SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 370 Kota Shanxi part 2



Mereka berlima akhirnya tidak meneruskan langkah ikut mengantri bersama orang-orang yang berjejer didepan gerbang. Sebab Suro maupun eyang Sindurogo memilih menggunakan jurus Langkah Maya untuk memasuki kota Shangxi.


Sebenarnya Dewi Anggini kurang setuju dengan cara seperti itu. Tetapi karena eyang Sindurogo memilih cara pintas itu, akhirnya dia tidak berbicara lebih lanjut dan mengikuti perkataan kekasihnya itu.


"Kota ini sudah jauh berubah dibandingkan saat terakhir kali aku menyambanginya." Dewi Anggini terlihat takjub dengan situasi kota yang akhirnya dapat mereka masuki itu.


Tetapi dengan melihat disetiap sudut, mereka segera menyadari jika saat ini kota dalam kondisi kewaspadaan tingkat tinggi. Sebab para prajurit pengawal kota yang sedang berjaga kali ini jumlahnya begitu banyak, seperti sedang terjadi peperangan


"Mereka berjaga dengan sedemikian banyak ini apakah ada hubungannya dengan kejadian yang sempat diceritakan oleh lelaki didepan gerbang tadi? Maksudku akibat kabar terjadinya penculikan para bayi," ujar Dewi Anggini.


"Bisa jadi adinda. Sangat mungkin justru, jika tindakan mereka ini sebagai bagian cara meredakan kepanikan yang terlanjur telah menyebar diantara para penduduk," timpal eyang Sindurogo yang mengikuti langkah kaki wanita didepannya.


"Mohon maaf tetua, tempat makan yang diceritakan tadi berada disebelah mana, perutku sepertinya sudah tidak mampu menahan lebih lama. Masalah lain lebih baik dibicarakan nanti saja. Kondisi perutku sudah dalam kondisi gawat." Suro menyela sambil mengusap-usap perutnya.


Eyang Sindurogo hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah muridnya. Meskipun begitu dia bisa memahami sikap muridnya, sebab dia sudah hafal jika muridnya itu tahan segala hal, tetapi tidak dengan lapar.


Dewi Anggini lalu mengajak mereka mencari tempat makan terbaik di kota itu. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya.


"Akhirnya ketemu, lihat bangunan bertingkat itu! Disitu kita akan mengisi perut kita."


Dewi Anggini menunjuk sebuah bangunan tinggi yang bertuliskan Pavillum Angin Utara yang mampu dibaca meski dari kejauhan. Hanya saja semua hurufnya bertuliskan huruf kanji.


"Seharusnya jalanan ini tidak sesepi ini. Apakah berita penculikan para bayi itu begitu menakutkan, sehingga mereka memilih berdiam didalam rumah mereka masing-masing?" ujar Dewi Anggini sambil melihat suasana sepanjang jalan yang mereka lewati.


Sebab memang jalanan itu tidak sepadat seperti seharusnya. Walaupun memang kota Shanxi bukan termasuk kota besar. Karena memang letaknya berada di pinggir gunung agak pedalaman.


Tetapi bagi para pedagang, kota itu sebagai tempat persingahan yang paling banyak diminati. Selain masakannya yang terkenal kelezatannya, dikota itu juga banyak tempat hiburannya.


"Sebaiknya kita bergegas, akan jadi masalah jika para penjaga kota itu memeriksa kita. Sebab kita masuk tidak melewati gerbang," ujar Dewi Anggini.


"Sudah aku perkirakan sebelumnya, cara kita masuk akan membawa masalah. Seharusnya kita tadi masuk lewat gerbang seperti orang normal lainnya." Dewi Anggini melanjutkan ucapannya .


Alasan wanita itu cukup beralasan, sebab selain tanpa memiliki identitas, mereka berlima menggunakan pakaian yang terlihat mencolok berbeda dengan masyarakat dikota itu. Apalagi senjata yang Suro bawa begitu banyak, sehingga penampilan mereka terlihat mencolok dibandingkan penduduk lainnya.


Mereka kemudian sampai didepan pintu masuk Pavillum Angin Utara. Dua orang wanita muda dengan dandanannya yang rapi dengan rambut dikepang dua kanan dan kiri, langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang seakan dipaksakan.


"Selamat datang di Pavillum Angin Utara. Apa yang bisa saya bantu tuan dan nyonya? Sepertinya kalian baru saja dari perjalanan jauh?" ucap dua Wanita muda itu menatap ke arah mereka berlima dengan pandangan yang merendahkan.


