
"Aku hitung sampai tiga jika tidak segera keluar aku tidak lagi segan-segan."
"Satu!" Suro mulai menghitung.
"Dari sedari tadi kalian menghadapi satu bocah saja tidak becus! Habisi dia!" Suara lain justru terdengar, membuat orang yang sebelumnya mulai mundur teratur, kini mereka yang sedang mengepung Suro menjadi ragu-ragu.
Suara itu milik salah satu tetua Perguruan Tengkorak Merah yang bernama tetua Lokapala.
Suro hanya bisa menghela nafas panjang mendapatkan tanggapan barusan, sepertinya niatnya hanya untuk memastikan keberadaan sisa pasukan Medusa tidak semudah yang diharapkan.
"Tetapi tetua, dia memiliki Jurus Tapak Selaksa Dewa Racun, tetua!" Salah satu anggota yang melihat lelaki tambun tiba-tiba ambruk dan mutah darah mulai mempercayai perkataan Suro.
Apalagi saat Suro justru memberikan obat penawar, lelaki tambun itu berangsur-angsur pulih. Tetapi dia yang kekuatannya tidak lebih dari pendekar tingkat satu tentu tidak mampu menangkap lesatan jarum yang begitu kecil.
"Bodoh! Kau kira mudah menguasai racun dan tehnik es didalam jurus itu. Bocah bau kencur begitu mudahnya mengelabuhi kalian semua. Habisi dia!"
Sebelum orang yang mengepung bergerak Suro segera memacing orang yang memberi perintah untuk maju sendiri, sehingga dia tidak perlu menghabisi sebegitu banyak orang.
"Jika nyalimu sendiri cuma sebesar semut, mengapa justru menyalahkan anak buahmu!" Suro sengaja memancing tetua Lokapala untuk berhadapan langsung dengannya.
"Minggir kalian semua, bocah bau kencur berani menghina Lokapala!"
"Nyalimu sungguh besar bocah, sebutkan namamu agar aku ingat jika ada seorang ibu mencari bocah sepertimu!"
Suro tersenyum mendengar perkataan Lokapala barusan. Kali ini dia justru tersenyum melihat salah satu tetua hadir dihadapannya.
"Paman tidak perlu mengingat namaku jika hanya untuk menunggu seorang ibu mencariku. Namaku Suro Bledek, tetapi jika paman kesulitan mengingat namaku paman bisa memanggilku sebagai penerus nama besar Pendekar Tapak Dewa Matahari!"
Mendengar perkataan Suro barusan Lokapala terkejut dan secara tidak sadar tersurut satu langkah.
"Hahahaha...sedari tadi aku mendengar bualanmu merancau semakin tidak jelas. Semua ilmu terkuat kau akui telah kau miliki!"
"Benarkah aku hanya membual, paman? Bagaimana dengan ini, apakah ini masih paman sebut dengan membual!" Selesai mengucapakan kalimat barusan lima berkas sinar muncul dari lima ujung jari tangan kiri Suro. Karena tangan kanannya sedang menggenggam bilah Pedang Kristal Dewa.
**
Disebuah ruangan cukup besar seperti sebuah balairung hampir seluruh tetua dan termasuk didalamnya wakil ketua Perguruan Tengkorak Merah ikut berkumpul. Tetapi pemandangan yang terjadi di dalam ruangan itu terasa janggal. Sebab para tetua dan juga wakil perguruan duduk dibawah lantai. Mereka semua menghadap kepada seseorang yang duduk diatas kursi ketua
Dan lelaki yang duduk diatas kursi ketua Perguruan Tengkorak Merah bukanlah iblis tongkat, tetapi orang yang lain.
Seseorang yang duduk diatas sebuah kursi itu, terlihat begitu berkuasa membuat para tetua rela duduk dilantai. Entah apa yang menyebabkan lelaki itu begitu dihormati? Padahal lelaki itu hanya memiliki satu tangan saja.
Enam orang berdiri di samping kanan dan kiri lelaki itu, seakan mereka adalah pengawal pribadinya. Mereka semua menyandang pedang yang sama persis. Begitu juga pakaian yang digunakan enam lelaki itu mirip dengan lelaki yang hanya memiliki satu lengan itu.
Mereka begitu menaruh hormat selayaknya seorang raja, segala ucapannya didengarkan dengan begitu seksama oleh semua orang yang berada didalam balairung.
"Ada keributan apa diluar sehingga suaranya terdengar sampai disini?" Lelaki buntung itu berbicara dengan sorot matanya begitu tajam menatap wakil ketua Perguruan Tengkorak Merah.
Lelaki yang dipanggil Pedang iblis mengangguk dan melanjutkan ucapannya.
"Sejak aku kalian angkat menjadi pemimpin Perguruan Tengkorak Merah, maka kalian juga harus menganggap enam pedang sesat ini sebagai seseorang yang berada diatas kalian semua. Satu tingkat di bawahku."
