
"Kalian akan aku lenyapkan semua dari muka bumi ini, berani sekali kalian menyerang orang-orangku!"
Makhluk bersayap yang sedang dilawan eyang Sindurogo memecah tubuhnya menjadi cukup banyak. Makhluk itu disebut oleh pasukan Elang Langit dengan sebutan Suzaku.
Mereka juga memiliki sebutan lain, yaitu delapan penjaga suku Elang Langit. Karena mereka sesungguhnya ada delapan, murid langsung dari Kurama Tengu.
Kedatangan mereka di negeri Atap Langit bersama gurunya, tidak berbarengan dengan pasukan Elang Langit yang dipimpin Kenjiro dan juga Subutai. Karena itulah mengapa Subutai tidak mengetahui perihal kedatangan para Suzaku itu.
Nama kedua makhluk dari jenis siluman Elang itu bernama Roku Suzaku dan Shichi Suzaku.
'Ilmu sihir apa ini? Ini sepertinya semacam sihir ilusi.'
"Makhluk buruk rupa kau ingin melawanku dengan ilmu picisan seperti ini, jangan berharap kau mampu mengalahkanku!"
Eyang Sindurogo mengira jurus yang dikerahkan lawannya hanya semacam jurus ilusi lainnya, yaitu yang berguna untuk menipu mata saja. Karena itu dia kembali melesatkan sinar dari ujung jarinya.
Tetapi pendekar itu segera menyadari ada yang berbeda, sebab setiap kali tubuh yang bermunculan itu terhantam jurus miliknya maka akan berubah menjadi asap. Dalam waktu bersamaan akan muncul wujud tubuh yang sama di tempat lain.
Melihat hal itu dia semakin mempercepat lesatan sinar yang menghujani tubuh palsu itu. Eyang Sindurogo dibuat penasaran dengan jurus lawannya.
Dia tidak putus asa melihat serangannya belum berhasil membunuh musuhnya. Tehnik tapak dewa matahari dikerahkan dengan jurus sejut tebasan pedang.
Hasilnya hampir seluruh tubuh palsu itu tertebas oleh energi pedang miliknya. Namun seperti juga serangan yang dia kerahkan sebelumnya, tubuh lawan yang terhantam berubah menjadi asap dan kembali muncul ditempat lain sekejap kemudian.
'Kurang ajar, sihir apa sebenarnya ini,' eyang Sindurogo tidak habis pikir melihat serangannya tidak juga mampu mematahkan jurus lawan.
Sebab sebanyak apapun yang dia bisa bunuh, maka tubuh lawan akan kembali muncul dan justru semakin banyak.
"Percuma jika kau berniat membunuh kami, sebab itu hanya akan membuang-buang tenaga dalammu. Kematianmu sebentar lagi akan menjumpaimu, berdoalah agar matimu akan berlangsung cepat!" Shichi Suzaku tertawa melihat Eyang Sindurogo tidak mampu menutupi keterkejutannya.
Bersama ucapan Shuichi Suzaku yang berada disebelah kiri, maka secara serentak lebih dari tiga puluh tubuh palsu kembali menyerang eyang Sindurogo.
"Cermin Pembalik Sukma!"
Disaat sinar menyilaukan mata dari seluruh telapak lawan muncul, maka buru- buru eyang Sindurogo mengerahkan jurus Langkah Maya.
Dia merasakan bahaya besar yang tersembunyi dibalik jurus lawan. Walaupun dia tidak mengetahui kekuatan dari jurus itu, eyang Sindurogo memilih menghindarinya.
Seluruh kawasan itu mendadak menjadi begitu terang begitu dua Suzaku itu memulai jurusnya. Cahaya itu begitu menyilaukan mata, sehingga seluruh kota itu seakan dapat diterangi oleh cahaya terang tersebut.
**
Cahaya yang begitu menyilaukan itu membuat setiap mata tidak mampu melihat kejadian yang berlangsung. Begitu juga yang dirasakan oleh Dewa Rencong dan dua pendekar perempuan yang bertarung berdampingan dengannya.
"Gawat Eyang Sindurogo menghilang!"
Mendengar teriakan Dewa Rencong, serta merta Dewi Anggini ikut terkejut. Pendekar wanita itu segera menoleh dan memastikan sendiri ucapan Dewa Rencong.
Ditempat pertarungan Eyang Sindurogo memang hanya tersisa dua makhluk bersayap yang masih berdiri. Tetua Dewi Anggini tidak melihat adanya eyang Sindurogo diantara mereka.
"Kemana perginya kakang Sindu?"
Di saat Dewi Anggini tidak memahami apa yang terjadi, Kenichi salah satu musuh yang mengepung dirinya menjawab pertanyaannya barusan.
"Jangan kau risaukan pendekar terkuat dari Benua Timur itu sudah tamat riwayatnya. Tubuhnya telah dikirim ke dalam dunia sihir.
Tidak pernah ada manusia yang selamat, setelah dikirim kedalam dunia sihir!"
Kenichi tertawa puas, sebab lelaki itu memahami sehebat apa jurus Cermin Pembalik Sukma. Tawa lelaki itu diikuti oleh pasukan Elang Langit yang lain.
Tawa para pasukan Elang itu telah membakar amarah tetua Dewi Anggini. Walaupun sebenarnya dia kurang memahami ucapan Kenichi, tetapi itu sudah menggambarkan kekasihnya dalam bahaya besar yang dapat merengut nyawanya.
Rasa tidak ingin kehilangan lelaki yang menjadi idamannya itu membuat pendekar perempuan itu melakukan sebuah keputusan nekat.
"Jurus Pedang Mahisasura Mardini!"
"Jangan kau gunakan jurus itu Anggini!" Dewa Rencong segera berteriak saat Dewi Anggini hendak memulai jurus pedang simpanannya.