"Aku ingin makan ditempat ini, bisa kah aku memesan meja yang berada dilantai tiga."


"Mohon maaf tuan-tuan dan nyonya, tempat ini tidak mungkin terjangkau. Bahkan setelah seluruh bekal kalian dikumpulkan sekali, tetap belum mampu menutup tagihan yang harus dibayarkan nanti." Salah seorang dari dua wanita muda itu menjawab dengan nada sedikit ketus.


Mata dari wanita muda itu menatap mereka dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, sampai beberapa kali.


"Jangan khawatir, bahkan jika kami mau seluruh bangunan ini beserta isinya mampu kami beli," ucap Dewi Anggini sambil memberikan satu koin emas ke tiap wanita muda didepannya.


Setelah koin emas berada ditangannya, maka raut muka kedua wanita muda itu langsung berubah drastis menjadi murah senyum dan terlihat lebih ramah. Tidak lagi terlihat ada rasa terpaksa dari senyumannya yang kini semakin melebar itu.


"Mohon maafkan mata hamba yang mampu melihat, tetapi tidak mampu memahami jika yang sedang berada dihadapan hamba adalah tamu-tamu agung yang datang dari jauh."


Dewi Anggini tidak menyalahkan atas perlakuan yang diterima dari kedua wanita muda itu. Sebab dia menyadari apa yang mendasari alasan perlakuan kedua pelayan itu kepada dirinya.


"Seharusnya tadi kita mencari pakaian ganti terlebih dahulu sebelum ketempat ini." Pandangan Dewi Anggini berpindah ke arah keempat orang yang ada dibelakangnya.


"Ada masalah apa adinda, sepertinya kedua wanita muda itu melihat kita dengan penuh curiga."


Eyang Sindurogo dan yang lainnya tidak memahami apa yang sedang dibicarakan Dewi Anggini dan kedua pelayan didepan mereka. Sebab bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa daerah yang dimiliki kota Shanxi.


"Tidak kakang Sindu, lihat lah pakaian yang kita kenakan ini tidak berbeda dengan para pengemis. Robek disana sini akibat pertempuran yang kita lewati sebelumnya.


Tempat ini hanya didatangi oleh kalangan atas yang berduit. Melihat kita menggunakan pakaian seperti ini, mereka berdua menyangka kita tidak mampu membayar."


"Berani sekali mereka menghina, bukan hanya rumah makan ini, bahkan satu kota ini pun dapat kita beli, benar tidak bocah gendeng?" Dewa Rencong menyenggol Suro yang ada disebelahnya dengan sikutnya.


Pemuda itu sudah tidak menggubris ucapan Dewa Rencong, sebab pikirannya sedang terpaku pada sebuah gambar didepannya. Kedua mata Suro menatap lekat kepada sebuah gambar ayam goreng yang dilukis dengan begitu indah.


Mereka lalu mulai masuk ke dalam restoran itu. Ketika mereka baru melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat itu, semua mata para tamu yang ada dilantai dasar memandang dengan tatapan yang tidak suka.


Mereka bahkan mulai memprotes pelayan yang mengantar. Mereka tidak terima melihat orang-orang dengan pakaian lusuh dan dekil bisa diperbolehkan memasuki tempat makan tersebut.


"Aku sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk masuk ke dalam restoran itu, mengapa kalian masih membiarkan gembel-gembel seperti mereka memasuki tempat ini?" Suara teriakan diujung yang berasal dari seorang lelaki dengan golok besar menggebrak meja penuh amarah.


Sebuah guci besar berisi arak yang ada dimeja hampir saja tumpah karena gebrakan itu.


Suara-suara teriakan lain juga terdengar saat mereka berlima memasuki restoran itu.


"Selera makanku menjadi hilang gara-gara kalian membiarkan gembel seperti mereka memasuki restoran ini!" suara teriakan lain terdengar dari sudut lain.


Bukan saja para pengunjung yang berada dilantai itu yang melakukan protes, para pelayan lain juga tidak terima dengan tindakan dua wanita kembar itu. Mereka mencoba menghalangi langkah gadis kembar yang hendak mengantarkan tamunya.


Alasan mereka adalah pakaian para tamu itu sangat tidak pantas. Sebab nama Pavillum Angin Utara dikenal dikota itu sebagai tempat makan khalangan papan atas. Dengan kehadiran mereka tentu telah mencoreng nama baik tempat makan itu.