
Setelah melesat terbang meninggalkan Perguruan Tengkorak Merah, tujuan Suro kali ini langsung menuju ke arah utara agak ke barat menuju daerah di pesisir pantai utara.
Suatu daerah yang masih masuk dalam Kawasan kerajaan Kalingga, yaitu kademangan Cangkring dimana Perguruan Pedang Surga berada.
Kerajaan Kalingga ini berdiri sekitar abad ke enam masehi. Dan dipercaya sebagai cikal bakal raja-raja keturunan Wangsa Sanjaya dan juga Wangsa Sailendra.
Setelah Ratu Shima mangkat sekitar abad ke tujuh masehi, maka kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua.
Pertama dibagian selatan kerajaan Medang i bhumi Mataram didirikan di sekitaran Yogyakarta dan dibagian utara kerajaan Keling di bhumi Sambhara(Bharabudhur) sekitar daerah Magelang.
Suro sebelum meninggalkan Perguruan Pedang Surga dia telah pamit terlebih dahulu kepada Dewa Pedang. Dia meminta ijin waktu sekitar satu purnama meninggalkan perguruan itu untuk kembali menuju gunung Arjuna. Sekarang sudah genap satu purnama. Oleh karena itu, setelah urusannya di Perguruan Tengkorak Merah selesai, maka Suro bergegas balik kembali kesana.
Menjelang malam akhirnya Suro sudah sampai di kademangan Cangkring. Dia langsung menuju ke kediaman Kolo Weling. Agar tidak membuat geger atau justru membuat semua orang pingsan, sengaja Suro meminta Maung berdiri dibelakang agak jauh sebelum dia mengetuk pintu.
"Grrrrrr!"
Tetapi sebelum Suro mengetuk pintu, justru Maung lebih dahulu mengeluarkan suara gerungan yang begitu keras. Tentu saja dia membatalkan niatnya untuk mengetuk pintu. Dia sudah mengira bukan hal yang mudah membawa Maung, seekor harimau buas sebesar sapi dari dalam hutan dibawa ke Kademangan Cangkring. Pasti akan membawa masalah besar atau yang paling kecil akan sering timbul minimal kesalah pahaman disengaja atau tidak.
Hal itu sudah terbukti sewaktu dirinya mendatangi kota Dahanapura. Tanpa dia sengaja telah terjadi kekacauan hampir disepanjang jalan yang dia lewati. Karena jalan yang dia lewati membelah kota Dahanapura, maka bisa dibayangkan seperti apa kekacauan yang telah terjadi. Hampir seluruh kota menjadi kacau balau.
Setelah suara gerungan Maung barusan, Suro sudah mengira pasti orang yang berada didalam rumah langsung bersiap keluar dengan segala macam senjata. Mereka pasti mengira ada harimau liar yang tersesat masuk pemukiman penduduk. Karena kejadian tersebut walaupun tidak sering, tetapi kadang memang terjadi.
Hewan liar semacam macan kumbang atau macan tutul saat musim kemarau kadang masuk ke perkampungan untuk mencari sumber air atau juga sumber makanan. Banyak dari hewan ternak penduduk pada musim kemarau dipinggiran hutan sering dimakan macan tutul.
Reaksi kolo weling dan teman-temannya setelah mendengar gerungan harimau, langsung berhamburan keluar. Tujuan mereka tentu saja adalah mengusir sejauh mungkin binatang buas itu dari pemukiman penduduk.
Mereka dulunya adalah penyamun yang terbiasa tinggal di hutan. Binatang buas seperti harimau sekalipun bukanlah hal yang menakutkan bagi mereka. Tetapi tidak bagi para penduduk, mereka tentu akan dapat diserang para hewan buas itu dengan mudah. Demi mencegah hal itu terjadi mereka segera bergegas keluar.
Suro sudah mengira-ira apa yang akan terjadi, karena itulah dia langsung berdiri disamping Maung. Dia berusaha mencegah kesalahpahaman, agar tidak ada yang terluka.
"Nakmas? Benar kah itu nakmas Suro?" Suara Kolo Weling terdengar diantara mereka. Dia menyimpitkan matanya untuk mencoba mengenali pemuda didepannya. Suasana malam yang sudah mulai gelap membuat pandangan menjadi tidak jelas. Apalagi penerangan tidak ada, sehingga harus membiasakan mata dalam gelap terlebih dahulu, agar mampu menangkap sosok bayangan orang disamping harimau yang matanya mencorong lebar terlihat jelas dalam kegelapan.
Mereka sebelumnya begitu terkejut melihat seekor harimau besar telah berada didepan mereka kurang dari satu tombak. Hal yang lebih mengejutkan lagi seorang pemuda terlihat mengelus-elus leher harimau, seakan mencoba menenangkan makhluk buas itu.
