
Suro kemudian melesat turun mendekati Tohlangkir wakil ketua Perguruan Racun Neraka. Tetapi Suro tetap menjaga jarak yang memungkinkan bagi dirinya agar tidak terkena serangan dari para pasukan musuh.
Dikanan kirinya puing-puing bangunan telah rata menjadi abu setelah terkena serangan api hitam miliknya. Api itu juga telah memusnahkan lawannya yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Sebelumnya musuh begitu gencar menghujaninya dengan serangan panah beracun. Kini tidak ada yang tersisa dari tubuh mereka Sebab setelah terkena serangan itu, hanya cukup beberapa tarikan nafas telah membuatnya menghilang tertiup angin. Tubuh mereka terbakar dengan begitu cepat dan berubah menjadi abu seakan hanya sekejab.
"Siapa sebenarnya kau kisanak aku tidak pernah melihat Eyang Sindurogo melakukan pengendalian api hitam seperti yang barusan kau lakukan?" Tohlangkir menatap Suro dengan tatapan ngeri.
Setelah menyaksikan jurus yang baru saja Suro kerahkan Tohlangkir merasakan kengerian yang amat sangat. Sebab selain menguasai jurus Tapak Dewa Matahari ternyata pemuda didepannya itu mampu mengendalikan api yang seakan memiliki nyawa sendiri.
Api itu bahkan masih menyala dibelakang Suro yang berdiri dihadapannya berjarak beberapa tombak. Tohlangkir tidak memahami, entah bagaimana caranya api itu tetap berkobar. Barisan pasukan miliknya hancur hanya dalam sekali libas dihajar api yang meliuk-liuk seakan sebuah naga raksasa.
Bahkan dia merasa jika api yang berbentuk naga itu mirip siluman api yang pernah bertemu dengan ketua perguruan beberapa waktu lalu, sebelum berangkat ke Banyu Kuning. Ular api itu beberapa kali terlihat mengeliat seakan bernyawa.
"Kalian para ahli racun merasa paling menakutkan dengan kemampuan kalian. Sehingga merasa tidak ada yang berani mengganggu apapun yang kalian lakukan!"
"Kini aku mengerti mengapa kalian berbuat sesuka kalian. Karena aku ingat sekarang, bahwa adipati Dahanapura telah berada dalam pengaruh sihir ketuamu. Bahkan dengan sukarela mereka ikut mendukung kraman(pemberontakan) yang dilakukan Medusa. Dengan mengerahkan beribu pasukannya ke Banyu Kuning!"
"Karena aku masih mengingat dengan jelas lambang kadipaten Dahanapura tersemat pada pakaian prajurit yang ikut serta dalam peperangan di Banyu Kuning, selain prajurit dari kadipaten Gelang-gelang dan juga dari kadipaten Lumajang!"
Tohlangkir yang melihat ganasnya api hitam yang dikendalikan Suro mencoba untuk tidak membuat musuhnya lebih murka lagi.
"Sekali lagi aku tanyakan kepada kalian siapa yang bertanggung jawab atas pemerasan kepada para penduduk dipelosok?" Suro tidak mampu menahan kemarahannya, setelah upayanya untuk berbicara secara baik-baik tidak berhasil.
Sebenarnya sedari awal dia sudah menyadari, jika dengan cara itu pasti akan gagal. Namun dia tetap mencoba melakukannya. Karena jika dia melakukan kekerasan, maka tak ubahnya tindakannya seperti mereka. Kini dia mengerti mengapa dalam dunia persilatan begitu susahnya menghindari pertumpahan darah.
"Itu, itu bukan dari kami tetapi perintah langsung dari ketua." Toh langkir memberi isyarat kepada para anggota maupun para tetua untuk tidak menyerang Suro, justru dia menyuruh mereka menyingkir. Kemudian dia memberikan isyarat tertentu yang hanya dipahami oleh mereka sendiri.
Dia yang telah melihat seberapa kuat kekuatan serangan api hitam barusan, membuat Tohlangkir memilih mengalah. Tetapi itu sepertinya bukan berarti menyerah, karena pikirannya sedang berpikir keras untuk membunuh pemuda yang berada didepannya itu.
Suro terlihat tertegun beberapa saat. Pandangannya beralih kearah tempat yang berada dibelakang wakil ketua perguruan. Dia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Tetapi tempat yang dia maksud, berada pada jarak beberapa tombak dibelakang Tohlangkir.
Dia yang telah menapakkan kakinya di tanah, segera merasakan keganjilan yang dia lihat melalui getaran tanah di telapak kakinya.
"Apa yang kalian sembunyikan dibalik tembok pembatas itu?” Suro menunjuk ke arah dibelakang Tohlangkir.
Tohlangkir terkejut mendapat pertanyaan dari Suro.
