SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 414 Penantian Panjang



'Pemuda ini, akhirnya datang juga. Nah kalau pemuda ini baru sesuai dengan penglihatan yang aku dapatkan puluhan tahun lalu." Saat melihat Suro, pandangan pertapa itu berbinar-binar, senyumnya begitu lebar.


"Persis seperti yang ada dalam penglihatanku, saat dia sedang menghunuskan pedang ini.'


Pertapa itu menatap ke arah Suro dan juga ke arah bilah pedang yang ada dalam genggamannya secara bergantian. Kali ini dia hendak memastikan pemuda yang datang ditengah pertempuran itu sesuai dengan penglihatan yang telah didapatkan olehnya.


Pertapa itu terus memastikan dengan apa yang dia lihat. Bahkan dia tetap membiarkan Suro yang hendak menolong Geho sama. Pemuda itu segera mengerahkan jurus Langkah Maya untuk mendekati tubuh Geho sama yang masih belum sadarkan diri.


Suro sebenarnya sempat melihat bilah Pedang Kristal Dewa dalam genggaman pertapa. Tetapi dia lebih menghawatirkan kondisi Geho sama yang telah kehilangan kesadarannya. Apalagi sekujur tubuhnya dihiasi luka yang sudah tidak terhitung jumlahnya.


**


"Untung saja aku belum terlambat datang," Suro dapat bernafas lega saat memeriksa tubuh Geho sama yang masih bernafas.


Walaupun kondisinya masih tidak sadarkan diri dan dipenuh luka, namun dia merasa kondisi itu bukanlah sesuatu yang dapat mengacam jiwanya. Suro cukup optimis mampu menyembuhkan Geho sama.


Meski saat itu luka yang diakibatkan serangan pertapa membakar tubuh Geho sama hampir setengah dari tubuhnya. Selain itu luka lainnya juga cukup parah.


Tetapi Suro telah memeriksa, jika luka dalam yang dialami Geho sama masih dapat dia obati. Sehingga Suro merasa masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya.


Saat dia menggumam pelan sambil memeriksa tubuh Geho sama, tidak sengaja dia melihat bibir makhluk itu bergerak. Tetapi kedua matanya yang bengkak masih tertutup.


Suro penasaran dengan gerak bibir Geho sama yang lemah. Dia lalu mendekatkan kupingnya untuk menangkap ucapan Geho sama.


Dia merasa aneh, sebab jika dia memang sudah sadar, seharusnya dia mampu mengetahui melalui kesadaran mereka berdua yang terbagi.


'Terima kasih bocah gendeng,' Suro akhirnya berhasil membaca ucapan Geho sama dari gerak bibirnya.


Walaupun Suro tidak memahami, bagaimana Geho sama dalam keadaan tidak sadarkan diri terus menggumamkan kalimat itu.


Mengetahui apa yang diucapkan Geho sama pemuda itu tersenyum kecil. Dia kemudian mengambil sebuah botol kecil dari balik bajunya.


Setelah satu tetes dari cairan yang berasal dari botol yang ada di tangannya jatuh ke dalam mulut Geho sama, maka makhluk itu seperti terkena sengatan Sidat listrik alias belut listrik.


Matanya yang bengkak mendadak melotot dengan lebar. Mulutnya juga segera membuka lebar. Lalu teriakan keras keluar dari mulut Geho sama.


"Kuaaaampreeet, bocah sialan! Mengganggu tidurku!" Mata Geho sama terbelalak dengan melotot menatap pemuda didepannya yang tertawa lebar.


Teriakan Geho sama semakin keras, sebab Suro menuangkan satu tegukan Sharkara Deva kemulut manusia setengah siluman itu.


Tubuh Geho sama menggenjang dengan begitu hebat, setelah cairan yang dipenuhi bunga listrik dipermukaanya itu masuk ke kerongkongan Geho sama. Sekejap kemudian dia kembali berteriak lebih keras dibandingkan sebelumnya.


Makian makhluk itu juga semakin keras dibandingkan sebelumnya. Namun beberapa saat kemudian dia merasakan sharkara deva telah memulihkan luka dan juga tenaga dalamnya.


