SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 213 Lautan Laghima part 2



"Sebentar paman sebelum menyerang, Geho sama meminta saya untuk menyerap laghima sebanyak mungkin sebelum kita mulai bertempur."


Dewa Rencong menghentikan lesatan tubuhnya dan mulai memandang ke arah Suro.


"Alasan apa yang dia kemukakan? Ini terasa mencurigakan?" Dewa Rencong mulai mengernyitkan dahinya.


"Dia ingin mengembalikan kekuatannya terlebih dahulu agar dapat membantu pertempuran kita."


Dewa Rencong terdiam sebentar sebelum membalas ucapan Suro.


"Baiklah, aku yang akan menjagamu. Cukup kamu saja yang menyerap energi murni laghima ini, tubuhku sudah tidak mampu menyerap energi lebih banyak lagi. Karena perlu membiasakan dulu dengan kekuatan yang baru aku dapat."


Suro mengangguk dan mulai menyerap laghima disekitar tubuhnya. Seperti yang dikatakan Dewa Rencong jika semakin tinggi tempat yang mereka capai energi yang ada semakin murni, hawa kegelapan juga semakin tipis.


Kali ini penyerapan Suro lebih kuat daripada sebelumnya. Sebab Geho sama kali ini mengerahkan tehnik empat Sage dengan kekuatan penuh. Al hasil karena penyerapan yang begitu dahsyat, pusaran energi segera terbentuk dengan cakupan cukup luas. Laghima yang mampu diserapnya telah menjangkau hingga jarak lebih dari 400 tombak.


Semua laghima yang tertarik amblas masuk ke dalam tubuh Suro. Sebelumnya saat Suro selesai menyerap awan hitam Gagak setan atau Geho sama telah mampu mengembalikan kekuatannya setara dengan pendekar tingkat tinggi. Hasil itu bagi dia sangat jauh dari apa yang dia harapkan. Apalagi lawan yang akan mereka hadapi sudah berada ditingkat langit atau justru lebih, oleh karena itu dia hendak mengejar tingkat langit.


Tidak ada hal yang mampu mengembalikan kekuatannya dengan cepat, kecuali energi murni seperti lautan yang mampu menolongnya. Dan kesempatan itu sudah ada didepan mata.


Sebab laghima yang ada pada ketinggian dimana sekarang mereka berada cukup banyak dan dapat dia serap sebanyak yang dia inginkan. Tentu saja hal itu tidak akan dia sia-siakan oleh Gagak setan. Di beberapa kali memohon untuk diizinkan.


Dengan memperhitungkan musuh yang akan dihadapi memiliki kekuatan yang tidak bisa diukur, akhirnya Suro mengabulkan permintaannya. Dan kini dia terus menyerap laghima sebanyak mungkin.


'Tenang tuan Suro akan hamba perlihatkan kepada tuan mengenai jurus Tapak kapas padamu. Jurus ini sangat ampuh untuk menghadapi lawan yang lebih kuat. Selain itu hamba juga akan menurunkan langkah Maya kepada tuan. Gerakan disetiap langkahnya begitu cepat. Karena perpindahannya menggabungkan tehnik formasi sihir gerbang dimensi. Sehingga dalam sekejap tubuh tuan dapat berpindah-pindah tanpa dapat diprediksi lawan.'


Suro mendengarkan penjelasan Geho sama sambil terus menyerap seluruh laghima yang berada dalam jangkauannya. Tetapi sebenarnya bukan hanya laghima yang diserap, tetapi awan hitam yang berada di lapisan dibawahnya ikut terhisap. Namun dia tidak terlalu memusingkan hal itu, sebab Geho sama maupun Lodra dengan senang hati akan menampung semua energi itu.


'Sebenarnya sudah seberapa kuat dirimu saat dirasuki oleh jiwa dari Dewa Kegelapan? Bukankah kamu sebelum dirasuki sudah menyebut sebagai siluman terkuat?"


'Aku mencapai kekuatan tingkat surga lapisan akhir pada saat dirasuki kekuatan Sukmo nglemboro. Sedangkan saat aku ke kondisi sebelum dirasuki sudah mencapai tingkat langit lapis ke delapan."


'Lalu mengapa sewaktu setengah jurusku yang tidak ikut terserap oleh jurus Batara Antaga, kemudian ditahan oleh jurus dari eyang guru yang juga dalam kondisi terasuki dapat seimbang? Apakah itu tidak terasa sangat ganjil? Sebab saat itu kekuatanku masih ditingkat shakti lapis pertama.'


'Kurang ajar! Apa kamu tidak merasa, saat itu kami bertiga telah mengerahkan seluruh kekuatan kami untuk mendukungmu. Ditambah kekuatan temanmu itu yang juga sudah ditingkat langit. Dan cukup kamu tau manusia sialan! Jika seluruh kekuatan dari 10.000 jiwa siluman yang susah payah aku kumpulkan, telah aku habiskan hanya untuk mendukung jurusmu itu? Bahkan asal kau pahami, menurutku Jiwa dari Dewa kegelapan saat menghadapi kekuatanmu tidak dengan sepenuh hati! Jika tidak, kamu pasti sudah celaka!'