'Apa orang ini melihat dibalik tembok ini? Mustahil jika dia melihatnya.' Dia segera mengernyitkan dahinya.
"Ada apa? Tidak ada apapun dibalik bangunan ini kisanak!" Tohlangkir kali ini menjawab dengan nada bergetar. Dia menyembunyikan kekhawatirannya dengan berpura-pura tersenyum, meski terlihat kaku.
"Kalian jangan menyembunyikan kebusukan kalian!" Suro berteriak dengan penuh amarah.
"Benar, tidak ada apapun dibalik bangunan ini kisanak!" Tohlangkir kembali mencoba meyakinkan Suro dengan bersikap setenang mungkin.
Suro segera mengerahkan jurus yang bersumber pada kitab bumi miliknya.
Bersamaan dengan hentakan kaki Suro, tanah dibawahnya langsung rengkah memanjang ke arah depan. Bahkan melewati tempat dimana sebelumnya Tohlangkir berdiri.
Rengkahan tanah itu membelah dan merubuhkan bangunan dibelakang Tohlangkir.
"Seraaang!"
Melihat Suro sedang berkonsentrasi mengerahkan jurusnya, Tohlangkir langsung menggunakan kesempatan itu untuk memerintahkan para anggota dan tetua Perguruan Racun Neraka menyerang Suro.
"Benteng Neraka Tujuh lapis!"
Seluruh serangan milik perguruan yang menerjang ke arahnya segera dihadang dinding tanah yang berlapis-lapis.
Setelah melihat apa yang terjadi dibalik tembok barusan kali ini Suro tidak lagi menahan kekuatannya. Sebab dibelakang tembok yang ditutup-tutupi Tohlangkir bertumpuk-tumpuk mayat anak-anak ataupun wanita telah menggunung.
Mayat itu tidak mengeluarkan bau atau membusuk, karena mereka mati disebabkan racun dalam dosis yang besar. Mereka sengaja digunakan sebagai bahan percobaan racun-racun milik perguruan itu.
Sangat lazim bagi perguruan aliran hitam menjadikan manusia hidup sebagai kelinci percobaan bagi ilmu mereka. Tetapi Suro yang tidak pernah melihat itu langsung, membuat dia benar-benar murka dengan kekejaman yang telah mereka lakukan.
"Kalian ternyata tidak pantas disebut manusia lagi! Kalian pantas disebut sebagai iblis berbentuk manusia!" Suro berteriak keras sebelum tubuhnya tertutup dinding tanah yang menjulang mengelilingi dirinya.
Mereka tercengang dengan jurus yang dikerahkan Suro. Tidak ada satupun serangan yang dikerahkan seluruh pasukan itu mengenai tubuh Suro, sebab tubuh itu telah menghilang dalam dinding tanah yang begitu tebal.
"Para tetua hancurkan dinding tanah itu!" Teriakan Tohlangkir kembali terdengar diantar hujan serang.
"Lebur saketi!"
Teriakan Tohlangkir disusul para tetua lainnya mengawali sebuah serangan yang berupa sinar merah. Terjadi ledakan berturut-turut pada gunungan tanah yang tingginya hampir dua tombak itu.
Begitu gunungan tanah itu terkena serangan para tetua yang telah berada di tingkat shakti, maka langsung hancur lebur. Tetapi tidak ada seorangpun didalamnya. Suro mendadak raib tidak berbekas.
"Tidak ada tubuhnya disini!" Seorang tetua segera mendekati tempat dimana Suro sebelumnya berlindung dibalik dinding tanah yang dia bentuk.
Tohlangkir ikut mendekat untuk memastikan keberadaan Suro.
"Kemana perginya orang itu?"
Mereka mencari Suro yang menghilang dari pandangan mereka.
"Makhluk apa sebenarnya dia itu tidak pernah sekalipun, aku melihat pengendalian api dan tanah seperti dirinya? Bagaimana juga dia bisa memiliki jurus Tapak Dewa Matahari milik Eyang Sindurogo?" Tohlangkir kebingungan setelah dinding tanah itu berhasil di hancurkan. Keberadaan Suro juga ikut lenyap. Pandangannya menyapu ke seluruh arah mencari tanda-tanda keberadaan musuhnya.
"Apakah makhluk barusan sejenis siluman kakang Tohlangkir?" Seorang tetua yang menyusul ikut dibuat terkejut melihat didalam kubah yang telah hancur tidak ditemukan tubuh musuhnya.
Tohlangkir hanya mengrenyitkan dahinya mendengar pertanyaan barusan.
Saat mereka kebingungan mencari tubuh Suro, sesuatu yang sedang terjadi tidak mereka sadari. Api hitam yang sejak tadi masih membara dibelakang Suro, kini tidak hanya berupa api saja. Tetapi ular besar yang terbentuk dari pengerahan unsur tanah telah bergabung dalam kobaran api itu.