
Setelah berhasil menghancurkan formasi bunga kematian, Suro tergelak penuh kemenangan. Dia membiarkan musuhnya masih bergeletakan tanpa dia coba untuk mengejarnya.
Mereka yang sebelumnya mengepung Suro dapat dipukul mundur, setelah berhasil dihujani dengan luka disekujur tubuhnya. Tetapi dengan luka tidak satupun dari mereka kehilangan nyawanya.
Suro memang sengaja tidak ingin menghabisi mereka. Sebab dia masih harus bertanya kepada salah satu dari mereka yang mengetahui keberadaan eyang Sundurogo, tetua Dewi Anggini dan juga Dewa Rencong.
Jika bukan karena memikirkan mereka bertiga, niscaya kekuatan serangan miliknya tidak lagi dia tahan. Dia justru membiarkan orang-orang yang berhasil dia pukul mundur itu memulihkan diri mereka masing-masing.
Suro masih terpingkal-pingkal menertawakan mereka yang harus terjungkal dan terlempar cukup jauh, karena serangan balasan yang dia kerahkan. Formasi Pedang Kematian yang dibangga-banggakan musuh dengan mudah dapat dia patahkan.
“Sepertinya kepala bocah ini ada yang salah, selain dia sedari tertawa sendiri, dia juga terlihat berbicara dengan dirinya sendiri.” Sesosok yang memiliki kepala botak berbicara dengan salah satu tetua didekatnya.
“Benar apa yang kau katakan saudara Xiao Long, apakah kita sedang bertarung dengan orang gila?” Lelaki yang jangkung menimpali ucapan lelaki barusan yang dipanggil Xiao Long.
Mereka berusaha secepat mungkin dapat memulihkan tubuh mereka. Selain karena serangan balik yang dilakukan Suro, sesungguhnya formasi serangan yang dikerahkan untuk mengepung Suro sendiri telah menguras tenaga mereka. Alasan itulah yang membuat para tetua Mawar Merah tidak segera menyerang balik.
“Dalam sejarah kelompok ini tidak ada satupun binatang melata yang sanggup memasuki markas ini, kecuali semua masuk atas kehendak kita. Jadi terasa tidak masuk akal ada orang gila yang dapat memasuki tempat ini, saudara Yan Fuhu," suara Xiao Long terdengar pelan sambil terus mengatur nafasnya.
“Benar apa yang kau katakan saudara Xio Long, tidak mungkin ada orang gila masuk ke markas kita."
"Tetapi tidak mungkin juga ada orang waras yang datang berdua saja ke markas ini di siang bolong, lalu berkoar-koar hendak membumi hanguskan seluruh tempat ini.” Lelaki yang bernama Yan Fuhu kembali menimpali sambil mencoba secepatnya memulihkan tenaga dan juga luka disekujur tubuhnya.
Nama formasi pedang kematian menjadi momok bagi siapa saja yang berani berhadapan dengan kelompok Mawar Merah. Namun dibalik namanya yang mengerikan bagi dunia persilatan, sebenarnya ada rahasia yang tidak diketahui orang banyak, jika jurus itu memerlukan imbalan besar untuk mengerahkannya.
Jurus itu dapat menguras tenaga dalam pemakainya dengan cepat. Sebab mereka menggabungkan seluruh kekuatan mereka menjadi satu, dengan itu setiap serangan yang dilancarkan mampu menjadi serangan mematikan.
“Masuk diakal apa yang saudara Yan Fuhu katakan, sepertinya kita sedang menghadapi orang gila yang teramat kuat, nyatanya Naga Hitam saja dapat dia kalahkan."
Mereka terus berpacu dengan waktu agar kekuatan mereka dapat pulih secepatnya. Walaupun mereka lakukan itu dengan tetap penuh kewaspadaan. Beruntung pemuda yang menjadi lawan mereka tidak meneruskan serangannya, setelah berhasil memukul mundur kepungan mereka.
“Sekali lagi aku tawarkan kepada kalian, jika tidak mau menerimanya, maka jangan salahkan diriku. Aku jamin kepala kalian satu per satu akan terpisah dari badan kalian.” Suro berbicara dengan puluhan pedang terbang masih mengambang ditengah udara siap menyerang musuh.
“Kesempatan pertama aku berikan kepadamu!” Suro menunjuk ke arah lelaki botak yang bernama Xiao Long.
Lelaki itu menelan ludah saat Suro menunjuk dirinya dengan bilah pedang yang sangat unik. Sebab sekujur bilah pedang itu tidak seperti terbuat dari baja. Justru lebih mirip selembar kaca yang begitu bening tembus pandang.
“Paman menolak atau menerima tawaranku?”
“Jangan terlalu sombong bocah, kami adalah kelompok Mawar Merah, kesetiaan kami tidak tergoyahkan meski nyawa kami yang menjadi taruhannya.”
