SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 372 Kota Shanxi part 4



"Mohon Maafkan saya sebelumnya, nyonya bangsawan mereka bertiga adalah tuan muda Yang. Dia anak dari dari Yang Taizu penguasa kota ini.


Mereka memaksa kami untuk makan dilantai tiga tempat favorit baginya menikmati masakan Pavillum Angin Utara ini. Jika kami tidak meluluskan permintaan mereka tentu akan menjadi masalah bagi kami kedepannya.


Sebab mereka bisa saja menutup tempat ini, karena hal sepele ini. Karena itu mohon kerendahan hati nyonya bangsawan memberikan ijin kepada kami untuk membiarkan tuan muda Yang tetap bisa menikmati makanan di lantai tiga ini."


Dewi Anggini menatap ke arah pemuda dan pemudi yang agak berada jauh darinya. Lelaki muda itu memandang mereka dengan sorot mata yang merendahkan sambil menggunakan kipas kecil yang sedari tadi tidak berhenti bergerak.


"Tentu saja kami akan memberikan potongan harga atas makanan yang nyonya telah pesan kepada kami." Manager Sui berusaha tersenyum seramah mungkin.


"Yang Taizu, sepertinya aku mengenalnya. Wajah pemuda itu sangat mirip sekali dengan ayahnya," Dewi Anggini berbicara sendiri sambil menatap ke arah salah satu pemuda yang ditangannya tergenggam sebuah kipas besi.


"Ada apa adinda?" tanya eyang Sindurogo yang berada didepannya.


Wanita itu lalu menjelaskan kepada mereka permintaan manager Sui barusan.


"Biarkan saja, mereka makan dilantai ini, bukankah kita juga cukup hanya dengan meja ini saja."


Mendengar ucapan eyang Sindurogo barusan, maka Dewi Anggini lalu menganggukkan kepala kepada manager Sui untuk memberikan ijin kepadanya untuk membiarkan para pemuda dan pemudi itu makan dilantai tiga.


"Terima kasih kepada nyonya bangsawan, karena telah membantu kami lepas dari masalah yang kami hadapi ini." Manager Sui menundukkan badan sebagai rasa terima kasihnya yang tidak terukur banyaknya.


"Tidak perlu berlebihan, makanan yang akan mereka pesan masukan saja dalam tagihanku," ujar Dewi Anggini dengan senyuman ramahnya.


Lelaki tambun itu mengangguk dan memegang kedua tangannya saling menggenggam dan menjura kepada Dewi Anggini sambil tersenyum lebar. Dia segera berlalu dan berjalan ke arah pemuda dan pemudi yang berada agak jauh dari mereka.


**


Manager Sui lalu menjelaskan kepada para pemuda dan pemudi itu, jika mereka bisa menikmati makan dilantai tiga itu, setelah mendapatkan ijin dari Dewi Anggini.


Mereka bertiga adalah Yang Xiaoma, Yang Jiang dan yang perempuan dengan pakaiannya putih dengan wajahnya yang begitu ayu itu bernama Yang Xie Ying. Rambut wanita muda itu menjuntai lurus hingga ke bahu.


"Katakan kepada mereka jika makanan yang akan mereka makan akan aku bayari. Karena aku tidak ingin berhutang budi dengan siapapun!" Suara lelaki yang bernama Yang Xiaoma itu sengaja diucapkan dengan suara yang sedikit keras, sehingga semua orang yang ada dilantai itu mendengarnya.


"Sombong sekali, memang dia saja yang mampu menyewa satu lantai ini? Aku tidak meminta belas kasihan orang lain. Katakan kepadanya jika aku yang akan membayar semua pesanan makanan mereka!" Yang Xioma kembali mempertegas ucapannya.


"Mohon maaf tuan muda, sewa dan seluruh makanan telah dibayar, begitu juga dengan makanan yang akan tuan muda pesan telah dibayar oleh nyonya bangsawan disana." ujar manager Sui.


"Selain itu pesanan makanan mereka tidak sedikit...," tambah Manager Sui sambil menjelaskan jumlah harga yang telah dikeluarkan Dewi Anggini


Yang Xiaoma secara tidak sengaja menelan ludahnya mengetahui begitu banyaknya jumlah yang dipesan.


"Mereka memiliki selera makan seperti gajah, bagaimana mereka bisa membayar makanan sebanyak itu? Siapa sebenarnya mereka manager Sui?" ucap Yang Xioma dengan suara sengaja dikecilkan.


"Mohon maaf tuan muda, kami tidak mengetahui apapun tentang mereka. Tetapi saat mereka datang mereka bahkan sesumbar sanggup membeli seluruh bangunan Pavillum Angin Utara ini.


Pakaian yang mereka kenakan itu aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Aku rasa baru pertama kali ini melihat cara berpakaian seperti mereka." ucap manager Sui.


Yang Xioma menganggukkan kepala sambil pandangan tidak lepas dari orang-orang yang duduk didekat jendela. Dilantai tiga itu ada tiga jendela besar.


Dewi Anggini dan yang lainnya duduk dimeja yang berhadapan dengan jendela yang berada ditengah. Mereka memilih tempat itu, karena mereka bisa melihat suasana kota Shanxi lebih luas dari jendela tersebut.


"Seseorang yang pantas dicari tau, apalagi saat ini kota sedang ada serangan yang aneh orang-orang ketakutan karena bayi mereka telah dicuri dan semua keluarganya dibunuh.


Mereka pantas dicurigai sebagai pelakunya. Apalagi senjata mereka yang dibawa pemuda itu sangat tidak lumrah. Apa yang dia lakukan dengan membawa bilah pedang sebanyak itu dipunggungnya?" Yang Xioma sambil berbicara tidak berhenti mengetuk-ngetukkan pangkal kipas besinya ke meja.