Mereka sedang diskusi yang cukup serius membahas sesuatu yang maha penting. Perbincangan mereka terus berlanjut meski diluar suara pertarungan masih saja berlangsung. Mereka semua terlihat begitu serius, sehingga tidak berani menyela ucapan lelaki buntung yang dipanggil Pedang iblis oleh wakil ketua Perguruan Tengkorak Merah.
Mereka terus mendengarkan ucapan Pedang iblis yang sedang berbicara dengan aura kegelapan yang terus menyebarkan kengerian bagi setiap orang yang berada didalam balairung.
Mendadak seseorang anggota perguruan masuk tanpa permisi dan terlihat terburu-buru. Saat dia masuk dirinya merasa janggal sebab tamu perguruan yang baru beberapa hari datang di perguruan kini duduk diatas kursi milik ketuanya. Tetapi dia pura-pura tidak melihat dan langsung menghadap wakil ketua Dharmatungga.
"Gawat wakil ketua Dharmatungga ada seorang anak iblis yang mengaku penerus Pendekar Tapak Dewa Matahari menghancurkan perguruan. Pedang miliknya yang mampu mengeluarkan api hitam telah membakar apapun yang diterjangnya!"
Kali ini Pedang iblis sepontan berdiri, setelah mendengar perkataan anggota perguruan yang barusan masuk.
"Pendekar Tapak Dewa Matahari? Apakah itu Pedang Pembunuh iblis milikku?" Matanya langsung menuju ke arah salah satu dari pedang sesat.
"Jenggala, kamu lihat apakah benar perkataan lelaki itu, jika Pendekar Tapak Dewa Matahari ada di perguruan ini. Dan pastikan pedang miliknya yang mampu mengeluarkan api hitam berhasil kamu rebut! Aku tidak tau apakah ada pedang lain yang memiliki kemampuan seperti Pedang Pembunuh iblis milikku. Tetapi jika ada, aku ingin memilikinya! Apakah kau paham Jenggala?"
"Sendiko dawuh kanjeng junjungan, anggap saja keinginan kanjeng junjungan sudah hamba laksanakan." Seseorang dipanggil Jenggala segera menjura sebelum berjalan keluar dari balairung itu.
**
Pertempuran yang telah terjadi telah menghancurkan bangunan disekitar pertarungan itu. Tetua Lokapala yang bertarung telah terjengkang dan tidak lagi bergerak setelah terkena serangan jarum beracun milik Suro. Hal itu dilakukan karena tetua itu hendak membunuh Maung.
"Jika masih sayang dengan nyawa kalian pergi dari hadapanku sekarang!" Suro menatap keseluruh orang yang mengepung dirinya.
Pasukan pemanah sebagian telah dihancurkan oleh Suro dengan menggunakan jurus Jari Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran. Begitu juga api hitam yang dikerahkan Suro menghapus bangunan dan juga sebagian orang-orang yang menyerangnya.
Setelah amukan Suro mereda, kini mereka segera menyadari seberapa mengerikan kemampuan pemuda belia yang berdiri dengan percaya diri, meski telah dikepung oleh orang yang tidak terhitung jumlahnya.
Para tetua yang masih selamat kali ini tidak berani ceroboh menyerang. Apalagi saat melihat Suro menghabisi tetua Lokapala dengan serangan Tapak Selaksa Dewa Racun, membuat mereka begitu waspada.
"Siapa sebenarnya kau kisanak? Bagaimana mungkin seorang bocah seumuranmu memiliki jurus-jurus terkuat dari berbagai perguruan? Bahkan jurus dari Eyang Sindurogo juga kau miliki!" Salah satu tetua menjaga jarak setelah seluruh serangan miliknya mampu dipatahkan oleh Suro dengan mudah.
"Sejak aku datang, setiap kali aku bertanya, tidak satu pun pertanyaanku kalian jawab. Justru kalian sibuk bertanya balik padaku. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab dahulu pertanyaanku. Dimana iblis tongkat berada? Apakah ada dari pasukan yang ikut bersama ketua kalian ada yang kembali? Dan satu lagi, apakah Dukun Sesat dari Daha pernah datang ke perguruan ini dalam jangka waktu kurang dari satu purnama ini?"
"Iblis tongkat dan juga seluruh pasukan yang ikut dengannya tidak satupun yang telah kembali ke perguruan ini. Begitu juga Dukun Sesat dari Daha dia tidak pernah sekalipun datang ke perguruan ini. Kecuali saat dia bersama iblis tongkat hendak menuju ke Banyu Kuning, dia terlebih dahulu mampir ke perguruan ini bersama seluruh pasukan yang dia bawa." Tetua yang saja baru bertanya, dia lah yang menjawab seluruh pertanyaan Suro.
"Kenapa susahnya menjawab pertanyaanku yang begitu sederhana tanpa perlu membuat kalian menjadi abu."
"Aku adalah Suro Bledek kalian bisa memanggilku Pendekar Tapak Dewa Matahari. Karena akulah satu-satunya penerus nama itu!"
**
Terima kasih yang telah memberikan dukungan. Ditunggu kembali dukungannya.