Harimau itu terus menggerung keras sambil menyeringai lebar memperlihatkan taringnya yang begitu mengerikan, setelah melihat kedatangan mereka yang menenteng senjata tajam seperti hendak menyerangnya.
"Benar paman Kolo Weling ini aku Suro. Ini sahabatku sedari kecil yang pernah Suro sering ceritakan. Panjang ceritanya mengapa Suro membawa harimau besar ini kemari."
Suro terlihat berbisik ke kuping Maung dan ajaibnya setelah itu harimau sebesar sapi itu tidak lagi menampakkan kebuasannya dan mulai tenang.
"Mereka teman-temanku Maung jangan perlihatkan taringmu kepada mereka."
Grrrrrrrr!
"Bagus jika kau paham Maung. Jangan membuat takut Paman-paman ini Maung. Apa kau paham, Maung?"
"Grrrrrr!" Ajaibnya harimau itu mengangguk-angguk seakan memberikan jawaban atas pertanyaan Suro barusan.
"Baiklah jika kau pahami. Kini kau sudah tidak ada lagi dihutan jadi jaga sikapmu agar tidak membuat setiap orang yang melihatmu jatuh pingsan ketakutan."
Kembali lagi harimau sebesar sapi itu menggerakan kepala seperti sebuah anggukan.
Kolo weling mengaruk-garuk kepalanya melihat Suro yang berbincang-bincang dengan seekor harimau seperti mengerti bahasa hewan buas itu. Walaupun tidak masuk akal, tetapi melihat gestur tubuh hewan buas itu menanggapi setiap perkataan Suro, membuat dirinya terpaksa mempercayai apa yang tengah dia saksikan.
Walaupun mengetahui binatang buas itu terlihat begitu jinak ditangan Suro, tetapi tetap saja dengan begitu besarnya wujud Maung, membuat mereka semua terlihat bergidik ngeri.
"Ini memang sulit aku jelaskan, tetapi aku mampu menjamin, jika harimau ini tidak akan menerkam kepala paman." Suro tersenyum melihat semua orang berdiri mundur beberapa langkah setelah melihat wujud Maung didepan mata mereka semua.
Melihat Suro maju hendak masuk ke dalam, mereka segera berebut masuk ke dalam terlebih dahulu. Suro hanya menggeleng-geleng dan menghela nafas panjang.
"Sudah aku duga sejak awal tidak akan mudah membawa Maung pergi bersamaku. Benar kata eyang guru, banyak orang akan jatuh pingsan setelah melihat Maung." Suro mulai melangkah sambil diiringi Maung berjalan disampingnya.
"Anu nakmas saya mau pamit ke rumah paimo ada urusan katanya suruh kenduren." Kolo srengi langsung kabur lewat pintu belakang sebelum Suro masuk ke dalam rumah.
"Saya juga nakmas pamit ikut kenduren ke rumah paimo!" Mendadak semua orang bubar tungang langgang meninggalkan Suro. Tinggal Kolo Weling yang berdiri mematung sambil mengaruk-garuk kepala. Agaknya pengalaman mereka sebagai penyamun yang terbiasa tinggal di hutan dan sering bertemu dengan binatang buas tidak membuat mereka kebal dari ketakutan melihat sosok makhluk yang begitu menakutkan.
Kolo weling tersenyum sambil mengangkat bahunya. Dia agaknya tidak mau menjelaskan kepada Suro melihat mereka bubar semua. Tentunya tanpa dia jelaskan Suro sudah tau alasannya, karena mereka ketakutan dengan kehadiran Maung.
"Tidak mengapa paman, Suro memahaminya." Suro tidak ingin membahas lebih lanjut atas tindakan mereka.
Malam itu Suro bercerita banyak kepada Kolo weling sambil bersender di tubuh Maung. Harimau itu tertidur dibelakang tubuh Suro, sehingga Suro bisa menyenderkan punggungnya di tubuh Maung.
Ada beberapa hal yang tidak dia ceritakan termasuk diantaranya adalah pertemuannya dengan Sang Hyang Anantaboga.
Kolo Weling terlihat begitu tertarik dengan segala hal yang dia ceritakan kepadanya. Mereka terus bercerita hingga akhirnya mereka tertidur.
Karena begitu lelahnya Suro tetap tertidur hingga matahari sudah mulai meninggi.
"Kakang Suro!" Mendadak suara keras orang berteriak langsung membangunkan tidur Suro yang sedang pulas memeluk Maung. Bulu dari tubuh harimau itu membuat tidur Suro seakan sedang beralaskan permadani yang begitu halus. Sehingga tidurnya begitu lelap.
Tetapi selelap-lelapnya dia tidur tetap saja langsung terbangun begitu suara itu terdengar. Dia seperti mengendus suara paling mengerikan bagi dirinya.
