
"kalian pikir dengan serangan ini mampu mengalahkan ku!" ujar kepala Prabu Gondakumara yang lain.
Kepala kepala GondaKumara yang sebelumnya telah terputus kembali ke tempatnya semula, sehingga tubuhnya kembali utuh.
Namun ternyata ada satu kepala yang tidak kembali ke tempatnya semula karena ledakan dari senjata Brahmastra yang dikerahkan Suro.
Pemuda itu pun menyadari perubahan yang terjadi pada musuhnya. Dia segera mengerahkan jurus berikutnya Brahmastra untuk menghajar kepala berikutnya.
'Hajar dia dari belakang Blekok sinting,' ucap Suro ke arah Gagak setan dari ruang kesadarannya.
Mendengar perkataan Suro, maka Geho sama segera menyerang dengan kekuatannya, dia mengerahkan jurus Langkah Maya. Dia yang muncul dibelakang Prabu Godakumara langsung menghantamkan kekuatan teknik perubahan api hitam dengan kekuatan penuh.
Serangan yang dikerahkan Geho sama hanyalah pengalihan, sebab serangan yang sebenarnya adalah yang dikerahkan Suro.
Duuuuuuuum!
Ledakan keras menghantam bersam lesatan cahaya terang yang muncul di dekat salah satu Prabu Godakumara. Muruhnya itu langsung terlempar.
"Apakah itu telah berhasil membunuhnya?" ucap Gagak setan.
Suro tidak segera menjawab dia justru memperhatikan tubuh Prabu Godakumara yang mulai bangun. Dia mulai menghitung kepalanya yang awalnya sembilan kini tinggal delapan.
"Aku tau sekarang, agaknya dia memiliki sepuluh nyawa, kini dia tinggal delapan nyawanya," ujar Mahasura.
"Banyak amat di sebenarnya sebangsa raksasa apa sebangsa kucing?" tanya Gagak setan sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Kamu sebenarnya bisa tidak membedakan antara raksasa dan kucing?" ucap Suro sambil melotot.
"Itu sebuah perumpamaan bodoh!" dengus Gagak setan.
Pandangan mereka kini kembali tertuju ke arah Prabu Godakumara yang bangun, namun Gagak setan dan Suro langsung melesat menyerang secara bersamaan.
Duuuuum! Duuuuuum!
Serangan mereka yang dikombinasikan dengan jurus Langkah Maya sulit untuk dihindari oleh Prabu Godakumara.
"Sialan kalian semua!" teriak penuh kemarahan Prabu Godakumara yang membuat bumi bergetar hebat.
"Aku adalah Rahwana yang telah menguasai tiga dunia! Akulah yang memporak porandakan khayangan! Berni sekali kalian membuat aku murka!" teriaknya.
Duuuuuuuum!
Ledakan keras menutup mulut Prabu Godakumara. Ledakan itu adalah pukulan yang dilayangkan Suro dengan kekuatan penuh.
"Tenggelamkan tubuhnya ke dalam tanah bocah, jangan beri dia kesempatan sedikitpun!" teriak Gagak setan.
"Diam bodoh," dengus Suro karena Gask setan memberitahukan apa yang sedang dia rencanakan.
Prabu Godakumara yang mendengar hendak menghindari serangan yang dikerahkan Suro, tetapi hantaman pukulan yang menghajar terus menerus membuat musuhnya tidak sempat menghindar.
"Jurus Naga Bumi Membelah Benua!" teriak Suro. Seketika tanah dimana mereka berterung terbelah memanjang.
Belum sempat mengetahui apa yang hendak direncanakan oleh Suro, mendadak bermunculan kepalan tangan sebesar gunung langsung menghajar Prabu Godakumara.
Duuuuuuum!
Tubuhnya yang melesat masuk ke dalam jurang di kedalaman bumi langsung di hantam oleh dinding jurang yang merapat dengan cepat.
"Apakah ini sudah cukup untuk membunuhnya?" tanya Gagak setan yang kini berada disamping Suro.
Tatapan mereka masih tertuju ke arah belahan tanah yang telah mengubur Prabu Godakumara.
"Sejatinya aku tidak yakin dengan hal ini," ucap Suro ragu.
"Sebaiknya kau pastikan, jika dia akan hancur dan tidak akan kembali hidup," ujar Gagak setan.
