, ada masalah besar yang telah mengintai."
Eyang Kaliki terlihat kebingungan dengan ucapan Dewa Pedang barusan, tetapi dia mencoba menelaah ucapan ketua perguruannya.
"Masalah besar yang mengintai? Maksud ketua?"
"Masalah itu akan aku jelaskan nanti dipertemuan dengan para tetua, karena harus memerlukan penjelasan yang panjang lebar."
"Bagaimana ketua mengetahuinya? Jangan-jangan alam dimana eyang Sindurogo dulu terjebak adalah tempat para makhluk itu berada?"
"Kurang lebih seperti itu. Secepatnya kita harus melakukan pertemuan. Atur semua agar para tetua dapat berkumpul di balairung. Para tetua silahkan tunggu disana dahulu, nanti aku akan menyusul. Sebab kami harus sesegera mungkin membersihkan hawa kegelapan yang terlanjur masuk kedalam badan kami."
"Apa yang dimaksud hawa kegelapan?"
"Hawa kegelapan, mungkin kakang belum pernah mendengarnya, tetapi kekuatan kegelapan dari jurang neraka pasti pernah mendengarnya?"
"Kalau itu tentu saja aku pernah mendengarnya. Sebuah jurang yang tak terkira dalamnya, sehingga orang menyebut dasar dari jurang itu adalah neraka. Tempat tinggal para makhluk yang telah mati, juga tempat tinggal segala makhluk halus. Tempat yang harus dijauhi sejauh mungkin, kecuali ingin mati."
"Benar kakang, ditempat itulah asal dari sumber kekuatan jurus tongkat neraka berasal. Sumber dari jurus itulah yang memiliki sebutan hawa kegelapan. Di alam yang baru saja kami datangi dipenuhi dengan hawa kegelapan. Dan makhluk yang baru saja kakang ceritakan berubah menjadi makhluk sebegitu mengerikan, karena telah menyerap hawa kegelapan dalam jumlah besar."
"Nanti aku akan jelaskan semua dipertemuan dengan para tetua."
Eyang Kaliki mengangguk mendengar perintah Dewa Pedang. Dia kemudian berhenti dan memandang punggung Dewa Pedang yang berjalan cepat semakin menjauh. Dibelakangnya Suro dan lainnya bergerak mengikuti langkahnya.
Tetua Kaliki kemudian berjalan ke arah lain diikuti para petinggi perguruan untuk mempersiapkan pertemuan para tetua dan petinggi perguruan.
**
Nama-nama kerajaan diatas disandur dari naskah kakawin Nagarakrtagama, pada pupuh XV (15).
Jika ingin melihat pengumuman up atau yang lainnya silahkan masuk ke grup novel ini.