SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 381 Yang Taizu



"Cepat perintahkan mereka mundur paman Zhou!"


Kepala pasukan yang dipanggil Zhou itu terlihat bimbang dalam beberapa saat. Dia tidak mengetahui maksud Yang Xiaoma. Paman Zhou yang disebut pemuda itu, sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan Jendral Zhou Fang.


"Apa yang telah paman Zhou lakukan? Cepat perintahkan mereka menurunkan senjatanya!"


Bukan hanya jendral Zhou Fang, para pasukan yang menghentikan langkah Suro dan lainnya tak kalah terkejut. Mereka juga terlihat kebingungan setelah mendengar ucapan Yang Xiaoma.


"Cepat perintahkan mereka untuk mundur!" Sekali lagi Yang Xiaoma berteriak.


Walaupun dalam kondisi masih kebingungan, namun teriakan Yang Xiaoma kali ini membuat jendral Zhou Fang segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur. Meskipun begitu mereka tidak menurunkan kewaspadaannya, karena itu mereka tetap dalam posisi siaga.


Yang Xiaoma sadar jika pasukan penjaga kota itu masih menunggu penjelasan darinya.


"Mereka adalah para pendekar yang telah menyelamatkan kami semua dari kelompok Golok setan.


Tanpa mereka, tentu kami telah berakhir menjadi tumpukan mayat bersama para tamu Pavillum Angin Utara lainnya." Penjelasan pemuda itu membuat kepala pasukan penjaga kota, jendral Zhou Fang merasa bersalah. Kali ini kepala pasukan itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka yang masih terhunus.


"Mohon maafkan kami, jika kami terlambat datang menolong tuan muda. Sebab kabar tentang serangan yang dilakukan Golok setan, sedikit terlambat kami ketahui."


"Bukankah kalian adalah pasukan penjaga kota ini, bagaimana kalian tidak mengetahui keributan yang terjadi di pusat kota? Apa saja yang kalian kerjakan, sehingga tidak mengetahui kejadian ini?"


"Mohon maafkan tuan muda. Kami sudah mencoba secepatnya datang ke tempat ini, begitu kabar itu terdengar. Tetapi saat kami mendatangi Pavillum Angin Utara ini, tempat ini telah dipenuhi asap beracun yang mematikan.


Beberapa pengawal yang mencoba menerobos masuk, justru langsung terkena racun, sehingga mereka semua menjadi lumpuh tidak berdaya. Kejadian itu membuat kami tidak memiliki pilihan, kecuali menjaga jarak dari ancaman racun yang berbahaya itu." Jendral Zhou Fang berusaha menjelaskan alasannya.


"Berarti kalian sejak tadi hanya berada diluar dan menunggu diriku keracunan sampai mati, baru kalian datang menolong? Lalu apa gunanya kalian diutus datang kesini?" Yang Xiaoma terlihat kesal mendengar jawaban Jendral Zhou Fang.


"Maafkan saya tuan muda Yang, racun itu adalah salah satu racun yang tidak seorangpun memiliki penawarnya, kecuali para mantan anggota kelompok Mawar Merah.


Sebab itu adalah salah satu racun andalan miliki kelompok Mawar Merah, sebelum kelompok itu dihancurkan oleh seseorang yang kabarnya memiliki kekuatan setara dengan seorang dewa."


"Dan apakah paman Zhou tau, siapakah para pendekar yang telah paman hentikan ini? Taukah paman, salah satu dari pendekar ini adalah yang baru saja paman sebutkan. Seseorang yang berhasil menghancurkan markas Mawar Merah.


Dan dia juga yang telah mengalahkan Golok setan dan Pedang setan. Begitu juga seluruh komplotan yang bersama dua orang itu. Semua itu telah berhasil dikalahkan oleh tuan Suro sendirian."


Reaksi Jendral Zhou Fang dan seluruh penjaga kota itu kembali terkejut dengan ucapan Yang Xiaoma barusan. Seakan mereka tidak mempercayai atas apa yang baru saja diucapankan Yang Xiaoma.


"Sekarang paman dan seluruh pasukan harus meminta maaf kepada para pendekar ini, atas apa yang telah dilakukan barusan!"