"Gawat adinda sudah datang, apa yang dia lakukan sepagi ini?"
Suro mengucek-ucek matanya menatap ke arah luar rumah.
"Hari sudah siang nakmas." Suara Kolo Weling membuat kaget Suro.
Dia tidak menyadari keberadaan Kolo weling yang telah duduk bersila didekatnya sedari tadi.
Didepannya sebuah poci yang airnya mengebul menandakan air di dalam poci itu masih panas.
"Silahkan di minum nakmas mumpung masih panas." Kolo weling menyilahkan Suro meminum. Tetapi pandangan mata Suro masih mengarah ke pintu rumah.
"Perasaan tadi saya mendengar suara adinda Mahadewi, apakah pendengaran saya tidak salah atau itu hanya perasaan saya saja paman?" Suro masih mengucek-ucek matanya belum beranjak dari tempat duduknya didekat Maung.
Agaknya harimau besar itu juga begitu lelah membuatnya tetap pulas tertidur.
"Mahadewi sudah sedari pagi menunggu nakmas bangun. Hampir setiap hari dia datang kesini menunggu nakmas datang. Katanya menunggu nakmas kembali untuk menagih janji yang pernah nakmas katakan kepadanya. Janji untuk dilatih ilmu pedang dari nakmas." Kolo weling menjawab pertanyaan Suro setelah menyeruput minuman di cangkirnya.
"Kenapa dia tidak masuk paman?" Suro merasa aneh Mahadewi tidak langsung masuk, karena tanpa permisi dia biasanya langsung masuk ke dalam rumah. Karena alasan itulah dia merasa janggal dengan sikap Mahadewi, sikap sungkan untuk masuk ke dalam rumah Kolo weling tidak ada dalam kamusnya. Bahkan mungkin bagi dia rumah itu sekarang seperti rumah sendiri.
"Agaknya sahabat nakmas yang menghalanginya untuk masuk ke dalam rumah." Kolo weling menunjuk Maung dengan menggunakan cangkir yang sedang dia pegang.
"Silahkan ini ramuan purwaceng mantap selagi masih panas." Kolo weling kembali menyodorkan ke arah Suro.
"Kakang Suro...! Kapan adinda dilatih ilmu pedang oleh kakang?" Kembali suara Mahadewi terdengar dari luar.
Suro menepuk jidatnya beberapa kali sebelum bangun dari duduknya.
"Nasib orang ganteng pagi-pagi sudah dikejar-kejar dara cantik." Suara Suro menggumam pelan, tetapi Kolo weling masih bisa mendengarnya. Begitu mendengar ucapan Suro, dia langsung tersedak. Minuman yang sudah di mulut hendak ditelan dia semprotkan kembali keluar.
"Ada apa paman kenapa sampai tersedak?" Suro terkejut melihat Kolo weling mendadak tersedak. Dia mulai berjalan ke arah Kolo weling.
"Ehem..! Huuk, uhuuk! Tidak mengapa nakmas, tadi paman kebetulan melihat ada tikus, entah mengapa dia terlihat begitu percaya diri. Padahal disini ada kucing besar." Kolo weling menjawab sambil mengelap air yang tadi tidak sengaja tersemprot keluar dari mulutnya.
"Hahaha...! Benar paman untung Maung tidur kalau dia melihat pasti dikejar. Kalau sampai dia mengejar bisa gawat. Rumah ini bisa hancur. Sebaiknya paman pelihara kucing saja paman Kolo weling untuk mengusir tikus." Suro mulai menengadah menatap penuwun(salah satu bagian struktur kerangka rumah joglo).
Kolo weling mengaruk-garuk kepala melihat Suro tidak memahami maksud perkataannya.
Setelah meminum air yang ditawarkan Kolo weling sedari tadi, Suro mulai berjalan keluar rumah.
"Kakang sudah datang akhirnya!" Mahadewi tersenyum lebar melihat Suro keluar.
"Kapan kakang akan melatih adinda?" Mahadewi menatap Suro yang masih menyengir sambil mengaruk-garuk kepalanya.
"Hari ini kakang akan melihat latihan paman guru, Dewa Pedang dan paman Dewa Rencong terlebih dahulu. Kakang akan nemastikan apakah mereka berdua sudah menyelesaikan seluruh latihannya atau belum? Jika belum selesai kakang akan melatih adinda mulai besok!"
"Baiklah adinda akan pulang dahulu. Besok aku akan kembali lagi untuk menagih janji."
Suro mengangguk pelan sambil menatap Mahadewi yang tersenyum cerah. Entah karena apa dara jelita itu terlihat begitu bahagia, karena kedatangan Suro atau karena latihan yang dijanjikan akan dimulai.