Senyumnya langsung mengembang begitu lebar setelah merasakan tubuhnya yang telah pulih dengan sempurna. Bahkan kekuatannya memenuhi seluruh tubuhnya.


Tubuh Geho sama mulai melayang naik ke atas. Setelah itu dia mulai unjuk kekuatan dengan meledakkan kekuatannya yang meluap-luap.


"Sudah aku duga, sharkara deva akan sanggup menyembuhkan dan mengembalikan kekuatanku dengan sangat cepat." Geho sama tertawa dengan jumawa setelah merasakan tubuhnya benar-benar sembuh dengan sempurna.


Sekujur luka dalam tubuhnya telah menghilang. Tenaga dalam terus meluap-luap memenuhi setiap inchi dalam aliran nadinya.


Geho sama lalu bergerak hendak meneruskan pertarungannya dengan sang pertapa. Tetapi langkahnya berhenti, sebab Suro telah mencegah tindakan nekat yang hendak dia lakukan


"Apa yang kau katakan bocah? Apa kau tidak melihat bagaimana dia telah menyerangku berturut-turut. Tubuhku dihantam berkali-kali dengan astra yang membuat tubuhku mirip adonan rujak bebeg?"


Suro terus berusaha menenangkan Geho sama yang memaksa hendak kembali melawan pertapa.


"Apakah kau tidak mampu mengingat kejadian barusan?" Suro menatap tajam ke arah Geho sama yang mulai mengepakkan sayapnya.


"Kalau kau tidak mampu mengukur kekuatanmu sendiri, seharusnya aku tadi tidak memberikan sharkara deva kepadamu." Ucapan Suro yang berbicara pelan telah membuat Geho sama termangu mengingat kekuatan pertapa yang menjadi lawannya.


Suro meskipun tidak mengetahui siapa lelaki dengan pakaiannya yang layaknya seorang resi yang biasa dulu digunakan gurunya, tetapi dia memiliki firasat jika pertapa itu sebenarnya bukanlah orang jahat.


Selain itu dia tidak bisa memahami bagaimana Pedang Kristal Dewa yang sebelumnya digunakan Geho sama, bisa berpindah tangan. Dia semakin kebingungan, setelah beberapa kali gagal mencoba menarik bilah pedang itu dari tangan pertapa.


Sebab Lodra tidak lagi mampu dia ajak berbicara. Dia segera menyadari, jika kini penguasa bilah pedang itu entah bagaimana caranya tidak lagi menganggap dirinya sebagai pemiliknya.


'Sebenarnya apa yang telah terjadi, bagaimana dirimu bisa bertarung dengan sosok Maharesi itu? Aku yakin dia bukanlah bagian dari pasukan Elang Langit.' Suro bertanya kepada Geho Sama melalui pembicaraan batin diantara mereka berdua.


Geho sama menceritakan semua hal tentang latar belakang pertapa yang memiliki kekuatan begitu dahsyat.


"Jenis Ciranjiwin, aku baru mendengarnya. Apakah itu artinya eyang guru juga termasuk Ciranjiwin, bukankah dia juga termasuk makhluk abadi?" Kali ini suara Suro terdengar saat bertanya kepada Geho sama.


"Eyang Sindurogo...aku rasa dia juga termasuk golongan itu." Geho sama menjawab sekenannya. Dia masih kesal karena dilarang meneruskan pertarungannya dengan pertapa.


"Itu adalah Sharkara Deva, bukan? Nama lain dari madu para dewa yang mampu menyembuhkan luka dan meningkatkan kekuatannya dengan sangat cepat!"


Sejak melihat Suro mengeluarkan botol dan menuangkan sesuatu cairan kedalam mulut Geho sama, lelaki tua itu cukup tertarik dengannya. Apalagi melihat reaksi yang diperlihatkan Geho sama dia cukup kagum.


"Benar sekali tuan pertapa, jika boleh mengetahui alasan apa yang membuat tuan pertapa menyerang sahabatku ini?" Suro cukup hati-hati berbicara dengan lelaki yang kini melayang mendekat ke arahnya.


