SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 199 Gagak Setan part 3



Setelah bermeditasi untuk menyerap mustika jiwa milik Gagak setan, maka segala pengetahuan dan juga kekuatan siluman itu kini menyatu dalam jiwa Suro.


Saat semua sepenuhnya telah terserap, maka Geho sama kini berada dalam kesadaran dimana Lodra dan Kavacha juga berada. Mereka bergabung dalam kesadaran Suro. Seperti juga yang terjadi dengan saat ini.


'Siapa kalian!' Gagak setan terkejut saat mengetahui ada dua jiwa lainnya yang ada didalam kesadaran Suro.


'Kurang ajar siluman emprit (burung pipit) kamu harus memangil kami seniormu!' Lodra menggeram melihat jiwa yang baru saja datang menyebut mereka berdua dengan tidak sopan.


'Selain tuan Suro, kau harus memangil yang lebih kuat darimu ini sebagai Hyang Kavacha dan kepadaku kau harus panggil Kanjeng Lodra yang agung!' Lodra tersenyum puas akhirnya ada yang bisa ditindas. Sebab selama ini dia merasa dianggab paling lemah oleh Hyang Kavacha.


Gagak setan tercekat mulutnya melihat dirinya harus menjadi bawahan sebegitu banyaknya jiwa lain.


'Manusia sialan! Sejak awal aku sudah curiga bagaimana mungkin manusia biasa sepertimu mampu selamat dari sebegitu besarnya kekuatan kegelapan yang kau serap!' Geho sama meruntuk panjang lebar mengetahui jika dirinya dianggab paling lemah.


'Jaga mulutmu burung emprit sialan! Tidak ada yang boleh memaki tuan Suro, kecuali diriku!"


'Kata siapa?' Hyang Kavacha kali ini yang berbicara membuat Lodra langsung terdiam.


Suro hanya tertawa mendengar perbincangan tiga jiwa yang ada dalam kesadarannya.


"Tunjukkan dimana dua orang temanku yang kau ketahui Gagak setan? Meskipun aku tadi sudah menyerap pengetahuanmu, tetapi aku masih kurang jelas!"


Mereka semua kemudian melesat mengikuti petunjuk dari Gagak setan. Tempat yang dituju ternyata lumayan jauh. Lebih sepenanakan nasi mereka melesat tidak juga sampai, hal itu di karenakan empat prajurit yang bersama mereka tidak mampu terbang. Akhirnya mereka hanya berlari itupun empat prajurit itu juga keteteran mengejar cepatnya lari Dewa Rencong dan Suro.


"Aku merasakan getaran didepan sana, kalian tinggal lurus aku akan duluan!"


Ketika Suro hendak melesat terbang mendadak dia berbalik arah.


"Sebentar Geho sama memberiku saran yang lebih baik." Suro kemudian menjentikkan jarinya.


Mendadak tubuhnya terlihat seperti membelah menjadi dua. Wujud kembaran Suro yang baru muncul itu, memiliki kesamaan yang sama persis seperti pinang dibelah dua.


"Dia yang akan menuntun paman dan kalian berempat menuju ke tempat dimana paman guru dan tetua Dewi anggini berada. Suro harus membantu mereka berdua sesegera mungkin, agaknya kondisi mereka dalam bahaya besar!"


Suro kemudian melesat menggunakan bilah pedangnya, kali ini dia melesat dengan kecepatan penuh. Bahkan Dewa Rencong terkejut melihat betapa cepatnya Suro melesat.


**


Didepan Suro beberapa lie sebuah pertempuran sedang berlangsung. Pertempuran itu melibatkan Dewa Pedang dan Dewi anggini melawan sebuah monster bentuknya mirip naga raksasa yang dulu pernah menyerang tanah Yawadwipa atau Javadwipa yang memiliki arti yang sama yaitu pulau padi.


"Tetua Dewi anggini menyingkir!" Dewa Pedang berteriak hendak memulai sebuah serangan.


Dewi anggini melesat terbang ke atas, dibelakangnya raksasa sebesar hampir lima belas kali tubuh seekor gajah mengejarnya. Tetua Dewi Anggini mendengar perintah Dewa Pedang langsung berbelok ke kanan.


Dewa Pedang langsung menebas makhluk raksasa itu. Tubuh raksasa itu langsung hancur terkena jurus sejuta tebasan pedang.


Tetapi itu hanya berlangsung sekilas sebab makhluk itu kembali pulih.


"Bagaimana ini kakang Dewa Pedang? Kemanapun kita pergi, tidak ada tempat yang aman! Makhluk alam kegelapan ini melihat kita, seperti semut melihat gula!"