Suro hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar ucapan Xiao Long hingga selesai. Lalu dia menghela nafas panjang.
Zraaat
Bldaar!
Setelah lelaki botak itu selesai berbicara, maka Suro langsung menggerakkan satu jari telunjuknya. Satu sinar menerjang dengan begitu cepat, sinar itu mengantam kepala musuhnya dan bukan saja memisahkan dari badannya, tetapi justru meledakkannya hingga hancur.
“Sudah aku duga ini tidak akan berjalan dengan mudah. Berbicara dengan orang-orang seperti kalian para pembunuh berdarah dingin memang sulit. Sebab di mata kalian nyawa orang lain tidak ada harganya.
Apalagi hanya sekedar ucapan, tentu kalian tidak akan menganggapnya sama sekali. Oleh karena itu, aku juga akan memperlakukan kalian, seperti yang biasa kalian lakukan kepada orang-orang yang akan menjadi korban pembunuhan kalian.
Para tetua Mawar Merah terkejut melihat Suro mampu membantai Xiao Long. Satu alasan, karena lelaki itu lebih dikenal sebagai Pendekar kaki petir. Diantara mereka, Xiao Long lah yang memiliki kemampuan meringankan tubuh paling hebat.
Melihat Suro menghabisinya dengan begitu mudah, hal itu tentu menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Sebab itu artinya jika si Kaki Petir saja tidak mampu menghindari serangan itu, maka begitu juga mereka semua.
“Sekali lagi aku mengatakan hal yang sama apakah diantara kalian mengetahui keberadaan tiga orang yang aku cari itu?” Suro bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah lawan yang kembali mengepung dirinya.
Kali ini matanya menatap tajam ke arah mereka semua. Tatapan itu membuat mereka menjadi sedikit gentar. Entah aura apa yang dimiliki pemuda didepannya, namun mereka yang merupakan pembunuh bayaran tidak pernah sekalipun merasakan aura yang begitu menakutkan.
“Jika diantara kalian ada yang membuka mulut tentang apapun yang disebutkan pemuda itu, maka aku sendiri yang akan membakar tubuh kalian hidup-hidup! Walaupun aku sendiri tidak mengetahui apa maksud dari ucapannya.
Aku ingin pemuda itu mati dengan penasaran, berani sekali dia mencari masalah dengan kelompok kita!” Suara barusan adalah milik Naga Hitam, agaknya lelaki itu telah memulihkan lukanya kembali.
“Jadi seperti itu, padahal aku sudah cukup berbaik hati memberikan kesempatan kedua kepada paman, yaitu dengan hanya memberikan luka kecil itu. Hal itu aku lakukan sebagai tanda terima kasihku, karena sebelumnya paman telah membiarkan diriku mempelajari tehnik perubahan api hingga tahap hitam.
Jika seperti itu, baiklah kali ini aku akan menghabisi paman. Sebab mereka yang hendak menjelaskan keberadaan guru dan yang lainnya terlihat begitu ketakutan kepada paman.
Tetapi jika dipikir-pikir seharusnya kalian lebih takut kepadaku dibandingkan kepadanya.” Suro menunjuk ke arah Naga Hitam dengan bilah pedang ditangannya.
“Mulut lancang tidak akan pernah aku biarkan dirimu dapat keluar dari sini hidup-hidup! Salah satunya adalah karena kau telah berani mencuri tehnik rahasiaku!”
“Gerbang ketiga jurus Serigala Neraka!”
Buuuum!
Bersama ledakan akibat pengerahan api hitam milik Liong Heise, maka terciptalah kobaran api yang membentuk sesosok yang menyerupai seekor serigala sangat besar. Dengan kepalanya berjumlah tiga. Kobaran api yang cukup besar itu melesat dengan cepat ke arah Suro.
Dari pengalaman sebelumnya Naga Hitam tidak membiarkan pedang milik Suro menyentuh kobaran api miliknya. Karena itulah setiap kali Suro hendak menebaskan pedangnya pada kobaran api itu, maka sesuatu yang unik terjadi.
Sebab api itu mampu menghindari tebasan pedang Suro dengan gerakan membelah dirinya. Bahkan kobaran itu mampu membelah menjadi tiga bagian lebih.
Setiap bagian dari kobaran api itu ada yang menyatu dengan yang lainnya, sebagian justru bergerak menyerang Suro dari berbagai sisi.
Setelah beberapa kali Suro berusaha melenyapkan kobaran api itu dengan menebas menggunakan Pedang Kristal Dewa, maka kini dia justru telah dikepung oleh kobaran api yang tidak kurang dari sepuluh.
Seluruh pecahan kobaran api itu berhasil mengepung Suro dari berbagai sisi. Naga Hitam dengan begitu lihai terus mengendalikan api miliknya, dengan seluruh keahliannya sekuat tenaga dia hendak membakar Suro hidup-hidup.