"Sahabat, mengagumkan sekali. Seorang iblis seperti dirinya dapat ditundukkan oleh seorang pemuda tanggung sepertimu.


Apalagi ribuan pasukan lebah iblis juga telah kau jadikan anak buahmu. Ini sesuatu yang tidak dapat dilakukan seorang dewa sekalipun." Pertapa menatap lekat wajah Suro.


Di wajahnya kini tersemat sebuah senyuman yang menyiratkan, jika pertapa itu tidak menunjukkan permusuhan seperti yang ditunjukkan kepada Geho sama.


"Benar sekali tuan pertapa, memang dari pasukan lebah iblis, Sharkara Deva aku peroleh." Suro terkejut sosok pertapa yang ada didepannya bisa mengetahui tentang pasukan lebah iblis yang kini berada dalam kekuasaannya.


'Tetapi itu semua akan terasa menjadi hal yang tidak mengejutkan, jika yang melakukannya adalah Pangruwatdewa.' Pertapa itu menggumam pelan sambil menatap ke arah Suro yang mencoba bersikap seramah mungkin.


Dia sebenarnya belum mampu memahami arah pembicaraan sosok lelaki yang kini sudah ada dihadapannya tidak lebih dari sepuluh langkah. Suro membalas senyum ramah sang pertapa dengan tetap tidak menurunkan kewaspadaannya.


Geho sama yang berada didekat Suro memasang wajah cemberut. Beberapa kali dia mendengus kesal melihat mereka berdua berbicara dengan begitu akrab.


Padahal sebelumnya dia dijadikan bulan-bulanan oleh pertapa. Karena itu, dia hendak menunjukkan kepada Suro jika dia belum bisa memaafkan pertapa yang sedang dia ajak berbicara.


"Hamba bernama Suro Bledek dari tanah Yawadwipa..." Senyum Suro terus menghiasi wajahnya untuk menunjukkan, jika dia tidak ada rasa permusuhan.


"Orang tua ini hanyalah seseorang yang merindukan kematian sejak lama..."


Pertapa itu lalu mulai memperkenalkan dirinya kepada Suro yang sebagian besar telah dijelaskan oleh Geho sama.


"Aku sengaja menunggu kedatanganmu puluhan tahun lalu setelah mendapatkan penglihatan tentangmu. Karena itulah aku memilih tinggal di gunung ini demi menunggu kedatanganmu."


Suro masih mencoba memahami dan mencari tau maksud dari ucapan pertapa itu yang sedikit mengelitik. Tetapi dia tidak berhasil mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan lelaki tua itu.


Apalagi dia menyebut demi menunggu dirinya rela tinggal diatas puncak gunung.


'Apa yang sebenarnya diinginkan pertapa ini? Alasan apa yang membuatnya bertindak janggal dan rela menunggu kedatanganku?' Suro masih tersenyum ramah sambil mencoba menelaah ucapan sang pertapa.


Tetapi pemuda itu tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"Kau tau mengapa aku rela menunggumu selama itu?"


"Mohon maafkan diriku tuan pertapa, aku tidak mengetahui alasan tuan pertapa."


"Para dewata telah memberikan penglihatan kepadaku tentang siapa yang mampu membuat diriku moksa dan mengirimkan jiwaku menuju Nirwana. Penglihatan yang aku dapatkan adalah dirimu."


"Tunggu dulu tuan pertapa, aku tidak memiliki alasan yang membuatku harus membunuh tuan pertapa."


Suro terkejut mendengar penjelasan pertapa itu yang memintanya untuk membunuhnya.


'Sudah aku katakan pertapa itu gila, diawal dia juga memintaku untuk menghabisi nyawanya. Tetapi seperti yang kau lihat, justru aku hampir saja dihabiisi olehnya.' Geho sama berbicara kepada Suro melalui suara batin.


"Alasannya cukup mudah jika kau tidak membunuhku, maka temanmu dan juga dirimu akan aku habisi!"


Suara pertapa itu cukup pelan tetapi rasanya seperti geledek.


"Jadi kau hanya memiliki pilihan bertarung denganku, atau jika kau menolakku, maka kau akan mati ditanganku!"