"Mungkinkah mereka kelompok perampok atau maling atau justru merupakan kelompok pendekar persilatan dari perguruan yang berasal dari daerah yang jauh.


Lihatlah dua wanita dan satu pemuda yang membawa pedang begitu banyak, bukankah corak pakaian mereka sedikit sama?" balas Yang Xian ikut mencurigai orang-orang yang telah membayar tagihan makanan yang mereka pesan.


"Salam hormat kepada para pendekar dan nyonya bagsawan yang telah berbaik hati membiarkan kami makan di lantai ini dan sekaligus menjamu kami. Tentu tidak sopan jika saya tidak memperkenalkan diri kepada nyonya bagsawan yang sangat dermawan ini.


Perkenalkan namaku adalah Yang Xioma putera Yang Taizu pejabat yang memimpin kota Shanxi ini.


Sedangkan yang bersamaku disana yang lelaki adalah adik iparku Yang Jiang. Sedangkan wanita yang duduk bersamanya adalah Yang Xian Ying." Lelaki itu mencoba memperkenalkan dirinya dengan jumawa.


"Lalu siapakah nyonya bangsawan ini, bolehkah saya mengetahuinya?"


Dewi Anggini sejak awal mendengar apa yang diperbincangkan manager Sui dengan mereka. Tetapi wanita itu tetap memasang senyum ramahnya.


"Panggil saja diriku Yifu Yuan."


Yang Xioma mengerutkan jidatnya mendengar jawaban dari Dewi Anggini. Sengaja wanita itu memperkenalkan dirinya dengan nama aslinya.


"Nama nyonya Yuan terasa begitu akrab ditelinga. Aku pernah mendengar nama dengan marga Yuan tetapi aku lupa. Tetapi sudahlah mungkin ini karena ingatanku kurang bagus.


Atas kebaikan nyonya Yuan, maka sebagai balas Budi kami, sudikah menerima undangan makan malam dari kami."


Dewi Anggini tidak segera menjawab, tetapi dia berbicara dengan eyang Sindurogo terlebih dahulu untuk meminta pendapat.


"Selain itu, aku sepertinya mengenali ayahnya."


Eyang Sindurogo segera menyadari nama yang disebutkan barusan sambil menatap ke arah pemuda didepannya. Dia sedikit mengerutkan dahinya saat memandang wajah Yang Xiaoma.


"Aku ingat sekarang, benar aku tau wajahnya mirip sekali pemuda ini dengan seseorang penakut yang mencoba menjadi malaikat penolongmu bukan?


Bahkan pemuda itu rela mengikuti dan menjadi pembawa bawaan adinda. Pemuda itu terus memohon-mohon agar diterima cintanya sampai beberapa hari. Dia kemudian lari terbirit-birit setelah kedatangan pasukan pembunuh bayaran Mawar Merah?"


Dewi Anggini menganggukkan kepala sambil berdehem beberapa kali. Dia memahami dari nada bicara lelaki di depannya sepertinya dia sedikit tidak menyukai undangan yang diberikan pemuda itu kepada mereka.


"Mohon ma..," Dewi Anggini yang hendak menolak undangan dari Yang Xiaoma berhenti tidak melanjutkan ucapannya, sebab eyang Sindurogo meminta dia untuk menerima undangan itu.


Dewi Anggini sedikit memicingkan mata melihat reaksi eyang Sindurogo, lalu pandangannya kembali beralih kepada pemuda tampan didepannya.


"Baiklah kami akan datang."


"Terima kasih," pemuda itu lalu menjura ke arah mereka semua sebelum berbalik ke mejanya sendiri.


**


"Biarkan saja mereka datang, setelah itu para prajurit akan menahan mereka. Akan mudah bagiku mendakwa mereka sebagai pencuri yang mencoba menerobos kediaman pejabat kota Shanxi.


Kalian tentu sudah mengetahui apa hukumannya bagi siapapun yang berani mencuri dikediaman pejabat kota Shanxi ini? Jawabannya adalah hukuman mati." Yang Xiaoma tersenyum penuh kemenangan.


Rencananya untuk menjebak mereka berlima sudah setengah jalan berhasil, setelah Dewi Anggini menyanggupi untuk datang ke kediaman Yang Xiaoma.


"Aku ingin tau siapa sebenarnya mereka itu? Sombong sekali tempat yang menjadi favorit kita makan berani-beraninya di sewa oleh mereka semua. Belum tau sedang berhadapan dengan siapa mereka." Senyum Yang Xiaoma semakin melebar saat mengakhiri ucapannya.


Dua sahabatnya itu hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan lelaki muda itu. Tabiatnya sebagai anak penguasa kota satu-satunya, memang sudah dikenal suka berbuat sesuka dia.


Banyak sudah yang bernasib malang karena sebuah kesalahan kecil yang dilakukan, tetapi lelaki muda itu tidak peduli. Selama ayahandanya menjadi penguasa kota itu, maka dia akan melakukan apapun sesuka dia.


"Sayang sekali jika mereka dibunuh semua, padahal pemuda yang membawa pedang sebegitu banyaknya memiliki paras yang cukup menarik," ujar wanita didepannya yang bernama Yang Xie Ying.


"Aku pastikan, nanti saat para pengawal kota menangkap pemuda itu, maka aku sendiri yang akan memenggalnya. Berani sekali dia memiliki wajah yang ketampanannya hendak bersaing dengan ketampananku." Yang Xiaoma bersungut-sungut mendengar Yang Xie Ying tertarik dengan Suro.