Gagak setan kali ini tidak dapat menahan kemarahannya. Sejak dia bergabung dalam kesadaran Suro dia selalu merasa paling tertindas. Tetapi jiwa silumannya yang pernah dikenal sebagai yang tak terkalahkan akhirnya berontak.


'Siapa yang menyuruhmu menyebut bocah gendeng ini dengan sebutan anak sialan?' Lodra yang sedari tadi terdiam akhirnya tidak tahan untuk tetap tidak bersuara.


'Ampun kanjeng Lodra yang Agung, tadi itu kelepasan, hamba tidak sengaja.'


'Hamba hanya ingin menjelaskan betapa berbahayanya kondisi kita saat ini, jika tidak memperkuat jiwa kita terlebih dahulu. Apalagi ada kesempatan untuk memperkuat didepan mata, bukankah lebih baik kita berjaga-jaga.'


'Mengenai hal itu aku setuju dengan perkataanmu burung emprit. Tetapi benarkah itu yang kamu ucapkan tadi karena alasan itu?'


'Sebentar tuan Suro mengapa aku juga baru menyadari mengenai hal yang tadi aku ucapkan, ini terasa sangat ganjil?' Geho sama baru menyadari dengan apa yang sebelumnya sudah dia ucapkan.


'Mengenai apa burung emprit?'


'Mengenai sikap dari Sukma nglemboro yang tidak menyerang tuan Suro dengan sepenuh hati. Ini sangat tidak wajar seperti menahan kekuatannya yang sangat mengerikan?'


'Apakah itu artinya eyang guru masih mengingatku Geho sama?'


'Entahlah tuan Suro, tetapi bagiku itu sesuatu yang sangat aneh. Sebab aku sudah memahaminya, jika dia tidak akan membiarkan musuhnya hidup. Semua akan dibantai tanpa ampun. Seperti yang dulu aku lakukan saat dirasuki kekuatan Sukmo nglemboro.'


Saat mereka sedang berbicara dalam alam kesadaran Suro, mendadak sebuah suara masuk ke dalam batinnya. Segera dia mengenali siapa yang mengirimkan suara itu barusan.


'Bocah apa yang kau lakukan ini sebaiknya kamu selesaikan dengan cepat. Karena dari arah wilmana terlihat beberapa makhluk naga mendekat ke arah kita dengan cepat.'


Saat Suro sedang terpejam sambil menyerap laghima yang terus menjangkau jarak yang lebih luas, suara Dewa Rencong masuk ke dalam kesadarannya. Suara itu dikirim dari jarak hampir sejauh 600 tombak. Tehnik itu menggunakan kekuatan jiwa yang mampu masuk ke alam bawah sadar seseorang. Tehnik ini lebih dikenal dengan nama jurus memindah suara batin.


'Beri waktu aku sebentar lagi paman.'


Pasukan naga yang datang sudah semakin mendekat. Dewa Rencong hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia mencabut pusaka rencong di pinggangnya.


"Sepertinya aku yang harus menahan mereka untuk sementara waktu?"


"Jurus Rencong Penguasa Nirvana!"


Bersama teriakan yang dilakukan Dewa Rencong memulai serangannya. Setiap tebasan itu melesatkan energi tebasan yang dilambari kekuatan perubahan petir. Setiap Sambaran petir yang dia kerahkan mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.


Kehebatan dari tehnik ini terletak pada Sambaran kilat petir yang memiliki tingkat presisi sangat mengagumkan. Sebab kemanapun musuhnya menghindar, kilatan petir itu mengejar dan selalu berhasil menghantam sasaran yang dituju.


Memang musuh tidak ada yang mampu menghindari kecepatan kilat yang dikerahkan Dewa Rencong. Tetapi musuh yang dia hadapi adalah makhluk yang tidak dapat dihabisi dengan mudah. Seandainya itu makhluk yang sewajarnya, tentu sudah sedari tadi menjadi mayat yang gosong.


Sambaran petir yang menghantam memang melemparkan mereka kembali kebelakang puluhan tombak. Selain itu juga membuat mereka kejang-kejang dan sekujur tubuhnya menjadi gosong. Namun mereka kembali pulih seperti sedia kala dengan cepat.


Kondisi itu tidak membuat Dewa Rencong patah semangat, justru terlihat dia menikmati kekuatan barunya yang meningkat jauh dibandingkan kekuatan sebelum dia menyerap awan hitam. Dia memang memerlukan penyaluran kekuatan agar tubuhnya terbiasa, namun karena pengerahan jurus yang berkekuatan besar secara terus menerus tentu dia sedikit ketar-ketir.


Karena itulah dia kembali mencoba memberi tahu Suro tentang kedatangan musuh yang terus semakin mendekat. Dia berpikir hanya kekuatan api hitam milik Suro yang mampu menyelesaikan semua naga yang semakin bertambah banyak.


"Seharusnya kita langsung menyerang saja tidak perlu menyerap energi murni didekat musuh, tetapi semua sudah terlanjur."


Dewa Rencong semakin cepat mengerahkan jurus miliknya karena musuh kali ini berdatangan dari berbagai arah.


'Gawat bocah, para naga datang dari segala arah. Kali ini kita sudah dikepung, cepat selesaikan! Aku sudah tidak mampu menahan semua serangan dari segala arah ini!'