'Ia benar sekali, reaksi mereka sama persis dengan para bandot yang melihat kedatangan tetua.' Dewa Pedang menggumam pelan sambil memandang ke arah raksasa yang baru saja dihabisi dari ketinggian.


"Maksudnya?" Tetua Dewi anggini langsung melotot demi mendengar gumaman Dewa Pedang. Alam itu terlalu sunyi, sehingga gumaman yang begitu lirih bisa terdengar jelas.


Dewa Pedang terkejut melihat reaksi tetua Dewi Anggini.


"O.. eee... anu itu para makhluk kegelapan melihat kedatangan kita seperti semut melihat gula. Benar sekali ucapan tetua barusan!" Dewa Pedang terkejut, sehingga dia belum menyiapkan jawaban yang tepat.


'Sialan...perasaan tadi aku berbicara lirih, masih mendengar saja dia' Dewa Pedang kali ini hanya berani membatin sambil salah tingkah.


"Kemana nakmas Suro dan Dewa Rencong? Mengapa dia dan kakang Dewa Rencong tidak kunjung datang? Bahkan sejak kita datang, hingga serangan tangan raksasa yang menyerang kita secara bertubi-tubi itu akhirnya menghilang dengan sendirinya, mereka berdua juga tidak datang." Dewa Pedang mencoba mengalihkan pembicaraan yang tiba-tiba menjadi kaku gara-gara gumamannya yang tidak sengaja.


"Benar kakang, bahkan sampai kita harus meninggalkan tempat itu karena kedatangan pasukan kegelapan yang mengendarai sebuah makhluk seperti badak, mereka juga tidak jua datang."


"Gawat ini, apa giliran kali ini kita yang akan terjebak di alam ini, seperti nasib eyang Sindurogo!" Pandangan Dewa Pedang masih tidak lepas ke arah makhluk yang baru saja dia hancurkan. Sebab makhluk itu sudah pulih kembali dan mulai mengepakkan sayapnya melesat menghampiri mereka.


"Sampai kapan kita harus bermain seperti ini?" Dewa Pedang kembali menebaskan bilah Pedang Naga Langit miliknya.


Tebasan yang melepaskan energi pedang tingkat langit sangatlah mengerikan, apalagi jurus yang dikerahkan adalah jurus dengan daya penghancur yang mengerikan.


Raksasa yang baru saja hendak mengepakkan sayap itu langsung hancur kembali. Energi tebasan pedang itu bahkan menghancurkan tebing dibelakang makhluk itu, sehingga langsung runtuh mengubur tubuh raksasa yang hancur.


"Kakang apa ini akan jadi akhir riwayat kita?"


"Memang kenapa tetua? Baru kali ini aku mendengar tetua begitu putus asa?" Dewa Pedang menatap tetua Dewi anggini yang baru saja berbicara.


Entah mengapa tatapan tetua itu justru mengarah ke tempat lain. Tatapannya terlihat penuh rasa khawatir dan ketakutan. Dewa Pedang penasaran melihat tetua Dewi anggini menatap dengan begitu serius, dia segera mengikuti arah pandangannya.


"Ini bukan pertanda bagus!" Dewa Pedang melotot melihat rombongan makhluk yang sama persis dengan apa yang baru saja dia hancurkan tubuhnya. Jumlah mereka sekitar selusin. Karena begitu lebarnya sayap yang membentang, membuat langit didepan mereka seakan penuh dengan makhluk itu.


Itu belum seberapa, sebab di bawah makhluk lain sudah menunggu jika sewaktu-waktu mereka berdua terjatuh, makhluk itu akan segera menyantapnya. Makhluk itu datang dalam jumlah yang lebih banyak.


Binatang itu mirip serigala dengan tiga kepala, hanya saja ukurannya sangat mengerikan, yaitu hampir sebesar gajah.


"Bagaimana ini kakang? Lihatlah mereka terus berdatangan!" Kali ini tetua Dewi Anggini sudah tidak mampu lagi menutupi kekhawatirannya. Wajahnya kini sudah terlihat pucat.


"Jika mereka ingin memangsaku maka itu tidak akan terjadi dengan mudah!" Dewa Pedang sudah bersiap menghadapi naga raksasa yang terbang semakin dekat dengan sangat cepat. Setiap makhluk itu memiliki empat sayap yang membentang dengan sangat lebar.


Ghoooooaaaaaaarrrrrr!


Kemudian secara serentak para naga itu membuka mulutnya dan meledakkan semburan api yang sangat besar. Sehingga membentuk dinding api yang seakan memenuhi seantero langit didepan mereka. Kali ini mereka kemungkinan tidak akan mampu lagi selamat dari serangan makhluk kegelapan.