"Aku akan mengirimnya ke dalam inti bumi, dengan begitu aku yakin dia akan mati sempurna," kata Suro sambil merasakan apa yang sedang terjadi di kedalaman tanah, sebab bumi kembali berguncang dengan sedemikian hebat.
"Sialan, makhluk buruk rupa itu ternyata belum mati!" runtuk Gagak setan yang segera menyadarinya.
Setelah itu Suro mengerahkan jurus Naga Api. Sebuah Naga Raksasa yang terbentuk dari teknik perubahan tanah dan api hitam. Segera setelah terbentuk langsung amblas masuk ke dalam tanah.
"Naga Api akan menyeretnya masuk ke dalam inti bumi," ujar Suro.
"Apakah ini artinya dia akan mati secara sempurna?" tanya Gagak setan penasaran.
"Mana aku tau," ucap Suro ringan. Pandangan pemuda itu berpindah ke arah lain. Pada saat ini medan pertempuran mereka telah berpindah jauh dari istana milik Prabu Godakumara.
Namun Suro merasakan aura kehidupan milik Mahadewi, dia segera melesat ke arah yang dimaksud.
Ternyata Mahadewi ditempatkan di sebuah taman yang indah agak jauh dari istana. Taman kaputren itu dijaga ketat para raksasa perempuan.
Melihat keadaan itu Suro memilih langsung muncul di dekat Mahadewi dan melumpuhkannya selagi para raksasa perempuan tidak menyadari kedatangan mereka.
Lalu dalam waktu yang sekejap itu Suro langsung membawa perempuan itu pergi dari taman kaputren. Mereka lalu menghilang dan muncul di tanah Jawa Dwipa kembali.
"Kamu jaga diriku disaat aku sedang memulihkan kondisi Mahadewi," perintah Suro kepada Geho Sama.
Kini mereka telah berada di dalam ruang rahasia milik Eyang Sindurogo. Suro hendak menggunakan kekuatan Batu Giok Dewa untuk membantunya memulihkan kondisi Mahadewi yang dalam pengaruh Prabu Godakumara.
Dia juga akan menggunakan Ilmu Sastra Jendra untuk menyembuhkannya, sebab pengaruh yang ditanamkan dalam ruang bawah sadar Mahadewi bukan lah ilmu gendam biasa.
"Jangan khawatir, aku yakin para pasukan raksasa itu tidak akan mampu mengejar kita ke tempat rahasia ini," ucap Geho Sama.
"Memang benar, tidak satupun makhluk yang akan mampu melacak aura kekuatan kita, selama kita ada di dalam ruangan ini. Hanya saja proses penyembuhan ku pada Mahadewi memang benar-benar tidak bisa diganggu atau berhenti di tengah jalan," ungkap Suro.
"Jika itu terjadi aku khawatir akan mengganggu kondisi kejiwaan dirinya. Sebab ilmu yang ditanamkan Prabu Godakumara pada Mahadewi sangatlah kuat," imbuhnya.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan, selebihnya aku yang akan menanganinya. Selain itu kekuatan batu giok dewa ini membuat tubuhku menjadi bertambah kuat, aku rasa ini akan menjadi waktubyang tepat bagiku untuk menyerapnya sambil menjagamu," balas Geho Sama.
Mendengar jawaban Geho Sama, maka Suro mengganggukkan kepala. Dia lalu mulai melakukan pemulihan pada Mahadewi dengan ilmu Sastra Jendra.
Alunan Sutra dalam Ilmu Sastra Jendra membentuk aksara aksara yang menyala dan masuk ke dalam dada Mahadewi. Tanpa di sadari alunan sutra dalam Ilmu Sastra Jendra juga ikut mempengaruhi Geho Sama.
Sesungguhnya kekuatan Ilmu Sastra Jendra Pangruwating Diyu adalah meruwat atau membersihkan segala kekotoran jiwa. Seandainya dia raksasa, mampu merubahnya menjadi seorang manusia seutuhnya.
Karena itulah Geho Sama yang sejatinya adalah seorang siluman, kini setelah ikut mendengar lantunan sutra Sastra Jendra, maka telah merubah wujudnya menjadi seorang pemuda yang rupawan.
Keadaan itu berlangsung secara terus menerus sampai Suro benar benar yakin kondisi Mahadewi telah pulih secara sempurna.
Kekuatan Batu Giok Dewa juga berputar begitu deras membentuk pusaran yang semakin menghebat, sehingga aura kekuatan batu giok yang berwarna kehijauan itu memenuhi seluruh ruangan.