"Sebagai permintaan maaf kepada tuan Suro, silahkan paman berikan kuda milik paman untuknya, selain itu sediakan kuda-kuda lain untuk para pendekar ini.


Aku hendak menemui ayahanda, karena ada sesuatu hal penting yang hendak kami bicarakan dengannya."


Meskipun ada rasa tidak rela, namun akhirnya lelaki itu mengantarkan kuda miliknya kepada pemuda yang di sebut Yang Xiaoma sebagai tuan Suro.


'Benarkah para gembel ini yang telah menghancurkan kelompok Mawar Merah? Tetapi sikap tuan muda Yang, terasa begitu berbeda. Suatu hal yang tidak mungkin dia lakukan.


Sikap dia kepada mereka terasa begitu janggal. Apalagi penampilan mereka tidak lebih baik dari pada para pengemis. Tetapi terasa janggal. Seharusnya tuan muda Yang tidak akan bersikap begitu hormat. Kecuali karena suatu alasan yang kuat, yaitu apa yang dia katakan adalah benar adanya.'


Walaupun sempat ragu, namun dia segera menghubungkan beberapa kejadian yang sempat dia lihat sebelumnya.


Salah satunya adalah temuan beberapa mayat disekitar jalanan didepan Pavillum Angin Utara. Jendral Zhang Fang masih mengenal beberapa mayat itu. Meskipun sedikit ragu dia meyakini jika orang-orang itu adalah para mantan anggota Mawar Merah.


Termasuk didalamnya adalah Golok setan dan Pedang Setan yang kondisi mayatnya hampir susah dikenali. Tetapi Jendral Zhang Fang masih mengenali dari senjata dan wajahnya.


Selain itu asap beracun yang melingkupi Pavillum Angin Utara telah menghilang tidak beberapa lama sebelum tuan mudanya itu keluar. Dengan melihat semua itu, dia mulai membuat kesimpulan, jika semua itu bisa terjadi, karena dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.


Kepala pasukan itu segera menggunakan kuda lain untuk mengikuti tuan mudanya. Sebab Suro dan lainnya setelah diberikan kuda, mereka juga segera memacu mengikuti Yang Xiaoma menuju kediaman walikota Shanxi.


**


"Yang Xiaoma apakah kau baik-baik saja, anakku? Aku mendengar dari para pengawal, jika dirimu menjadi target serangan oleh Golok setan dan kawanannya?"


Melihat Yang Xiaoma datang, walikota Shanxi itu segera menyongsong. Terlihat kecemasan tertangkap diraut muka seseorang yang telah berumur setengah baya itu.


Sebelum kedatangan anaknya, lelaki itu hanya terus mondar mandir didalam kediamannya yang luas. Dia tidak mampu menutupi kekhawatirannya, karena Yang Xiaoma adalah anak satu-satunya dari istrinya. Sebab setelah melahirkan anaknya itu, istrinya justru meninggal dunia.


Kekhawatirannya yang dirasakan lelaki itu sangatlah wajar, sebab dia mengetahui seberapa kejamnya lelaki yang bernama Golok setan. Apalagi anaknya itu adalah penerus satu-satunya yang paling dia sayangi.


Saat kabar tentang penyerangan yang dilakukan Golok setan di Pavillum Angin Utara, Walikota dari Shanxi itu segera memerintahkan Jendral Zhou Fang dan seluruh pasukan penjaga kota untuk menolong anaknya, kecuali hanya beberapa saja yang masih tetap bertahan menjaga kediamannya.


Dia segera berlari keluar dari dalam kediamannya yang begitu megah, sesaat setelah mendengar rombongan berkuda masuk. Yang Taizu segera bernafas lega, sebab dibagian paling depan anaknya terlihat menunggang kuda dengan gagahnya.


Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, entah mengapa anaknya itu justru segera mengajak rombongan yang bersamanya langsung memasuki rumah miliknya yang begitu luas.


Anaknya itu meminta ayahnya mengantar mereka, dia sendiri pamit hendak berganti pakaian. Yang Taizu sebenarnya hendak bertanya mengenai bau pesing yang tercium dari tubuh anaknya itu, tetapi Yang Xiaoma justru buru-buru meninggalkan dirinya bersama-sama orang yang tidak dia kenal sebelumnya.