Tetapi tindakan Dewa Rencong untuk mencegah sudah terlambat, sebab tetua Dewi Anggini sudah memulai jurus yang tidak bisa ditarik kembali.
Dewa Rencong yang melihat kondisi itu lalu memilih menjauh dan membawa Mahadewi bersamanya. Dia membabat semua musuh yang berada didepannya untuk membiarkan dirinya menjauh secepat mungkin.
Jurus itu adalah jurus terlarang karena dapat membuat penggunanya kehilangan kesadaran dan mengamuk tanpa ingat apapun. Menurut cerita itu adalah puncak dari jurus tangan seribu.
Hanya sedikit yang mengetahui rahasia kelam tentang jurus tangan seribu. Salah satu pendekar yang mengetahui itu adalah Dewa Rencong.
Mahisasura Mardini sendiri memiliki arti sebagai Penakluk Asura. Nama itu sebenarnya gelar yang disematkan kepada Batari Durga.
Menurut dongeng pada zaman dahulu terjadi pertempuran antara para dewa dan bala tentara Asura.
Para tentara dewa di pimpin oleh Batara Indra, sebab dia adalah panglima perang dan raja para dewa. Sedangkan pasukan tentara Asura dikepalai oleh Mahisa.
Dalam pertempuran itu tentara dewa dapat dikalahkan oleh pasukan para Asura. Dengan itu, Khayangan istana para dewa berhasil dikuasai oleh para Asura.
Lalu Mahisa pemimpin para Asura mengangkat dirinya sebagai seorang raja. Para dewa yang kalah akhirnya mundur.
Mereka kemudian mengangkat Batara Brahma untuk menjadi pemimpin untuk menghadap Batara Guru. Mereka hendak mengabarkan kekalahan yang mereka derita dalam pertempuran menghadapi para Asura.
Mendengar kabar itu, maka Batara Guru marah dan terciptalah kemarahannya yang berupa seorang wanita cantik. Tetapi wanita cantik itu memiliki kekuatan yang dahsyat. Sebab dia memiliki kesaktian beberapa dewa yang menyatu didalam tubuhnya.
Dalam mitosnya diceritakan bahwa wajah dari wanita itu terbentuk dari kekuatan Batara Guru. Rambut dari kekuatan Batara Yamadipati. Tangan - tangannya timbul dari kekuatan Batara Wisnu.
Dada nya terbentuk dari kekuatan Batara Candra. Perutnya terbentuk dari kekuatan Batara Surya. Jarinya berasal dari Wasu. Giginya tumbuh karena kekuatan fajar. Sedangkan Vayu dengan kekuatanya menumbuhkan telinga pada wanita itu.
Singkat cerita Mahisa dapat dikalahkan. Tetapi karena kekuatannya yang sangat besar, maka wanita itu kehilangan kesadarannya setelah berhasil membunuh Mahisa.
Dia kemudian justru mengamuk. Amukannya itu tidak terhentikan, para dewa yang berusaha menghentikannya kewalahan tidak mampu mengatasinya.
Wanita itulah yang dikenal sebagai Batari Durga.
Namun berkat kekuatan Batara Guru akhirnya wanita itu dapat disadarkan, sebab sesungguhnya Batari Durga itu adalah jelmaan dari Batari Uma, istri dari Batara Guru.
Dan benar saja saat tetua Dewi Anggini sudah memulai jurusnya, maka tangannya seolah menjadi empat pasang. Di setiap tangannya memegang sebilah pedang.
Wajahnya merah seperti kawah Candradimuka menggambarkan kemarahannya yang seakan melahap apapun yang ada dihadapannya. Matanya menyala seakan nyala api neraka yang atau mirip mata seekor harimau.
"Aku akan menghabisi kalian semua!" Kesadaran tetua Dewi Anggini semakin lama menipis, sejalan dengan kekuatan besar yang menjalar mengisi tubuhnya.
Jurus Mahisasura Mardini tidak pernah dikerahkan secara penuh seperti sekarang ini. Sepertinya wanita itu sudah tidak perduli dengan apa yang terjadi, setelah melihat kakang Sindunya lenyap tanpa bekas oleh serangan musuh yang menyilaukan mata.
Dahulu pernah sekali dia mengerahkan jurus itu, namun dia masih menguasai keadaan. Sebab dia tidak mengerahkan secara penuh yang berakibat terkikisnya seluruh kesadarannya dengan cepat.
Pasukan Elang Langit yang mengepungnya tidak memahami apa yang telah terjadi, mereka mengira musuh sedang menggunakan semacam ilmu sihir yang biasa mereka saksikan.
Tindakan mereka menjadi kesalahan terbesar yang akhirnya mengirim mereka menuju alam lain. Sebab jurus pedang yang dikerahkan tetua Dewi Anggini itu tidak seperti sebelumnya.
Musuh yang hendak mengerahkan jurus lipat bumi juga tidak sempat hampir semuanya mati seketika itu juga.
Beruntung sebelumnya Dewa Rencong telah menjauh secepat kilat, tanpa menoleh kebelakang. Sejak awal dia telah mengetahui bahaya yang tersembunyi dari jurus itu.
Roku Suzaku dan Shichi Suzaku yang sebelumnya menjadi lawan dari eyang Sindurogo terkejut dengan serangan yang dikerahkan tetua Dewi Anggini. Saat mereka hendak membantu pasukan yang dibantai itu, mendadak terdengar suara teriakan keras yang memekakan telinga.
Dua Suzaku makhluk bersayap dan juga semua pasukan Elang Langit terkejut mendengar suara itu. Mereka segera mendongakkan kepala ke arah langit, seakan mereka semua mengenali suara teriakan itu. Tetapi masih ragu dengan apa yang mereka dengar.